Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)

17 Mar 2015    View : 1914    By : Niratisaya


1. Pertemuan Di Sebuah Telepon Umum dan Spaghetti

Aku pernah mendengar bahwa bagaimana dua orang bertemu, akan memengaruhi hubungan keduanya. Anehnya, saat kalimat itu terlintas di benakku, aku tidak teringat pada kekasih pertamaku. Atau pengecut yang beberapa minggu lalu memutuskan hubungannya denganku sewaktu liburan semester lewat pesan singkat. Sebaliknya, kalimat itu segera membawaku kembali pada sebuah kenangan. Pada sebuah wajah dan satu tempat.

Di antara ratusan orang yang aku kenal, kalimat itu justru menyeretku kembali pada sosoknya: lelaki penggemar kucing dan spaghetti, serta tempat pertemuan kami: telepon umum di bandara.

Aku tahu, jika seseorang membicarakan hubungan dengan lawan jenis yang terlintas di pikiran seseorang pasti hal-hal romantis, sensual, dan hanya berkisar pada percintaan. Tapi percayalah, tidak begitu dengan hubunganku dan lelaki ini. Aku tidak mencintainya. Tapi aku juga tidak membencinya. Bisa dibilang kami tak memiliki perasaan apa pun terhadap satu sama lain. Namun harus aku akui; seiring waktu, ada sesuatu yang tumbuh di antara kami berdua. Rasa itu adalah ketergantungan pada keberadaan satu sama lain. Aku akan selalu meneleponnya, setiap kali merasa sedih, bahagia, atau marah. Begitu pula dengan lelaki penggila spaghetti itu. Ia selalu menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya. Setiap hari. Di tiap kesempatan yang dimilikinya.

Kadang aku berpikir, apakah aku tidak muak dengan kehadirannya? Wajahnya yang selalu memperlihatkan senyuman, suaranya yang tidak serak atau berat—bahkan cenderung cempreng, serta gaya bahasa dan pilihan katanya yang menyebalkan. Nyaris setiap hari aku menduga-duga, sampai kapan aku akan bertahan dalam 'hubunganku' dengan lelaki ini? Nah, dengan pikiran semacam itu yang terus menyesaki pikiranku, mana mungkin apa yang kami punyai saat ini adalah hubungan kasih yang romantis.

Aku bahkan tak yakin apa yang kami miliki bisa dilabeli 'hubungan penuh kasih'.

Jadi, biar kukatakan sekali lagi, apa yang aku rasakan pada lelaki itu bukanlah cinta. Sama sekali bukan.

***

Meski demikian, aku ingat pertemuan kami. Aku dan lelaki itu pertama kali berkenalan di telepon umum di stasiun kereta di salah satu sudut kota Chiba. Ia berdiri sambil memegang telepon, mendekatkannya ke telinga tapi tetap berjarak, sementara telepon itu terus berdengung—menandakan pembicaraan yang telah berakhir. Secara sepihak, aku rasa.Public Phone Booth

Tapi ia terus berdiri di sana, seakan-akan menangkap sebuah kode rahasia di antara denging percakapan yang telah diakhiri itu. Kemudian, aku pun tahu. Sama seperti aku, dia tersesat. Perbedaan kami hanyalah, dia tersesat dalam sebuah pembicaraan yang telah diakhiri oleh lawan bicaranya. Sedangkan aku, tersesat di kota tempat aku tinggal untuk sementara. Dia penduduk asli, sedangkan aku pendatang yang tersasar dalam perjalanan.

Tadinya aku hendak menghardik lelaki di depanku itu. Memarahinya, karena sudah menghalangiku menelepon teman asramaku untuk menjemput dan segera menikmati kehangatan apartemen kecilku. Namun, ekspresi kosong di wajahnya sewaktu menatapku segera menyerap emosi di dadaku. Sontak aku merasakan kekosongan yang sama. Kehampaan yang sempat membuatku ikut berdiri mematung.

“Hm ... maaf,” ucapku, begitu kesadaranku kembali terkumpul. “Apakah Anda masih menggunakan telepon itu?”

