Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)

08 Apr 2015    View : 1066    By : Niratisaya


Pastikan membaca sub-bab "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" sebelumnya:

 

3. Telepon Umum dan Gadis yang Menyerupai Anak Kucing

Ada dua hal yang aku kenal dengan baik di dunia: kebiasaan Mao, kucingku, dan tingkat kematangan spaghetti. Selebihnya aku tidak terlalu memahaminya. Mengapa dari Niigata aku malah terpuruk di Chiba dan berkubang di dalam pekerjaan sebagai akuntan. Mengapa aku selalu dengan mudah memungut anak-anak kucing, meski pada akhirnya mereka “diusir” oleh kekasihku, Iwata Eriko. Kecuali Mao, yang selalu datang dan pergi sesuka hati.

Bicara tentang kekasihku, aku juga tidak memahami mengapa kami masih berhubungan. Mengapa aku selalu membiarkannya kembali padaku.

Aku dan Iwata Eriko telah berkencan lebih dari empat tahun. Dan lebih dari sepuluh kali kami putus kemudian kembali berhubungan. Kurasa semua terletak pada kenyamanan. Iwata Eriko merasa nyaman denganku yang tak pernah menegur atau mengatur kehidupannya. Sementara aku merasa nyaman karena aku punya seseorang yang bisa aku ajak bicara. Selain tetanggaku, Ken, dan kekasihnya. Sampai aku bertemu dengannya. Dengan gadis muda yang begitu mudah naik darah. Indira.

Bahkan fakta bahwa aku memanggilnya langsung dengan kecilnya sama seperti cara kekasih Ken memanggilnya—bukan nama keluarganya, yang begitu panjang dan ruwet bagiku—cukup mengejutkanku. Padahal kami bertemu tanpa sengaja, saat aku sedang berada di telepon umum berusaha menghubungi Iwata Eriko yang  ternyata sudah berada di dalam pesawat. Di antara pembicaraan berputar-putar Iwata Eriko, yang selalu berakhir pada kata “putus”, aku mendapati bayangan Indi-chan samar terpantul di kaca telepon umum. Sebelum kemudian aku mendengar suaranya dan melihat baik-baik wajahnya yang mengingatkanku pada Mao, sewaktu aku pertama kali memungutnya: gusar dan penuh kekesalan.

Hingga kini Mao masih memiliki ekspresi yang sama, begitu pula dengan Indi-chan.

Mungkin karena teringat pada Mao, alih-alih meninggalkan telepon umum dan pulang, aku memilih untuk mengamati Indi-chan. Dia menggendong tas punggung, membawa sebuah kardus yang diletakkannya di dekat kaki, dan kopor yang disandarkannya di pintu telepon umum. Melihat tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang kekanakan, aku sontak menyimpulkan bahwa gadis yang di hadapanku itu adalah anak SMA yang melarikan diri dari rumah. Pikiran itu membuatku memutuskan untuk menunggunya, lalu bertanya apa dia baik-baik saja.

Indi-chan bungkam dan mengamatiku. Beberapa kali aku menanyakan keadaannya, tapi gadis itu tetap diam. Sebelum akhirnya mengangguk dan berkata dengan suara cemprengnya bahwa aku tak perlu mengkhawatirkannya. Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan seorang gadis muda seperti dia yang membawa kardus, tas punggung ala anak SMA, dan kopor. Jelas-jelas dia menguarkan masalah dan aura anak yang kabur dari rumah.

girl and her luggage(gambar diambil dari stuffpoint.com)

Tak terbiasa dengan basa-basi, aku pun kontan bertanya, “Apa kau kabur dari rumah?”

Tanpa peringatan, mendadak Indi-chan meledak. “Kau pikir aku remaja yang berontak ke orangtuanya dan kabur?”

“Kalau begitu ... kau tidak sedang menunggu kekasihmu datang menjemput?” tanyaku, keheranan.

“Tentu saja tidak! Kau pikir aku remaja labil yang akan lari dari rumah cuma karena masalah cinta?!”

“Ah, rupanya kau sekadar remaja labil, ya.”

“Aku ini mahasiswi, bukan remaja lagi.”

Kupikir semua perempuan akan senang kalau dianggap lebih muda. Namun, melihat sikap Indi-chan saat itu aku tahu bahwa aku salah menduga. Aku mencoba mengurangi kemarahannya dengan melemparkan senyum. “Dari sudut pandangku, yang seorang pegawai kantoran, kau terlihat seperti remaja, Nona Pemarah.”

