Oma Lena - Part 3

20 Feb 2015    View : 1286    By : Nadia Sabila


Sebelumnya:
Oma Lena Part 1
Oma Lena Part 2

 

Aku langsung berlari menghampiri wanita malang itu. Kutepuk-tepuk pipinya; kuraba denyut nadi di pergelangan tangannya. Aku menangis dan berteriak minta tolong. Oma Lena begitu pucat dan oh! Segaris darah segar mengalir dari mulut ke pipinya.

Aku tak merasakan denyut nadi di tangan Oma, akhirnya aku membungkuk dan kudengarkan degup jantung di dada gemuk Oma. Tubuh tua itu masih hangat, tandanya ia belum lama tak sadarkan diri. Aku benar-benar panik, sementara langit senja sudah mengguratkan kegelapan.

Tapi untunglah, tak lama kemudian Mama datang bersama Satpam Kompleks. Mereka terkejut melihat pemandangan di depan mata mereka. Pak Satpam segera menelepon ambulans dan polisi dari telepon rumah Oma. Aku berlari ke pelukan mamaku. Aku benar-benar shock. Hanya dalam hitungan menit, ambulans datang dan membawa Oma. Beberapa menit kemudian polisi juga datang dan segera memasang police line di sekitar rumah Oma. Orang-orang pun ramai berkerumun. Seorang polisi menghampiriku.

“Adik Viva tidak perlu takut. Kami sudah memeriksa rumah ini dan kami mengambil kesimpulan bahwa kasus Ibu Magdalena ini bukan dikarenakan perampokan melainkan karena beliau memang terserang penyakit,” jelas polisi itu. “Tapi kami tetap harus membuat laporan atas kasus ini dan keterangan Adik sebagai saksi, sangat kami butuhkan. Adik bersedia ke kantor?”

Setelah bersaksi di kantor polisi, malam itu bersama mama aku ke rumah sakit tempat Oma dirawat. Oma Lena masih di ruang ICU. Malang sekali, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang bisa ditelepon. Anak Oma diketahui sedang dinas di Madrid, Spanyol.

Oma menderita malaria. Dan yang dibutuhkan Oma saat ini adalah darah. Tapi persediaan darah yang sama dengan darah Oma, kosong. Aku dan mama pun bersedia tes darah. Akhirnya didapat hasil bahwa darahkulah yang dibutuhkan Oma. Golongan darah dan rhesusku sama dengan Oma. Tanpa pikir panjang lagi aku bersedia diambil darah, lupa sama sekali akan semua sikap buruk Oma padaku. Aku juga lupa akan ketakutanku dengan jarum suntik, yang kuingat hanyalah tubuh tua Oma yang tergeletak tak berdaya dengan nyawa yang terancam.

mawar_darah
Sudah tiga hari Oma di rumah sakit. Hari ini, aku dan Rania menjenguk Oma. Oma sudah pindah ke kamar perawatan, dan yang menyedihkan, belum pernah ada satu anggota keluarganya pun yang menengoknya.

Oma masih tidur. Selang-selang infus dan darah masih berseliweran di tubuhnya. Aku dan Rania mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama bukan pendendam. Rania menaruh buket bunga untuk Oma di samping tempat tidur. Aku menggenggam tangan lemah Oma. Tangan tua itu ditancapi selang yang dialiri darah. Itu darahku. Ya, darahku sekarang mengalir dalam tubuh Oma Lena. Tiba-tiba Oma membuka matanya dengan lemah dan dia tersenyum padaku dan Rania.

“Viv..va, Ran..Rania.. ngap..pain kalian kemari?” tanya Oma dengan payah.

“Kami kemari ingin lihat Oma, Oma sudah sehat ya?” kata Rania lembut.

Oma tersenyum lemah. Jelas sekali gurat bahagia di wajah tua Oma.

“Viva, terima kasih banyak ya, selain itu Oma juga minta maaf atas sikap Oma sama kamu tempo hari. Oma sadar, Oma keterlaluan sama kamu, maafkan Oma ya?”

“Viva udah maafin Oma dari dulu kok, begitu juga dengan temen-temen,” jawabku tulus.

Tiba-tiba ponsel Rania berbunyi. Rania permisi keluar kamar untuk menjawab telponnya. Sembari, Rania keluar, setengah berbisik Oma Lena mengatakan sesuatu padaku.

"Cucuku Viva, sekali lagi maafkan Oma. Oma sadar bahwa kalian para remaja putri, benci sekali dengan Oma. Oma bersikap begitu karena suatu alasan, yang suatu saat kamu pasti akan tahu. Dan Oma janji, Oma pasti akan mengubah sikap Oma," ujar Oma, lirih tapi penuh ketulusan.

"Satu lagi, Oma minta tolong sesuatu yang hanya kita berdua yang tahu. Tolong selama Oma di rumah sakit, kamu rawat dua kelinci kesayangan Oma; satu kelinci putih dan yang satu lagi hitam. Terima kasih banyak."

"Oke, Viva bisa merawat kelinci-kelinci itu, tapi kenapa harus dirahasiakan, Oma?"

Belum lagi tanyaku terjawab, Rania sudah kembali masuk kamar. Oma hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya padaku.

<