Tiga Puluh Tahunan (Part 1)

18 Nov 2014    View : 2583    By : Amidah Budi Utami


Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari ketika aku menutup dokumen pada komputerku. Aku rasa aku masih punya waktu empat jam untuk istirahat setelah  hampir seminggu aku bekerja sampai larut malam. Ini adalah tugas terakhirku sebelum aku cuti dua minggu. Jadi aku harus mengerjakan serapi mungkin.

Aku belum pernah mengambil cuti panjang sebelumnya. Ini semua karena surat Ibu yang mendesakku terus-terusan. Setiap pagi Nenek menceramahiku lewat telepon. Belum lagi E-mail dari Ayah. Mereka semua mendesakku untuk memperkenalkan calon suamiku. Mereka sangat mengkhawatirkan usiaku yang hampir tiga puluh. Bahkan mereka pernah bermaksud menjodohkanku dengan seorang yang tidak aku kenal. Terang saja aku menolak. Harusnya meraka tahu betul kalau aku tipe anak yang tidak suka diatur-atur apalagi dijodohkan. Aku bilang saja aku sudah punya calon suami di Jakarta tinggal memperkenalkan pada mereka. Tapi kenyataannya sekarang jangankan seorang calon suami, seorang teman dekat pun tidak ada. Makin pusing, kan?

Sebenarnya aku sendiri juga khawatir. Bagaimanapun aku ini wanita normal yang ingin punya sebuah keluarga bahagia. Mungkin memang belum bertemu jodoh kali? Jadi aku harus bersabar.

Sebelum pulang ke Jogja aku akan berlibur ke Bali. Selain menulis, hobiku jalan-jalan. Beberapa tempat indah sudah aku kunjungi, dan beberapa lainnya masih menjadi target liburanku selanjutnya. Sesungguhnya aku sudah pernah ke Bali, tapi aku rasa Bali adalah tempat yang paling cocok untuk liburanku kali ini. Semoga aku menemukan jodohku di sana, karena mungkin memang tidak ada di Jakarta.

Baca juga: Sabtu Bersama Bapak

 

Selamat Pagi Bali! Aku berencana jalan-jalan ke pantai. Aku baru sempat karena kemarin setelah tiba di hotel aku langsung tidur pulas. Bali masih seperti  dulu hanya agak sepi. Semoga saja Bali bisa memberikan inspirasi baru untuk tulisanku. Pikiranku menerawang jauh ketika aku menikmati pemandangan laut yang biru dan langit yang cerah. Aku terpukau ketika melewati beberapa toko suvenir. Semuanya manis dan eksotik. Mungkin aku bisa bawa beberapa untuk teman-teman di Jakarta, juga untuk menambah koleksi suvenirku.

Aku harus hati-hati melangkah, bisa-bisa aku menabrak orang. Mana jalanan sangat ramai. Aku baru sadar kalau tadi aku terlalu bersemangat belanja. Sekarang akibatnya aku kesulitan untuk membawa benda-benda ini ke hotel.

"Brak!"

Semua suvenirku berhamburan ke pasir pantai. Aku membelalak tanpa bergerak sedikit pun. Bukan karena suvenirku yang diinjak-injak orang. Tapi karena orang yang menabrakku sangat tampan. Dan kesimpulannya aku terpesona. Tiba-tiba jantungku berdetak tidak normal, dadaku terasa sesak. Aku tidak menyangka bisa menyukai seseorang hanya pada pandangan pertama. Ini bukan aku banget!

Sepertinya dia bengong lebih lama dari aku.

"Anda tidak apa-apa?" tanyaku agak bingung.

"Oh, tidak apa-apa," jawabnya agak gagap, lalu pergi begitu saja.

Orang aneh! pikirku sambil memunguti suvenirku yang sebagian sudah tidak berbentuk karena terinjak orang.

Eh, laki-laki tadi barangkali masih ada kesempatan untuk memperkenalkannya kepada keluargaku sebagai calon suami? Apakah ini ide yang terlalu gila? Tapi bukankah saat ini aku sedang putus asa? Eh, sepertinya aku sudah pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Tapi di mana?

 

girl in love -cerpen tiga puluh tahunan

Baca juga: Inspirasi Tentang Makna Perbedaan

 

Pagi di hari kedua.

Hari ini aku bangun lebih pagi. Acaranya jalan-jalan lagi. Pertama mandi dan berdandan.

"Apa ini?" teriakku kaget. Ini tidak mungkin. Satu, dua, tiga, empat. Ada empat helai uban di kepalaku. Apa aku sudah benar-benar tua? Biasanya uban tumbuh ketika seseorang telah menjadi nenek atau kakek. Tetapi aku belum menikah. Apakah ini yang disebut penuaan dini? Tiba-tiba hapeku berbunyi, ada SMS masuk. Dari Mbak Wulan, pimpinan redaksi kami sekaligus teman akrabku. Tanganku masih bergetar membuka SMS karena kejadian tadi.

MET ULTAH KE-30, SMG SGR DAPAT JODOH.

Aku baru ingat kalau hari ini tanggal 30 Mei, hari ulang tahunku yang ke tiga puluh. Tiba-tiba tubuhku jadi lemas dan mood-ku sepertinya memburuk, keinginanku untuk jalan-jalan jadi kandas. Tiba-tiba aku mengingat di mana aku pernah melihat laki-laki yang aku tabrak kemarin. Dia adalah entrepreneur muda yang profilnya pernah dimuat di majalah kami. Tiba-tiba aku bersemangat lagi, mood-ku sudah kembali cerah dan aku berniat untuk melanjutkan jalan-jalan lagi.

