Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)

18 Apr 2015    View : 944    By : Niratisaya


Pastikan membaca sub-bab "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" sebelumnya:



4. Cerita Aglio dan Olio

Aku tidak pernah benar-benar memahami wanita. Tidak Iwata-san yang sering memutuskan dan menjalin hubungannya kembali denganku, atau Indi-chan yang menolak untuk berbicara denganku beberapa terakhir. Dia bahkan menolak untuk menjelaskan alasan mengapa dia melakukan hal itu lewat pesan singkat.

Aku menatap daftar penelepon dan pesan singkat di ponselku. Di sana hanya ada nama manajer perusahaanku dan pesan singkatnya, yang mengingatkanku untuk mengikuti acara minum-minum selepas rapat bulanan kami. Dan sebuah pesan dari Iwata-san agar aku mengantar beberapa barang miliknya yang tertinggal di apartemenku: sebuah mug dan sepasang sepatu hak tinggi warna hitam. Aku menjawabnya dengan satu kata sebelum kemudian keluar dari lift begitu pintunya terbuka.

“Ah, Haruto-san, konbanwa,” sapa Ken yang baru keluar dari apartemennya.

Aku membalasnya dengan anggukan kepala.

“Jumat besok, apa kita akan makan bersama seperti biasa?”

Pertanyaan sederhana Ken yang sebenarnya bisa kujawab dengan “ya” atau “tidak”, membuatku terdiam beberapa saat. Sebelum aku mengedikkan bahu dan menyerah pada jawaban ambigu. “Aku tidak tahu. Kita harus menunggu jawaban para gadis.”

Para gadis yang kumaksud di sini adalah Indi-chan seorang. Aku ingin bersikap sopan dengan tidak menjelaskan maksudku secara langsung pada Ken. Tapi tampaknya dia mengerti  maksudnku karena sedetik kemudian dia mengangguk dan memukul pelan pundakku, lalu berjalan menuju lift.

Aku menghela napas, membayangkan bagaimana acara makanku bersama Indi-chan tempo hari berubah menjadi salah satu topik gosip antara Ken dan kekasihnya, Nobuko. Aku membuka pintu apartemenku dan mendengar sambutan Mao yang segera menghampiriku.

“Halo, Mao-chan. Kau lapar?” tanyaku sambil menunduk dan membelai bulu halus kucing kampung yang membalasku dengan geraman halus, sementara Mao menggosok-gosokkan tubuhnya pada tanganku. Aku tersenyum menanggapi tingkah manja Mao. “Aku mengerti.”

Cat and girl(gambar diambil dari s2.favim.com)

Tepat pada saat ini aku menyadari betapa berbedanya Mao dengan Indi-chan, dan berharap seandainya Indi-chan sesederhana Mao. Aku berjalan menuju dapur dan membuka mengambil makanan kucing, sembari sebisa mungkin tak menghiraukan gunungan sampah yang menjejali tempat sampahku. Atau kalender yang ada di sebelah kananku.

Tapi, tanpa mengintip pun aku tahu hari apa hari ini. Hari ini tepat empat hari sejak aku makan bersama Indi-chan. Yang tidak bisa kubilang berjalan dengan lancar dan baik. Hari pertama sejak aku terakhir bertemu Indi-chan kuhabiskan dengan memasak nasi goreng kemudian memakannya bersama Ken dan Nobuko, kekasihnya. Pada hari kedua, aku memesan piza dan menyimpan sisanya di lemari es. Pada hari ketiga, aku memutuskan untuk memasak pasta—hanya untuk menemukan diriku menghangatkan sisa piza yang kupunya dan membaginya dengan Ken.

Hari ini, hari keempat, aku yang telah mengumpulkan serpihan-serpihan logika di kepalaku memerintahkan diriku untuk keluar—agar aku memakan sesuatu yang lebih manusiawi ketimbang mi instan, yang berenang-renang di kepalaku sejak aku keluar dari kantor. Aku segera mengganti setelan kerjaku dengan celana dan kaos, lalu bersiap pergi.

“Mao, aku pergi dulu.” Aku berpamitan pada Mao yang masih asyik menunduk di depan mangkuknya.

Aku baru saja menjejakkan kaki di genkan, tempat melepas sepatu dan sandal di depan pintu, ketika ponsel yang kuletakkan di atas meja makan berdering.

***

“Ah! Haruto-san!”

Seorang gadis berambut pendek dengan kaos merah dan celana cropped hitam melambaikan tangannya ke arahku.

Aku tersenyum sambil membalas lambaian gadis itu dan berjalan menghampirinya.

“Salah satu fantasiku adalah berbelanja dengan seorang pria, apa kau tahu itu, Haruto-san?” kata gadis itu, Nobuko, begitu kami berjalan menuju salah satu supermarket.

“Kalau begitu seharusnya kau pergi dengan Ken, bukan denganku,” timpalku.

