Angel's Smile

10 Jul 2015    View : 2484    By : Nadia Sabila


Gadis kecil itu sudah beberapa hari ini lewat di depan butikku. Kulitnya sawo matang, badannya kurus, rambutnya yang panjang agak tipis diurai begitu saja, tidak dikepang supaya rapi. Seragam sekolah merah putihnya tampak kusam, kemeja putihnya menguning, dan sepertinya belum atau bahkan tidak diseterika. Tak begitu jelas bagaimana raut wajahnya, yang jelas, mata bulatnya menyorotkan tatapan riang menutup keseluruhan penampilan lusuhnya.

Aku sengaja tak keluar dari butik saat melihatnya. Aku tahu, gadis kecil itu tertarik dengan rumpun mawar biru dan ayunan kecil di atas rumput hijau di taman depan butikku yang tak berpagar. Aku senang memandangi tingkahnya dari dalam butik saja. Wajah kumalnya tampak tersenyum bahagia saat bermain ayunan. Terkadang dia tertawa sendiri saat ada kupu-kupu hinggap di rumpun mawar, lalu berpindah untuk hinggap di rambutnya.

Baca juga: Merah Balada

ayunan

Lebih dari seminggu ini gadis kecil berseragam SD—yang entah datang darimana—itu rajin main ke halaman butikku. Satu hal yang pasti, dia selalu sendirian. Tak pernah kulihat dia bergerombol dengan bocah-bocah lainnya. Jangankan bergerombol, berjalan dengan seorang kawan saja sepertinya tidak.

Aku tak ingin mengusik kesenangannya bermain di butikku, lagi pula selama ini para pelanggan tampaknya tak ada yang merasa terganggu dengan kehadirannya di taman. Aku simpati padanya karena gadis kecil itu mengingatkanku pada masa kecil Aura, putri tunggalku, yang bulan kemarin meninggalkan tanah air untuk kuliah di Australia.

Itulah alasanku pindah ke Bali dan memutuskan untuk turun langsung mengelola butikku, mengalihkan pikiranku yang masih sering sedih jika mengingat putri kecilku Aura sekarang sudah berani pergi jauh dari aku, ibunya. Semenjak melahirkannya, aku tahu, masa-masa seperti ini akan datang. Tak kusangka, ternyata memang sangat berat bagi seorang ibu untuk melepas putrinya, meski kepergiannya hanya sementara untuk studi.

Precious moment...

Suatu hari, sahabatku mengirimiku contoh gaun untuk anak-anak. Ada tiga gaun, dan dia ingin aku memilihkan untuknya; mana yang terbaik untuk diikutsertakan dalam sebuah fashion week di kotanya. Sekilas, ketiga gaun itu tampak bagus. Agak sulit menentukan bagus tidaknya jika gaun itu tidak sedang dipakai. Akhirnya tercetus ide, bagaimana jika si gadis kecil di taman itu aku jadikan modelnya saja?

angel 1
Kuletakkan gaun-gaun mungil itu di mejaku sembari menanti si gadis kecil datang. Tak lama kemudian, seperti biasa, gadis itu muncul dan langsung bermain ayunan. Aku pun menghambur keluar menemuinya sambil membawa salah satu gaun.

Gadis kecl itu terkejut dengan kemunculanku. Dia tampak gugup dan sedikit takut, mungkin takut aku memarahinya karena bermain di tamanku tanpa izin. Menyadari hal itu, aku langsung tersenyum manis. Kukatakan padanya agar tak perlu takut, kutanya siapa namanya, kelas berapa, dan memintanya untuk mencoba gaun.

Gadis kecil itu menyebutkan namanya: Angel, kelas 2 SD. Angel nampak ragu dengan tawaranku. Jelas dia khawatir "acara"ku ini akan membuatnya terlambat pulang ke rumah. Kukatakan, aku bersedia mengantarnya pulang dulu untuk pamit, atau jika tidak, berikan nomor telepon ibunya biar aku yang menelepon untuk minta izin. Angel tak memilih opsi-opsi izin yang kutawarkan itu. Setelah berpikir sejenak, dia hanya mengangguk pelan dan menyambut gaun dari tanganku.

Baca juga: Kisah Tentang Himawari

Aku senang sekaligus tidak enak. Senang karena akhirnya datang juga momen untukku lebih dekat dengan si gadis kecil bernama Angel itu; dan tidak enak karena aku "meminjamnya" dari orangtuanya tanpa ijin. Sekali lagi aku menanyakan nomor telepon orangtuanya, dia hanya menggeleng dan mengatakan kalau dia tidak tahu dan tidak dibekali ponsel.

