Balada Sebuah Perut

01 Jun 2015    View : 1434    By : Niratisaya


Lahir di keluarga yang “elit” alias ekonomi sulit nggak membuatku risih. Kenapa harus risih? Aku masih bisa bermain dengan teman-temanku, tertawa bebas, makan, dan jajan—walau yang terakhir ini kebanyakan karena jajanan yang dijual ibuku masih tersisa.

….

Mungkin paling pas kalau aku mengatakan lahir di keluarga “elit” nggak punya efek apa-apa ke hidupku.

Walau kenyataan itu mewajibkan aku untuk selalu berbagi dengan saudara-saudaraku. Mulai dari baju, tempat tidur, bahkan sepatu. Tapi berbagi nggak pernah membuat aku malu atau risih. Tersisih, mungkin. Karena aku nggak pernah punya satu barang yang bisa aku labeli “milikku”.

Tapi… kalau dipikir-pikir, sebenarnya ada satu hal yang membuatku risih: panggilan “Anak Mami” yang sering menempel padaku. Julukan ini sering dilontarkan kawan-kawanku tiap kali aku mangkir dari janji main kami.

Ini semua gara-gara Ibu, yang dari bulan ke bulan semakin rajin selalu menambah mata pencaharian kami. Memaksa aku dan saudara-saudaraku agar rela menghabiskan waktu bermain di bawah teriknya sinar matahari sambil membawa dagangan kami. Kadang es lilin buatan Ibu, mainan buatan Bapak, atau bermacam-macam buah yang dibeli dan dipotong-potong Ibu sesuai dengan harga yang dilabeli Ibu.

boy(diambil dari stewardshipoflife.org)

Nggak jarang, aku dan empat saudaraku juga harus rela berjalan kaki ke toko-toko tempat Ibu menitipkan panganan buatannya yang jaraknya berkilo-kilo dari rumah kami, untuk mengambil sisa dagangan, nampan, dan uang Ibu.

Saking seringnya aku berkeliling dan menjajakan dagangan Ibu, aku pernah bertanya pada Ibu; kenapa aku dan saudara-saudaraku mesti melakukan semua ini kalau Bapak masih bekerja sebagai pegawai kereta api. Sambil terus menumbuk kacang untuk bumbu pecel, Ibu menjawab bahwa gaji Bapak nggak cukup untuk kebutuhan sehari-hari kami sekeluarga—terutama untukku dan keempat saudaraku.

Herannya, sebanyak apa pun yang dijual Ibu, tetap saja nggak membuat aku dan saudara-saudaraku berhenti mengambil “liburan khusus” setiap bulannya pada tanggal sepuluh.

Tiap bulan pada tanggal sepuluh, aku dan saudara-saudaraku harus libur dari sekolah dan membantu Ibu untuk mendapatkan uang sekolah.

***

Walau aku mengatakan kalau aku nggak pernah risih dengan keadaan keluargaku, tapi kadang aku juga berharap  aku terlahir di keluarga lain. Keluarga yang bisa membuatku bisa bersantai tiap akhir pekan, seperti anak-anak di keluarga lainnya. Selama ini aku hanya bisa menatap iri teman-teman yang bisa bermain di Mbengkel—sebuah tanah lapang bekas bengkel kereta trem Belanda yang ada di belakang rumahku. Tanpa memedulikan hari atau memiliki kewajiban membantu orangtua setiap hari, seperti aku dan saudara-saudaraku.

Suatu kali, naluri anak kecilku menuntutku untuk memiliki lebih banyak lagi waktu bersama teman-temanku. Bosan dengan segala rutinitas harian di rumah, aku pun menurutinya.
Di akhir pekan, aku menghabiskan sebagian besar waktuku bermain dengan kawan-kawan sekitar rumah. Tapi entah kenapa saudara-saudaraku lempeng saja tiap akhir pekan tiba.

Seolah nggak ada perbedaan bagi mereka. Mungkin mereka sudah nggak bisa lagi membedakan akhir pekan dan hari sekolah, karena rutinitas harian kami.

“Kalian yakin nggak mau ikut main?” tanyaku pada mereka sambil mengambil sandal jepit.

Tiga saudaraku memandangku. Mereka lalu saling tatap, kemudian, secara bersamaan, mereka menoleh ke arah dapur tempat Ibu berada. Dua kakakku menggeleng, sementara adik pertamaku berjalan menuju Ibu.

