Oma Lena - Part 4 (TAMAT)

23 Feb 2015    View : 1441    By : Nadia Sabila


Sebelumnya:
Oma Lena - Part 1
Oma Lena - Part 2
Oma Lena - Part 3

 

Begitu membuka mata, aku sudah terbaring di sofa. Seketika aku merasa seperti sedang berada di kahyangan, karena seorang malaikat tampan duduk di tepi sofa. Cakep banget! Tubuhnya tegap, sinar wajahnya bersih, dan tampak lebih dewasa dariku tapi tak jauh jaraknya dengan usiaku. Dia tersenyum! Apakah aku sudah mati? Pikirku berlebihan.

oma_lena_artebia

“Hei, Kamu nggak apa-apa?” tanya malaikat itu penuh perhatian sambil menyodorkan segelas air putih untukku.

“Eh... oh, kamu siapa? Aku di mana nih?” tanyaku balik.

“Ini di rumah Oma Lena. Namaku Madagaskar. Panggil aja Mada. Aku cucu Oma Lena. Kamu Viva bukan?”

“Iya aku Viva! Kok tau? Sejak kapan kamu di sini?”

“Aku udah di sini sehari setelah Oma masuk rumah sakit. Sebelum sakit, oma sudah cerita banyak tentang kamu. Makasih ya, Viva.”

“Sebentar....” Aku menyela. "Jadi beberapa hari belakangan ini kamu tahu dong aku kasih makan kelinci? Kamu udah jenguk Oma kamu di rumah sakit? Kamu yang buka tutup tirai jendela? Kenapa kamu nggak langsung nyapa aku aja? Takut tau nggak sih!" Aku langsung menyemprot Mada dengan rentetan protes.

“Oke, oke, sabar. Biar aku jelasin," katanya sambil menahan senyum. "Sorry deh. Aku nggak bermaksud bikin kamu takut kok. Aku selalu jenguk Oma selepas jam 5 sore sampai malam. Jadi nggak pernah ketemu kamu kalau di rumah sakit, karena kamu ke sana siang sepulang sekolah."

"Yang sore hari waktu aku kasih makan kelinci hari pertama? Kamu di rumah ini juga?"

"Iya, Viva. Tapi maaf aku nggak keluar kamar, soalnya aku masih ngantuk saat itu, jadi aku tutup tirainya dan tidur lagi," jelas Mada.

Tiba-tiba seonggok bulu putih gendut melompat ke pangkuan Mada. Ternyata Mada mengeluarkan kelinci Oma dari kandangnya. Rupanya kelinci itulah yang menerjangku hingga aku kaget sampai pingsan tadi pagi. Mada membelai kelinci itu dengan lembut.

“Halo, White! Aduh kamu makin endut ya, dirawat sama Kakak Viva,” sapa Mada pada kelinci itu.

“Eh iya, omong-omong kelinci yang item mana sih? Katanya Oma punya dua kelinci?” tanyaku.

Mendengar pertanyaanku, Mada tampak terkejut. Ia menatapku lekat-lekat seolah-olah akulah penyebab si hitam nggak ada. Aku jadi panik.

“Su... suer! Aku nggak tau! Begitu aku dateng, kelinci itemnya udah nggak ada di kandang! Yang ada cuma si White! Aku nggak salah, Mada,” ujarku gelagapan.

Mada belum mengubah tatapannya, tapi kemudian ia menunduk lalu ketawa! Aneh! Mada terus saja tertawa melihat wajah kebingunganku.

“Kok malah ketawa sih? Orang lagi panik juga.”

“Kamu ini polos banget ya! Ehm, maksud Oma, kelinci putih tuh ya si White ini dan kelinci hitamnya tuh aku! Kelinci berkepala hitam, artinya ya anak orang. Kata kiasan gitu,” jelas Mada masih sambil tertawa.

“Kenapa sih nggak pake kata denotasinya aja! Aku kan nggak ngerti yang gitu-gitu. Tau gitu aku nggak usah mikir kalo rumah ini ada hantunya,” dengusku kesal.

"Hehehe... iya maaf. Sekali lagi makasih ya, Viva. Makasih udah nolong Omaku dan untuk darah yang mengalir di tubuhnya. Makasih juga udah ngerawat kelincinya.”

kelinci_hitam

Aku tersenyum. Nggak nyangka Oma yang jutek punya cucu laki-laki semanis ini. “Sama-sama. Itu juga nggak sengaja karena bola voliku mecahin kaca rumah oma. Ya udah deh! Aku pulang dulu ya,” kataku sambil beranjak dari sofa.