Sembari berjalan ke dalam butik, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lama-lama meminjam Angel dan akanmengantarnya pulang nanti. Aku sendiri seorang ibu, dan aku tahu betul rasanya khawatir anak tak pulang-pulang. Pasti begitupun dengan ibu Angel di rumah.

Angel memasuki butik dengan pandangan kagum. Mata bulatnya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan puluhan pakaian itu dengan setengah tercengang. Mungkin ini pertama kali dalam hidupnya memasuki sebuah butik.

butik
Kuamati gadis mungil itu dengan saksama. Ternyata wajahnya sangat manis, terutama senyumnya; perawakannya cukup bagus sebetulnya—hanya sedikit terlalu kurus; warna kulitnya pun eksotis khas Indonesia, sayang kulit mulus itu kusam tertutup daki dekil; dan euuuh! Baru kusadari badan anak ini bau sekali. Mungkin tadi karena saking senangnya aku sampai tak sadar ada bau tak sedap menguar dari tubuhnya.
 
Tak bisa tidak, Angel harus ku"permak" dulu. Sementara juru foto butik menyiapkan keperluan pemotretan untuk Angel, aku membersihkan anak itu. Kuajak dia ke lantai dua, tempat kamar dan kamar mandi pribadiku, lalu kubersihkan badannya di sana. Menyabuninya, mencuci rambutnya, dan mengelap badannya. Aku sangat menikmati momen ini, aku bernostalgia ke sepuluh tahun lalu, saat aku melakukan hal yang sama pada Aura.

Tak lama kemudian, Angel yang lusuh sudah menjelma menjadi "little angel" sebagaimana mestinya. Sungguh cantik gadis kecil di hadapanku ini! Berbalut gaun merah muda dengan bando bunga mungil tersemat di kepala. Rambut panjangnya sudah kukeringkan dan kusisir rapi, jatuh terurai dengan sangat indah ke dua sisi bahunya. Bau badannya pun sudah hilang dan berganti dengan wangi sabun.

Aku jadi berpikir, bagaimana bisa anak semanis ini bisa jadi sedekil tadi? Dia anak yang anteng, tak banyak tingkah, tetapi penampilannya selalu terlihat seperti anak yang habis bermain bola di lapangan tanah. Angel yang tak mau diurus atau ibunya yang kurang perhatian?

Tubuh kurus Angel pun membuatku tak tahan untuk tak mengajaknya makan. Kupesankan makanan cepat saji dan sekotak susu. Meski agak malu-malu di awal tapi akhirnya dia makan dengan lahap. Semua makanan yang kuhidangkan pun licin tandas dihabiskannya. Jelas dia lapar sekali!

Entah kenapa seketika terbersit rasa iba di hatiku. Naluri keibuanku merasakan ada sesuatu yang seharusnya didapatkan oleh anak ini, tetapi tidak dia dapatkan. Ada sesuatu yang kurang, ada yang tidak seharusnya, tapi aku pun tak tahu apa lagi selain penampilannya yang kumal. Anak ini terlalu manis untuk menjadi anak yang kurang diurus seperti ini.

Baca juga: Malaikat Tak Bersayap

Nostalgy...

Setelah permak-memermak rampung, Angel pun menjadi model dadakan. Ketiga gaun percobaan pas semua dipakainya, dan kesemuanya menjadi gaun yang sangat bagus. Meski sulit memilih, pilihan pun kujatuhkan ke gaun merah muda yang dipakai Angel pertama kali tadi. Jujur, bukan karena gaunnya, tapi karena model yang memakainya. Menurutku, Angel terlihat lebih cantik dan lebih "anak-anak" dengan gaun simple pink itu.

dress
Setelah pemotretan, aku lupa pada janjiku untuk tak meminjam Angel lama-lama. Aku malah mengajaknya bermain merangkai mawar di ayunan, ngemil, dan kegiatan ibu-anak yang dulu kulakukan dengan Aura saat dia masih delapan tahun, seumur Angel. Kuberi dia baju yang bagus dan seragam sekolah baru yang kebetulan ada di butik. Kukatakan padanya agar tak lagi memakai seragam lusuhnya.

Angel tipe anak yang tak banyak bicara, tapi dia tetaplah bocah yang tak bisa berbohong kalau dia gembira bersamaku. Ia memanggilku Tante Vina. Aku simpulkan aku sudah jatuh sayang padanya. Terlalu mudah untuk sayang pada anak semanis Angel. Senyuman manis terus tergurat di wajahnya selama kami bersama. Senyum yang tak akan pernah kulupakan...

