Ode Untuk Si Bungsu

13 Sep 2016    View : 662    By : Henny Kustanti


September, 1990.

"Pak, sakit...." Terdengar semakin lirih saja rintihan adikku si Bungsu.

Sudah tiga hari ini dia mengeluh bahwa perutnya sakit. Bapak sekarang akan membawa Bungsu ke puskesmas terdekat yang berjarak sekitar 2 km dari rumah kami setelah mendapat uang pinjaman dari salah seorang teman dekatnya. Semakin kencang kukayuh pedal sepedaku mengikuti kayuhan sepeda Bapak yang terlihat seperti permainan Tong Setan. Dari belakang, Bapak benar-benar terlihat seperti pengendara motor 2 tak dengan kecepatan super kencang dengan track berbentuk silinder, berputar-putar dalam tong tak berujung.

Track kami kurang lebih terasa sama gilanya dengan tong karena panas matahari terpantul oleh legamnya aspal, sehingga roda sepeda kami terkesan blingsatan macam setan kebakaran bulu hidungnya. Meskipun pohon-pohon sengon di sepanjang jalan bak oase di Gurun Kalahari Afrika.  Jalanan kota kecil kami yang biasanya lengang hampir setiap waktu kini terasa memiliki kuku-kuku tajam di setiap sisi jalannya dan siap menerkam kapan saja. Kota kecil kami ini hanya memiliki dua kali jadwal macet dalam sepanjang tahun; ketika malam takbir menyambut Hari Raya Idul Fitri, dan saat kota ini gegap gempita merayakan hari kemerdekaan negara ini dengan pawai keliling kota. Namun, hari ini terasa ada yang tidak biasa.

Setelah kami berhasil mencapai jalan raya dan menuju arah selatan, kami menyaksikan barisan anggota kepolisian berdiri di sepanjang sisi jalan raya. Kami dihentikan beberapa petugas kepolisian dengan wajah keras serupa patih dari Istana Hastinapura. "Tidak ada yang boleh lewat sebelum Pak Bupati lewat," katanya sambil terus menatap ke arah iring-iringan dari kejauhan yang belum tampak. Tentu saja, dia tak sempat melihat kami.

Sibuk sekali para petugas kepolisian itu, berkacak pinggang dengan alat yang terdengar seperti radio, kelak aku tahu alat tersebut adalah walkie talkie untuk berkomunikasi antaranggota kepolisian.

"Anak saya sakit Pak. Saya harus segera membawanya ke puskesmas." Kalimat ini terus diulang-ulang Bapak sambil menunjukkan wajah meringis si Bungsu yang menahan sakit.

"Tunggu sebentar Pak. Begitu Pak Bupati lewat, Bapak boleh jalan terus," kata seorang polisi menghampiri Bapak. Sekejap saja, tanpa melihat kami.

"Tapi adik saya sudah menahan sakit tiga hari Pak. Dia sudah tak tahan lagi." Akhirnya aku ikut bicara sembari menekan rahang karena gemas.

"Anak kecil, berani sama orang tua?" Paling tidak sekarang petugas kepolisian ini melihatku.  Mata itu adalah mata yang marah, tak sabar, dan bosan, mungkin disebabkan hidupnya yang begitu-begitu saja. Mungkin dia juga kesal harus menunggu dan menjaga jalan untuk rombongan Bupati, yang mungkin bahkan tak mengenal namanya yang tertempel pada seragam di bagian dada kanannya, Sabhara, dengan huruf tebal-tebal. Di waktu yang sama sekali berbeda mungkin aku akan merasa iba karena hanya orang yang sudah putus asa sajalah yang menggunakan jurus terakhirnya untuk dihormati kami yang masih muda ini dengan mengingatkan tentang perbedaan usia dan bagaimana seharusnya kami bersikap terhadap orang yang lebih tua. Sayang sekali, budaya yang luar biasa ini tidak dibarengi dengan manual bersikap terhadap orang yang lebih benar.

"Sudah, sudah. Jangan ikut bicara," kata Bapak buru-buru, tak ingin memperburuk keadaan.

"Maafkan si Sulung, Pak. Dia tidak bermaksud begitu," lanjutnya dengan terus memegangi Bungsu yang terlihat tak bisa lagi menopang tubuhnya hanya untuk duduk di boncengan.  Punggungnya telah melengkung kini, dia menggulung tubuh mengikuti rasa sakit dan wajahnya semakin pucat. Dadaku sesak menahan amarah demi melihat bapak mengelus punggung si Bungsu dengan ekspresi wajah yang tak akan kulupakan; rasa khawatir dan penyesalan. Air mata menggenang di sudut matanya yang sayu. Keriput di sisi-sisi matanya semakin terlihat jelas akibat menahan air mata agar tidak jatuh.