Aku tahu, seharusnya aku meminta maaf dan menawarkan bantuan, seperti niatku semula. Tapi melihat sosok Indi-chan yang seperti Mao yang kesal saat kugoda dengan sebuah rumput, atau mainan yang bisa kutarik-ulur seperti yoyo. Reaksi Indi-chan saat itu segera mengingatkanku pada saus braised beef yang sempat kucicipi saat bersekolah di Amerika dan selama ini berusaha kumasak, tapi selalu gagal. Dan menggodanya, selalu menjadi kesenangan bagiku. Bahkan hingga sekarang.

Ketika aku melihatnya meraih barang-barangnya dan berjalan melewatiku, entah mengapa aku merasa panik. Aku pun berbalik dan memanggilnya. Berusaha melakukan apa pun agar dia tidak pergi begitu saja. Namun tentu saja, aku dan otakku yang tak kenal penyaringan serta basa-basi langsung melontarkan hal pertama yang terlintas di kepalaku.

“Hei ... Nona hm ... siapa namamu? Kau akan pergi begitu saja?”

“Memangnya ada apa lagi?”

Aku tersenyum saat melihat Indi-chan berbalik dan memperlihatkan ekspresi marah. “Jangan marah seperti itu. Aku hanya ingin minta maaf padamu. Setelah kupikir-pikir, kau mungkin kesal karena aku sudah menganggapmu sebagai remaja labil.”

Aku makin senang saat dia melotot sewaktu menimpaliku dengan jawaban, “Apa begini caramu berbicara dengan orang yang baru kau kenal?”

“Aku minta maaf.” Aku kembali menawarkan senyumanku. “Tidak seharusnya aku bicara seperti itu padamu.” Sungguh, aku tidak berniat menggodanya. Semua hanya terjadi begitu saja. Terutama saat aku melihat ekspresi Indi-chan yang kesal, seolah dia akan menonjokku kapan saja.

Namun, Indi-chan tidak melakukannya. Sebaliknya, dia berkata, “Ulangi sekali lagi, tanpa gaya bicaramu yang mengesalkan, baru aku akan memaafkanmu.”

Benar-benar menarik. Detik itu juga aku ingin lebih dekat dengan Indi-chan yang bahkan belum aku kenal sama sekali.

Karena aku adalah aku, aku pun melakukan hal pertama yang ada di otakku. “Sayangnya … itu adalah hal yang mustahil. Bagaimana kalau sebagai wujud permintaan maafku, aku traktir spaghetti? Ini akan lebih memperlihatkan ketulusanku.”
Mengapa spaghetti?

Aku sempat tinggal dua tahun untuk kuliah di Amerika. Di antara masakan-masakan yang ada di sana, makanan pertama yang menempel di lidahku dan membuatku merasa nyaman adalah masakan Italia—khususnya spaghetti yang kunikmati di sebuah restoran kecil. Pada saat itu aku spontan berpikir, seandainya aku urung menjadi bankir atau memiliki pekerjaan sebagai akuntan, mungkin aku akan membuat restoran masakan Italia. Tapi kenyataannya, aku bekerja sebagai seorang akuntan dan selalu gagal membuat saus yang mengingatkanku pada masakan Italia yang sempat kucicipi.

Spaghetti(gambar diambil dari foodwhirl.com)

Anehnya, aku selalu berhasil membuat spaghetti yang al dente—dengan tingkat kematangan sempurna. Dan akhirnya selalu kumasak dengan cara Jepang, menjadi yakisoba. Atau lebih tepatnya yaki-spaghetti, alias spaghetti goreng.

“Dan anggur?” tanya Indi-chan setelah beberapa saat dia diam dan mengamatiku.

Aku sama sekali tak menyangka kalau gadis semacam Indi-chan menyukai minuman beralkohol. Tapi melihat perangainya, seharusnya aku tidak perlu heran. Aku berdecak, pura-pura kesal karena permintaannya, dan menawar, “Dan segelas anggur.” Padahal dalam hati aku tersenyum dan berharap ada gelas-gelas anggur di lain kesempatan untuk kami berdua.
Sebuah harapan yang kemudian menjadi kenyataan saat kekasih Ken mengenali Indi-chan dan menyebut nama panggilannya, yang kemudian tak pernah bisa aku lupakan.

Indi-chan.

Karena itulah aku berdiri pagi ini di depan asrama Indi-chan dengan bunga yang disukanya. Tulip warna merah muda. Sementara itu, di sana, di lobi asramanya, Indi-chan berdiri menatapku dengan pandangan yang sama seperti ketika kami berjumpa kali pertama. Sejujurnya, aku selalu menyukai ekspresi lepas dan spontan Indi-chan. Sama seperti aku menyukai keberadaannya di sampingku.