Roman wajah lelaki itu segera berubah. Sepasang bola matanya berpendar dan menatapku. Aku yakin, baru detik itu dia benar-benar menyadari kehadiranku.

“Telepon itu, apa Anda sudah selesai menggunakannya?” Aku bertanya sekali lagi dalam bahasa ibu lelaki itu.

“Ah, maaf. Maafkan saya.” Beberapa kali dia meminta maaf seraya menyerahkan gagang telepon umum itu padaku. Ia lalu melihat sekelilingnya, sebelum duduk di bangku yang tak jauh dari telepon umum.

Aku mengamati sosoknya yang tinggi dan kurus, tenggelam di jajaran kursi plastik yang seakan menelannya. Tak ada yang dilakukan olehnya, kecuali duduk dan menatap orang-orang yang lalu lalang di depannya.

Apa benar dia tersesat, atau dia justru menyesatkan diri? batinku, sementara nada sambung terdengar menghubungkanku dengan Nobuko, teman asrama yang menjadi keluargaku di Negeri Sakura ini.

Lima menit pertama pembicaraanku dengan Nobuko, kuhabiskan dengan mengomeli gadis berambut pendek itu. Ia berjanji menjemputku di bandara pagi itu, tapi yang kudapati di sana malah wajah-wajah asing dan senyuman yang satu pun tak ditujukan padaku. Namun ia tidak meminta maaf. Nobuko malah terkikik mendengar cerita tentang bagaimana aku menunggunya di lobi bandara dengan barang-barang bawaanku, yang bercampur pesanan gadis yang lebih tua dua tahun dariku itu. Ia masih tertawa saat aku mengatakan padanya bagaimana aku mengamati wajah penuh senyum, dan tak satu pun senyuman itu tak satu pun ditujukan padaku.

Tawa Nobuko makin kencang saat aku tiba di bagian paling mengenaskan. Aku menyeret kopor, menggendong tas, dan membawa kardus menuju bus di bandara—hanya untuk menyadari bahwa aku tidak membawa cukup uang. Untuk bagian yang satu ini aku akui, aku yang salah. Aku tidak menyiapkan uang lebih untuk kemungkinan teman asramaku lebih mendahulukan kencan dengan kekasih barunya, ketimbang menjemput temannya sendiri. Dan aku sudah tak punya tenaga untuk memutar kembali menuju stasiun kereta api yang ada di bandara.

Aku ingat dengan baik kata-kata Nobuko di hari nahas itu; “Kau selalu bisa menemukan jalan pulang, Indi-chan. Karena itu aku tak pernah khawatir padamu.”

“Tolong, khawatirlah sedikit padaku,” kataku, yang disambut dengan tawa lepas Nobuko, serta cerita tentang kencannya. Yang omong-omong tengah berlangsung sementara Nobuko dan aku sedang berbicara di telepon.

Tak mau lagi mendengar celotehan Nobuko tentang senior dari fakultas lain kami yang ia kencani, aku berniat menutup telepon. Agar ia tahu, aku sedang kesal padanya. Sayangnya, belum aku sempat meletakkan gagang, gadis yang sedang dimabuk cinta itu lebih dulu mengakhiri percakapan kami. Sejurus kemudian, aku berakhir sama persis dengan lelaki asing itu beberapa saat lalu: berdiri termangu dengan gagang telepon masih menempel di telinga.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Namun hal pertama yang menyadarkanku adalah suara ketukan di dinding telepon umum tanpa pintu itu. Sewaktu menoleh, aku mendapati wajah lelaki asing itu di hadapanku. Ia tidak lagi tampak melas. Sebaliknya, dengan sepasang alis tebal berkerut yang mengingatkanku ulat pohon di kebun kakekku dan sinar mata lemah, ia tampak bersimpati padaku.

“Kau baik-baik saja?”

Aku menatap wajah lelaki asing itu dan terdiam. Sementara ia terus menanyakan keadaanku, aku mengamati wajahnya dan menemukan beberapa tahi lalat di sana. Satu di bawah alis kirinya dan satu lagi di hidungnya. Membuatku membayangkannya sebagai badut.

Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan, sementara imajinasi itu di dalam kepalaku. Kukatakan pada lelaki itu bahwa ia tak perlu khawatir.