Bapak berusaha menenangkan si Bungsu. Dia sedang menenangkan dirinya sendiri, kurasa. Bapak bukan orang orang yang selalu menemani kami bermain, belajar, atau sekadar menghabiskan waktu di rumah. Bapak lebih memilih bekerja agar sekolahku dan si Bungsu tak putus di tengah jalan. Teman-temannya bilang Bapak kaku. Tapi kami tahu, hanya kami yang tahu, mata yang ingin terus memeluk kami dengan hangat setiap kali ia berangkat kerja, sorot berkilau matanya yang hangat ketika melihat kami tidur. Bahkan senyum kecilnya bersyukur ketika si Bungsu sunat di usia delapan tahun. Hanya kami yang tahu.

Bapak adalah orang yang sangat bangga ketika memperkenalkan anak pertamanya adalah perempuan, sementara teman-temannya membanggakan anak pertama mereka yang laki-laki. Meskipun aku yang selalu memegang piala rangking pertama di kelas.

Setelah menunggu lama, iringan Bupati lewat dengan suara sirene mobil polisi di depan meraung-raung, menelan mentah rintihan adikku yang kini terdengar seperti gumaman saja. Sungguh tak jelas dia ngomong apa, hanya tubuhnya yang semakin merosot dari sepeda tak mampu lagi menahan sakit sekaligus berat badannya sendiri.

Mobil-mobil mewah yang harganya tak mampu dijangkau otak kecilku itu melaju dengan sangat kencang. Setelah lama menunggu aku merasa berhak melihat wajah pejabat yang membuat kami berhenti. Benar-benar disayangkan karena tak seorangpun di dalam mobil yang meluangkan waktunya sekejap saja untuk melihat kami.

Puskesmas kini telah terlihat setelah Bapak memacu sepeda dengan kencang. Aku berlari di belakangnya karena harus memegangi tubuh lemas si Bungsu, tak peduli lagi nasib sepeda ontel-ku yang kutinggalkan di trotoar jalan. Sepeda Bapak telah sampai di area parkir puskesmas. Seorang tukang parkir tergopoh-gopoh membantuku memegangi si Bungsu. Kakiku lemas, peluh membasahi setiap inci tubuhku, otot-otot tubuhku protes bergetar tak terkendali. Sepeda Bapak terhenti, siap menopang si Bungsu. Tubuhku ambruk, si Bungsu jatuh di atas badan Pak Tukang Parkir, matanya tertutup rapat.

Suara Pak Tukang Parkir-lah yang terakhir mengiang di telingaku sebelum kegelapan menguasai. "Innalillahi wainna 'ilaihi rajiuun."


Baca juga: Kesenyapan Memeluk di Kesendirian

 

September, 2016

Bumi kini menua pikun karena telah sering lupa kapan waktunya hujan mengguyur atau kapan waktunya kekeringan mendera. Mobil tua ini tetap nyaman meski tanpa AC maupun kaca riben sehingga sinar matahari dapat menyentuhku kapan pun dia mau. Perlahan melintas jalanan kota kecilku sehingga dapat dengan bebas aku menikmati keramaiannya yang hangat. Pohon-pohon sengon di sisi jalan terlihat semakin kokoh di usianya yang tak lagi muda, menawarkan kesejukan yang bukan sekadar fatamorgana, atas teriknya Matahari yang luar biasa. Kertas-kertas dokumen penting laporan dari beberapa kecamatan berbaring santai di jok belakang. Perhatian untuk mereka adalah di kantor, sementara ketika di jalan adalah waktuku memeperhatikan roman wajah orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang lega karena masalah apapun yang sedang melandanya telah usai, ada yang sedang mengerutkan dahi seakan menanggung beban seluruh semesta, ada yang menerawang jauh ke Negeri Cina, tak luput juga yang sedang tergesa meliuk-liukkan sepedanya tak sabar ingin segera sampai entah untuk alasan apa. Rupanya jalanan tetaplah jalanan. Meskipun telah banyak yang berubah namun kepentingan-kepentingan pengguna jalan tampaknya masih menjadikannya sebagai Tong Setan juga.

