Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)

28 Mar 2015    View : 1263    By : Niratisaya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


2. Kucing Butuh Ikan, Kan? Bukan Seikat Bunga

Cinta.

Mungkin sudah jutaan kali aku mengucapkan kata itu dan mendengarnya dalam berbagai versi. Lewat drama berseri di televisi, buku-buku yang mengobral “aku cinta padamu”, dan para lelaki itu—mereka yang kerap kukenalkan sebagai “kekasihku”. Tapi, hingga detik ini, aku tidak benar-benar memercayai keberadaannya. Maksudku, lihat saja bagaimana kita dengan mudah mengakhiri cinta dalam drama seri itu dengan mematikan televisi. Menyudahi segala obral murah dalam buku-buku roman picisan itu dengan menutupnya. Atau… bagaimana dia yang kusebut sebagai kekasih mengakhiri cinta kami lewat sebuah pesan singkat.

Dan bagaimana semuanya sirna hanya dengan aku menghapus pesannya.

Jadi, katakan padaku, apa cinta benar-benar ada?

Tapi terlalu tragis rasanya kalau aku mengatakan aku tak percaya cinta. Karena nyatanya, setelah kuhapus pesan si pengecut itu, aku kembali berkencan. Aku mengikuti goukon—ajang cari jodoh yang berkedok perkenalan, berjalan-jalan dan makan bersama, tapi tidak pernah ada yang seperti Kawabata Haruto. Kami bahkan tidak berkenalan lewat goukon.

Anehnya, kehadiran Kawabata Haruto tidak bisa kuakhiri seperti drama dalam televisi. Atau kututup dan kulupakan seperti buku-buku roman picisan yang masih sering kubeli. Bahkan ketika aku bertemu dengan “Iwata-san” yang sempat disebut Nobuko. Iwata-san adalah tipe wanita yang bisa dengan mudah disukai oleh lelaki mana pun. Dia memiliki tubuh langsing, tinggi, dan tampak lembut. Aku sempat bertemu dengannya ketika berjalan-jalan dengan Nobuko sepulang kuliah.

“Tapi dia sebenarnya tukang dengkur dan sama sekali tidak bisa memasak,” kata Kawabata Haruto. Aku bisa membayangkannya dengan senyum bangga terplester di mulutnya saat aku menyinggung tentang kekasih putus-nyambungnya itu. Sama seperti saat kami membicarakan Iwata-san sebelumnya. Hari itu, kami sedang berbicara di telepon. Semestinya aku datang menemuinya. Bukan untuk apa-apa, aku hanya harus menjalankan tugasku sebagai pengkritik masakan Kawabata Haruto. Sampai hujan turun dengan derasnya dan Iwata-san datang ke apartemen Kawabata Haruto.

“Lalu, kenapa kau jatuh cinta padanya?” tanyaku sambil mengamati jejak hujan di jendela kamar asramaku.

“Karena dia tidak bisa memasak.” Kawabata Haruto menjawab dengan spontan dan sederhana.

“Apa kau menyukai semua wanita yang tidak bisa memasak, Haruto-san?”

“Tentu, karena aku sendiri sedang belajar. Jadi mereka takkan bisa banyak mengeluh.”

Saat itulah aku mendengar suara Iwata-san. “Hei, aku bisa mengeluh, lho!”

“Tentu kau bisa mengeluh. Tapi tidak seperti Indi-chan.” Kemudian, selama beberapa saat—oke, enam menit—percakapanku dan Kawabata Haruto terhenti. Lelaki itu sedang berargumen dengan Iwata-san. Aku bisa mendengarnya lamat-lamat.

In the kitchen

Mau tak mau, dalam imajinasiku terselip gambaran apartemen Kawabata Haruto. Lelaki itu sedang berdiri di depan kompornya dengan celemek terikat di pinggang, sementara di sampingnya Iwata-san terus menggoda Kawabata Haruto. Masing-masing dengan segelas anggur di tangan. Aku bisa membayangkan aura intimasi yang takkan bisa ditembus oleh siapa pun. Termasuk diriku yang hanya mencuri dengar percakapan mereka.

Itukah cinta?

Apa cinta bisa dipasang dan dilepas seperti perhiasan? Dan begitu situasi membutuhkan kita bisa memasangnya lagi?
Kawabata Haruto baru teringat percakapan yang mesti diteruskannya denganku saat Mao, kucing peliharaannya mengeong. Aku mendengar Kawabata Haruto meminta Iwata-san menuang makanan untuk Mao.

