Twist and Shout (Part 2)

21 Jan 2015    View : 1105    By : Niratisaya


Cerita sebelumnya: Twist and Shout (Part 1)

 

Suatu pagi, bulan kesekian sejak aku 'terpisah' dari Noel. Seperti biasa, kami bertiga duduk berkumpul di meja makan. Ini adalah acara rutin keluarga kecil kami. Aku, Noel, dan Ibu duduk bersama, berbagi pagi, dan sunyi di ruang makan. Sesekali terdengar denting suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sering kali suara itu berasal dari Noel.

Dulu, Ibu akan selalu melempar tatapan dan kata-kata tajamnya pada Noel. Dulu, Ibu akan merenggut sendok dan garpu dari tangan Noel—membiarkannya makan dengan menggunakan tangan telanjang. Namun, Noel selalu menemukan cara untuk mengisi sunyi pagi kami. Ia selalu mengabaikan Ibu dan terus mengisi pagi kami dengan suara-suara yang dianggap Ibu sebagai sebentuk ketidaksopanan. Mulai dari decap, teguk, dan  keriyat-keriyut gerakan tubuhnya di kursi. Detik itu, Ibu akan memilih untuk mengakhiri sarapannya dan pergi masuk ke kamar.

Pagi, bagi Ibu tak ubahnya seperti waktu-waktu suci yang tak boleh dinodai oleh apa pun. Sementara pagi, bagi Noel adalah saat-saat ia merusak semua rutinitas Ibu. Bagiku, pagi adalah momen kami semua berinteraksi. Seperti ini. Ya, selalu seperti ini. Dan acap kali interaksi harian kami ini akan ditutup dengan omelan Ibu.
“Apa yang terjadi sama kamu, Noel. Dulu kamu pendiam, nurut sama Ibu.”

Kami tak tahu dulu yang mana yang dimaksud Ibu. Sejauh ingatanku, Noel selalu begini: penuh energi, penuh keributan, dan tak bisa diam tenang. Setiap hari, setelah Ibu mengeluarkan kalimat penutupnya acara sarapan kami itu, aku selalu berpikir, Apa ada yang salah? Apa Ibu salah ingat? Apa dia salah mengenali anaknya?

Konyol. Bagaimana mungkin seorang Ibu salah mengenali anak yang ia lahirkan sendiri.

....

Iya, kan?

Seperti yang sudah-sudah, pagi hari ini Ibu yang sudah tua duduk di ujung meja, sementara aku dan Noel di sisi kanan dan kirinya. Akan tetapi, tidak seperti biasa, Ibu tidak menundukkan kepala dan memulai doa pagi. Ia menatap aku dan Noel bergantian, lantas mengernyit.

Apa Ibu mulai menyadari apa yang terjadi antara aku dan Noel?

Aku mengamati Ibu dan merasa sangsi.

Bukan hanya karena itu di luar kebiasaan Ibu, tetapi juga karena pada detik berikutnya Ibu sudah bersikap seperti biasa. Ia menangkupkan kedua tangan dan meletakkannya di atas meja lalu menunduk.

“Baiklah, Noah, Noel. Mari kita membuka pagi ini dengan doa. Tu....”

BRAK!!!!

Aku dan Ibu tersentak saat Noel memukul meja. Ia menatap Ibu dengan sengit dan pandangan matanya tampak menuntut. Atas apa? Aku tak tahu. Kami tak lagi bertegur sapa. Kami bahkan tidak lagi tidur di kamar yang sama. Noel akhir-akhir ini sering lelap di sofa yang ada di ruang keluarga.

Kemudian, tanpa menyentuh piringnya, atau membuat keributan lain, Noel pergi meninggalkan kami.

Ibu menatap punggung angkuh Noel dengan tatapan merindu. Aku tahu, tak perlu ikatan persaudaraan untuk itu. Aku tahu dari sorot mata tuanya yang sendu.

Sorot mata yang selalu mengingatkanku pada diriku sendiri.

Apa yang dirindukan Ibu dari Noel?

Apa ia masih tercengang melihat perubahan Noel?

Atau… Ibu melihat kami berdua?!

Aku menundukkan kepalaku, menghindari Ibu dan tatapannya yang terkadang bisa begitu bengis ketika memandangku dan Noel.

Di antara gemuruh pertanyaan-pertanyaanku, suara Ibu kembali terdengar.

“Nah, ayo kita memulai doa... Noah."

Aku mengangkat kepalaku dan mendapati satu hal yang amat jarang terjadi; Ibu melempar senyum terhangatnya padaku.

