Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)

06 May 2015    View : 1152    By : Niratisaya


Pastikan membaca sub-bab "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" sebelumnya:


5. Masalah Rasa yang Tidak Akan Pernah Dipahami Lidah

Aku menarik napas dalam-dalam begitu keluar dari restoran okonomiyako tempat goukon yang baru saja selesai kuikuti. Sebenarnya lebih tepat kalau kukatakan kuakhir sepihak. Entah karena terbiasa dengan goukon dan segala kepura-puraan di acara goukon pada umumnya—tawa yang dibuat-buat, pertanyaan-pertanyaan serupa yang berulang kali aku dengar, dan lain sebagainya—aku memutuskan untuk keluar. Atau mungkin karena perasaan aneh yang menggangguku akhir-akhir ini.

Acara semacam ini semestinya membuatku lebih bersemangat dan melupakan semua beban masalah, bukannya malah membuatku bosan seperti ini. Secara spontan, aku menarik ponselku yang ada di saku dan memandang layarnya yang gelap. Pada saat yang bersamaan ingatanku menghadirkan sosok Kawabata Haruto dan senyuman tipis-polos khasnya. Aku pun memasukkan kembali ponselku ke saku celana jeans dan mendorongnya kuat-kuat, membayangkan saat ini aku sedang menonjok wajah penuh senyum milik Kawabata Haruto.

Kenapa dia harus bersikap konyol seperti itu sih? Rutukku sambil mendengus kesal karena ponselku sudah mentok.

“Indira-san? Untunglah kau masih ada di sini.”

Begitu mendengar seseorang memanggil namaku, aku sontak menoleh ke belakang. Di sana, di depan pintu restoran okonomiyaki, aku mendapati seorang lelaki dalam balutan kemeja cokelat muda dan celana jeans warna hitam. Aku selalu mengenalkan diri dengan nama pertama di setiap acara goukon. Bukan untuk mengakrabkan diri seperti tuduhan berselimut canda yang dilontarkan peserta goukon lainnya, tapi murni karena aku tak ingin orang-orang salah menyebut nama keluargaku. Dan aku tak ingin terus-menerus mengoreksi mereka.

Aku membalas panggilan itu dengan senyum kikuk, sementara otakku berusaha mencari informasi mengenai lelaki yang ada di hadapanku. Selain jurusan yang diambilnya aku tidak mendapatkan informasi lainnya.

“Keisuke. Namaku Ishida Keisuke,” kata lelaki yang mengambil jurusan Hukum itu, memperkenalkan dirinya.

Aku tertawa dan meminta maaf. “Ingatanku pendek.” Aku berkilah, mencoba mencairkan suasana.

“Tidak apa-apa. Kenapa buru-buru pulang?” tanya Ishida Keisuke. “Apa ada masalah di rumah?”

“Tidak. Aku hanya ingin berjalan-jalan,” jawabku,  berharap Ishida Keisuke mengerti bahwa aku sedang ingin sendiri.

Tapi tentu saja, di acara goukon seperti ini kemungkinan itu hanya empat puluh persen. Aku pun tidak terkejut saat Ishida Keisuke berkata, “Tebakanku tepat rupanya. Kau merasa bosan dan ingin melarikan diri. Nah, bagaimana kalau kita melarikan diri bersama-sama?”

Aku meringis. Ketika aku sedang memikirkan alasan apa yang bisa aku berikan untuk lelaki tipe Ishida Keisuke agar dia mengerti kalau aku tak suka ditemani, saat itulah aku menangkap sosok yang familier di sudut pandangku. Sewaktu menoleh, aku mendapati Kawabata Haruto berdiri di seberang jalan. Dia tak memperlihatkan senyuman tipis-polos khasnya. Kawabata Haruto hanya berdiri di sana sambil menatap lurus-lurus ke arahku. Selama beberapa saat kami saling tukar pandang.

“Indira-san, ada apa?” tanya Ishida Keisuke yang tak kuacuhkan.

Ketika mendengar dengusan dan suara langkah kaki yang menjauh, aku pun tahu; Ishida Keisuke juga melihat sosok Kawabata Haruto. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi di sisi lain kini aku harus berhadapan langsung dengan lelaki yang paling kuhindari. Aku meremas tali tote bag-ku saat Kawabata Haruto berjalan menghampiriku, seolah bisa membaca bahwa aku sedang memikirkan cara paling cepat untuk kabur dari hadapannya.

“Lama tidak berjumpa, Indi-chan,” sapa Kawabata Haruto.

“Baru empat hari,” balasku setengah menggerutu, yang segera dibalas derai tawa Kawabata Haruto. Dan rentetan sensasi aneh mirip minuman berkarbonasi di dalam tubuhku. Sepertinya aku terlalu banyak minum soda di restoran tadi.
“Kuantar pulang?” tawar Kawabata Haruto.