Apakah ini berarti aku jatuh cinta pada gadis yang tujuh tahun lebih muda dariku? Entah. Namun yang pasti, aku sedang berusaha menemukan jawabannya. Mulai dari meniru para lelaki yang berusaha mendekatinya. Mulai dengan mengunjungi apartemennya dan bukannya memintanya bertemu di apartemenku. Dengan memintanya makan berdua, tidak berempat seperti biasa.

***

Mao, kucingku, punya kebiasaan mengeong dan membuntutiku sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Pernah satu kali, Mao membuntutiku seharian hanya karena dia ingin bermain denganku. Dan hari ini, sikap Indi-chan yang terus-menerus menanyakan hubunganku dengan Iwata Eriko mengingatkanku pada Mao. Aku mencuri pandang ke arah gadis yang berjalan di sampingku. Indi-chan selalu mempunyai potongan rambut yang sama: hitam, lurus, dipotong tepat di bawah telinga. Aku mengetahui ini dari kekasih Ken. Dia lebih suka mengenakan legging atau celana ketimbang rok, sepatu kets dibanding hak tinggi—memudahkanku berlari, begitu katanya saat aku menanyakan hal ini langsung. Alasan serupa mengapa dia memotong rambutnya pendek. Demi kepraktisan. Karena dengan begitu dia tak perlu pusing menata rambut, menghabiskan uang demi sampo dan conditioner, atau ribet dengan rambut yang berminyak.

Benar-benar gadis yang praktis.

Benar-benar gadis yang berbeda dari Iwata Eriko.

“Apa kau bertengkar dengan Iwata-san karena Mao lagi?” tanya Indi-chan, akhirnya memutus untuk bertanya langsung padaku.

“Tidak,” jawabku. “Kami sudah putus.”

Aku kembali mencuri pandang ke arah Indi-chan yang saat ini berada beberapa langkah di belakangku. Melihat kedua alisnya yang bertaut, aku tahu; ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tak sulit untuk mengetahui apa yang mengganggu pikirannya. Satu, mengapa aku berdiri di depan asramanya dengan bunga di tangan. Dua, mengapa aku membawa bunga yang saat ini dibawanya dengan rikuh. Tiga, aku tahu dia ingin bertanya lebih jauh mengenai Iwata Eriko dan hubunganku dengannya, tapi tak mampu dia lakukan. Aku tersenyum tipis saat melihat Indi-chan berulang kali menggaruk keningnya—tanda bahwa dia gugup.

Aku pun mengurangi kecepatan berjalanku hingga kami berjalan beriringan.

“Cepat sekali!” seru Indi-chan dengan sikap tubuh yang mencerminkan kegelisahannya.

Sepertinya aku memang harus mengatakannya langsung, demi menyudahi kegelisahan Indi-chan. Atau aku malah akan membuatnya makin gelisah? Aku tersenyum membayangkan seperti apa jadinya ekspresi gadis itu nantinya.

Aku pun memutuskan untuk mengakhiri permainan ini dan mengajaknya ke restoran Itali yang sempat dia sebutkan saat kami terakhir bertemu. “Hei, tidak sopan. Omong-omong kau ingin makan di mana sekarang, Indi-chan? La Cucina Hana?”

La Cucina Hana
(gambar diambil dari r.gnavi.co.jp)

“Aku tidak bisa.” Tiba-tiba Indi-chan menghentikan langkahnya. “Haruto-san, ada apa?”

“Memangnya perlu ada apa-apa dulu, baru kita bisa makan di restoran?” Aku melakukan hal yang sama lalu memiringkan kepala, memberikan senyuman yang aku tahu akan membuatnya kesal dalam hitungan detik.

Satu, dua, tiga…. Nah, itu dia. Ekspresi kesal ala Indi-chan yang membuatnya terlihat menggemaskan.

“Tentu,” jawab Indi-chan dengan dahi berkerut dan alis yang bertaut, tanda bahwa dia menahan amarahnya. Pada saat-saat seperti ini, aku bersyukur kami berada di jalan, bukan di apartemen. Dia tidak akan bisa menonjok perutku. “Kawabata Haruto, ada apa ini? Kau mungkin sedang patah hati, tapi bukan berarti kau bisa melibatkan orang lain di dalamnya.”

Indi-chan benar. Aneh memang bila aku tiba-tiba menyatakan perasaanku. Aku dan Iwata Eriko baru saja putus. Dan biasanya aku akan menghabiskan waktu di apartemen, menelepon Indi-chan, memasak spaghetti dengan berbagai macam cara dengan bantuan gadis itu, kemudian menyantapnya bersama-sama Ken dan kekasihnya. Keesokan harinya aku akan mengajak teman-teman kantor minum bersama, lalu menelepon Indi-chan dan membagi semua racauan mabukku. Ini adalah siklus yang biasanya aku jalani. Kebiasaan yang kemudian kubagi dengan Indi-chan.