“Iwata-san, Iwata-san.” Aku mendengar Haruto menyebut nama kekasihnya beberapa kali, suara derap kaki, kemudian pintu yang dibanting. “Maaf Indi-chan.”

Haruto mengakhiri percakapan kami. Awalnya aku tak tahu apa yang terjadi. Dari Nobuko yang baru saja keluar dari kamar mandi aku akhirnya tahu semuanya.

“Kau kenapa?” tanya Nobuko saat melihatku.

Aku pun menceritakan semuanya. Dan Nobuko membocorkan hubungan Kawabata Haruto, tetangga kekasihnya, begitu saja. Bahwa Kawabata Haruto adalah maniak kucing yang gemar membawa pulang anak-anak kucing terlantar. Bahwa Iwata-san begitu membenci kucing.

“Kucing memang lucu. Tapi membawa pulang hampir semua kucing yang kau lihat hanya karena kasihan? Itu aneh. Kupikir Haruto-san berhenti dari kebiasaan anehnya setelah mereka kembali bersama, tapi sepertinya tidak, ya?” ujar Nobuko sambil mengeringkan rambutnya dengan salah satu kaus usangnya—salah satu cara agar rambutnya tak pernah kusut, Nobuko pernah berkata padaku. “Karena itu juga, aku tak heran sewaktu melihat Haruto-san bersamamu dulu. Waktu itu kau agak mirip anak kucing yang terlantar, Indi-chan.”

Nobuko terkekeh lalu memunggungiku dan menyalakan televisi.

Aku agak tersinggung saat mendengar itu. Tetapi, saat aku mengingat kembali pertemuanku dengan Haruto, aku tak bisa melakukan apa pun kecuali mengamini ucapan Nobuko. Lagi pula, lelaki aneh mana yang malah mengajak orang asing makan di apartemennya, kalau bukan karena dia iba. Tapi, ini Kawabata Haruto yang sedang kubicarakan. Bisa jadi ada beberapa alasan janggal di luar pikiran yang terlewat dari dugaan Nobuko.

Aku tak paham cinta seperti apa yang sedang dijalani Kawabata Haruto dengan Iwata-san-nya. Hari itu hingga kini. Sama seperti aku tidak memahami apa sebenarnya yang ada di pikiran Kawabata Haruto. Aku menatap sosok Kawabata Haruto yang ada di hadapanku saat ini. Dia masih tersenyum polos di depan asramaku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali dan aku tidak sedang mengigau; dia masih memegang sebuket bunga tulip merah muda di tangannya.

Apa yang kau lakukan? Kawabata Haruto berkata padaku tanpa suara sambil mengerutkan kedua alis dan memiringkan kepala.

Kucing itu… suka ikan, kan? Dia juga suka mainan seperti gulungan benang atau benda-benda yang menarik perhatiannya, kan? Lalu, kenapa Kawabata Haruto malah membawakanku sebuket tulip merah muda? Seharusnya dia membawa kupon makan sepuasnya atau voucher makan di restoran mahal, kan?

Aku mengenakan kardiganku yang selama beberapa menit ini kubawa. Kemudian, kudorong pintu kaca asramaku dan berjalan ke arah Kawabata Haruto. Aku berdeham, membersihkan tenggorokanku dan otakku. Bisa jadi bunga itu bukan untukku. Bisa jadi Kawabata Haruto membawakannya untuk Iwata-san.

“Bunga yang indah,” kataku begitu jarak kami hanya beberapa langkah.

Kawabata Haruto bergumam lalu tersenyum padaku seraya mengulurkan buket bunga tulip itu. Hanya begitu saja dan otakku kembali keruh. Aku menarik langkah mundur. “Apa itu?”

“Bunga, memangnya apa lagi, Indi-chan?” Kawabata Haruto tersenyum.

Berani-beraninya dia tersenyum sementara dia sudah membuatku bingung! “Tentu saja aku tahu itu bunga, Haruto-san. Aku punya dua mata untuk melihatnya! Tapi untuk apa!”

Kawabata Haruto kembali tersenyum padaku. Dia menarik tangan kananku dan menyerahkan buket bunga tulip itu padaku.

“Paling tidak terima dulu.” Tanpa penjelasan apa-apa lagi, Kawabata Haruto berjalan pergi.