“Ya, Bu,” jawabku sambil menata hatiku.

Mungkin Ibu tidak melihat kami. Mungkin sama sepertiku, ia hanya merindukan Noel yang kini semakin jarang pulang. Mungkin hanya ia kesepian. Sama sepertiku.

Sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut, aku mengamati Ibu. Ia menangkap basah diriku. Alih-alih melempar tatapan tajam seperti dulu, Ibu kembali tersenyum. Rasanya sudah lama aku tidak melihat senyum Ibu itu. Mungkin sejak aku dan Noel masuk sekolah dasar.

Semua akan sempurna jika Noah kembali bergabung dengan kami. Dan kedamaian itu berlangsung selamanya.

Baca juga: Love Theft Series

 

“Aku turut berduka cita atas meninggalnya ibumu, Noel.” Seorang tetangga  menghampiriku di sudut di depan pemakaman. Kemudian seorang lagi menghampiriku dan seorang lagi.

Aku mengangguk cepat-cepat dan menyalami mereka satu per satu, lalu menyingkir dari suasana sendu yang terasa mencekikku. Aku melepas jas hitamku dan berjalan keluar dari area pemakaman, menjauh dari hiruk-pikuk jemaat teman-teman Ibu yang mengantarnya ke liang kubur.

Empat tahun berlalu sejak aku terakhir kali sarapan bersama dengan keluargaku. Dan 48 bulan lebih telah berlalu semenjak aku meninggalkan rumah.

Begitu sampai di salah satu pohon di area pemakaman, aku menyalakan sebatang rokok. Kuhisap dalam-dalam racunnya, berharap dia akan membawaku ke alam tenang. Di mana aku tak perlu merasakan muak atas keberadaan saudaraku dan ibuku. Atau mungkin sebenarnya aku muak pada diriku. Entahlah, aku tak tahu. Aku tak mau tahu lagi.

Aku memejamkan mata dan dalam sekejap, memoriku menghadirkan kepingan ingatan terakhirku dengan Ibu. Masih lekat dalam ingatanku, bibir kering milik Ibu yang bergerak mencium pipi kemudian bibirku dengan penuh hasrat malam sebelum sarapan terakhir kami. Esok paginya, aku memutuskan untuk tinggal di rumah teman-temanku. Aku berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Hingga akhirnya aku bekerja paruh waktu dan tinggal sendiri di sebuah kos-kosan sempit.

Semua karena Ibu.

Entah apa yang ada di pikiran ibuku malam itu. Rasanya lebih memuakkan ketimbang saat Noah yang melakukannya. Walaupun keduanya sama-sama menjijikkannya. Itulah alasan utama mengapa aku pergi meninggalkan rumah dan keluargaku. Sampai akhirnya tiba sebuah telepon dari Noah yang mengabarkan keadaan ibu kami yang sakit keras.

“Bawa saja ke rumah sakit.” Aku berkata pada Noah.

“Ibu menolak. Dia bahkan tidak mau minum obat.”

Oh, tentu saja. Seharusnya aku tahu Ibu bisa begitu keras kepala kalau dia sudah membulatkan tekadnya. “Kalau begitu, biarkan saja dia menunggu ajalnya.”

“Noel!”

Aku tersentak saat mendengar bentakan Noah. Aku tidak ingat dia bisa menghardik orang lain dengan begitu keras. Tapi, aku sudah lama meninggalkan rumah. Apalah yang aku tahu tentang saudara kembarku itu.

“Dia minta kamu datang dan tinggal bersama kami lagi,” lanjut Noah dengan suara lebih tenang.

Aku mendengus.

“Noel… Ibu mungkin nggak akan hidup lama lagi.”

Sesaat aku terdiam sebelum akhirnya menjawab. “Oke.”

Aku tidak tahu jawabanku akan membawa kami semua ke tempat ini. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di pikiranku saat menjawab pertanyaan Noah itu. Aku hanya mengepak pakaianku seadanya dan pulang ke rumah, menemui Ibu yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.

Ibu menatapku lama saat aku menemuinya.

“Noel….” katanya sambil mengulurkan tangan ke arahku.

Aku sendiri hanya terpaku melihatnya. Wanita tua dengan tubuh kecil dan wajah penuh keriput itu tidak mungkin ibuku. Dia tampak seratus tahun lebih tua ketimbang sosok yang ada dalam ingatanku.