Nobuko menggeleng. “Mana mungkin. Ken paling benci berbelanja. Karena itu, cita-citaku sedikit kuturunkan, dari berbelanja dengan kekasihku, jadi berbelanja dengan seorang pria. Agak berbeda, tapi tetap sama.” Nobuko menjawab sambil nyengir lebar.

Nobuko yang juga adalah teman sekamar Indi-chan adalah seorang gadis ekspresif yang komunikatif. Ketika kami berkumpul bersama—baik ketika hanya ada aku, Ken, dan dirinya serta Indi-chan sewaktu gadis itu setuju bergabung dengan kami—untuk mencicipi hasil masakanku, Nobuko bak radio yang mengisi kesunyian. Menyetel musik ketika hanya ada aku dan Ken terasa canggung, sedangkan Iwata-san tidak pernah benar-benar menyukai musik. Dia lebih suka menonton televisi yang begitu kubenci.

Kali ini pun demikian, racauan Nobuko menyingkirkan kecanggungan yang kurasakan. Aku hanya cukup menjawab dengan gelengan atau membalas dengan jawaban pendek tanpa merasa rikuh.

“Jadi, kau akan memasak apa hari ini, Haruto-san?” tanya Nobuko.

“Hm….” Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Pasta.” Dengan nada yang tak terlalu meyakinkan.

“Kau hampir selalu memasak pasta.” Nobuko tertawa kecil sewaktu kami masuk ke dalam supermarket. Dia lalu meraih keranjang. “Katakan, kali ini pasta apa yang kau masak? Indi-chan tidak ada bersama kita, lho.”

“Aku tahu.” Aku mengangguk seraya melangkah menuju bagian tepung dan mi. Aku meraih tepung, spaghetti siap pakai, dan makaroni.

“Kalau begitu? Apa kau akan membiarkan aku dan Ken makan masakan gagalmu seperti dulu?” tanya Nobuko dengan ekspresi terkejut yang aku tahu dibuat-buat. “Hei, Haruto-san, katakan padaku, kenapa kau selalu memasak pasta padahal kau sendiri tahu kau selalu gagal?”

Aku tersenyum lemah dan menoleh ke arah Nobuko, sementara tanganku berada di atas kotak telur. “Aku punya satu menu pasta yang selalu berhasil kumasak. Aku hanya jarang memasaknya.” Sepertinya aku harus menarik ucapanku sebelumnya. Bersama Nobuko tidak selalu menyenangkan dan bisa menyingkirkan rasa canggung.

“Kenapa?” Nobuko sekali lagi bertanya.

“Karena begitu sederhana dan aku bisa memakannya sendiri,” jawabku. “Rasanya tidak terlalu berarti.”

Nobuko menimpali dengan “hm” panjang dan tak bertanya lagi.

Nama masakan itu adalah pasta aglio e olio. Bawang putih dan minyak. Aku bisa memasaknya dengan spaghetti, linguini, atau jenis pasta lainnya. Karena aku tidak terlalu yakin apa yang akan kumasak, aku meraih spaghetti, makaroni, dan tepung.

Aglio Olio(gambar diambil dari pirro.com)

Setiap kali memasak pasta aglio e olio, impresi yang pertama kali aku rasakan adalah rasa sepi. Mungkin ini karena pertama kali aku memasaknya adalah saat aku berada di asramaku, di Amerika. Dan ketika aku memasaknya di Jepang untuk acara makan malamku bersama Iwata-san, mantan kekasih itu menolak dan memutuskan untuk makan bersama teman-teman kantornya. Meninggalkanku sendiri dengan dua piring pasta aglio e olio dan semangkuk salad.

“Dan kau akan memasaknya hari ini?” tanya Nobuko.

Aku mengangguk sambil meraih beberapa macam sayuran dan bumbu masak. Kami lantas berjalan menuju meja kasir, dengan Nobuko yang kini membicarakan tentang bahan-bahan kuliah membosankan yang harus dibacanya. Sementara aku diam mendengarkan dengan pikiran melayang pada teman sekamar Indi-chan, yang hingga kini menolak berkomunikasi denganku.

***

Pada akhirnya aku memutuskan untuk membuat pasta sendiri.

Yang aku sukai dari memasak pasta adalah proses memasaknya yang konsisten dan berurutan, serta fakta bahwa aku bisa memasaknya dengan berbagai macam alternatif cara. Seandainya aku gagal memasak saus yang aku inginkan. Terutama saat aku gagal memasak saus yang aku inginkan.

“Apa tidak akan memakan waktu, Haruto-san?” tanya Nobuko.

“Sama sekali tidak. Hanya butuh kurang lebih empat puluh lima menit. Sementara itu, kau dan Ken bisa menonton film romantis yang ingin kau tonton itu.”

