Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)

22 Nov 2014    View : 2517    By : Amidah Budi Utami


Disarankan baca dulu: Tiga Puluh Tahunan (Part 1)

 

Aku menghampirinya dan kemudian menyapanya dengan nada senetral mungkin.

"Permisi, saya ingin mengambil tas dan sepatu Saya. Tadi malam ketinggalan di sini."

"Oh, ini?" katanya singkat sambil mengangkat tasku.

"Iya, terima kasih." Aku berbasa-basi seperlunya kemudian langsung balik kanan untuk segera menjauh darinya, yang seolah masih belum mengenalku setelah pertemuan kami ketiga kalinya. Tiba-tiba aku teringat diary-ku masih di sana. Mau tidak mau aku harus kembali lagi menyapanya.

"Maaf, ada yang masih ketinggalan. Buku catatan saya."

"Buku ini yang Anda maksud?"

"iya. Apakah Anda telah membacanya?" tanyaku penuh selidik.

"Saya tidak tertarik membaca diary orang lain," katanya tanpa perlu repot-repot mengalihkan pandangan dari majalah yang sedang dibacanya.

Aku speechless. Aku tidak tahu harus menjawab seperti apa. Aku tidak ingin berbohong namun juga tidak ingin mengakui isi diary-ku yang memalukan. Tiba-tiba mataku membelalak ketika melihat majalah kami yang dia baca.

"Ini kan majalah yang hanya beredar di Jakarta? Anda dari Jakarta? Berlangganan?" tanyaku tak sabaran. "Kebetulan saya bekerja di sana sebagai wakil pimpinan redaksi." Aku menjelaskan tanpa diminta.

Diam, tidak ada jawaban.

Sepertinya dia sedang asyik membaca, sama sekali tidak menghiraukan aku. Itulah yang aku benci darinya, angkuh dan sombong. Aku coba diskusi artikel yang dia baca: "Masuknya Investor Asing ke Indonesia". Tapi sepertinya dia lebih suka membaca sendiri daripada mendengarkanku. Karena merasa dicuekin, akhirnya aku mohon pamit dan kembali ke hotel.

"Dia semakin menyebalkan. Dia pikir dia siapa? Baru kali ini aku bertemu orang sesombong dia," omelanku tak henti-henti sambil mengemasi baju-bajuku. Besok aku sudah akan kembali ke Jogja.

Tiba-tiba aku menghentikan aktivitasku dan mulai berpikir sesuatu: sesebal apapun aku padanya, dia adalah harapan terakhirku. Satu-satunya orang yang bisa mengubah nasibku. Menyelamatkan mukaku di depan orangtuaku.

Matahari mulai menyatu dengan lautan. Menyisakan sinar jingganya. Dia masih duduk disana sambil menikmati sunset Bali yang indah. Aku menghampiri dan menyapanya dengan ramah. Kali ini dia tidak punya majalah atau pun koran yang dapat menyita perhatiannya. Jadi aku lebih punya peluang.

"Maaf saya ingin mengatakan sesuatu pada Anda. Saya rasa Anda sudah mengenal saya. Kita pernah bertabrakan di toko suvenir, juga bertemu sekilas di pesta dansa, dan tadi pagi di tempat ini. Saya juga yakin Anda adalah pembaca setia majalah itu, kalau tidak mana mungkin Anda membawanya sampai ke Bali. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengenal saya."

Sesaat aku ragu untuk melanjutkan kata-kataku. Apalagi sekarang dia memperhatikanku dengan seksama. Matanya lurus menatapku.

"Tentang buku catatan yang Anda temukan di sini. Saya yakin Anda sudah membacanya. Itu memang diary saya. Jadi saya rasa Anda lebih memahami saya sekarang." Suaraku semakin bergetar hanya untuk mengungkapkan kata-kata tadi. Ternyata aku tidak setegar yang aku kira.

"Jadi?" tanyanya memecahkan hening yang tercipta.

"Mungkin ini terlalu cepat dan sedikit keterlaluan. Tapi saya sudah tidak punya pilihan lain. Besok saya akan pulang ke Jogja. Saya berjanji pada orangtua saya akan membawa calon suami, padahal saat ini saya tidak punya calon suami. Orangtua saya pasti akan kecewa dan saya rasa tindakan mereka selanjutnya adalah menjodohkan saya dengan orang yang tidak saya kenal."

"Lalu?" katanya tidak kalah singkat dengan yang sebelumnya.