Dasar! Aku mencibir sambil berjalan keluar menuju Mbengkel yang jadi markasku dan teman-teman.

“Mas, tunggu!” Ternyata, di antara empat saudaraku, ada seorang yang masih setia kawan.
Adik bungsuku berlari kecil ke arahku. Aku menghentikan langkah dan tersenyum lebar.

***

Rek, gimana kalau besok kita main ke Kodam? Cari ikan?” usul salah seorang temanku sewaktu kami menggulung benang layang-layang.

Mendengar itu, spontan kepala teman-temanku berputar ke arahku.

“Yo, kamu besok bisa ikut cari ikan bareng kita?” tanya salah seorang temanku.

“Bisa! Jam berapa?” tanyaku, menyambut girang ajakan temanku.

“Serius Yo, kamu bisa ikut? Kita ke sana siang, lho. Biasanya jam segitu kamu kan bantuin ibumu,” celetuk temanku yang lain. Membuat aku melengos kalau ingat hal itu. “Kamu kan anak mami. Tiap hari ngintilin ibumu terus!”

Kontan kawan-kawanku yang lain tergelak mendengar seloroh kawan kami itu.

Mingkem! Liat aja besok! Aku pasti ikut kalian!” jawabku sebelum meninggalkan mereka yang masih saja menertawaiku.

Pokoknya aku pasti ikut! Tekadku. Tapi bagaimana caranya kabur dari Ibu?

Aku melirik adik bungsuku yang membuntutiku dan bohlam di dalam kepalaku menyala, berikut seringaiku.

Oke, aku besok akan menolak perintah Ibu untuk menjajakan nasi bungkus. Akan aku buktikan kalau aku bukan anak mami!

***

Hari itu siang datang terlalu cepat. Membuatku yang masih mengantuk terpaksa bangun. Bukan karena sinar matahari yang menyilaukan, tapi suara Ibu yang memekakkan telinga. Dia nggak akan pernah berhenti memanggilku sampai aku bangun dari tempat tidurku dan segera menemuinya. Bagi Ibu, jam lima bukanlah pagi, tapi siang. Mematuhi paham Ibu yang satu ini, kami sekeluarga harus sudah bangun sebelum jam lima pagi.

Aku sudah hafal kebiasaan pagi keluargaku ini, karena itulah aku dengan malas-malasan beranjak dari tempat tidurku dan menyeret langkah untuk menemui Ibu.

Saat aku sudah berhadapan dengan Ibu, tanpa banyak bicara dia menyodorkan keranjang yang berisi nasi bungkus.

Benar dugaanku, hari ini pun aku masih harus menjajakan nasi bungkus. Padahal ini kan Minggu; waktuku bersantai.

Sewaktu menolak perintah Ibu dan mengatakan kalau aku ingin anak-anak lain yang bisa menikmati hari libur sekolah, Ibu melotot sambil berkata, “Terserah! Kalau kamu mau makan ya kamu harus bekerja. Di dunia ini nggak ada yang namanya kiriman dari surga! Hidup itu ya begini ini, kalau mau senang kamu musti rela susah.”

“Kalau bisa bersenang-senang tanpa kesusahan, kenapa aku mesti susah-susah?” sangkalku sambil balik ke kamar. “Hari ini aku jagain Ang, ngegantiin Mbak. Itu sama aja, kan?”

Aku lalu menggandeng Ang, adikku yang paling kecil, yang baru menyelesaikan separuh sarapannya, dan langsung ngeloyor keluar. Aku nggak memedulikan Ibu yang berteriak dan melontarkan hukuman andalannya: nggak memberiku makan seharian. Biasanya aku bakal menarik langkah dan kembali ke rumah, tapi nggak hari itu.
Teriakan Ibu malah membuat langkahku makin mantap.

Masa bodoh! Yang penting kan aku bisa main dan kumpul sama teman-teman. Aku bertekad dalam hati.

Beberapa menit kemudian, aku melihat ketiga saudaraku keluar sambil menjinjing barang dagangan keluarga kami. Mulai dari es lilin, nasih bungkus, sampai keripik.

Hah … dasar bodoh! Ngapain susah-susah, toh berjualan seperti itu nggak akan bisa mengubah keadaan ekonomi keluarga ini yang serba irit. Mending main, nggak capek atau kepanasan. Aku mendengus ke arah mereka, lalu kembali membicarakan acara mencari ikan dengan teman-teman siang nanti.

