Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)

22 Nov 2015    View : 1227    By : Niratisaya


Pastikan membaca sub-bab "Sebuah Wajah, Sebuah Rasa" sebelumnya:


7. Sebuah Wajah, Sebuah Rasa, dan Sebentuk Hati

Aku berdiri salah satu jalur kereta. Jam tanganku menunjukkan pukul 09:55. Hari masih bisa dibilang pagi, tapi stasiun sudah padat.

Sebenarnya, tidak terlalu banyak yang berubah sejak aku pertama kali menjejakkan kaki di Jepang. Aku masih sering mendapati penduduknya berjalan dengan langkah tergesa-gesa dan ekspresi datar. Musim dinginnya pun masih membuatku tak nyaman dan kesepian, terutama ketika aku duduk sendirian di gerbong kereta yang membawaku ke asrama universitas. Walau ini adalah musim dingin keduaku di Negeri Sakura.

Mungkin aku tidak akan pernah terbiasa dengan musim dingin, pikirku.

Kalaupun ada yang berubah, itu hanya beberapa kebiasaan. Kini, tidak ada lagi celotehan Nobu-chan di telepon yang mengomel tentang kebiasaan resahku setiap kali turun dari pesawat. Atau rentetan permintaan maaf, yang akan segera berhenti begitu dia ganti mengeluhkan ketidakpraktisanku.

Aku bisa membayangkan Nobu-chan sedang berduaan dengan kekasihnya saat ini. Mereka mungkin sedang duduk berdua di salah satu kedai kopi, beradu mulut tentang bagaimana mereka akan menghabiskan seharian ini; apakah mereka akan menonton DVD di apartemen sambil menunggu jam makan malam. Atau menghabiskannya dengan pergi ke taman bermain. Ide terakhir tentu saja dilontarkan Nobu-chan, yang tampaknya tidak memiliki kepekaan terhadap perubahan musim.

Sedangkan Kawabata Haruto....

Tanpa sengaja pandanganku tertuju pada kopor merah di dekat kakiku. Kopor yang mengingatkanku pada pertemuanku dengan maniak spagetti itu.

Aku yakin lelaki itu sedang berada di apartemennya saat ini. Duduk di meja makan dengan punggung terbungkuk, di depan setumpuk kertas yang berisi berbagai resep spagetti yang ada di dunia dan jenis-jenis anggur, serta rancangan desain interior yang sempat diceritakannya padaku beberapa hari lalu lewat Skype. Ketika itu aku masih berada di rumahku, di Surabaya. Pada hari yang sama, Kawabata Haruto juga bertanya padaku tentang hari kepulanganku ke Chiba, Jepang.

“Aku sudah pulang, lho. Ini kamarku.” Aku mengarahkan built-in kamera di laptopku ke kamarku, mengoreksi Kawabata Haruto.

Kawabata Haruto menggumamkan sesuatu dengan suara rendah sambil tersenyum kecil. Dia lalu mengoreksi pertanyaannya, “Kapan kau akan kembali ke Chiba?”

“Lusa. Aku akan memberitahumu lusa,” kataku.

Kawabata Haruto sempat menanyakan kenapa aku harus memberitahunya lusa. Aku tidak menjawab dan memilih untuk bertanya tentang perkembangan rencana usaha yang akan dia rintis. Kemudian, topik percakapan kami berganti tentang usaha food and beverage Kawabata Haruto. Bagaimana lelaki itu ingin membuat winery, tapi tetap memasang pasta sebagai menu makanan utama. Aku juga membuat Kawabata Haruto mengulangi penjelasan mengapa dia berhenti dari pekerjaan, kemudian merintis usahanya sendiri.

“Kalau memungkinkan, aku ingin membuat restoran dan winery sederhana di salah satu gedung yang memiliki beranda.”

Kami lalu membicarakan tentang perbedaan cuaca Surabaya dan Chiba—bagaimana Surabaya bertahan di musim kemarau, sementara suhu udara di Chiba sudah turun beberapa derajat. Tentang aku yang masih mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek seperti sewaktu aku dan Kawabata Haruto belum bertemu, sementara lelaki itu sudah mulai mengenakan kaos lengan panjang dan sweter. Kami juga berbicara tentang hari-hari kami selama tidak bertemu. Kami membicarakan nyaris semuanya. Semua, kecuali hubungan kami yang masih belum memiliki label.