“Eh tunggu! Aku... aku masih pengen ngobrol sama kamu,” Mada berkata sambil menahan tanganku. “Buru-buru amat sih? Orang depan rumah aja.”

"Aku mau berangkat sekolah."

"Sekolah? Ini hari Sabtu dan tanggal merah," kata Mada sambil menunjuk ke kalender yang tergantung di dinding.

Aku menepuk kening dan kembali duduk.

“Aku nggak tau kalo Oma bakal sakit. Beberapa hari sebelum Oma jatuh sakit, aku udah ngabarin kalo aku akan nginep di rumah Oma. Oma kedengeran seneng banget. Bahkan dia mau masakin makanan kesukaanku. Eh, waktu aku nyampai di stasiun kota ini, mama telepon dari Madrid bilang kalo Oma di rumah sakit.” Mada menghela napas.

Mada bercerita panjang padaku. Hubungan mama dan omanya sempat kurang baik. Sikap Oma Lena terlalu mendikte mama Mada. Oma seolah nggak mau menerima bahwa putri kecilnya udah dewasa. Bahkan setelah anaknya menikah, Oma ngotot ingin tinggal bersama. Wajar saja sebenarnya, kasihan juga kalau Oma tinggal sendirian. Tapi sikap Oma yang selalu mendikte mama Mada bahkan dalam urusan rumah tangganya, membuat suasana kacau. Orangtua Mada sering bertengkar karena Oma Lena. Papa Mada merasa mertuanya tidak percaya padanya bahkan sempat berpikir untuk bercerai saja.Mama Mada panik dan mencoba memberi pengertian pada Oma, tapi Oma tampaknya tersinggung kemudian menyingkir dan tinggal di sini.

“Tapi, menurut gosip yang beredar, Oma benar-benar ditingggalkan  sebatang kara oleh anaknya.” Aku mencoba klarifikasi.
“Siapa bilang? Oma sendiri yang milih tinggal di sini sendirian karena sudah sadar, anak perempuannya bersama pria yang tepat. Mama dan Oma sudah damai kok. Cuman, papaku diplomat jadi sering ke luar negeri. Mama dan adikku ikut Papa, sedangkan aku tetap di Indonesia. Aku SMP dan SMA di asrama, sekarang aku kuliah pertanian di Bogor. Mumpung ada libur panjang, aku berniat jenguk Oma, eh, omanya sakit.

“Emm, emang orang-orang di sini nganggep mamaku anak durhaka ya?” tanya Mada balik.

“Yah, kira-kira gitu. Tapi sekarang aku udah tau duduk perkaranya, Mada,” jawabku.

***

Akhirnya, Mada menampakkan diri. Mada juga sudah kuperkenalkan dengan keluargaku. Esoknya, Oma pulang dari rumah sakit.

“Selamat datang, Omaa...” sambutku riang seraya memapah Oma.  

“Terima kasih, Manis,” jawab Oma.

Nggak nyangka, sakit Oma membuat perubahan drastis pada diri Oma. Aku menuntun Oma sampai ke kamarnya diikuti Mada yang membawakan barang.

“Oma masih harus banyak istirahat meskipun udah boleh pulang,” kataku sambil menyelimuti Oma di pembaringannya.

“Oma nggak suka deh di tempat tidur gini! Eh iya, White gimana?” tanya Oma.

“White tambah gendut sejak dirawat Viva, Oma! Kayaknya si White seneng sama Viva deh, tau aja White sama cewek cantik. Eh, tapi si “Black” juga seneng loh, hahaha!” jawab Mada sambil menjulurkan lidah padaku.

Aku tersipu teringat ketidaktahuanku akan istilah kelinci kepala hitam.

“Mada! Udah, ah! Jangan godain Viva! Makasih ya Viva, udah ngerawat White,” kata Oma sambil mengenggam tangan kananku.

Aku tersenyum dan memandang Oma dengan lembut.

Tiba-tiba tangan kiriku juga digenggam, tapi digenggam oleh Mada yang duduk di sampingku. Aku memandang tanganku yang digenggam Mada, lalu aku berpaling pada Oma. Oma Lena sedang mengedipkan satu matanya pada Mada. Entah apa maksudnya.

oma_lena_artebia

***

Aku sedang duduk-duduk di kamar membaca majalah, nggak belajar karena ini malam Minggu. Tiba-tiba mama masuk ke kamarku.

