Interaksi di Galaksi

09 Mar 2015    View : 3778    By : Niratisaya


Malam merentangkan cakrawalanya. Diusungnya para Bintang lewat besar bualannya. Diusirnya jauh-jauh Matahari yang tak lagi mampu membuka mata. Tak lupa diundangnya sang Bulan.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Malam berdiri di hadapan Bulan dan para Bintang sambil berkacak pinggang. Dengan lantang ia berkata, “Banggalah padaku, Malam yang sudah membawa kalian kemari. Dan bersyukurlah atas tindakanku, karena hanya aku yang mau mengundang kalian semua ke kerajaan galaksiku. Membuat manusia kagum pada kalian.”

Bulan dan para Bintang mendongak mendengarkan Malam berbicara.

“Bandingkan aku dengan Siang yang sombong. Apa dia mengundang kalian ke kerajaannya? Tidak, kan? Dia hanya mengizinkan Matahari seorang untuk mengisi sudut hatinya. Membiarkan dia menari di kerajaannya, sementara kalian? Bagi Siang, kalian cuma sampah. Penduduk kecil tak bermakna. Karena itu, sudah selayaknyalah kalian berterima kasih padaku. Malam, Raja Cakrawala yang demi kalian bertarung di ufuk setiap hari dengan Siang.”

Bintang-bintang mengedipkan mata mereka, berpikir tentang ucapan Malam. Sementara itu, Bulan tetap bungkam. Diliriknya Matahari yang menggumam terlelap dalam tidur.

“Lihat para manusia. Berapa puisi yang mereka cipta tentang aku? Berapa decak yang sudah keluar dari mulut mereka untukku? Karena itu, kagumilah aku; Malam kelam yang mengalah demi kalian, agar manusia turut kagum memuji kalian!
“Sekarang biarkan aku berkata jujur pada kalian. Sebenarnya aku lelah menerima raturan ribu pujian dari para manusia. Karena itu, aku mengundang kalian setiap hari, agar manusia-manusia tidak hanya memujiku, tapi juga kalian. Aku murah hati, bukan?”

Bintang-bintang masih mengedip-ngedipkan matanya, saling bertanya tentang maksud ucapan Malam. Pada saat yang sama, Bulan tampak masih saja berusaha mencari perhatian Matahari. Malam yang menangkap tingkah Bulan yang memunggunginya, memasang wajah garang.

“Bulan! Hei, kau!! Bulan!!!” panggil Malam pada Bulan, ketika salah satu tamunya itu tak mengacuhkan perkataannya. “Apa kau dengar tiap ucapanku?! Perhatikanlah aku ketika aku berbicara, kalau kau masih punya mata dan telinga.”
Malam menghardik Bulan dengan lantang.

“Ya … ya ….” Bulan memutar punggung, membelakangi Matahari masih lelap dalam tidur. “Aku dengar semua kata-katamu kok, Malam.”

Wajah Malam makin kelam, membuat beberapa Bintang lari ketakutan. “Lantas, kenapa tak kau perhatikan aku?!”
Bulan mendapati beberapa Bintang yang masih tetap berada di tempatnya, membeku ketakutan karena melihat kelam amarah Malam. Dengan tenang dan perlahan, Bulan pun menjawab pertanyaan Malam.

“Sebenarnya aku sangat ingin menatap wajahmu, wahai Malam sang Raja Kelam. Namun aku tak bisa melihatmu dari sini.”

“Apa maksudmu?!” Malam terdengar makin garang.

“Sejujurnya, aku ingin berkata padamu, Malam. Kedatanganku setiap hari ke sini bukan karena tulis niatku bertemu denganmu. Setiap hari, ketika Siang berusaha menarik perhatianku.”

Malam terdiam, menunggu Bulan melanjutkan ucapannya. Dibiarkannya para Bintang termangu, mendengar percakapannya dengan sang Bulan.

“Dan benar rasa penasaranku. Kau memang teduh, tak seperti Siang yang gencar menyuruh Matahari memperkenalkanku padanya. Sayang….” Bulan terdiam.

“Apa?! Apa?!” Malam terdengar gemas, menunggu kelanjutan ucapan Bulan yang sempat retas.

“Aku tak tertarik sedikitpun padamu,” jawab Bulan. Membuat Malam tersentak dan semakin murka pada Bulan.

“Kau! Bagaimana kau bisa bersikap kasar seperti itu padaku?! Aku, sang Raja Cakrawala!”

Para Bintang yang tertinggal menutup mata mereka seraya berdoa agar Bulan tak lagi beradu mulut dengan Malam.

“Kau yang memintaku berbicara, wahai Raja Cakrawala yang Kelam. Bagaimana aku bisa menolak permintaanmu?” jawab Bulan.

“Tutup mulutmu!” betak Malam. Gelegar suaranya mengusir jauh-jauh para Bintang.

Bulan pun bungkam, menuruti Malam.

Bulan versus Malam

Sejenak sunyi menyelusup, geram menggema di cakrawala Malam.

“Kau …. Kenapa kau tak tertarik padaku?” tanya Malam, menyisihkan senyap.

Bulan mengangkat alisnya, bibirnya bergerak enggan. “Apa harus kukatakan?”

Malam tak menjawab. Ditahannya geram yang tengah menggelegak di tenggorokan. “Jawab saja. Tak perlu banyak tanya.”

“Aku tak tertarik padamu karena kau tak punya apa-ap—”

Sebelum Bulan menyelesaikan kalimatnya, Malam segera menyambar.

“APA?!!” Malam tak lagi kelam. Rautnya mulai memucat. “Apa kau buta?! Tidakkah kau lihat cakrawalaku yang kelam ini?! Dia menambah indah kehinaan kalian semua yang tak tahu diri!”

Bulan ikut memucat. Raut keemasannya lenyap. Lamat, terdengar kuap Siang.

“Ya. Kau benar. Kelammu memang menambah indah hina kami. Tapi tanpa kehinaan kami, kelammu hanya akan menjadi gelap yang membosankan. Pekat, legam, tak berharga tanpa kerlip para Bintang, atau sinar perakku,” ujar Bulan, kalem.

Bulan beranjak meninggalkan cakrawala kelam Malam.

“Mau ke mana kau?!” panggil Malam pada Bulan.

“Tidur. Memangnya mau apa lagi?” jawab Bulan, sembari memamerkan jubah peraknya pada Malam yang memucat dalam kesendiaran. Seperti kata-kata dan suara yang meninggalkan tenggorokan Malam, yang kini sesak dipenuhi amarah serta geram.

“Malam, kau mau ke mana?” tanya Siang sambil mengucek mata.

Malam terdiam. Dengan mulut terkatup rapat, dia meninggalkan Siang yang termangu menatap punggungnya.

Para Bintang yang lelah dan ketakutan pun akhirnya memilih untuk pulang. Satu persatu mereka meninggalkan cakrawala Malam yang perlahan lenyap, tertimpa selimut Siang. Yang tertinggal di sana hanyalah Siang yang mulai merangkak menemani Matahari yang baru saja membuka mata.

 

 =SEKIAN=

Cerpen keren Artebia lainnya:

 

Sumber gambar: gallsource.com




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Jodoh Pilihan Hati - Kiat Menjemput Jodoh


Gone Girl - Ketika Cinta Berakhir, Yang Tersisa Hanyalah Kematian


Happy - Mocca Band (Dinyanyikan Ulang Oleh Aldin)


My Pancake Restoran Surabaya  Town Square


Heerlijk Gelato


Pulau Sempu - Segara Anakan dan Hutan Terlarang


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Kepada Yang Terkasih