Atau hubungan tanpa label sendiri sebenarnya adalah bentuk lain sebuah hubungan?

“Itu adalah bentuk hubungan orang yang setengah hati menjalankan sebuah hubungan.” Aku seakan bisa mendengar celoteh Nobu-chan, menanggapi pemikiranku.

Aku menghela napas. Sementara itu, suara petugas kereta terdengar samar di udara, mengumumkan kedatangan kereta yang akan membawaku pada sebuah wajah. Pada sebuah rasa yang sampai sekarang tak bisa aku takar dengan logika.

Indira in a train station
Indira in a train station. Illustration source: here.

***

Begitu sampai di asrama, aku segera meletakkan tasku lalu bergegas menuju apartemen Kawabata Haruto yang hanya berjarak 20 menit. Tidak lupa, aku membawa tas kecil berisi kejutan untuk lelaki itu.

Dua puluh menit kemudian, di sinilah aku berada, di depan sebuah pintu berwarna hitam dan sebuah plang nama Kawabata. Aku menekan bel dua kali, lantas menyembunyikan diri dengan bersandar ke tembok. Kutata mimik wajahku sekalem mungkin untuk menghadapi reaksi Kawabata Haruto.

Aku mendengar suara selot pintu yang digeser, disusul pintu yang dibuka, dan suara lelaki yang seminggu ini tidak kudengar.

“Ya?”

Kujulurkan badan hingga nyaris membungkuk, seraya menoleh. “Aku sudah kembali.”

“Indi-chan.” Kawabata Haruto terkesiap. Matanya yang agak membulat dan mulutnya yang terbuka menambah kelucuan ekspresi pemilik kucing bernama Mao itu.

“Aku sudah bilang, aku akan mengatakan kapan aku kembali lusa, kan?” Kataku, tersenyum lebar melihat reaksi lelaki itu.

Kawabata Haruto menegakkan punggungnya dan menggumam, “Ah.” Lelaki itu lantas memiringkan tubuhnya, isyarat agar aku melangkah masuk.

“Kau sedang sibuk?” tanyaku sambil melepas mantel dan menggantungnya di belakang pintu. Aku lalu menyapa Mao yang tengah bergelung di keranjang kecil. Berbeda dengan pemiliknya yang terus mengikuti langkahku, Mao hanya menggeram pelan tanpa sedikit pun membuka matanya.

“Tidak. Hanya sedang menyusun menu,” jawab Kawabata Haruto.

Sudah kuduga, batinku sambil berjalan ke arah dapur. Aku mengambil teko dan mengisinya dengan air, lalu meraih dua buah mug dan meletakkannya di konter. Tapi, tebakanku yang lain meleset. Kawabata Haruto yang kukira duduk dan sekali lagi menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan, malah berdiri di sebelahku. Dia meracik segelas kopi hitam pekat dan latte untukku.

“Masih tanpa gula, kan?” Kawabata Haruto bertanya dengan kalem, tapi sarat nada suara menyebalkan. Seolah-olah dia benar-benar mengenalku.

Aku ingin berkata “Tidak. Aku ingin minum dengan tiga sendok gula!” Tapi, sedetik kemudian, aku menyerah. Aku sedang capai, kataku pada diriku sendiri lalu mengangguk. “Apa ada yang kulewatkan seminggu ini dari Chiba?”

Kawabata Haruto menarik kursi di depanku, menggeleng, lalu duduk. “Selain pesta perayaan pengunduran diriku yang diadakan Nobu-chan dan Ken-kun, tidak banyak."

Kali ini, giliranku menggumam. Tapi lebih karena aku tak percaya bahwa lelaki di hadapanku ini rela melepas pekerjaannya demi sebuah impian, yang bahkan masih belum dipahaminya benar. Aku sempat mendengar dari Nobu-chan bahwa Kawabata Haruto adalah salah satu orang kepercayaan di kantornya. Semula, melihat sosok lelaki itu yang tidak tegas, aku tidak memercayainya. Tapi Nobu-chan mengetahui hal ini dari kekasihnya, Ken-san, yang sudah menjadi junior Kawabata Haruto selama tiga tahun. Dengan sosok Ken-san yang jujur, mau tidak mau aku memercayai fakta mengenai Kawabata Haruto itu.

