Oma Lena - Part 1

06 Feb 2015    View : 1702    By : Nadia Sabila


“Kamu jadi pindah ke blok Q, Vi?” tanya Rania.

Aku mengangguk mantap. “Iya, asyik kan? Sekarang rumah kita jadi deketan,”

“Iya, asyiknya sih asyik banget! Tapi kamu belum tau Vi, di blok kita tuh ada oma-oma yang nyebelin banget! Namanya Oma Lena. Wah, cewek-cewek sebaya kita di sana pada bete banget ama Oma Lena! Termasuk aku,” kata Rania.

“Emang apanya yang bikin bete?”

“Dia tuh hobi banget nyerewetin cewek-cewek ABG yang lewat di depan rumahnya dan kebetulan berpapasan dengan dia. Pernah tuh ada cewek yang diomelin di depan tetangga-tetangga gara-gara Oma nggak suka liat model baju anak itu yang rada seksi. Jenna juga pernah ketiban sial. Oma sering mengadu ke Mama Jenna bahwa anaknya itu sembrono dan malas. Tentu aja Jenna langsung diomelin mamanya! Pokoknya masih banyak lagi deh kelakuan Oma yang nggak ngenakin! Dan anehnya, sasarannya selalu cewek,” tukas Rania. ”Aku juga pernah diomelin Oma Lena di depan Beno, cowokku. Gara-garanya, Oma sering ngeliat aku pulang petang hari….”

“Terus? Beno kan ngerti kalau kamu pulang jam segitu karena les?”

“Kalau itu, Beno memang tau, tapi yang bikin Beno marah tuh gara-gara Oma juga bilang kalau aku sering dianterin cowok yang berbeda tiap harinya….”

“Loh itu wajar kan? Kalau kamu selalu dianter seorang cowok yang sama, baru Beno boleh jealous,”

“Beno tuh cowok yang posesif, Viva! Dia langsung ngambek dan nggak nyapa aku sampe sekarang. Eh ngomong-ngomong, rumah baru kamu nomer berapa sih?”

“Nomer 17.”

“Vi, kamu sial banget! Rumah Oma Lena nomer 18! Pas di depan rumahmu!”

***

Suatu sore aku sedang menyiangi bunga-bunga adenium kesayanganku dan juga menyirami bunga anggrek kesayangan Mama, soalnya mama sedang pergi dengan papa ke sebuah acara. Kemudian sebuah suara terdengar dari depan pagar rumahku.

“Aduh, anak cewek sore gini kok belum mandi?” tegur seorang wanita tua.

“Eh Oma Lena! Tanggung Oma, Viva masih ngurusin bunga-bunga ini,” jawabku ringan.

“Ya mandi dulu dong biar seger! Anak perempuan tuh harus bersih! Masa hobi ngerawat bunga tapi nggak tau kebersihan?”
Aku mengernyitkan dahi, heran. Nggak penting banget sih? kataku dalam hati.

“Di rumah kamu yang dulu, anak-anak ceweknya selalu begitu ya? Kalau iya, pantes kamu jadi seperti ini. Kebiasaan jelek jangan dibawa-bawa!”

“Ini masih belum terlalu sore kan, Oma? Kalau udah selesai, Viva juga pasti mandi kok,” jawabku sambil mencoba sabar.

“Anak sekarang emang susah diatur. Jaman Oma muda dulu, anak-anak perempuan pasti sudah terlihat bersih pada sore hari. Nggak kayak sekarang.”

Tiba-tiba seorang cowok berhenti di depan pagar rumahku. Cowok itu Raven. Ia teman Azzur, adik semata wayangku yang masih SMP, tapi umur Raven sama denganku. Raven cakep dan pinter banget. Dia sering ke rumah, mengajari Azzur mendesain program web. Aku menyukai Raven.

“Sore, Viva! Azzur ada?” tanya Raven sopan.

“Sore, Rav! Azzur masih ke minimarket bentar, tapi bentar lagi pasti balik kok. Masuk dulu yuk!” tawarku ramah. Aku senang, Raven datang di saat yang tepat. Aku tak perlu lagi mendengarkan ocehan Oma Lena. Raven melangkah masuk tapi tiba-tiba,

“Hei, Anak Muda! Jangan masuk rumah orang sembarangan! Kamu tahu, Viva lagi sendirian, orangtuanya sedang pergi. Pamali seorang pemuda ada di dalam rumah seorang perempuan berduaan. Kamu nggak tahu tata krama ya!” Oma Lena mulai berkicau dengan lantangnya.

Raven merasa malu, ia mengurungkan langkahnya.

“Oma, Raven kan cuma akan menunggu sebentar! Viva juga masih nyapu di halaman kok. Lagian sebentar lagi Azzur juga datang,” belaku.