Momen yang membahagiakan untukku ini pun berakhir. Sekitar pukul tiga sore kuantar Angel pulang. Tak kusangka, rumahnya ternyata jauh sekali dari sekolah. Jarak sekolah Angel dan butikku hanya sekitar 200 meter, tapi jarak sekolah ke rumah Angel hampir dua kilometer. Dan lebih mencengangkan lagi, setiap hari dia berjalan kaki pulang-pergi rumah-sekolah. Perasaanku benar! Ada yang tak beres dengan cara pengasuhan Angel.

Those eyes...

Tak ada sambutan cemas di pagar seperti yang kubayangkan, karena dulu itulah yang kulakukan jika Aura terlambat pulang. Aku menemani Angel masuk rumah untuk menjelaskan pada ibunya kalau akulah yang bertanggungjawab atas keterlambatan anaknya. Alih-alih ibu, yang keluar malah seorang pesuruh yang sepertinya tukang kebun. Pesuruh itu menatapku sambil langsung mengatakan bahwa ibu Angel sedang sibuk. Aku tak diberi kesempatan berbicara dan Angel sudah digandeng masuk rumah tanpa anak itu sempat mengucapkan terima kasih padaku.

Sebelum menghilang dibalik pintu, Angel sempat menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang tak lagi berbinar seperti saat bersamaku tadi. Tatapan mata itu menyesakkan, seperti mengiba. Aku terpana, tak tahu apa yang harus kulakukan. Kutunggu beberapa saat di halaman rumah, mungkin ibu Angel akan menemuiku. Setengah jam aku menunggu, tak ada tanda-tanda kedatanganku disambut baik. Aku pun memutuskan untuk pulang.

Setelah hari itu, aku libur dua hari. Begitu kembali ke butik, aku menyiapkan permen loli kalau nanti Angel datang bermain lagi. Namun, berhari-hari gadis kecil itu tak juga muncul. Apa gara-gara kejadian denganku kemarin akhirnya Angel diantar jemput sehingga tak sempat main? Atau mungkin dia sakit?

ayunan
Di tengah kekalutanku, datanglah seorang wanita sebayaku, masuk ke butik. Bukannya melihat-lihat baju, wanita itu malah langsung menuju mejaku. Dia menyodorkan secarik leaflet dengan foto gadis kecl bertuliskan "ANAK HILANG". Aku terkesiap. Anak di foto itu adalah Angel!

Wanita itu adalah gurunya, dan dia bertanya padaku apakah pernah melihat Angel. Bibirku bergetar, terbata-bata menceritakan semua pengetahuan dan pengalamanku tentang Angel. Aku bahkan bersamanya seminggu yang lalu. Desa ini geger. Angel kecilku hilang entah kemana, tak juga ditemukan.

Her smile in eternity...

Suatu malam, aku bermimpi Angel duduk di ayunan taman butik seperti biasa. Bedanya, di mimpiku, dia tak lagi lusuh, ia bersih dan wangi, dan membawa boneka. Dia juga memakai gaun merah muda yang kusukai, tapi ada robek yang cukup panjang di bagian roknya. Saat aku mendekatinya untuk menanyakan robekan itu, Angel tersenyum lalu melompat turun dari ayunan. Dia menjauhiku sambil tetap tersenyum dan mengucapkan, "Terima kasih, Tante Vina."

Keesokan harinya, tersiar kabar bahwa Angel sudah ditemukan, tetapi dalam keadaan tak bernyawa di rumahnya sendiri. Kepergian Angel yang tak wajar menyisakan misteri.

Anehnya, mendengar kabar itu aku justru lega. Perasaan resahku bahwa ada yang tak beres dalam lingkungan Angel seketika menguap. Angel sudah menemuiku dalam mimpi. Dia tersenyum bahagia, bebannya hilang. senyum yang sama seperti saat dia bermain bersamaku.

Gadis kecil itu memang tak akan pernah lagi muncul di taman butikku, tetapi dia meninggalkan kenangan yang tak akan lenyap. Kenangan yang menjadi pengingat bagiku untuk selalu bersyukur dan semakin menyayangi putriku sendiri...

 

angelineTerinspirasi oleh kisah Engeline.




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Takdir Dan Pertanda-Pertanda


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Petualangan bersama Einstein: Karyawisata ke Pabrik


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung


Coffee Bean & Tea Leaf Surabaya Town Square


Penelusuran dan Napak Tilas Reruntuhan Situs Candi Pendharmaan Ken Angrok di Kabupaten Malang (Bagian 2)


WTF Market 2.0 - Imajinasi, Mimpi, dan Masa Depan


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Ode Untuk Si Bungsu


Jingga Senja Sewarna Darah