Hanya saja…. Aku mengamati sosok Kawabata Haruto yang mengatakan sesuatu padaku, tapi tidak aku dengarkan, kemudian berdiri dari kursinya dan melangkah menuju dapur. Hanya saja ada sesuatu yang masih mengganggu pikiranku.

“Ini akan berbeda—benar-benar beda, karena aku tahu bagaimana perasaanku.”

“Jadi, bisa kita memulai segalanya, kali ini dengan dirimu yang mengingat apa yang aku rasakan dan diriku yang memahami kau belum mengerti apa yang kau rasakan?”

Kalimat-kalimat yang diucapkan Kawabata Haruto berputar sekali lagi di kepalaku. Ini sudah kesekian kalinya aku mendengar gema ucapan Kawabata Haruto, tapi berbeda dengan kata-kata Ken-san tentang lelaki itu, aku tidak bisa memercayai ucapan Kawabata Haruto.

“Silakan.” Kawabata Haruto meletakkan mug berisi latte di hadapanku.

"Terima kasih," ujarku. Aku lantas menyodorkan tas kecil yang sedari tadi kubawa ke hadapan Kawabata Haruto. “Ini, oleh-oleh dari Surabaya.”

Senyum kecil khas Kawabata Haruto segera terkembang. “Terima kasih,” katanya sambil membuka tas yang berisi stoples berukuran sedang dengan biji-bijian dan pasta berwarna merah di dalamnya. Kawabata Haruto mengernyit.

“Itu sambal. Saos pedas khas Surabaya.” Aku memberitahunya.

“Ah! Begitu rupanya.” Sekali lagi, Kawabata Haruto. Sepasang bola mata hitam lelaki itu lurus menatapku. “Melihat tidak adanya label, ini pasti buatan rumah, ya?”

Aku mengangguk.

“Apa ini buatanmu, Indi-chan?”

Aku kembali mengangguk. Ah, sial…. Seperti tebakan latte-nya,Lagi-lagi aku menjawab pertanyaan Kawabata Haruto begitu saja. Padahal tadinya aku ingin sedikit menggoda lelaki itu. “Jangan protes kalau nggak enak. Aku nggak pandai memasak seperti dirimu.” Aku berbicara agak kasar sambil meraih mug latte-ku dengan dua tangan dan memalingkan wajah, menyesap pelan minuman itu.

Entah bagaimana, aku seakan bisa merasakan kedua sudut bibir Kawabata Haruto tertarik dan senyum konyol miliknya semakin mengembang. “Tidak. Tidak akan.”

Aku melirik ke arah lelaki berusia 29 tahun yang menatap stoples sambal itu seolah dia sedang mengagumi berlian. “Mau… kubuatkan nasi goreng?”

Kedua sudut bibir Kawabata Haruto semakin tertarik ke arah yang berlawanan. Diacuhkannya nada ragu di suaraku. Aku pun bangkit dari kursi dan merebut stoples sambal dari tangan lelaki itu. “Berhenti tersenyum seperti itu. Bisa-bisa wajahmu akan terbelah jadi dua dan aku nggak akan mengenalimu lagi.”

Tentu saja, ucapanku sama sekali tidak berpengaruh. Aku malah membuat senyuman konyol Kawabata Haruto bertransformasi menjadi cengiran.

Sejurus kemudian, lelaki itu ikut bangkit dan menghampiriku di dapur kecilnya yang berbagi ruangan dengan meja makan dan pojok menonton teve.

“Apa ada yang bisa aku lakukan?” tanya Kawabata Haruto.

Aku menggeleng sembari memegang erat stoples sambal di tanganku. “Sudah, pergi saja nonton teve atau membaca buku—lakukan apa pun dan jangan buat aku gugup.”

Kawabata Haruto lagi-lagi tersenyum. Dia memiringkan kepalanya dan membungkuk beberapa derajat untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan tinggiku. “Hei, Indi-chan.” Lelaki itu terdiam. Dia tidak meneruskan kalimatnya sampai aku membalas tatapannya. “Kenapa kau tidak tinggal di sini bersamaku? Sebelum kepulanganmu ke Indonesia, kau sering menghabiskan waktu sampai jadwal kereta terakhir di apartemenku.”

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, sementara Kawabata Haruto masih lurus menatapku.