“Vi, ada Mada tuh di depan! Dia pengen ketemu kamu katanya,” kata mama.

Aku membenahi baju dan ikatan rambutku. Mada masih tinggal di rumah Oma menghabiskan liburannya. Mada adalah seorang mahasiswa jurusan agrobisnis. Ia sedang meneliti tanaman hias. Kebetulan aku juga hobi berkebun jadi kita berdua sering bertukar info dan hunting bibit tanaman hias bareng.

“Hei! Tumben-tumbenan nih, ada apa?” sapaku nyamperin Mada.

“Eh Vi, aku mau ngajak kamu keluar, bisa nggak?” tanya Mada.

“Emangnya mau ke mana sih?” tanyaku balik.

“Udah, jawab dulu, bisa nggak? Kamu pasti seneng deh! Eh tapi kalo bisa, dandan yang cantik ya,” kata Mada bikin aku tambah penasaran.

Tak lama kemudian aku sudah berada di mobil bersama Mada.

“Perasaan kamu nggak ada mobil deh, mobil siapa nih?” tanyaku.

oma_lena_artebia

“Ada deh,” jawab Mada singkat.

Aku heran, tumben banget Mada nggak cerewet kayak biasanya. Ini bukan pertama kalinya aku pergi berdua dengan Mada, biasanya Mada nggak sediem ini.

“Emang kita mau ke mana sih, Maad?” rengekku.

***

Mada nggak menjawab. Akhirnya kami sampai di semacam convention hall. Di sana berjajarlah bunga-bunga warna-warni dan tanaman hias yang sangat unik, yang sebelumnya hanya pernah kulihat di majalah. Penataan dan lighting-nya bagus banget, sepertinya sedang ada pameran tanaman hias lokal dan luar negeri. Aku benar-benar terpesona.

“Keren kan? Suka nggak?” tanya Mada.

“Banget,” jawabku tanpa berkedip.

Mada mengajakku masuk melintasi deretan mawar berbagai warna, bunga violet, tulip, cosmos, bakung pink, adenium, arabicum, wijaya kusuma sampai bonsai kelapa. Lintasan pameran berakhir di depan pintu masuk resto hotel. Mada menuju ke meja di sudut ruangan. Aku terkejut! Di situ telah duduk Oma Lena, dan sebuah keluarga. Mereka melambai pada Mada dan aku. Kami menghampiri meja itu.

Welcome Viva,” sambut Oma Lena hangat setelah kami dekat.

“Vi, malem ini, aku mau ngenalin kamu sama keluarga aku. Pa, Ma, ini yang namanya Viva. Viva, ini Papa dan Mamaku.” Mada memperkenalkanku.

“Viva, it's so alive name! Nice to meet you,” kata papa Mada ramah.

“Anak mama nih udah pinter milih cewek ya,” goda mama Mada.

Aku tersenyum sembari menjabat tangan mereka. Papa Mada seorang pengusaha blasteran Belanda, mama Mada cantik mungkin begitulah Oma Lena waktu muda. Adik Mada laki-laki sebaya Azzur, manis sekali, namanya Rio Janeiro, dipanggil Rio. Ortu Mada memberi nama anak mereka sesuai dengan kota tempat lahir saat Papa Mada bertugas.

Aku agak nggak siap menghadapi pertemuan ini, nggak sangka bakal menghadapi momen sepenting ini. Dasar Mada!

Mada membantuku duduk. Setelah dudukku benar, eh semuanya malah berdiri! Mada memutar aku dan kursiku menghadap ke lintasan pameran.

“Happy b’day Viva! Happy b’day Viva!” Dari deretan bunga-bunga, berjalanlah mamaku, papaku, Azzur, Rania, dan Raven! Rania membawa tart besar dengan lilin angka 18. Ya Tuhan, aku sangat lupa hari ini ulang tahunku! Satu per satu mereka menyalamiku kecuali Mada. Mada cuma berdiri diam. Ketika makanan datang, semua makan dengan lahap. Tapi Mada menghilang.

oma_lena_artebia
Aku mencarinya. Akhirnya, tampaklah Mada duduk di samping kolam renang di taman hotel. Taman itu dipasangi lilin, bukan lampu listrik, jadi kesannya romantis.