Pandangan lelaki asing itu kemudian berpindah dariku ke kopor yang tersandar di dinding telepon umum, tas di punggungku, dan kardus di dekat kakiku. Sedetik kemudian, rasa simpati yang terukir di wajahnya berubah menjadi guratan kekhawatiran.

“Apa kau kabur dari rumah?” tanya lelaki itu. Ia mengubah gaya bicaranya, dari formal menjadi santai.

Gaya bicaranya saat itu mengingatkanku pada komentar beberapa temanku tentang penampilan fisikku yang tampak seperti remaja ketimbang seorang mahasiswa, sesuai usiaku yang sebenarnya. Aku pun sontak ikut mengubah gaya bicaraku, berikut ekspresiku.

Kupasang kerutan di dahi dan kukerucutkan bibirku sebelum berkata, “Kau pikir aku remaja yang berontak ke orangtuanya dan kabur?”

Sepasang mata sipitnya kontan membelalak, memperlihatkan sepasang bola mata cokelat yang mulanya kukira hitam. "Kalau begitu ... kau tidak sedang menunggu kekasihmu datang menjemput?”

Aku tidak pernah membayangkan Nobuko menjadi kekasihku. “Tentu saja tidak! Kau pikir aku remaja labil yang akan lari dari rumah cuma karena masalah cinta?!”

Ia memiringkan kepala dan melempar senyum kikuk, mendengar ucapanku yang cukup kasar. “Ah, rupanya kau sekadar remaja labil, ya.”

Detik itu juga, sirnalah kekagumanku pada senyuman polos lelaki itu yang terlihat hangat. Di mataku, senyumannya tampak mengesalkan. “Aku ini mahasiswi, bukan remaja lagi,” ujarku bersungut-sungut.

“Dari sudut pandangku, yang seorang pegawai kantoran, kau terlihat seperti remaja, Nona Pemarah.” Ia kembali melempar senyuman, kali ini lebih lembut dan tanpa jejak kikuk. Membuatku semakin membencinya.

Lelaki macam apa dia sebenarnya?! Aku ingat apa yang kupikirkan saat itu.

Aku segera meraih kardus berisi botol-botol sambal pesanan Nobuko, menarik kopor, dan mendorong lelaki itu dengan bahuku. Belum sempat aku mengayunkan langkah kaki untuk kelima kalinya, aku mendengar dia memanggilku.

“Hei... Nona hm... siapa namamu? Kau akan pergi begitu saja?”

“Memangnya ada apa lagi?” Aku menoleh dan melemparkan tatapan tajam.

“Jangan marah seperti itu. Aku hanya ingin minta maaf padamu. Setelah kupikir-pikir, kau mungkin kesal karena aku sudah menganggapmu sebagai remaja labil.”

Aku mendelik. “Apa begini caramu berbicara dengan orang yang baru kau kenal?”

“Aku minta maaf.” Lelaki itu berkata sambil tersenyum dan menggaruk-garuk tengkuknya. Satu lagi kebiasaannya yang kemudian melekat erat dalam benakku tanpa aku inginkan. “Tidak seharusnya aku bicara seperti itu padamu.”

Mengherankan, lelaki itu menyadari kesalahannya, tapi tak merubah gaya bicaranya yang mengesalkan. “Ulangi sekali lagi, tanpa gaya bicaramu yang mengesalkan, baru aku akan memaafkanmu,” kataku.

Lelaki spaghetti itu menarik alis kirinya ke atas, tapi ia kembali mengulum seulas senyum. “Sayangnya … itu adalah hal yang mustahil. Bagaimana kalau sebagai wujud permintaan maafku, aku traktir spaghetti? Ini akan lebih memperlihatkan ketulusanku.”

Aku mengamati lelaki itu—wajahnya dan bagaimana gestur tubuhnya saat berbicara denganku—dan aku tahu, ia tak punya maksud buruk. Tapi tetap saja, ada satu hal yang harus kupastikan ….

“Dan anggur?” Aku ingin menyesap anggur hari ini untuk menenggelamkan kekesalanku pada Nobuko dan rasa lelahku.