“Viva! Kamu seharusnya hati-hati dengan laki-laki! Kamu itu perempuan, harus bisa jaga diri. Kamu kan nggak tahu niat seseorang,” tangkis Oma lagi.

Aku benar-benar malu dengan sikap Oma Lena. Aku juga merasa sangat tidak enak pada Raven. Kami salah tingkah, tapi untung Azzur datang. Kami bertiga langsung bergegas masuk rumah meninggalkan Oma Lena yang menyebalkan itu.

“Aduh Rav! Maafin Oma Lena, ya? Dia emang suka gitu sama orang dan mungkin dia belum pernah liat kamu. Maaf, ya?” aku tidak enak dengan Raven.

“Nggak apa-apa kok Vi! Maklum orang tua. Tapi mungkin beliau juga ada benarnya, lain kali aku akan lebih sopan kalau bertamu,” jawab Raven tertohok.

***

Bulan Agustus, gang blok Q tampak bernuansa merah putih. Warga berlomba-lomba menghias lingkungannya dalam rangka lomba Blok Terindah sekompleks. Papa, Mama, aku, dan adikku mendandani rumah seunik mungkin. Papa dan Azzur mengecat segala sesuatu yang patut dicat sedangkan aku dan Mama, giat merawat bunga-bunga.

Suatu sore, ketika aku sedang menyemproti bunga-bunga, aku melihat Oma Lena sedang duduk termenung di teras rumahnya. Wajahnya sedih sekali. Aku merasa iba. Mungkin Oma kesepian, apalagi melihat tetangga-tetangga lain sedang asyik berkumpul dengan keluarganya. Aku nggak tahu, kekuatan apa yang mendorongku sampai aku nekat menghampiri Oma.

“Oma Lena kenapa? Kok bengong aja?” tanyaku penuh perhatian.

Oma mengangkat wajahnya lalu menatap mataku. Aku merasa, tatapan mata Oma saat itu seolah-olah berkata, "Oma kangen dengan keluarga Oma." Tapi ternyata Oma cuma menggeleng. Aku yakin Oma bohong. Dan untuk pertama kalinya Oma tersenyum padaku! Senyuman lembut yang sedih tetapi tulus. Tanpa berkata apa-apa, Oma langsung masuk ke rumahnya meninggalkanku yang terkesima melihat sikap Oma sore ini.

***

“Masa’ sih? Kamu nekat banget nyamperin nenek sihir!” komentar Rania setelah aku ceritakan kejadian tentang Oma Lena sore itu.

“Iya Ran! Oma kelihatan sedih banget. Tau deh sekarang, kenapa Oma bersikap nyebelin. Itu pasti karena Oma Lena kesepian.”

“Sok tau ah! Kamu posting banget! Oma Lena tuh nggak se-mellow itu tauk.”

“Ran, biar gimana pun Oma Lena kan seorang ibu. Pasti dia juga ada rasa rindu dengan keluarganya.” Aku membela Oma.

“Kalo emang dia seorang ibu, kenapa dia bersikap begitu? Bukannya seorang ibu seharusnya lembut dan penuh kasih sayang?

Kalau dia merasa kesepian, kan dia bisa melampiaskan kasih sayangnya terhadap kita-kita, anak-anak tetangganya?”

Aku terdiam. Entah kenapa, hati kecilku yakin bahwa ada sebuah kelembutan di balik keangkuhan hati seorang Oma Lena.

Malam ini adalah malam Tujuh Belas sekaligus Pagelaran Seni. Karang remaja dari blok-ku menampilkan pagelaran drama. Peranku hanya figuran utama dan pemeran utamanya adalah Rania sendiri.

Aku sebenarnya sempat ditunjuk, tetapi aku menolak karena tokoh utama adalah seorang putri yang luwes dan pandai menari. Aku tidak bisa nari. Selain itu, pangerannya diperankan oleh Azzur, yang tak lain adalah adikku sendiri. Janggal rasanya aku harus beradegan mesra dengan Azzur. Tegang juga sih, apalagi di panggung ada Raven yang bertugas sebagai panitia pengatur efek back drop yang diproyeksikan lewat LCD. Raven banget deh, kalau sudah berbau komputer begitu.