Aku buru-buru mengikutinya. “Apa kau bertengkar dengan Iwata-san karena Mao lagi?”

“Tidak,” jawab Kawabata Haruto dengan begitu kasual. “Kami sudah putus.”

Baru beberapa hari mereka kembali bersama, mereka kembali berpisah? Aku menyamakan langkah kami, atau lebih tepatnya Kawabata Haruto-lah yang mengurangi kecepatannya begitu aku berada di sampingnya. “Cepat sekali!” seruku.

“Hei, tidak sopan,” kata Kawabata Haruto. Seulas senyum lembut tampak di wajahnya saat dia menoleh ke arahku. Senyum lembut yang biasa ditunjukkannya saat dia membicarakan Iwata-san. “Kau ingin makan di mana sekarang, Indi-chan?”

Ketika Kawabata Haruto menyebutkan nama restoran yang ingin kukunjungi, aku merasa semakin aneh. Kawabata Haruto tidak biasa mengajakku makan di restoran. Dia selalu memasak untukku dan tak pernah mau mengeluarkan uang lebih, selain yang sudah dihabiskannya untuk bahan-bahan makanan yang disimpannya di lemari pendingin. Seperti kata Nobuko, aku tak ada bedanya dengan Mao yang dipelihara oleh Kawabata Haruto. Dan perubahan ini membuatku bingung. Salah satu hal yang paling tidak aku sukai di dunia ini adalah menjadi bingung.

“Aku tidak bisa.” Aku menghentikan langkah. “Haruto-san, ada apa?”

Kawabata Haruto ikut berhenti dan dia kembali memamerkan senyumnya. Tanganku mulai kesemutan dan ingin mengepal kemudian melayangkan satu tinjuan yang bisa menghapus senyum polos itu dari bibir Kawabata Haruto.

“Memangnya perlu ada apa-apa dulu, baru kita bisa makan di restoran?” tanya Kawabata Haruto.

“Tentu,” kataku. Aku memang terbiasa mengikuti arus setiap kali kenalanku lewat goukon mengajakku makan atau keluar, berbagi satu atau dua ciuman, walau aku tahu kalau pada akhirnya kami tidak akan pernah lagi bertemu atau menelepon. Tapi, Kawabata Haruto berbeda.

Aku mungkin tak ubahnya anak kucing yang dipungut Kawabata Haruto kemudian disambanginya saat dia ingin memberi makan, seperti yang dikatakan Nobuko. Tapi, meski demikian, aku kucing yang tahu diri. Lagi pula…. Aku menunduk dan menatap bunga tulip di tanganku. Kucing tidak butuh bunga, kan?

“Kawabata Haruto, ada apa ini?” tanyaku. “Kau mungkin sedang patah hati, tapi bukan berarti kau bisa melibatkan orang lain di dalamnya.”

“Aku tidak patah hati kok, Indi-chan.” Kawabata Haruto berjalan ke arahku. “Sebaliknya, aku malah sedang berbunga-bunga.”

Aku mengernyit. Dan rupanya Kawabata Haruto masih cukup cerdas untuk menangkap bahwa aku tak memahami apa maksudnya.

“Aku sedang jatuh cinta.”

“Pada siapa?” tanyaku, mulai merinding.

“Pada gadis yang pagi ini menerima tulip dariku.”

Oh, Tuhan. Aku tak tahu apa yang terjadi berikutnya. Karena yang ada di kepalaku hanya suara sirene dan lampu merah, mengisyaratkan aku harus segera pergi. Harus segera menghindar dari Kawabata Haruto. Tapi aku tidak mungkin melakukannya. Tidak ketika lelaki itu menarik tanganku dan menggenggamnya.

Apa yang harus kulakukan?

Mereka mengatakan gadis yang sedang jatuh cinta melakukan hal-hal yang konyol. Tapi kenapa seorang maniak spaghetti dan kucing melakukan hal yang sama?

 

Bersambung ke Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Sabtu Bersama Bapak


Thirteen Terrors: Kisah Menyeramkan di Setiap Sekolah


Membaluri Luka dengan Cinta dalam Lagu I'm Not The Only One


Kue Cubit Surabaya - Cubit Gigit Legit


Oost Koffie & Thee - Rumah Kopi dan Teh yang Menawarkan Lebih Dari Kenyamanan


Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa


Tea Tasting Bersama Havelteh


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Ode Untuk Si Bungsu


Perjalanan, Pergulatan Waktu