My Toilet Prince - Pintu Pertama

29 Sep 2017    View : 139    By : Niratisaya


Pintu Pertama: Tragedi Tanpa Darah

 

 

“Mel!” teriak Papa dari teras rumah.

“I … iya, Pa!” sahutku sambil mengenakan sepatu dan menguncir rambut ikalku. Dengan tergesa-gesa aku melakukannya, lalu berlari menuju teras.

“Jam berapa ini?!” Aku mendapati Papa dalam balutan setelan jas berdiri di dekat mobil sedan tuanya.

Aku hanya nyengir sambil masuk ke dalam mobil. “Tenang, Pa. Hari ini nggak ada apa-apa, kok. Cuma penutupan MOS, terus upacara.”

“Jangan meremehkan sesuatu yang kecil, nanti bisa-bisa jadi masalah besar.” Papa terus mengerutkan dainya sambil memasuki mobil kemudian menyetaternya.

Aku mendesah mendengar omelan Papa. Ini bukan masalah besar, hanya upacara biasa yang disusul penutupan MOS. Rasanya kalau aku nggak masuk juga bukan masalah. Kecuali bapakku ini yang disiplin dan suka histeris soal detail dan printilan kecil.

Oh, ya. Omong-omong, kenalkan namaku Melody Putri Kusumajaya—anak Pak Edi Kusumajaya yang masih mengomel soal kedisiplinan. Tapi kalian cukup panggil aku Mello, Mel-lo, dengan dua ‘l’.

***

Setibanya di sekolah, aku langsung memelesat ke sekolah setelah berpamitan kepada Papa.

Miss Late ….” Mozatria Logan, sahabat sekaligus tetangga depanku rumahku, berdiri di depan pintu kelas. Aku biasa memanggilnya dengan nama kecilnya: Moza. Atau Mo, kalau aku sedang jengkel kepadanya. Moza adalah cowok blasteran Inggris-Indonesia.

“Ah, nggak parah kok!” sanggahku sambil memasuki kelas. “Manda mana?”

“Ngumpul sama senior. Dia kan jadi pengibar bendera.” Moza melempar senyum renyah kepada beberapa cewek yang dengan kenes menyapanya.

Aku hanya bisa memutar bola mata melihat kebiasaan sahabatku ini, yang selalu tebar pesona ke mana-mana. Juga reaksi para cewek di sekitarnya.

Bel tanda pengumuman berbunyi. Beberapa saat kemudian terdengar suara guru konseling kami dari pengeras suara. “Panggilan untuk seluruh siswa kelas satu. Lima menit lagi upacara penutupan MOS akan dimulai. Harap segera berkumpul di lapangan.”

Lapangan yang dimaksud guru konseling kami adalah lapangan basket yang ada di dekat gerbang sekolah.

“Ayo, Mel.” Moza mengedikkan kepalanya, memberi isyarat agar aku meletakkan tas di bangku dan menuju lapangan basket.

Aku mengangguk dan mengikutinya. Tapi beberapa detik kemudian ….

“Duh!” Tiba-tiba saja ‘alamku’ memanggil.

“Kamu kenapa?” Moza menghampiriku di depan bangku, lalu menatapku khawatir. “Kamu sakit?”

Aku kebelet, jawabku dalam hati. Mana mungkin aku ngomong langsung ke Moza. “Bentar, Mo. Aku ke toilet sebentar.”

“Habis minum teh ya, pagi ini?” Moza yang tahu kebiasaan pagiku nyengir lebar.

Yah … aku memang punya kebiasaan sarapan nasi goreng dan teh tiap pagi. Dan, tiap pagi pula, aku selalu setor ke belakang. Seperti sekarang. Tapi kali ini level sakit perutku lebih dahsyat ketimbang biasanya.

Aku membalas cengiran Moza dengan senyuman lemah, lalu bergegas ke toilet siswa yang ada di belakang gedung kelas. Ketika aku melewati lorong depan gedung kantor guru dan lapangan indoor sekolah, Manda lewat.

“Mel? Lo mau ke mana? Bentar lagi upacara mulai.” Cewek asli Jakarta ini nggak pernah melupakan aksen Betawi-nya. Meski dia sudah hidup tiga tahun di Kota Pahlawan ini. Aku menduganya karena alasan sentimental; Manda merindukan papanya yang tinggal di ibukota.

“Panggilan … alam!” Aku menghentikan langkah sambil menahan diri, sebelum berlari ke belakang.

“Dasar ….” Aku bisa mendengar Manda mendesis.

***

Toilet belakang gedung siswa.

Argh! Sial. Kenapa juga jam segini banyak yang pakai toilet?! Aku termangu di depan toilet begitu melihat semua pintu tertutup. Perlahan, aku melangkah dan memeriksa tiap pintu toilet.

Ah! Aku nyaris terkesiap dan bersujud, demi bersyukur kepada Tuhan, saat menemukan salah satu pintu toilet nggak dikunci. Aku kontan masuk dan menguncinya. Samar, aku mendengar satu per satu tetangga toiletku ke luar. Kemudian, bel tanda pengumuman kembali berbunyi.

“Sekali lagi, panggilan untuk seluruh siswa kelas satu. Harap segera berkumpul di lapangan.”

Dari luar, terdengar suara gaduh yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan ‘panggilan alamku’ ini. Tapi, ketika aku membuka pintu ….

Kcrek … kcrek … kcrek!

Mataku spontan membulat saat menyadari kenop pintu toilet macet.

