Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)

06 May 2015    View : 1472    By : Niratisaya


Pastikan membaca sub-bab "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" sebelumnya:


5. Masalah Rasa yang Tidak Akan Pernah Dipahami Lidah

Aku menarik napas dalam-dalam begitu keluar dari restoran okonomiyako tempat goukon yang baru saja selesai kuikuti. Sebenarnya lebih tepat kalau kukatakan kuakhir sepihak. Entah karena terbiasa dengan goukon dan segala kepura-puraan di acara goukon pada umumnya—tawa yang dibuat-buat, pertanyaan-pertanyaan serupa yang berulang kali aku dengar, dan lain sebagainya—aku memutuskan untuk keluar. Atau mungkin karena perasaan aneh yang menggangguku akhir-akhir ini.

Acara semacam ini semestinya membuatku lebih bersemangat dan melupakan semua beban masalah, bukannya malah membuatku bosan seperti ini. Secara spontan, aku menarik ponselku yang ada di saku dan memandang layarnya yang gelap. Pada saat yang bersamaan ingatanku menghadirkan sosok Kawabata Haruto dan senyuman tipis-polos khasnya. Aku pun memasukkan kembali ponselku ke saku celana jeans dan mendorongnya kuat-kuat, membayangkan saat ini aku sedang menonjok wajah penuh senyum milik Kawabata Haruto.

Kenapa dia harus bersikap konyol seperti itu sih? Rutukku sambil mendengus kesal karena ponselku sudah mentok.

“Indira-san? Untunglah kau masih ada di sini.”

Begitu mendengar seseorang memanggil namaku, aku sontak menoleh ke belakang. Di sana, di depan pintu restoran okonomiyaki, aku mendapati seorang lelaki dalam balutan kemeja cokelat muda dan celana jeans warna hitam. Aku selalu mengenalkan diri dengan nama pertama di setiap acara goukon. Bukan untuk mengakrabkan diri seperti tuduhan berselimut canda yang dilontarkan peserta goukon lainnya, tapi murni karena aku tak ingin orang-orang salah menyebut nama keluargaku. Dan aku tak ingin terus-menerus mengoreksi mereka.

Aku membalas panggilan itu dengan senyum kikuk, sementara otakku berusaha mencari informasi mengenai lelaki yang ada di hadapanku. Selain jurusan yang diambilnya aku tidak mendapatkan informasi lainnya.

“Keisuke. Namaku Ishida Keisuke,” kata lelaki yang mengambil jurusan Hukum itu, memperkenalkan dirinya.

Aku tertawa dan meminta maaf. “Ingatanku pendek.” Aku berkilah, mencoba mencairkan suasana.

“Tidak apa-apa. Kenapa buru-buru pulang?” tanya Ishida Keisuke. “Apa ada masalah di rumah?”

“Tidak. Aku hanya ingin berjalan-jalan,” jawabku,  berharap Ishida Keisuke mengerti bahwa aku sedang ingin sendiri.

Tapi tentu saja, di acara goukon seperti ini kemungkinan itu hanya empat puluh persen. Aku pun tidak terkejut saat Ishida Keisuke berkata, “Tebakanku tepat rupanya. Kau merasa bosan dan ingin melarikan diri. Nah, bagaimana kalau kita melarikan diri bersama-sama?”

Aku meringis. Ketika aku sedang memikirkan alasan apa yang bisa aku berikan untuk lelaki tipe Ishida Keisuke agar dia mengerti kalau aku tak suka ditemani, saat itulah aku menangkap sosok yang familier di sudut pandangku. Sewaktu menoleh, aku mendapati Kawabata Haruto berdiri di seberang jalan. Dia tak memperlihatkan senyuman tipis-polos khasnya. Kawabata Haruto hanya berdiri di sana sambil menatap lurus-lurus ke arahku. Selama beberapa saat kami saling tukar pandang.

“Indira-san, ada apa?” tanya Ishida Keisuke yang tak kuacuhkan.

Ketika mendengar dengusan dan suara langkah kaki yang menjauh, aku pun tahu; Ishida Keisuke juga melihat sosok Kawabata Haruto. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi di sisi lain kini aku harus berhadapan langsung dengan lelaki yang paling kuhindari. Aku meremas tali tote bag-ku saat Kawabata Haruto berjalan menghampiriku, seolah bisa membaca bahwa aku sedang memikirkan cara paling cepat untuk kabur dari hadapannya.

“Lama tidak berjumpa, Indi-chan,” sapa Kawabata Haruto.

“Baru empat hari,” balasku setengah menggerutu, yang segera dibalas derai tawa Kawabata Haruto. Dan rentetan sensasi aneh mirip minuman berkarbonasi di dalam tubuhku. Sepertinya aku terlalu banyak minum soda di restoran tadi.
“Kuantar pulang?” tawar Kawabata Haruto.

Aku terdiam, tak menjawab.

“Bagaimana kalau kita jalan kaki?”

Jarak restoran okonomiyaki dengan asramaku sekitar tiga puluh menit berkendara bus. Aku menatap tajam Kawabata Haruto, melayangkan protes dalam diam. Bukan karena kesal Kawabata Haruto mengajakku jalan kaki, tapi lebih karena kemampuannya membaca pikiranku. Pulang dengan jalan kaki adalah tujuan awalku sebelum Ishida Keisuke merusaknya.
Aku mengangguk dan Kawabata Haruto mulai melangkahkan kakinya.

***

Aku selalu suka berjalan kaki. Terutama ketika pikiranku buntu dan otakku terasa tumpul. Aku juga suka malam hari. Ini karena aku tak pernah bersahabat dengan matahari. Lebih tepatnya kami berdua adalah musuh bebuyutan. Setidaknya aku menganggapnya begitu. Sayangnya, dua hal kesukaanku ini tidak pernah bisa bersatu. Tidak ketika kau berjalan kaki dan para lelaki usil melemparkan sapaan atau siulan yang mengganggu. Belum lagi jambret