Saat itu, bagiku lapangan komplek mendadak sangat luas seolah-olah menampung seribu penonton. Semua mata menatap pentas termasuk sepasang mata tua. Mata Oma Lena! Entah kenapa, melihat Oma Lena aku jadi bersemangat. Mungkin karena ambisiku yang ingin membuktikan bahwa remaja blok Q tidak serendah yang Oma Lena kira. Drama dimainkan dengan apik. Akhirnya, seluruh pemain membungkuk hormat kepada penonton, tanda pertunjukan telah selesai. Tepuk tangan bergemuruh begitu kami berbaris meninggalkan panggung. Aku menyempatkan diri melayangkan pandangan ke bangku Oma Lena untuk melihat reaksinya. Wanita tua itu sama sekali tidak mengangkat tangannya untuk sekedar bertepuk tangan. Malahan dia seperti tersenyum meremehkan. Di belakang panggung aku bersungut kepada Rania. Aku kesal.

“Oma Lena emang nyebelin ya, Ran! Dia sama sekali nggak ngehargain usaha keras kita! Apatis banget! Aku salah pernah ngira dia adalah wanita yang lembut!”

“Udahlah Vi! Niat kita kan menampilkan pertunjukan untuk masyarakat, bukan untuk Oma Lena doang. Kita udah berhasil kok! Nggak usah dipikirin deh! Eh, kita ke arena masak aja yuk!” jawab Rania santai sambil menyeruput teh botolnya.

Di arena masak, seorang koki sekaligus pesulap, sedang memamerkan kebolehannya. Koki itu menggoreng telur di topi koki yang dipakainya! Telur ayam itu bisa matang dalam topi tanpa minyak dan api. Aku dan Rania tidak beranjak dari tempat kami berdiri sampai kemudian si koki meminta sukarelawan dari para penonton untuk mengikuti lomba menghias tart mini. Si koki menjanjikan suvenir bagi yang berani ikutan.

Semua saling tunjuk, lalu tiba-tiba tanganku ditarik oleh si koki untuk maju ke podium. Peserta lomba dadakan itu ada dua orang, yaitu aku dan seorang cowok bertubuh subur bernama Iko. Tiga menit waktu yang diberikan koki untuk menghias kue tart itu. Tart itu aku hias sekenanya. Penonton heboh memberikan semangat. Saat kulirik, tampak Iko juga tak kalah paniknya denganku. Koki memukul wajan tanda waktu telah habis. Ia meminta beberapa orang dari penonton untuk menjadi juri. Aku berdiri sejajar Iko dan betapa terkejutnya aku. Salah seorang juri itu adalah Oma Lena! Aku pasrah saja menunggu apa yang akan terjadi. Tiga orang juri itu saling berdiskusi. Setelah dari meja Iko, mereka menuju ke mejaku. Oma Lena terlihat paling antusias ketika menilai tartku.

Lalu tanpa disangka-sangka Oma Lena angkat bicara. “Tart yang kedua ini benar-benar kacau! Memang, lomba ini hanya untuk hiburan saja, tapi tidak sepantasnya peserta kedua yang adalah seorang pe-rem-pu-an bertindak sembrono! Bukankah urusan kue adalah urusan wanita? Paling tidak Nak Viva harus bisa menghias lebih bagus dari Iko, tapi sayangnya kenyataannya tidak seperti itu.”

Mendengar itu, aku merasa seperti ditelanjangi di depan umum. Malu sekali! Iko memandangku. Dari pandangannya, jelas bahwa ia bingung. Aku hanya bisa menunduk.

Oma Lena terus berceramah. “Ini bisa dijadikan pelajaran untuk kalian remaja perempuan, khususnya. Hal ini membuktikan bahwa perempuan sekarang sudah mulai meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. Kalian harus segera menyadarinya dan membenahi diri kalian,” tutup Oma.

Entah kenapa, dua juri lain tidak berani menentang pendapat Oma. Mereka seakan terpaksa menyetujui pendapat tidak adil wanita tua itu. Iko menang. Aku benar-benar merasa seperti dilempar dari gedung tingkat sepuluh! Aku bukan tidak menerima Iko menang. Oke! Tapi tak perlu mencakar-cakar wajahku seperti ini.

Aku sudah tak sanggup lagi berdiri sebagai pusat perhatian. Suvenir yang diberikan oleh koki kujatuhkan begitu saja. Aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan hiruk-pikuk itu. Aku tahu Rania mengejarku. Tapi aku tak menggubrisnya. Saat ini, aku hanya ingin menghilang. Aku mengempaskan tubuhku di atas kasur. Aku menangis sejadi-jadinya.

Apa sih, dosaku pada Oma Lena? Tega sekali dia padaku! Ampuni Oma Lena, Ya Tuhan!

 

 

Cerpen keren Artebia lainnya:




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Mendung Pekat dan Indahnya Pelangi dalam Apa Pun Selain Hujan


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Nikmatnya Sop Buntut di


Milk Kingdom - Humble Place to Cast Away Your Boredom


Pantai Sedahan: Sebuah Keindahan Tersembunyi


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Twist and Shout (Part 1)


Sang Wanita Dan Kuburan Rasa