Waduh! Pintunya macet. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungku. Atau … ini ulah senior?! Nggak mungkin. Rasanya aku nggak pernah menyinggung mereka. Lagian, masa mereka tega mengunci junior di toilet? Perpeloncoan macam itu kan sudah nggak musim lagi.

Terlintas di pikiranku untuk meminta bantuan. Tapi … sama siapa? Aku nggak mungkin menghubungi Moza atau Manda—bukan hanya karena Manda menjadi anggota paskibra sekolah. Tapi lebih karena aku nggak punya hape. Salahkan bapakku yang pelit. Oke, Mello. Cuma tersisa cara tradisional untuk menyelamatkan diri ….

“Oooi! Siapa aja yang di luar. Tolongin, dong!!” Aku terus menggedor pintu sambil terus berteriak. “Demi Tuhan. Siapa aja yang ada di luar sana. Tolooong!!!”
Kcrek ….

Tiba-tiba kenop pintu toilet memutar dengan sendirinya.

Waduh! Aku meloncat mundur. Apa-apaan ini? Kenapa kenopnya ….

Aku mengamati kenop pintu toilet yang kembali bergerak. Di luar sana, apa ada senior atau teman seangkatan? Atau jangan-jangan … hantu sekolah?! Keringat dingin kembali mengalir di punggungku. Kali ini, untuk alasan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Siapa yang nggak bakalan paranoid kalau terjebak di toilet dan nggak tahu siapa yang ada di luar sana.

“Yang di luar itu …. Kamu … manusia, kan?”

Siapa pun yang ada di luar sana berhenti memutar-mutar kenop pintu. Tapi dia masih nggak menjawab pertanyaanku. Meski merasa takut, aku kembali bersuara demi memastikan sosok yang ada di depan pintu toilet. “Ha … halo?”

Terdengar suara decakan lidah.

Hantu nggak mungkin berdecak, kan? Bayangan sosok perempuan berpakaian putih dengan rambut hitam panjang sepunggung, berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada sambil mendecakkan lidah dan memutar bola mata rasanya nggak masuk akal.

Kemudian, suara embusan napas kesal menyusul. “Kamu mau ditolong nggak?”

Ah! Manusia. Aku tersenyum lega saat mendengar suara cowok. Maksudku, nggak ada hantu cowok, kan? Populasi mereka kan kalah dengan populasi hantu cewek. Paling nggak di teve dan film.

“Mau!” balasku.

“Minggir dari depan pintu,” perintah cowok di luar toilet dengan nada suara kalemnya.

“Sudah.” Aku menyingkir sejauh mungkin dari pintu toilet.

BRAK!

Sekali tendang, pintu toilet sialan ini berhasil didobrak oleh cowok yang sama sekali nggak aku kenal. Dia bukan teman sekelasku. Rasanya aku juga nggak melihatnya di antara siswa-siswa baru lainnya. Aku mengamati sosok penolongku ini begitu keluar dari toilet.

“Kamu nggak apa-apa?” Dia bertanya.

Aku nggak menjawab pertanyaan cowok ini. Perhatianku fokus ke wajahnya. Ke matanya yang terlihat lembut sekaligus berkesan tegas di balik kacamata bingkai hitamnya, hidung bangirnya yang mengingatkanku kepada bintang drama Turki kesayangan Mama, tulang rahangnya yang tegas, dan alis tebalnya yang ….

“Kamu nggak apa-apa?” ulang malaikat penyelamatku ini.

“Uh … iya! Aku nggak apa-apa,” jawabku sembari melempar senyuman yang aku yakin kikuk setengah mati.

“Bagus. Kita harus segera ke lapangan. Upacara bakal dimulai sebentar lagi.” Dia mengangguk sambil berbalik.

Aku tahu seharusnya aku juga bergegas ke lapangan. Tapi kakiku terlalu kaku untuk melangkah, sementara mataku terpaku memandang punggung cowok yang ada di depanku ini. Dia bukan malaikat. Dia lebih mirip sosok pangeran dari cerita sebelum tidur yang sering dibacakan Mbak Lala, kakak perempuanku, saat aku masih kecil.

“Tunggu!” panggilku. Dia berhenti dan menoleh, menatapku sambil mengernyit. “Anu … makasih. Hm ... aku boleh tahu namamu?”Aku nggak bisa melepaskan pandangan dari cowok keren di depanku ini.

Dia menunduk. Mengamati celananya, mungkin? Kemudian, dia menatapku lurus dan menjawab, “Raka. Raka Bayuaji.”

Raka. Raka Bayuaji. Aku mengulangnya dalam hati sembari memainkannya seperti sebuah lagu, sementara mataku masih memandangnya.

“Apa ada yang salah? Kamu masih perlu bantuan?” tanya Raka.

Detik itu, aku menyadarinya. Aku mengangguk dan berkata, “Aku … suka sama kamu.”

“Hah?!”

 

 

Bersambung ke My Toilet Prince Pintu Kedua.


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerbung Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


1001 Masjid di 5 Benua: Melancong dari Masjid ke Masjid


Goblin: The Lonely and Great God


Happy - Mocca Band (Dinyanyikan Ulang Oleh Aldin)


Dari Surga Belanja Menjadi Surga Makanan, Kedai Tunjungan City


Milk Kingdom - Humble Place to Cast Away Your Boredom


Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Kompleks Candi Arjuna


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Pengelanaan Sempurna


Perjalanan, Pergulatan Waktu