“Mada, kamu kok menyendiri gini sih? Nggak makan?” tanyaku.

“Akhirnya kamu nyari aku juga,” kata Mada cengengesan.

“Ya iyalah! Tokoh utamanya kan kamu! Kamu kan yang rencanain semua ini?”

“Bukan! Yang rencanain tuh Oma dan disempurnakan Rania. Aku cuma pengalih perhatian. Sebenernya ini acara family dinner sebagai klarifikasi bahwa ortuku dan oma udah damai, tempatnya di hotel ini soalnya papa sekalian mantau pameran agrobisnis-nya tadi. Rania bilang pas banget kalo ultahmu dirayain di sini soalnya kamu pecinta bunga.”

“Ini ulang tahun terkeren yang pernah aku rasain.” Aku berterus terang.

“Emm, aku minta maaf sebelumnya kalo perkataanku setelah ini bikin ultahmu jadi nggak keren lagi,” kata Mada ragu-ragu.

“Emangnya kamu mau ngomong apa?” tanyaku setengah tertawa.

“Kamu percaya nggak, cinta pada pandangan pertama?”

“Percaya aja,” jawabku singkat dan yakin

“Kalau aku sih nggak percaya...." sahut Mada.

Keningku mengerut.
"...sampai aku ngelihat kamu sore itu ngasih makan White. Wajah kamu unforgettable bagiku. Ditambah lagi ketulusan hatimu membantu Oma meski Oma sudah jahat sama kamu. Oma tau cewek-cewek kompleks tidak suka padanya. Tapi maksudnya baik, dia ingin anak-anak perempuan menjadi anak yang manis dan sopan. Dan tidak ada lagi masalah seperti yang dialami Oma dan anak perempuannya alias mamaku.

“Dan semenjak itu aku percaya.... I’m falling in love at first sight. Be my lady, Viva. Would you?”

“Kamu serius?” tanyaku

Mada mengangguk yakin. “Serius. Ik hou van jou, Viva, aku sayang kamu,”

“Sorry, kayaknya kamu bener. Semuanya terasa nggak keren lagi! Kamu nggak seharusnya ngomong gini, Mada, kamu udah mengacaukan semuanya!” kataku.

Mada nampak kaget, tak menduga jawabanku seperti itu. Wajahnya jadi tambah gugup.

“Sesuatu yang kacau berarti menjadi lebih jelek, tapi ini lain! Yang kacau hatiku. Dan anehnya, aku juga jadi sayang sama kamu,” kataku sambil tersenyum.

“Maksa deh!” kata Mada. Air muka Mada yang tadinya gugup langsung bersinar dan senyum manis Mada-senyum favoritku-kini sepenuhnya jadi milikku. “Happy birthday, My Lady.”

“Tengkyuuu! Kok nggak dari tadi aja ngucapinnya,” kataku.

“Kalo ngucapinnya tadi, nggak bisa pake kata ‘My Lady’ dong,” jawab Mada seraya menyerahkan kotak kado dan mencium keningku.

Aku benar-benar bahagia malam ini. Keikhlasanku melepaskan Raven untuk Rania dan menggantinya dengan Mada membuatku lebih bahagia. Dan saat tanganku sudah terkembang ingin memeluk Mada, tiba-tiba....

“Mada! Viva! Kalian di sini rupanya. Ayo makan! Aduuh Mada, kok yang lagi ultah diculik sih! Ayo masuk!” Oma Lena muncul. Aku dan Mada berpandangan dan tersenyum, lalu....

Thanks Omaa.... We love Oma!” seruku dan "Mada-ku" bersamaan.


TAMAT



Cerpen keren Artebia lainnya:




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


Prisca Primasari's Love Theft Series - He Who Steal Some Love


Me Before You - Jojo Moyes and a Bowl of Warm Love Story


Membaluri Luka dengan Cinta dalam Lagu I'm Not The Only One


Wakul Suroboyo - Berwisata Kuliner Khas Surabaya di Satu Tempat


Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya - Perpustakaan Umum Senyaman Perpustakaan Pribadi


Coban Jahe: Wisata Alam Untuk Mengisi Liburan Singkat


WTF Market 2.0 - Imajinasi, Mimpi, dan Masa Depan


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Pupus, Hanyut, Lepas