Hanya satu-dua sepeda ontel terlihat melintas santai dikendarai siswa-siswa sekolah dalam perjalanan mereka pulang ke rumah setelah sekitar tujuh jam menghabiskan waktu untuk belajar. Ekspresi mereka adalah yang utama, karena mungkin suatu hari mereka yang akan duduk disini. Wajah polos itu tentu belum teracuni "virus-virus" yang dibawa serta para "tikus". Sepeda motor adalah penguasa jalan raya, dengan pengendara-pengendara melaju, menikung, meliuk bak juara. Para petugas kepolisian terlihat waspada menjaga dengan walkie talkie di tangan. Mereka ada, nyata, siap dengan tugasnya. Aku mengangguk dan tersenyum tipis sebagai rasa terima kasih, demi melihat balasan senyumnya. Mobil polisi di depan berhenti sejenak di dekat lampu lalu lintas di perempatan jalan. Pak sopir menengok sebentar ke arahku dan tersenyum.

"Sedang ingat si Bungsu, Bu?" tanyanya dengan penuh pengertian. Pertanyaan yang sama, saking hapalnya dengan pola yang terus berulang.

"Selalu, Pak." Jawaban yang sama pula dariku. Toh ia tahu pasti alasannya. Alasan yang membuatku berada disini sekarang, alasan sama yang membuatku mempercayainya sebagai sopir setelah bantuannya yang begitu besar sebagai tukang parkir puskesmas.

"Masih ada waktu dua puluh menit Bu, mau mengunjungi Bapak sebentar?"

Bapak meninggal setahun setelah pelantikanku sebagai bupati, dengan kenangan akan si Bungsu yang selalu ada dalam hatinya. Adikku si Bungsu meninggal hari itu 26 tahun lalu tepat di tempat parkir puskesmas karena usus buntunya pecah tanpa ada pertolongan apa pun selain obat diare karena kami sekeluarga tak tahu apa sakitnya waktu itu.

"Lain waktu, Pak. Kita harus sampai di tempat tepat waktu. Jangan sampai menutup jalan hanya karena ingin cepat sampai. Kita ini sejatinya kan pembantunya rakyat, kalau berlagak sombong dan sok eksklusif nanti jadinya konyol, terus diketawai orang. Di jalan raya, kita pengguna jalan juga seperti yang lain."

Bukankah sudah cukup atas apa yang terjadi pada si Bungsu? Mengapa harus merasa lebih penting dari yang lain kalau setiap orang memiliki prioritas hidupnya masing-masing? Meninggalnya si Bungsu adalah pelajaran berarti bagiku. Entah bagaimana dengan orang lain, tetapi aku tak butuh korban lain, maka daripada menutup jalan dan melanggar hak yang lain, lebih baik menjadi lebih bijak mengatur waktu serta sadar diri. Aku berada di posisi ini karena mereka, itu takkan kulupa. Rasanya aneh betul kalau harus mengorbankan waktu mereka yang mungkin lebih berharga sementara faktanya merekalah yang memangku diriku di sini.  Bapak selalu mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang lebih tinggi dari manusia yang lain, karena Tuhan melihat kita sama. Aku sepakat sepenuhnya.

Baca juga: Dalam Sekam Kehidupan

 



Henny Kustanti
Henny Kustanti adalah seorang guru bahasa Inggris di salah satu SMP swasta di Jombang. Mengklaim dirinya sebagai salah seorang foodie yang alim, Henny pun rajin memasak dan membuat kue. Wanita ini bahkan berani menguji nyalinya dengan menjajal resep-resep yang nggak dikenalnya. Meski telah menikah, wanita yang sejak SMP sampai kuliah melibatkan diri dalam dunia teater dan drama ini dengan lantang mengakui bahwa dia kesengsem pada (lagu dan suara) Michael Buble. Salah satu impian dahsyat yang dimiliki lulusan Sastra Inggris ini adalah kuliah di salah satu universitas di Leiden, Belanda. Henny bisa dihubungi via E-mail hennyd0ne@gmail.com dan Facebook.

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus


givaway happiness is you



KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :


Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Para Penjelajah Dunia : dari Vasco da Gama hingga Ibnu Battuta


Teacher's Diary (Khid Thueng Withaya) (2014): Penghargaan Guru di Thailand


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Klayar


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


Omnivoro Ciputra World, Fusion Cafe untuk Para Omnivora


Literasi Oktober: Big Bad Wolf Menghantui (Pecinta Buku) Surabaya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Jalan Setail di Malam Ini