Aku terdiam, tak menjawab.

“Bagaimana kalau kita jalan kaki?”

Jarak restoran okonomiyaki dengan asramaku sekitar tiga puluh menit berkendara bus. Aku menatap tajam Kawabata Haruto, melayangkan protes dalam diam. Bukan karena kesal Kawabata Haruto mengajakku jalan kaki, tapi lebih karena kemampuannya membaca pikiranku. Pulang dengan jalan kaki adalah tujuan awalku sebelum Ishida Keisuke merusaknya.
Aku mengangguk dan Kawabata Haruto mulai melangkahkan kakinya.

***

Aku selalu suka berjalan kaki. Terutama ketika pikiranku buntu dan otakku terasa tumpul. Aku juga suka malam hari. Ini karena aku tak pernah bersahabat dengan matahari. Lebih tepatnya kami berdua adalah musuh bebuyutan. Setidaknya aku menganggapnya begitu. Sayangnya, dua hal kesukaanku ini tidak pernah bisa bersatu. Tidak ketika kau berjalan kaki dan para lelaki usil melemparkan sapaan atau siulan yang mengganggu. Belum lagi jambret atau ancaman lainnya.

Sebenarnya Jepang tidak jauh berbeda. Siapa pun masih terancam penjambretan, menerima sapaan usil, atau siulan orang iseng. Tapi tidak sesering ketika aku masih berada di kampung halamanku, yang sebenarnya tidak terlalu kampung. Terima kasih pada sifat individual penduduk Jepang yang seakan sudah mengakar. Semenjak tinggal di Jepang, aku bisa menikmati udara malam sambil berjalan kaki saat aku pusing dengan ujian atau saat patah hati. Berjalan kaki selalu mampu membuat pikiranku lebih segar, seperti sayuran hijau yang dibilas air.

Night at Chiba(diambil dari chomikuj.pl)

Sayangnya, aku tidak mendapatkannya malam ini. Dan semua itu berkat lelaki yang berjalan di sampingku dan lagu bodoh yang diputar salah satu toko pakaian. Pendengaranku menangkap lagu itu begitu saja dan memutarnya tanpa henti di kepalaku.

Semula, kepalaku diisi percakapan imajiner yang mustahil kulakukan lagi dengan Kawabata Haruto. Lalu berganti perdebatan konyol antara aku dan diriku sendiri yang memikirkan cara melarikan diri dari Kawabata Haruto. Sampai akhirnya, entah mengapa, aku malah mendengarkan suara langkahku dan Kawabata Haruto yang membentuk irama konstan. Padahal aku dan Kawabata Haruto tidak berjalan beriringan seperti biasanya. Sedetik kemudian, sensasi minuman berkarbonasi itu kembali merayap dari dada hingga kepalaku.

Untuk menyingkirkannya, aku mencoba menangkap suara apa pun di sekitarku. Tepat saat itulah aku mendengar lagu itu. Sebuah soundtrack drama Jepang lama kesukaan ibuku yang sering diputarnya saat kami hanya berdua di rumah.
Aku tahu. Itu hanya lagu. Masalahnya, itu lagu romantis. Dan penyanyi bersuara khas itu berulang-ulang menyanyikan “konya kimi wa boku no mono—malam ini kau milikku”. Sementara Kawabata Haruto berjalan di sampingku.

Aku menoleh ke arah Kawabata Haruto yang menatap lurus ke depan. Semua ini salah lelaki berengsek ini. Kenapa dia tidak bisa seperti lelaki Jepang pada umumnya? Bersikap tak acuh dan individualis—hardcore kalau perlu.

Seakan sadar aku tengah menatapnya, dengan tajam, Kawabata Haruto menoleh ke arahku. “Ada apa Indi-chan?”

Aku hanya menggeleng dan kembali menatap jalanan di depanku sambil menghela napas.

Tapi tentu saja, Kawabata Haruto memilih untuk menjadi orang bebal dan tak menangkap isyarat bahwa aku tak ingin berbicara dengannya. Terutama denngannya. “Kau…. Apa kau menerima pesanku beberapa hari yang lalu?”

Aku meneguk ludah, teringat pada pesan singkat Kawabata Haruto, lalu mengangguk. Berkat pesan singkat itu beberapa hari belakangan aku punya kebiasaan baru: mematikan ponsel sepanjang hari dan hanya menyalakannya sesaat sebelum aku tidur—untuk memeriksa pesan atau telepon yang masuk.

“Jadi… kau sudah membacanya,” ucap Kawabata Haruto, lirih.