Spaghetti and wine

Ia berdecak, sebelum akhirnya menambahkan, “Dan segelas anggur.”

Aku mengangguk, tak mengacuhkan nada bicaranya yang mengoreksiku, lalu menarik koporku dan mengikutinya.

***

Tadinya kukira ia akan membawaku ke salah satu restoran dari deretan yang kami lewati, tapi aku malah berakhir di depan sebuah bangunan berlantai tiga. Apartemennya. Ketika aku mengonfrontasinya dan berkata bahwa ia berbuat curang, lelaki yang hingga detik itu belum kuketahui namanya tertawa tanpa suara. Ia sekali lagi memamerkan senyum polosnya, sambil menambahkan bahwa tak mungkin ia mentraktirku di salah satu restoran mahal yang kami lewati, hanya karena satu kesalahan kecil. “Terlalu mahal,” tambahnya beberapa saat kemudian. Selain itu, ia ingin meminta pendapatku atas spaghetti buatannya.

“Aku tak pernah berhasil membuatnya dengan baik. Aku memang berhasil memasaknya dengan kekenyalan spaghetti dan kekentalan saus yang pas, tapi selalu ada yang salah. Aku ingin meminta pendapatmu,” katanya.

Aku berdiri diam dan menatapnya lurus. Di satu sisi, aku ingin menonjok wajah lelaki itu.  Terkadang, setelah aku mengenalnya setahun lebih, aku masih ingin mendaratkan bogem mentahku ke wajah lelaki itu. Apalagi saat ia melempar senyum polosnya. Di sisi lain, aku lupa jalan ke asramaku. Dan aku tak punya uang lagi. Dan sahabat yang kuandalkan malah memilih berkencan daripada datang memberi bantuan.

Namun aku juga terlalu gengsi dan terlalu kesal pada lelaki itu untuk menerima langsung tawarannya. Sayangnya, sebagai orang miskin, aku tak punya kemewahan berupa harga diri. Yang tersisa dalam diriku hanyalah keberanian dan kenekatan.

“Boleh. Asal kau meminjamkan telepon dan uang setelahnya.”

“Hei, aku kan sudah memasak spaghetti untukmu.”

“Spaghetti yang kamu sendiri nggak yakin bagaimana rasanya.” Giliranku mengoreksi ucapannya.

Lelaki itu memiringkan kepala, berpikir lalu menjawab, “Baiklah.”

Aku menelan umpatan yang nyaris melompat dari ujung lidahku sewaktu melihat ekspresinya dan kembali mengikutinya.

Ketika kami akan menaiki tangga, lelaki itu meraih handle koporku. Tanpa babibu, ia mengangkat kopor merahku hingga ke lantai tiga. Aku baru saja menginjakkan kaki ke lantai tiga, saat salah satu pintu apartemen terbuka dan beberapa saat kemudian muncul sepasang kekasih. Seorang lelaki dengan badan gempal dan otot menyembul dari balik kausnya, serta seorang gadis berambut pendek yang membelalak saat menoleh ke arahku dan si lelaki spaghetti.

Awalnya, kupikir gadis berambut pendek itu menatapku. Tapi aku lantas menyadari pandangannya tertuju pada si lelaki spaghetti. “Haruto-san,” sapa wanita berambut pendek itu, sementara si pria gempal hanya mengangguk.  “Bukankah kau seharusnya  sedang berkencan dengan Iwata-san?”

Aku sempat mendengar jeda beberapa detik yang sarat kesedihan, sebelum berganti suara dengan warna tawa ringan. “Soal itu .... Sepertinya kami tidak akan berkencan lagi.”

“Heee.... Jadi kalian....” Beberapa saat kemudian mata si wanita berambut pendek benar-benar tertuju padaku. “Eh? Indi-chan?!”

“Oh, rupanya kau di sini juga?  Wah, wah .... Aku tak mengira kau bisa menangkap telepatiku. Terima kasih sekali ya, Nobu-chan, atas rasa khawatirmu padaku,” sindirku yang dibalas dengan tawa kecil Nobuko.

“Kau kenal dengan Haruto-san?” tanya Nobuko.