Nobuko menyeringai saat mendengar jawabanku. Beberapa hari ini gadis itu tanpa henti membicarakan sebuah film. Nobuko bahkan hampir selalu membawa film itu setiap kali dia mengunjungi apartemen Ken. Aku menduga, hari ini pun demikian.

“Ide bagus. Ken sama sekali tak mau menonton film ini. Kalau begini kan, mau tak mau dia harus menontonnya.”

Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Nobuko.

“Ngomong-ngomong, Haruto-san, apa tidak sulit membuat pasta sendiri?” tanya Nobuko seraya berdiri di depanku.

Aku menggeleng dan menjelaskan pada Nobuko bahwa yang perlu kulakukan hanyalah mencampur takaran tepung dengan tiga butir telur dan garam, menguleninya hingga adonan tepung tercampur rata dan lembut, membungkusnya ke dalam plastik, kemudian menyimpannya ke dalam lemari es untuk setengah jam.

“Cukup mudah ternyata,” komentar Nobuko begitu aku selesai menjelaskan mengapa aku memilih membuat pasta sendiri, sementara mereka menghabiskan waktu sambil menonton.

“Atau sambil membujuk Ken,” kataku yang disambut dengan tawa renyah Nobuko.

Sesaat kemudian terdengar ketukan di pintu apartemenku. Aku kontan meletakkan bungkus tepung dan menatap pintu, mengharapkan sesuatu yang aku tahu tak bisa kuharapkan. Tapi ketika pintu terbuka dan terdengar suara maskulin berkata, “Maaf mengganggu” aku tahu bahwa aku harus membereskan harapanku dan kembali berkonsentrasi pada kegiatan memasakku. Aku menyapa Ken yang menghampiri meja makan dan mengeluarkan kaleng-kaleng bir.

Biasanya, ketika sendirian, pada saat ini aku memasak saus sebaik mungkin. Kalaupun gagal, aku akan memasak pasta buatanku dengan mentaiko—telur ikan yang diasinkan dan terasa agak pedas. Atau menumisnya dengan paprika, bawang bombay, jamur, dan bumbu miso. Akan tetapi, hari ini aku memutuskan untuk memasak spaghetti siap pakai dengan campuran bawang dan minyak, karena aku yakin kali ini aku tidak akan memakannya sendiri. Ada Ken dan Nobuko yang menemaniku.

Mungkin kali ini aglio e olio tidak kan terasa begitu menyedihkan lagi.

Aglio e olio sebenarnya adalah salah satu cara memasak pasta dengan begitu sederhana, bahkan lelaki bodoh seperti diriku bisa melakukannya tanpa perlu berkali-kali mencicipi masakannya. Tapi entah kenapa aku malah mendapati diriku menatap spaghetti yang baru kutiriskan, membiarkan tiap tetes air asin bekas rebusan pasta mengalir masuk ke dalam lubang bak cuci piring. Padahal yang harus aku lakukan adalah mencampur pasta dan air sisa tirisan ke dalam penggorengan bersama bawang yang kutumis.

Aku melempar pelan spaghetti yang telah benar-benar tiris dan menatap uapnya.

“Haruto-san, ada apa?” panggil Nobuko.

“Aku gagal,” jawabku sambil menatap spaghetti yang mulai dingin, menyadari bahwa levelku turun, dari bodoh menjadi idiot.

“Hei, Haruto-san. Aku rasa kau tidak gagal. Kau hanya berusaha mengalihkan pikiran, padahal yang kau perlukan saat ini adalah menyelesaikan masalah yang mengganggu pikiranmu.” Nobuko mengambil mangkuk tiris berisi spaghetti dari bak cuci. “Indi-chan ada di restoran okonomiyaki di dekat Stasiun Keisei Narita, kalau kau ingin bertemu dengannya.”

“Kau harus bertemu dengannya.” Ken menghampiri kami berdua. “Demi kewarasanmu dan perut kami.”

Nobuko menyikut perut Ken yang sontak mundur. Aku memandang mereka berdua bergantian dan mengangguk. Empat hari sudah cukup. Dan sudah saatnya aku melakukan sesuatu untuk kewarasanku. Bertahun-tahun aku mempertahankan kewarasanku dengan hubunganku yang tenang bersama Iwata-san, tapi Indi-chan menghancurkan ketenangan itu. Sedikit banyak, dia harus bertanggung jawab untuk segala kekacauan dalam hidupku.

"Aku pergi dulu." Aku melepas celemek dan berjalan keluar.

 

 

Bersambung ke "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" (Bagian Lima)




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ayah Dan Hari Ayah


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Supernova 3: Petir


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)


Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?


Baegopa Malang - Ada Harga Ada Rasa


Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa


Piknik Asyik Bersama Keluarga Di Pantai Teleng Ria


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Faisal Oddang, dan Puya ke Puya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Balada Sebuah Perut


Sebilik Ruang