"Saya tidak suka dijodohkan."

Berhenti sesaat untuk mengumpulkan kata-kata selanjutnya.

"Akhir-akhir ini saya tertarik pada Anda. Mungkin tidak ada alasan bagi Anda untuk menyukai saya. Tapi...."

"Maaf saya belum tertarik untuk menikah," katanya cepat memotong kata-kataku sebelumnya.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Maaf telah mengganggu Anda." Aku sudah mengira kehampaanlah yang akan aku terima. Mana mungkin dia akan tertarik pada gadis lewat umur sepertiku. Di luar sana ada ratusan gadis muda belia yang sudah siap menantinya. Mana peduli dia padaku.

Oh tidak! Aku akan berangkat ke Jogja besok. Mengapa harus menyerah hari ini?

Mungkin aku sudah kehilangan akal sehat karena tekanan orangtua atau barangkali frustasi dengan umur. Aku berbalik arah dan menghampiri dia lagi.

"Maaf mengganggu Anda lagi. Saya hanya ingin mengatakan kalau menikah di usia tua itu tidak enak. Kadang kita sulit mencari pasangan jika sudah kelewat umur. Jadi saya sarankan Anda jangan menikah di usia tua. Seperti yang saya bilang tadi, tidak ada alasan untuk menyukai saya. Tapi setidaknya Anda merasa kasihan. Saya akan berangkat besok pukul 10 pagi ke Jogja. Saya harap Anda berubah pikiran sebelum saya berangkat besok."

Baca juga: Cinta yang Tidak Memandang Perbedaan

 

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.30. Aku menunda keberangkatanku dengan pesawat yang kedua. Tapi dia tetap belum datang. Harapanku menipis dan akhirnya habis. Pesawatku sudah terbang meninggalkan Bali dan membawaku bersamanya. Aku membayangkan reaksi Ibu, Ayah, dan Nenek melihatku pulang seorang diri. Mereka pasti kecewa padaku. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Mereka pasti malu punya anak gadis yang tak laku-laku.

Sebenarnya aku tidak suka pakai istilah ini, wanita itu adalah makhluk hidup yang independen bukannya semacam dagangan. Aku ingat nenek pernah bermaksud menjodohkanku dengan duda beranak dua. Kata nenek perjaka atau duda itu tidak masalah. Yang penting bebet, bobot, dan bibit. Mengingatnya aku jadi ngeri sendiri.

Aku disambut dengan meriah ketika sampai di depan rumah. Ada senyum kegembiraan di bibir mereka. Ternyata Paman dan Bibi juga ada. Apa yang terjadi? Ada apa ini? Mereka sama sekali tidak bingung melihatku datang seorang diri. Malah aku dibuat bingung dengan perkataan mereka.

"Nduk Widi pintar cari jodoh!"

"Kamu ketemunya di mana sih?"

"Oalah Wid... Wid... kamu ini pintar buat kejutan!"

Dan sebagainya.

Apa yang mereka katakan? Apa mereka menyidirku? Ini bukan saatnya bercanda, kan?

Setelah sholat ashar, keponakanku—atas utusan ibuku—mengatakan kalau calon suamiku sudah datang. Aku semakin bingung, calon suami yang mana? Apa mereka menjodohkanku diam-diam? Dengan penuh kengerian aku menguatkan diri untuk menemui orang yang dimaksud tadi. Sosok laki-laki tua sedang duduk di ruang tamu. Dia langsung tersenyum ketika melihatku. Mungkin dia berumur 50 tahun. Bisa jadi lebih dari 50 tahun. Tiba-tiba tubuhku lemas, kepalaku pusing, dan mataku berkunang-kunang.

Baca juga: Sebuah Wajah, Sebuah Rasa

 

Perlahan-lahan aku buka mataku. Aku coba untuk menerima kenyataan seberapapun pahitnya. Aku siap menghadapi dunia. Ada sosok yang remang-remang aku lihat. Sepertinya Erik, laki-laki angkuh itu. Mungkin aku masih berhalusinasi. Aku coba mengedipkan mata, tapi tetap Erik yang duduk di sampingku. Aku coba mengucek-ucek mata, tapi malah sekarang dia tersenyum. Aku tidak ada cara lain lagi. Aku gigit jariku keras-keras.

"Auu....!!!"

Ternyata sakit. Sepertinya ini bukan halusinasi karena aku merasa jariku kesakitan. Tapi kenyataan ini masih sulit untuk aku terima. Ternyata teriakanku mengundang orang-orang masuk kamarku.