Aku dan Haruto-san, si lelaki spaghetti, mengangguk pada saat yang bersamaan, tapi detik berikutnya ia menjawab, "Kami baru saja bertemu di telepon umum di stasiun kereta api."

Nobuko menganggukkan kepala sambil melempar senyum lebar padaku. “Ini seperti takdir. Iya, kan, Indi-chan? Romantis!”

Aku mendengus. Aku ingat dengan baik, beberapa hari sebelumnya Nobuko tergila-gila dengan drama Korea yang bertema takdir. Ia selalu berseru setiap kali melihat aktor kesukaannya. Namun aku tak tahu, apa kesamaan senior kami dengan aktor tersebut.

“Aku lebih suka kalau ditakdirkan pulang ke asrama dan tidur setelah sahabatku menjemput,” kataku sambil menatap tajam Nobuko.

“Oooh, jadi ini sahabat bermulut tajam yang kau ceritakan tadi, Nobu-chan?”

Begitu senior itu buka suara, aku langsung mengerti mengapa Nobuko memilihnya sebagai kekasih: lelaki gempal itu memiliki suara yang sama persis dengan aktor Korea tersebut.

Nobuko dan Haruto si maniak spaghetti tertawa, sementara aku memelototi kekasih Nobuko itu.
Hari itu aku tidak hanya tahu alasan Nobuko memilih senior kami sebagai kekasihnya, aku juga tahu bahwa Haruto yang maniak spaghetti adalah koki yang buruk. Sense-nya dalam menakar bumbu saus sangat buruk. Aku sampai berpikir, untung ia bertemu denganku. Walau tidak tahu banyak tentang praktik memasak, paling tidak aku memiliki indra perasa yang tajam (catat, indra perasa, bukan lidah) dan sigap mengamati proses memasak Haruto. Bahkan bisa dibilang aku menyelamatkan kami semua dari bencana bernama “Spaghetti Buatan Chef Haruto”.

Dua jam kemudian, acara makan bersama kami berempat pun berakhir dengan segelas sampanye. Untuk yang satu ini, aku memuji pilihan Haruto yang rupanya gemar meminum anggur itu. Entah apa namanya. Aku hanya ingat nama sampanye itu begitu eksotis.

“Seharusnya kau membuka bar atau pub. Kau pandai memilih anggur yang enak,” kataku pada Haruto, sementara “Hum the Bassline” mengiringi percakapan kami.

Nobuko mengangkat gelasnya ke hadapan Haruto. “Setuju. Sayangnya kau tidak bisa memasak Haruto-san.” Ia lantas mengalihkan pandangannya ke arahku “Atau kau mau membantunya, Indi-chan? Kau seharusnya memanfaatkan lidahmu yang tajam itu—selain untuk menyerang lawan bicaramu, tentunya. Ya kan, Kei-kun.”

Aku mendengus. Membantu lelaki yang bahkan tak memilki sense yang baik dalam menakar bumbu ini? pikirku saat itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku yang seperti ini akan membantu lelaki yang seperti itu.

“Itu ide yang bagus,” timpal Kei.

Namun entah bagaimana, akhirnya aku berakhir mengunjungi Kawabata Haruto tiap akhir pekan. Dan apakah kemudian aku merasakan sesuatu. Biar kukatakan sekali lagi, tidak.

….

Aku tidak tahu.

Tidak ketika saat ini Kawabata Haruto berdiri di depan pintu masuk gedung asramaku dengan senyum polosnya terplester di wajahnya, serta buket tulip merah muda di tangannya.

 

 

Bersambung ke Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


(Not) Alone In Otherland - Sendiri, Bukan Berarti Sendirian


Crazy Little Thing Called Love: Dari Itik Si Buruk Rupa Menjelma Menjadi Snow White yang Sesungguhnya


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Mirota dan Segala yang Berbau Jawa


Milk Kingdom - Humble Place to Cast Away Your Boredom


Santosa Stable Horse Riding, Kendal: Berkuda Dan Legenda


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya, Gol A Gong, dan Tias Tatanka


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Ode Untuk Si Bungsu


Kudemi Masamu