Sebenarnya aku belum membacanya. Begitu melihat nama Kawabata Haruto, aku tidak membukanya. Tapi aku memilih diam. Rasanya ini pilihan yang tepat untuk saat ini. Apalagi kepalaku mengkhianatiku. Sewaktu dia berhenti memainkan lagu itu, sekarang dia malah memutar kembali ucapan Nobuko saat dia kembali mendapatiku menyalakan lalu mematikan ponselku.

“Kau menyalakan dan mematikan ponselmu lagi? Kenapa? Takut kalau Haruto-san meneleponmu? Atau kau takut menghadapi perasaanmu sendiri?”

Aku mendengus, sekali lagi mematikan ponselku.

“Kau tahu, ini bisa jadi awal berseminya cintamu. Ah… cinta bersemi di musim semi—romantis sekali, Indi-chan!” ujar Nobuko dengan mata berbinar penuh mimpi. Atau efek samping dari drama-drama yang ditontonnya.

“Cinta?” Aku menggeleng. “Aku baru mengenalnya satu bulan. Cinta apa.”

Nobuko menatapku lurus di mata dan berkata, “Sebenarnya kau dan Haruto-san sama; kalian sama-sama suka berkubang di zona nyaman. Kau dengan jarak yang kau ciptakan terhadap mantan-mantanmu. Haruto-san dengan hubungan anehnya dengan Iwata-san. Kalian membiarkan situasi menyeret kalian, bukannya menciptakan situasi.”

Aku dan Kawabata Haruto sama? Aku menghentikan langkah dan menoleh ke sebelahku, hanya untuk mendapati mobil dan taksi di jalanan.

Apa Kawabata Haruto diam-diam pergi? Aku menoleh ke belakang dan melihatnya sedang menatapku. Lagu bodoh itu sekali lagi berputar di kepalaku dan baru berhenti sewaktu Kawabata Haruto berdeham. Aku memusatkan perhatianku pada lelaki itu. Dia berjalan ke arahku dan mengedikkan kepala, isyarat agar kembali berjalan. Kemudian, dia tiba-tiba saja membicarakan kehidupannya saat masih mahasiswa di New York.

Haruto bercerita, tahun pertama tinggal di Kota Apel adalah hari-hari penuh penderitaan baginya. Dia tak memiliki teman, lidahnya sering terpeleset saat berbicara, sehingga Kawabata Haruto acap kali tertinggal dan kesepian. Dia pun makin tenggelam dalam kesendiriannya. Selain buku, tambah Kawabata Haruto sambil tersenyum lemah.

Mendengar cerita Kawabata Haruto dan melihat senyumnya, aku terpaku. Entah kenapa, dalam benakku terlintas bayangan pasta yang sering dimasak oleh lelaki itu.

“Sampai aku bertemu dengan seorang pria di sebuah mini market dan dia mengkritik pilihan menu makan malamku—makaroni, keju, dan mi instan,” lanjut Kawabata Haruto, sementara kami terus berjalan.

Pria yang rupanya berkebangsaan Itali itu berkata bahwa dia teringat pada mendiang anaknya saat melihat Kawabata Haruto. Dia sering melihat Kawabata Haruto membeli makanan yang sama (makaroni, keju, dan mi instan), sehingga terdorong untuk mengajak lelaki itu ke rumahnya dan mengenalkan berbagai macam kuliner Itali pada Kawabata Haruto—spaghetti dengan saus daging pedas yang menjadi ambisinya.

Kawabata Haruto pun mulai berteman dengan pria itu dan menjadi dekat dengan keluarganya. Dia perlahan terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris dan menjadi lebih percaya diri. Kawabata Haruto yang cenderung penyendiri pun mulai jatuh hati pada warna-warni hidup yang dikenalkan pria Itali itu lewat sepiring spaghetti dan saus daging pedasnya.

“Sampai akhirnya aku kembali ke Jepang dan terlempar dalam kesendirianku sekali lagi,” Kawabata Haruto berkata sambil menengadahkan kepalanya. “Tidak ada spaghetti buatan rumah atau saus penuh sensasi kejutan di lidah. Hanya ada cita rasa masakan seadanya—yang menyentuh lidahku, tapi tidak pernah menyentak kesadaranku.”

Kawabata Haruto menurunkan pandangannya dan menoleh padaku. “Sampai akhirnya aku bertemu denganmu, Indi-chan.” Dia melempar senyuman yang mengingatkanku pada pertemuan pertama kami.

Aku menatap Kawabata Haruto, menghafal kembali setiap detail wajahnya. Alisnya yang tebal, iris matanya yang saat ini berwarna hitam—tapi menjadi kecokelatan di bawah sinar matahari, serta hidung mancungnya dan tahi lalat yang ada di sana. Tahi lalat yang selalu mengingatkanku pada badut setiap kali aku melihatnya.