Samar, aku bisa mendengar suara percakapan di luar apartemen, disusul deru pelan mobil yang melintas di jalan yang ada di depan. Aku berkonsentrasi mendengarkan suara apa pun di sekitar kami, kecuali degup jantungku yang mendadak berdetak dengan cepat, supaya aku bisa mengendalikan reaksiku. Lalu, entah berapa menit kemudian, aku berdecak sambil berbalik dan meletakkan stoples sambal di konter. Aku membuka lemari es yang hanya berjarak enam langkah dari tempatku berdiri.

“Nobu-chan baru saja tinggal bersama Ken-san, kan?” kataku.

“Lalu?” tanya Kawabata Haruto.

Aku pun berbalik dengan beberapa kotak berisi wortel dan sawi—aku menduga Kawabata Haruto sudah mencuci bersih semuanya, melihat mereka sudah dalam keadaan bersih—serta sebungkus bawang bombai yang belum dikupas. Aku membalas tatapan Kawabata Haruto, sengit.

Kawabata Haruto kembali mengernyit. “Kenapa?” tanyanya.

Aku menyorongkan semua bahan masakan ke dekapan Kawabata Haruto. “Aku berubah pikiran. Kau yang memasak.”

Lelaki itu tersenyum lucu sambil terus mengernyit. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Kawabata Haruto hanya memperbaiki posisi tangannya dan mempersiapkan bahan masakan untuk nasi goreng yang akan menjadi makan malam kami. Dia memotong wortel dan sawi dengan ahli, tanpa sekali pun mencuri pandang ke arahku atau mencecarku dengan pertanyaan. Dia juga tidak berhenti di tengah proses memasak dan menghampiriku lalu bertanya, apa sebenarnya hubungan yang terjalin antara kami berdua. Sementara Kawabata Haruto menyiapkan makan malam kami, seperti yang biasa dilakukannya selama ini, aku terus mencocokkan sosok lelaki itu dengan lelaki-lelaki lain yang pernah singgah dalam hidupku. Dan tak satu pun yang cocok.
Dan ini sudah hampir dua bulan.

Aku terus memandang punggung Kawabata Haruto sampai akhirnya lelaki itu berbalik dengan piring besar berisi nasi kemerahan. Dia tampak terkejut saat melihat aku masih berdiri di tempat. Aku segera memiringkan tubuh, memberi ruang untuk Kawabata Haruto agar dia bisa berjalan menuju meja makan. Aku lalu mengikutinya di belakang dengan dua piring makan dan dua sendok di tangan.

Haruto's Nasi GorengIllustration source: here.

“Mari makan.” Kawabata Haruto berkata sebelum dia mengambil menyendok nasi gorengnya. Detik berikutnya dia sekali lagi menatapku lurus, tapi kali ini dengan tatapan yang berbinar-binar. “Enak. Indi-chan, kau memang pandai membuat saos! Apa resep sambalmu? Berapa banyak bawang di dalamnya?”

Tidak bisa. Aku menunduk dan tersenyum kecil.

Sementara laki-laki lain pasti akan mencecar tentang hubungan kami yang tidak jelas, Kawabata Haruto malah bertanya tentang bumbu sambalku. Aku pun ikut menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut, sembari memandang Kawabata Haruto yang masih juga menatapku sambil tersenyum tipis. Detik itu aku merasakan sesuatu, bukan di lidah tapi di hati. Aku membalas senyuman Kawabata Haruto.

“Nyaman.”

“Hm? Apa Indi-chan?” Kawabata Haruto bertanya dengan ekspresi penasaran.

“Menyenangkan,” kataku, masih enggan memberitahu Kawabata Haruto bahwa aku menemukan jawabanku untuk pertanyaan yang belum dilontarkannya lagi padaku.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

Aku menggeleng sambil tersenyum lebar dan meneruskan makanku, tanpa memedulikan rasa penasaran Kawabata Haruto.

Hei, Kawabata Haruto. Aku tidak akan memberitahumu sampai kau menanyakan pertanyaan yang tepat. Aku menatap lekat Kawabata Haruto, lalu menyeringai dan menyuapkan sesendok penuh nasi goreng ke mulut lelaki itu, yang masih saja bertanya tentang apa yang aku katakan. Jadi, cepat, tanyakan pertanyaan yang tepat.





FutureIllustration source here.

 

 

=TAMAT=

 

Header's source: here.




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?


Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Depot Asih Jaya, Pusat Soto Lamongan


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Coban Jahe: Wisata Alam Untuk Mengisi Liburan Singkat


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Ode Untuk Si Bungsu


Aku dan Kau