Jam empat sore aku kembali ke hotel setelah seharian jalan-jalan di pantai. Aku membawa beberapa makanan ringan dan kue ulang tahun. Walau aku kecewa dengan nasibku di usia tiga puluh tahun ini. Tapi aku harus tetap bersyukur masih diberi napas sampai hari ini. Aku berencana merayakan ulang tahunku seorang diri di tepi pantai.

Tanpa sengaja aku melihat sosok idolaku yang aku cari seharian ini. Dia sedang masuk ke ruang pertemuan di hotel tempat aku menginap. Ternyata itu pesta peresmian subbisnis hotel ini. Semua tamu hotel hari ini bisa menghadirinya. Berarti tidak terkecuali aku!

Secepat mungkin aku menuju kamarku dan ganti baju.

"Sial!" Aku tidak membawa baju pesta sama sekali. Hemmm, akhirnya aku memutuskan blus semi resmi berwarna pink. Warna kegemaran para remaja putri dipadukan rok selutut. Aku mengikat rambutku agak tinggi. Aku juga memakai beberapa aksesoris gelang, kalung, dan anting-anting dengan warna senada. Semoga penampilanku menolongku untuk tampak lebih muda.

Dia sedang asik ngobrol dengan rekan-rekannya. Aku baru tahu ternyata dia adalah investor bisnis ini. Pantas saja dia jadi pusat perhatian. Tiba-tiba hatiku memanas ketika beberapa wanita cantik ikut mengobrol dengannya. Rasanya aku ingin pergi saja. Aku tidak bisa menghadiri pesta seperti ini, apalagi aku salah kostum. Di antara semua tamu hanya aku yang memakai rok pendek. Mulanya aku ingin tampil lebih muda, tapi malah semua orang melihatku dengan pandangan aneh. Semua orang kecuali dia. Aku terus mengawasinya, berharap dia melihatku. Tapi kenyataannya dia asik dengan acaranya.

Tiba-tiba sebuah microphone berbunyi. Semua tamu berhenti mengobrol. Seorang MC sedang beramah-tamah. Sepertinya dia menyebutkan sesuatu tentang "dansa". Lebih baik aku menepi karena aku tidak bisa dansa. Dan lagipula siapa yang akan berdansa denganku?

"Silakan Tuan Erik memilih teman dansa," kata MC memecahkan lamunanku.

"Nona berbaju pink? Ya Anda! Maukah berdansa denganku?" kata orang yang dipanggil Erik—yang tidak lain adalah orang yang aku tabrak kemarin—yang aku amati sedari tadi. Saat ini dia sedang menatapku lembut seolah-olah dia sedang membuat permintaan kepadaku. Oh Tuhan, rasanya aku ingin pingsan. Dengan hanya berbekalkan setengah kesadaran, aku melangkahkan kakiku ke depan menuju pangeran tampan yang sedang didepanku, ingin sekali segera aku sambut tangannya.

"Maaf, yang bergaun panjang," katanya kemudian, menghancurkan mimpiku seketika dan membuatku refleks menoleh ke belakang. Seorang gadis anggun, cantik, belia memakai gaun pink panjang. Beberapa orang masih memperhatikanku sambil tersenyum mengejek. Sebelumnya aku belum pernah merasa dipermalukan seperti ini. Air mataku hampir tumpah. Segera aku keluar dari ruangan itu.

Setelah puas menangis. Aku putuskan untuk melanjutkan acaraku sebelumnya—merayakan ulang tahunku di tepi pantai. Kupilih sebuah tempat santai tidak jauh dari hotel. Di sana ada satu meja bulat yang dikelilingi oleh empat kursi. Kali ini tidak ada nyanyian "Panjang Umurnya" juga tidak ada acara tiup lilin. Aku hanya bernafsu untuk menghabiskan seluruh kuenya. Aku berharap rasa manis bisa menolongku. Setelah puas makan kue, aku ingin menulis diary tentang pengalaman terburuk yang baru saja terjadi dalam hidupku. Ini adalah kisah paling menyedihkan yang pernah aku tulis. Aku ingat masa-masa SMA-ku yang menyenangkan.

Dulu, aku sering ganti-ganti pacar. Dulu, aku salah satu idola sekolah. Terakhir pacaran ketika usiaku 23 tahun. Dia sangat baik padaku. Tipe laki-laki yang perhatian dan tanggung jawab. Tapi setiap dia mengajakku menikah aku selalu marah-marah dengan alasan aku belum siap dan aku ingin fokus ke karirku. Akhirnya kami putus dan dia menikah dengan wanita lain—menurutku dia adalah wanita beruntung. Saat ini mereka sudah dianugerahi dua anak yang lucu-lucu. Aku menyesal telah menolaknya. Dulu, semua indah. Ya, dulu.

 

Pagi di hari ketiga.

Pagi-pagi sekali aku keluar dari hotel. Aku baru ingat kalau tas, sepatu, dan buku diary-ku masih tertinggal di tepi pantai. Aku harus mengambilnya sebelum ditemukan orang lain.

Dia—orang yang baru saja mempermalukanku—sedang duduk di antara tas, sepatu dan buku diary-ku sambil baca koran dan minum kopi

Bersambung ke: Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Tag :


Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


(Not) Alone In Otherland - Sendiri, Bukan Berarti Sendirian


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Nash - Ya Rabbana Anta Maulana


Bakso Hitam Chok Judes: Ada Lezat Di Balik Pekat


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Kawah Ijen Banyuwangi (Kawah Ijen Part 2)


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Your Dream (Not?) Comes True


Kata-Kata Itu Telah Hilang Saat Kami Lahir