Aku kembali menatap wajah Kawabata Haruto dan senyuman yang masih melekat di bibirnya. Sensasi aneh itu kembali merambat.

“Aku benci senyummu, Haruto-san,” kataku. “Aku juga benci sikap tenangmu yang mendatangiku begitu saja malam ini dan mengusir laki-laki lain. Kenapa cuma kau saja tenang seperti ini? Kenapa….”

Kenapa cuma aku yang kebingungan menghadapi perubahan sikapmu? Aku menelan pertanyaan ini dan menatap nyalang Kawabata Haruto, kemudian menjatuhkan pandangan dan menelan satu kalimat lain yang tak ingin kuperdengarkan pada lelaki itu.

Haruto Kawabata menghapus senyum dari bibirnya. “Malam ini seharusnya aku, Ken, dan Nobuko-chan makan spaghetti aglio olio. Sekarang mereka mungkin menikmati piza dan bir.”

“Aku sedang tidak ingin mendengar ceritamu tentang spaghetti!” kataku, kesal.

Tapi Kawabata Haruto malah meneruskan ceritanya. “Di antara semua jenis masakan Itali, aglio olio adalah masakan yang paling mudah. Kau hanya tinggal menumis bawang putih  dan menambahkan spaghetti yang sudah masak. Tapi aku merusaknya. Aku yang biasanya ahli memasak spaghetti, justru merusaknya.

“Dua bulan lalu aku mungkin lelaki tenang yang kau bicarakan, Indi-chan. Tapi sekarang…. Sekarang aku bahkan tidak bisa mengenali diriku sendiri. Semua karena kau—karena perasaan asing yang selalu membuatku memikirkanmu, mengingatmu, dan akhirnya membuatku makin tenggelam dalam kegelisahan,” ucap Kawabata Haruto sembari berjalan selangkah demi selangkah ke arahku. “Aku kehilangan ketenanganku.”


Aku tetap terdiam, bahkan ketika Kawabata Haruto menutup jarak antara kami berdua dan berdiri tepat di hadapanku. Dia membungkukkan badannya dan berkata, “Jadi, tolong berhenti melarikan diri dariku dan dengarkan permintaanku.”


***

Nat King Cole dalam salah satu lagunya bercerita bahwa cinta dalah sebuah permainan yang dimainkan dua orang. Dan dalam sebuah permainan selalu ada kalah atau menang, paling tidak itulah yang ada dalam benakku selama ini setelah mendengarkan lagu itu. Pelajaran pertamaku tentang cinta mengajarkanku untuk selalu menjaga jarak. Untuk tidak pernah benar-benar menyerahkan seluruh hatiku pada lawanku. Aku sering memainkan “permainan” ini.

Tapi… aku tidak tahu “permainan” macam apa yang akan kumainkan dengan Kawabata Haruto. Tidak setelah ucapannya sebelum kami berpisah.

“Sementara aku berusaha memahami perasaan asing yang kurasakan dan terbiasa dengannya, bisakah kita bersikap biasa saja?”

Aku mengangguk dengan pikiran kosong. Meski mengharapkan hal ini, tapi aku sama sekali tidak menduga kalau Kawabata Haruto akan mengatakannya. Harus kuakui, sebagian diriku merasa kecewa. Tapi aku tidak ingin menunjukkannya pada Kawabata Haruto. Karena itu, tak ada yang bisa aku lakukan selain mengangguk dan membiarkannya pergi.

Sementara itu, perasaan asing serupa sensasi soda yang enggan aku pahami sekali lagi merayap. Kali ini dia tidak hanya mengganggu perut dan dadaku, tapi juga menyerang hatiku.

Love(diambil dari personalityhacker.com)

Hah… sepertiya aku harus berhenti membaca novel-novel romance dan mulai membaca buku diktat.

Sebelum tidur, aku menyalakan ponselku tanpa dibebani perasaan tegang atau pikiran-pikiran yang lain. Bahkan ketika aku membaca pesan singkat yang terakhir dikirim Kawabata Haruto.

Kawabata Haruto hanya menulis namaku. Tapi entah kenapa, aku seakan mendengar suaranya memanggilku, “Indi-chan”.

Aku terdiam menatap pesan singkat Kawabata Haruto, sementara perasaan asing itu kembali muncul dan mengirimkan sensasi yang menggelitikku.

Hah… sepertinya aku sudah gila. Atau ada yang rusak dalam diriku.

 

 

Bersambung ke Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Ikan-Ikan dari Laut Merah - Ekspresi Tasawuf dalam Sastra Sufistik


Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia


Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura


Depot Gresik


Marathon Kafe Recommended Di Malang


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 1)


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 2 - End)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Tiga Puluh Tahunan (Part 1)


Nyata dan Ilusi