“Noel, Ibu memanggilmu,” Noah mendorongku mendekat ke arah Ibu. “Aku akan menyiapkan makan malam, kau pasti belum makan.”

Aku tidak menyahuti Noah. Aku hanya berjalan perlahan menghampiri sosok Ibu yang masih mengulurkan tangannya ke arahku. Dan ketika aku berada dalam jangkauannya, dia segera menarikku ke dalam pelukan. Untuk sejurus kemudian didorongnya menjauh.

“Parfum siapa itu?!” pekik Ibu.

“Temanku,” jawabku sambil memandang lurus ke arah Ibu yang menatapku tajam.

“Teman yang mana?”

“Teman perempuanku.”

Aku melihat keriput yang semula tampak seperti gelombang air laut yang bergerak pelan dan syahdu, kini mulai beriak dan melaju tanpa kendali bak tsunami. Ini, baru Ibu yang kukenal.

Ibu memaksakan diri bangun, bergerak ke arahku dan tiba-tiba saja….

Aku mencecap kembali kenangan masa kecilku. Gesekan dan tekanan kulit kering di bibirku, tangan yang mencengkeram kedua bahuku, dan napas yang menderu. Detik berikutnya tekanan kulit kering itu menghilang dan cengkeraman di kedua bahuku berpindah ke leherku.

“Kamu anakku. Milikku.” Ibu berkata dengan suaranya yang kering. “Kenapa kamu nggak mengerti kalau hanya aku yang mencintaimu. Hanya aku yang boleh mencintaimu!”

“Cukup!” desisku, mendorong Ibu ke atas tempat tidurnya. Aku memelototi wanita tua di depanku. Saat pandangan mataku bertemu dengan sorot mata Ibu, semua kenangan masa kecilku terlintas satu per satu di benakku, tanpa pikir panjang aku pun maju menerjang. Aku harus menghentikan semuanya sekarang. Ditingkahi samar suara Noel yang sedang memasak, kedua tanganku melesat dan merenggut hidup Ibu.

“Noel… sayangku….” Rintih Ibu sambil memandangku dengan tatapan yang sama sekali asing. “Cintaku….”

Wanita terkutuk!!! desisku dalam hati sambil membuang putung rokok yang membakar jariku dan menyudahi rentetan kenangan yang sesak memenuhi kepalaku. Seperti hujan yang turun dan membasahi tubuhku.

Dari sudut mata, aku mendapati Noah yang berjalan ke arahku. Di tangannya sudah ada payung.

“Ibu sudah akan dimakamkan, Noel,” katanya sambil memayungiku.

Dengan diiringi hujan, Ibu yang terbaring di dalam peti akhirnya masuk ke dalam bumi.

Aku menoleh ke arah Noah yang berdiri termangu di sebelahku.

“Sepertinya aku harus berhenti kuliah,” kata Noah.

Aku mendengus. “Lalu kau akan bekerja? Sebagai apa? Pelayan restoran?”

Noah terdiam. Kami boleh memiliki wajah dan postur tubuh yang sama. Tapi dibandingkan aku, Noah tak ada bedanya dengan anak SD bila dia dilepas di jalanan. Mudah tersesat dan ketakutan.

“Pasti ada sesuatu yang bisa aku kerjakan.” Hujan membasahi bahu Noah karena dia berbagi payung denganku.

“Yang bisa dilakukan anak baik sepertimu hanya satu: belajar. Jadi, anak baik tetaplah bersekolah. Kau lebih pantas bergumul dengan buku, daripada dengan kenyataan,” kataku sambil berjalan meninggalkannya di pemakaman Ibu.

Baca juga: Misteri Makam Seorang Tokoh Desa

 

Aku ingin menelikung. Membelokkan kehidupanku, jauh dari dia. Memiliki diriku untuk aku sendiri.

Kau dengar itu, Tuhan?

Aku meminta untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.

Kalau Kau memang ada di sana.

Biarkan aku memiliki diriku untukku sendiri.

 

Bersambung ke: Twist and Shout (Part 3-Final)



niratisaya
Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi). Seorang penulis, editor, dan penerjemah. Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus




KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :


Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Dear Nathan, The Annoying Boy


Attack on Titan (進撃の巨人 - Shingeki no Kyojin)




Melihat Sisi Lampau Surabaya Di Museum Surabaya


Bakso Hitam Chok Judes: Ada Lezat Di Balik Pekat


Milk Kingdom - Humble Place to Cast Away Your Boredom


Nasib Literasi di Era Digitalisasi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Rajukan Sendu