Kami semua sepakat bermain dulu di lapangan sekolah sambil mengumpulkan beberapa wadah-wadah kosong, untuk tempat ikan-ikan kecil seukuran teri yang kami kumpulkan nanti.
Akhirnya, aku bisa menikmati Minggu santai dan damai! batinku sambil berjalan menuju Kodam dan tersenyum lebar bersama teman-teman.

Mango Tree(diambil dari doomsteddinner.com)

Aku dan teman-teman mengelilingi got-got di sekitar Kodam. Kami membungkuk demi mencari ikan yang entah kami apakan nanti. Ketika bosan, kami beralih pada pepohonan yang ada di sekitar Kodam. Di sana ada pohon mangga dan jambu. Kami mengendap-endap dan mencuri tiap buah yang kami lihat—nggak peduli apakah buah itu matang atau masih mentah. Semua itu nggak penting.

Tapi ada yang di luar perhitunganku: adikku.

“Mas, sudah siang. Aku lapar…,” keluh adikku untuk kesekian kalinya. Dia rupanya sudah lelah mengikuti aku dan teman-temanku yang berkeliling mencari ikan-ikan kecil di got-got sekitar lapangan Kodam.

“Ya, ya…,” jawabku, jengkel pada kata-kata adikku yang membuatku teringat pada ancaman Ibu. Dengan perasaan dongkol, aku menggandeng adikku pulang. Lagi pula, aku juga lapar.

***

Sialnya, Ibu yang kupikir cuma melemparkan ancaman kosong, ternyata benar-benar serius dengan ucapannya. Dia menolak memberiku makan.

Begitu aku muncul di hadapannya, Ibu langsung menarik tangan adikku dan menyuruhnya duduk bersama saudara-saudaraku yang lain. Sementara itu, dibiarkannya aku berdiri di depan meja makan sambil menelan air liurku saat melihat keempat saudaraku makan.

“Bu, mana makananku?” tanyaku dengan rasa takut yang pendam dalam-dalam sewaktu melihat mata Ibu yang melotot ke arahku.

“Nasi ini dimasak hanya untuk mereka yang kerja, karena kamu nggak mau kerja untuk apa aku memberi kamu makan?” jawab ibuku, dingin.

Didorong rasa lapar dan marah, aku membalas, “Tapi bukannya kewajiban Ibu memberi aku makan?!”

“Bukannya kewajiban kamu menuruti Ibu? Karena kamu nggak nurut sama Ibu, berarti Ibu berhak mengambil hakmu.” timpal ibuku, lalu dia berbalik dan menemani saudara-saudaraku makan. “Sebelum kamu menuntut hak, penuhi kewajibanmu,”

Tanpa banyak membantah lagi, aku masuk ke kamar.

Dengan wajah masam aku melewati saudara-saudaraku yang sama sekali nggak peduli pada keadaanku. Mereka dengan asyik makan tanpa mendongakkan kepala mereka. Dasar, nggak ada rasa persaudaraan blas sama saudara sendiri!

Aku langsung menutup kelambu kamarku dan terus mendongkol atas sikap dan perkataan ibuku yang begitu egois, juga saudara-saudaraku yang begitu cuek pada keadaanku. Aku menahan napas sambil memeluk bantal. Seharian itu aku mengomel terus di atas kasur sampai akhirnya tertidur.

***

Sekali lagi sinar matahari pagi menyapa jendela kamarku. Menelisik di antara celah-celah jendelaku yang masih tertutup. Sekali lagi berulang kebiasaan keluarga kami. Suara Ibu yang memberi perintah pada semua saudaraku dan rengekkan adikku yang paling kecil.
Dengan menyisakan kedongkolan di wajah, aku menemui Ibu.

“Nih, hati-hati bawanya. Jangan sampai jatuh, kalau bisa minta uang pas,” kata Ibu sambil menunjuk keranjang nasi yang kemarin aku tolak mentah-mentah. “Sebelum berangkat mandi dulu. Ibu nggak mau orang-orang batal beli nasi cuma gara-gara belek di matamu itu.”

Tanpa banyak kata lagi, aku menuruti kata-kata Ibu. Tapi aku menyisakan wajah masam.
Entah karena pasrah, atau karena saat ini otakku turun ke perut dan memerintahkanku untuk melakukan perintah Ibu agar mendapatkan makanan, aku menuruti perintah Ibu dari A sampai Z pagi itu. Setelah mandi, aku berkeliling menjajakan nasi sebelum sekolah, seperti biasa.

