Cita-Cita Dirgantara

04 Apr 2016    View : 1422    By : Nadia Sabila


Sebelumnya, mari kita bicara dulu tentang asal usul nama gagah yang disandang Dirga. Nama itu adalah pemberian ibunya, yang bahagia bukan kepalang saat tahu bahwa bayi yang dilahirkannya adalah laki-laki.

Ibu Dirga adalah wanita ambisius yang bercita-cita tinggi, dia ingin sekali anaknya jadi pilot, karena dulu Ibu Dirga sebetulnya ingin jadi pramugari lalu diperistri seorang pilot.

Tapi apa daya, lingkungan pergaulan kampung kumuh di mana ibu Dirga dibesarkan tidak memungkinnya berkenalan dengan seorang pramugari ataupun pilot. Sekolahnya pun cuma sampai kelas 6 SD karena tak ada biaya. Alih-alih pilot, seorang penjual pentol bakso dari desa seberanglah yang melamarnya, yang akhirnya jadi ayah Dirga.

pilot_cilikIlustrasi

Kebalikan dari ibu Dirga yang ambisius, ayah Dirga berpembawaan tenang, sederhana, dan qona'ah. Qona'ah itu seperti sikap nerimo, bersyukur dengan apa yang sudah dipunyai. Sudah turun-temurun profesi jual pentol digelutinya.

Meski berasal dari keluarga penjual pentol keliling, Ayah Dirga tak pernah sampai kelaparan atau merasa kekurangan meskipun sekolahnya hanya sampai SMP. Bisa meminang seorang wanita saja sudah membuat ayah Dirga merasa menjadi laki-laki sempurna.

"Alhamdulillah, laki-laki," kata dukun bayi kampung yang membantu proses kelahiran Dirga.

"Alhamdulillah," kata Ayah dan Ibu Dirga berbarengan.

Meski Ibu Dirga masih sangat lemas sehabis mengeluarkan bayi seberat tiga kilo dari dalam perutnya, ia dengan semangat memekikkan sebuah nama.

"Dirgantara ya, Yah! Dirgantara! Anak kita kasih nama Dirgantara," teriak Ibu Dirga penuh semangat dalam letihnya.

"Kok berat men toh namanya Bu, kasih nama Waras saja sudah, tanda syukur kita anak kita lahir seger waras," kata Ayah Dirga.

Ibu Dirga cemberut mendengar komentar suaminya.

"Ayah... nama kan doa. Mbok ya yang mbois kalau ngasih nama anak. Dirgantara itu tulisan di lapangan terbang yang biasanya ibu lihat waktu jualan kopi. Ibu pengin anak kita jadi pilot,"

"Ya sudah, terserah Ibu saja,"

"Ya wis. Nah, nama belakangnya pakai nama Ayah saja, jadi namanya Dirgantara Soeparno,"

***

Begitulah nama Dirga disematkan dari sedikit perdebatan. Sekarang, Dirga sedang dalam persimpangan hidup. Ibunya terus menyemangatinya untuk jadi pilot. Sementara itu, ayahnya yang sabar masih terus berjualan pentol tanpa banyak berkomentar, memenuhi kewajibannya sebagai tulang punggung keluarga.

pilotIlustrasi Pilot

Dirga bukan tak ingin menuruti cita-cita ibunya (yang juga cita-citanya), tapi Dirga juga memikirkan biaya yang bisa dipenuhi ayahnya sebagai penjual pentol keliling. Sekolah pilot tidak murah meski dengan beasiswa.

Ayah Dirga memang tak pernah sekalipun mengeluh kekurangan uang (atau mungkin tak pernah mengeluhkannya pada Dirga). Biaya sekolah dan makan keluarga seolah tak ada masalah, meski Dirga tak pernah makan di restoran dan tak pernah punya tas dan sepatu baru (karena barang-barangnya bekas semua tapi masih layak pakai).

Dirga diam-diam kagum pada ayahnya, yang hanya dengan berjualan pentol saja, bisa menyekolahkan anaknya hingga lebih tinggi dari pendidikannya sendiri. Bisa hidup cukup (merasa cukup) tanpa pernah iri dengki dengan orang lain yang hidup dengan rejeki lebih. Seandainya tak punya cita-cita, Dirga tak keberatan meneruskan usaha ayahnya, dan hidup sederhana seperti ayahnya. Harta secukupnya dan masih punya waktu untuk sholat berjamaah di masjid, sudah cukup bagi ayah Dirga.

rombong_pentolRombong Pentol

Ibu adalah wanita yang berpikiran maju, tak gampang puas dengan keadaan dan selalu optimis meraih kehidupan yang lebih baik, yang sayangnya terhadang keterbatasan dana dan wawasan. Ibu pandai mencari kesempatan dalam kesempitan, sehingga ibulah yang menggagaskan tempat-tempat strategis dan jam-jam strategis yang tepat untuk Ayah menjual pentol.