"Wid, kamu sudah sadar?" tanya Ibu.

"Kalau sudah sadar tidak usah teriak-teriak, " ejek bibiku.

"Kamu ini bisanya buat kuatir orang saja. Kasihan masmu ini sampai tidak makan dan tidak tidur. Kamu ini kalau pingsan mbok jangan suwe-suwe," ceramah Nenek dengan logat Jawanya.

Kualihkan pandanganku ke Erik lagi. Dia masih tersenyum padaku sambil menggenggam tanganku, seakan tidak rela kehilangan. Aku coba membalas senyumnya. Aku masih belum percaya semua ini. Mungkin ini hanya halusinasiku. Karena mungkin kesadaranku masih lemah dan harapanku pada Erik terlalu besar.

"Alhamdulillah, mantuku sudah sadar," kata laki-laki tua yang duduk di ruang tamu tadi. Ternyata beliau adalah ayahnya Erik. Dasar bodoh! aku mengutuki diri sendiri.

Baca juga: Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi

 

Di atap rumah yang difungsikan sebagai tempat jemuran, aku dan Erik ngobrol sambil menyaksikan sunset Jogjakarta.

"Aku masih tidak habis pikir, mengapa kamu lakukan ini? Mengapa kamu melamarku?" Aku sudah menggunakan kata ganti "aku" dan "kamu" bukan "saya" dan "Anda" lagi saat ngobrol dengan Erik.

"Bukannya ini yang kamu inginkan?" katanya dengan santai seperti tidak merasa kalau aku tadi tanya serius.

"Ya! Tapi kamu tidak harus menurutinya, kan? Kalau memang kamu tidak menginginkannya. Lagian ada ratusan gadis cantik yang memujamu di luar sana. Mungkin kata-kataku kemarin agak keterlaluan, jadi tidak perlu kamu hiraukan. Kalau kamu lakukan ini karena kasihan sebaiknya batalkan saja niatmu."

Dia malah tersenyum lalu meraih tanganku.

"Apa kamu benar-benar lupa padaku? Erik Riadi. Kamu sudah lupa nama itu?"

Aku semakin tidak mengerti. Sudah aku ingat-ingat, tapi sama sekali tidak ingat.

"Aku sudah menduga kamu pasti lupa. Tapi aku tidak pernah melupakanmu sejak pertemuan kita di SMA. Kamu terlalu istimewa untuk dilupakan. Aku mengenalmu karena kamu pacar sahabatku."

Aku melongo mendengar kata-kata Erik barusan. Katanya "Aku terlalu istimewa untuk dia lupakan?" Apa-apaan? Ke mana perginya Erik yang angkuh kemarin?

"Tapi kenapa kamu pura-pura tidak kenal aku?" tanyaku masih berusaha menuntut penjelasan.

"Mungkin aku terlalu senang melihatmu begitu dekat setelah beberapa tahun tidak bertemu. Aku tidak menyangka Tuhan akan membuat skenario seindah ini," katanya sambil nyengir kuda.

Aku makin suka sama Erik yang ini. Erik yang sepertinya sudah lama sekali aku kenal. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

"Tentang pesta dansa itu, kamu sengaja mempermainkanku?" Kalau iya, aku tidak akan memaafkannya.

"Sekadar iseng," jawabnya santai masih sambil nyengir.

"Iseng? Kamu jahat banget, ya!" Aku benar-benar sudah marah.

"Dulu waktu SMA, di ulang tahunmu ke-17, kamu mengundangku karena kebetulan cowokmu adalah sahabatku. Waktu itu ada acara pilih pasangan. Kamu menunjuk ke arahku, tapi ternyata kamu menunjuk orang lain," katanya sambil menerawang jauh.

"Ah... aku baru ingat sekarang. Kamu yang agak gendut dan pendek itu ya?" Aku tertawa ngakak.

 

-SELESAI-


Tag :


Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Hujan dan Pelangi


Present Perfect: Seandainya Waktu Dapat Diputar Kembali


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Wakul Suroboyo - Berwisata Kuliner Khas Surabaya di Satu Tempat


Omahku - Ngobrol dan Nongkrong dalam Kesederhanaan


Teluk Hijau Banyuwangi


Jazz Gunung 2015 - Indahnya Jazz Merdunya Gunung


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Sang Wanita Dan Kuburan Rasa