Pagi itu, di terminal yang berada nggak jauh dari Kebun Binatang Surabaya, aku menjajakan dagangan Ibu sambil mengamati sekitar. Aku melihat para pedagang sayur dan makanan mulai membuka lapak di pasar, juga beberapa orang berlari kecil menuju bis dan angkotan umum. Mulai dari mereka yang memikul kantung-kantung yang terlihat begitu berat, entah apa isinya, sampai mereka yang terburu-buru naik angkot.

Mataku lalu tertuju pada salah seorang dari penumpang angkot; seorang ibu-ibu yang seumuran ibuku. Ibu itu membawa sesuatu di atas kepalanya, semacam keranjang, dan sebuah ember di tangan. Sepertinya dia seorang penjual makanan.

Kembali terngiang di ingatanku, kata-kata Ibu tentang bekerja keras. Aku merunduk dan menatap bungkusan-bungkusan nasi buatan Ibu. Kalau mau makan, aku harus menjajakan nasi-nasi bungkus ini sampai habis.

Siapa takut! Asalkan perutku ini mau berhenti memainkan musik keroncong, aku akan melakukan apa saja!

Aku melompat dan bergerak cepat menjajakan nasi buatan Ibu pada semua orang. Dari mereka yang sedang berjalan menuju terminal, sampai bapak-bapak sopir angkot yang sedang berkerumun. Seorang dari mereka menyeletuk, “Kasihan kamu, Le. Masih kecil mesti keliling jualan nasi pagi-pagi gini.”

Dengan bayangan nasi dan sayur buatan Ibu di rumah, aku menatap si bapak sopir. “Kalau Bapak memang kasihan sama aku, beli nasi buatan ibuku ini. Aku nggak bakal kenyang dengan simpati aja, Pak.”

Para sopir kontan tertawa mendengar kata-kataku, tapi melihat raut mukaku yang masih serius, akhirnya mereka membeli beberapa bungkus nasi.

Tepat sepuluh menit sebelum jam masuk sekolah, aku pulang dengan tas plastik yang sudah kosong. Awalnya Ibu mengira aku memakan semua nasi, tapi begitu aku menyerahkan uang hasil penjualan, Ibu tersenyum.

“Aku mau makan Bu, makanya aku bekerja keras. Aku juga nggak mau membuat Ibu menyesal melahirkan anak seperti aku,” tandasku. Aku lalu teringat pada sosok ibu-ibu yang aku lihat di terminal. “Nanti kalau aku sudah gedhe, aku pasti jadi orang. Aku akan jadi orang yang bermanfaat. Aku nggak akan ngebiarin Ibu jualan seperti ini terus.”

ibu-anak(diambil dari republika.co.id)

Ibu terdiam dan menatapku. Kemudian, dia tersenyum. “Ibu nggak minta kamu jadi apa-apa, Le. Asal kamu jadi orang nggenah—benar—sudah cukup buat Bapak dan Ibu.”

Nggak pernah terpikir olehku kalau Ibu akan merasa senang dengan kata-kataku. Mungkin Ibu benar, aku nggak perlu jadi ini-itu. Mungkin aku cukup jadi orang nggenah nanti. Tapi aku bersungguh-sungguh soal keinginan pertamaku: aku ingin makan. Karena itu, aku segera meminta jatah makanku lalu berangkat ke sekolah yang nggak jauh dari rumahku.

Mungkin kita memang harus mau mengorbankan sesuatu yang berharga bagi kita, kalau kita ingin mendapatkan yang kita mau. Untukku sendiri, sekarang nggak ada yang lebih berharga dari nasi.

 


Surabaya, 2015
Penghormatan untuk sebuah potongan kisah bertahun-tahun lalu.

 

 

 

Cerpen keren Artebia lainnya:




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


When the Star Falls - Yang Terjadi Ketika Bintang Terjatuh


Suckseed (Huay Khan Thep): Tumbuh Bersama Mimpi, Sahabat dan Cinta


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Depot Gresik


La Ricchi - Gelato Kaya Rasa di Surabaya


Napak Tilas Aliran Lahar Gunung Merapi: Lava Tour Merapi


The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Oma Lena - Part 3


Jingga Senja Sewarna Darah