Tapi tidak lagi. Aku berjalan menghampiri Indi-chan yang berdiri termangu. Sejujurnya, aku tak pernah memahami perasaanku. Aku tak pernah memahami cinta.  Bahkan ketika aku bersama Iwata Eriko.

Aku hanya mengerti rasa nyaman. Inilah yang membuatku menerima perasaan Iwata Eriko. Alasan ini juga yang membuatku menerima setiap sifat, sikap, dan keputusan Iwata Eriko. Sampai wanita itu menunjukkan hal yang tak kusadari.

“Aku tidak patah hati kok, Indi-chan. Sebaliknya, aku malah sedang berbunga-bunga,” kataku, sambil menatap lurus ke arah Indi-chan yang mengernyit. Benar-benar imut. “Aku sedang jatuh cinta.”

“Pada siapa?” tanya Indi-chan. Atau lebih tepatnya dia ingin mengonfirmasi kecurigaannya.

Aku mengulum senyum sebelum kemudian memberikan jawaban yang sudah diketahui Indi-chan. “Pada gadis yang pagi ini menerima tulip dariku,” kataku, sementara suara Iwata Eriko memenuhi kepalaku….

“Kau sering menghabiskan waktu dengan Indira-san, Haruto-san? Kau… apa kau mencintainya? Atau kau hanya menemukan rasa nyaman, seperti yang kau rasakan setiap kali kau bersama denganku?”

Cinta. Inilah yang belum aku pastikan. Dengan Iwata Eriko kami sudah tahu seperti apa hubungan kami, juga apa yang kami harapkan dari masing-masing. Sehingga urusan hati dan ucapan cinta tak pernah kami permasalahkan. Tapi, di sisi lain, Iwata Eriko benar. Aku tak bisa menyangkal bila aku merasakan rasa nyaman saat bersama dengan Indi-chan.

“Bahkan lebih dari rasa nyaman kau rasakan denganku?” tanya Iwata Eriko yang saat itu berada di luar apartemenku, menolak masuk.

Aku terdiam.

Aku masih terdiam ketika Iwata Eriko tersenyum sedih dan berlalu dari hadapanku.

Aku tidak lagi mengejar Iwata Eriko seperti sehari sebelumnya. Aku juga tidak meneleponnya untuk memastikan keadaannya. Dia juga tidak menghubungiku keesokkan harinya. Atau dua hari berikutnya. Tiga hari kemudian, Iwata Eriko menghubungiku. Dia mengirimkan sebuah pesan singkat, mengatakan bahwa kami resmi putus.

Membaca pesan singkat Iwata Eriko, aku pun paham mengapa aku merasa nyaman dengan mantan kekasihku itu, tapi pada saat yang sama juga merasa hubungan kami hambar. Kami seperti spaghetti yang dimasak dengan tepat, tapi tak pernah bisa saling melengkapi. Karena kami satu tipe. Karena kami memiliki karakter yang sama.

Sedangkan Indi-chan…. Aku mengulurkan tangan menarik tangan Indi-chan. Gadis ini seperti saus bolognese, carbonara, atau bawang putih dan minyak yang membuat kehidupanku lebih berwarna. Lebih penuh rasa.

Dan jujur, kini giliranku yang merasa ketakutan. Takut bila apa yang kurasakan tak sama. Takut bila setelah ini kami takkan lagi berjumpa. Takut bila aku tak mengatakan perasaanku, akan ada rentetan  nama lelaki-lelaki asing yang akan menjadi pengisi pembicaraan kami, seperti yang sudah-sudah. Kemudian disusul percakapan panjang tentang Indi-chan dan teman-teman kencannya. Meski kerap menjadi pendengar yang baik, aku tak pernah menyukai topik pembicaraan kami yang satu itu. Aku pun mengulurkan tangan, lalu menarik perlahan dagu Indi-chan hingga pandangan kami bertemu. Aku melihat rasa takut di mata gadis itu.

Mungkinkah kami berbagi rasa takut yang sama? Aku terdiam beberapa saat dan mengamati wajah Indi-chan. Sejurus kemudian, aku menarik tanganku dan tersenyum kecut. “Jadi … La Cucina Hana?”

“A-ah … iya,” jawab Indi-chan.

Kami pun melangkah menuju halte bus. Tanganku tak lagi menggenggam lembut tangan Indi-chan.

 

 

Bersambung ke "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" (Bagian Empat)




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 1)


Art Idol


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Nikmatnya Sop Buntut di


Burgerman - Burger Home-Made Khas Surabaya yang Selalu Bikin Ketagihan


Pantai Konang: Pesona Di Balik Gunung Trenggalek


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Interaksi di Galaksi


Dia Ramai Berhening