Sikap qona'ah Ayah berimbang dengan cita-cita tinggi Ibu berbaur menjadi satu dalam jiwa Dirga. Meski tak hidup mewah dengan motor bagus seperti teman-temannya di sekolah, Dirga tak menjadikannya masalah. Fokusnya hanya belajar sungguh-sungguh agar berhasil jadi pilot.

***

Dirga bukan anak yang sangat cerdas, tapi bukan juga anak yang bodoh. Dirga anak yang stabil. Intelejensinya cukup dan emosinya terjaga. IQ dan EQ yang bagus ada dalam diri Dirga. Sukses menempuh Ujian Nasional, Dirga lulus dengan nilai memuaskan. PR-nya tinggal: ujian sekolah pilot. Dirga belajar keras dan berolahraga rutin agar tubuh kurusnya tetap terlihat fit saat tes kesehatan.

Ibu berusaha membantu dengan mencarikan buku-buku soal ujian bekas, menanyakan info tentang sekolah pilot sana-sini, dan memasakkan makanan yang bergizi meski cuma satu porsi khusus untuk Dirga (sementara dia dan suaminya memakan nasi dengan lauk sisa Dirga—kalau ada—atau nasi garam saja). Ayah membantu dengan memperpanjang jam berjualan pentolnya, dari biasa sampai sore saja, menjadi sampai hampir tengah malam demi mendapat tambahan uang dari berjualan pentol di konser-konser musik dangdut pinggir kota.

Semua anggota keluarga tirakat, demi sebuah cita-cita mengangkasa, dalam makna kiasan maupun makna sebenarnya.

***

Tes tulis komprehensif: Lulus. Tes samapta: Lulus. Namun, menjelang tes kesehatan pantauan akhir....

"Silakan centang angka minimal 150 juta," kata seorang panitia penyelia data pada Dirga.

Keringat dingin mengalir dari kening Dirga. Uang kerja keras yang berhasil dia dan keluarganya kumpulkan tak lebih dari 15 juta, kurang satu angka nol saja sebenarnya, sudah tak berarti. Benar memang, nol tak selalu tak berarti.

Dirga melirik meja sebelah. Si anak laki-laki gembul sebayanya tampak sumringah di depan panitia penyelia sebelah. Si gembul itu yang paling lamban larinya saat tes samapta; yang berlebih paling banyak angka timbangannya dari berat badan yang prasayarat; dan yang paling sibuk membolak-balik lembaran-kecil-entah-apa pada saat Dirga memeras otak mengerjakan tes tulis.

Entah berapa angka biaya yang dicentang si gembul itu di formulir. Mengisi angka di formulir biaya adalah satu-satunya tes yang seandainya bisa dicontek—tak akan bisa dicontek Dirga. Sedikit lemas, Dirga pasrah mencentang kolom kotak 'Lain-Lain' dan mengisi titik-titik dengan angka 15.000.000.

Tes-tesku yang lain masih memuaskan nilainya, batin Dirga membesarkan hatinya sendiri.

***

Nama Dirgantara Soeparno tak tercantum di kolom pengumuman nama peserta lolos. Keterangannya: gagal tes kesehatan dengan alasan terlalu kurus. Si Gembul - yang lagi-lagi berada di sebelah Dirga—tersenyum puas.

"Tinggal diet saja ya, Pa, hahaha," si Gembul itu tertawa pada pria berseragam tentara yang menemaninya. Mereka pun berlalu melewati Dirga yang terpaku, menatap nanar papan pengumuman.

***

Dirga menyulut elpiji kompor dalam rombong pentol agar bulatan kanji kukus itu tetap panas saat disajikan. Wajahnya sumringah mengayuh sepeda baru beriringan dengan ayahnya. Ayah-anak itu bersiul mengayuh sepeda masing-masing dengan rombong baru bertuliskan "Pentol Pilot".

pengusaha-pentol

 

- TAMAT -




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Everlasting - Terkadang, Ada yang Tak Bisa Dihapus Waktu


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)




Kober Mie Setan, Gresik Kota Baru


Coffee Bean & Tea Leaf Surabaya Town Square


Teluk Biru: Sambil Menyelam Tanam Terumbu


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Pria Asing Di Pos Kamling


Jingga Senja Sewarna Darah