Nyala Lilin yang Menerangi Wanita Itu di Kala Malam

26 Apr 2017    View : 636    By : Ferry Fansuri


Sore menjelang malam dalam ruangan mulai gelap tanpa cahaya, aku berpendar menerangi di dalamnya. Tiap malam seperti malam-malam yang lain aku selalu ada dan hadir, aku masih ingat di mana aku berada. Meja di sudut kamar itu dekat jendela yang terbuat dari jati, bersebelahan dengan tempat tidur. Aku selalu diletakkan di samping buku-buku, kertas serta tinta, aku bisa melihat sekitarku dengan jelas dan tanpa aku semua buta. Inilah pekerjaanku dan tidak pernah bosan.

Aku tidak sendiri di kamar itu dan berteman dengan banyak wujud, ada Zigi seekor kecoa yang mempunyai sarang dibalik kayu yang lapuk disisi ujung kamar atau dengan Bonti seekor tikur kecil tanpa mata yang selalu merayap di pinggir-pinggir untuk menemukan jalan keluar. Tapi wujud yang paling aku sukai adalah seorang manusia yang selalu menempati kamar ini.

Manusia itu telah lama ada di sini, mulai dari ia remaja sampai dewasa. Aku mengikuti pertumbuhan dan tahu sejarahnya. Manusia ini selalu memakai kebaya putih dan jarit bertektur batik. Rambutnya terkadang terurai harum tercium olehku atau sesekali disanggul untuk memperlihatkan keanggunan.

Kusuka wajahnya begitu teduh dan menenangkan, kulitnya kuning langsat yang keset dan kencang membuat ingin menjamahnya. Gerak-geriknya begitu ningrat bak putri keraton, lemah lembut dalam bertutur dan tidak tergesa-gesa. Biarpun demikian terkadang liar, berbicara lantang dan berani menolak tanpa dengan batasnya.

Semua ativitas ada di kamar ini, mulai pagi menyerobot dibalik jendela sampai matahari kembali ke peraduannya. Aku selalu di sini menemaninya dan tak pernah lepas dari mataku, manusia berkebaya jika tiap malam selalu duduk di meja itu. Di sebelahnya ada aku yang menerangi, ia suka sekali membuka buku dan mempelototi satu persatu huruf didalamnya.

Tapi aku tak tahu apa yang ia baca, terlihat hanya sampul buku itu dalam berbahasa Belanda seperti De Hollandshce Lelie dan Semarang De Locomotief . Ia begitu membaca saksama huruf demi huruf, kata ke kata, dan ini membuat alisnya berkerut atau matanya berbinar saat menemukan cerita dalam lembaran-lembaran jurnal tersebut.

Tidak hanya membaca, tapi ia juga menulis—aku sedikit-sedikit melirik apa yang ia tulis. Ia menulis dengan tinta hitam, tulisan begitu indah dengan paragaf demi paragaf tersusun rapi terkesan manusia satu ini terpelajar. Kadang tak sengaja lirikan itu membuat percikan api yang membakar ujung kertas yang ia tulis bahkan membuat lubang-lubang kecil bekas percikanku.

Begitu juga saat percikan-percikan apiku mengenai tangan, ia mengaduh kesakitan.

Maaf … tidak sengaja. Aku cuman penasaran untuk melihat apa yang kau tulis karena aneh saat anak usia kamu di zaman ini tidak diperbolehkan sekolah atau dipingit, tidak boleh keluar dari rumah. Belajar adat istiadat, bertutur ngoko, merawat diri dengan ramuan tradisional untuk diambil seorang manusia lainnya pilihan keluarga kalian.

Tapi kau beda, apa yang kau baca dan tulis tidak mencerminkan itu semua. Tak jarang kulihat engkau menitikkan air mata saat membaca Max Havellar atau De Stille Kraach karya Louis Coperus. Kulihat dari matamu ada sebuah pergolakan batin dan perlawanan akan ketidaksesuaian zamanmu.

Malam begitu larut, kau pun menguap sepertinya matamu mengantuk juga. Kau beranjak dari meja itu dengan menggeser bangku dan mengarah ke tempat tidur itu. Dan tak lupa kau tiup aku, seakan mengucapkan selamat tidur kepadaku dan semua jadi gelap dan akupun terlelap menemanimu.

***

Suatu malam kau tambah terisak berlinang air mata. Kau datang dari pintu itu dan menubruk bantal guling di tempat tidur. Terus menangis sesegukan dan aku tak tahu apa yang kau tangisi. Malam itu memang aku selalu menemani tapi kau tidak menyentuh meja di dekatku atau beraktivitasi seperti biasanya. Sepertinya kau enggan lagi untuk mendekati meja dan bangku yang jadi favoritmu tiap malam. Membaca dan menulis sesuatu kepada teman-temanmu di Holland sana. Aku rindu di dekatmu lagi tapi malam kau acuh tak acuh.

Begitu juga malam berikutnya kau tak menyentuhku lagi, kau langsung menuju peraduanmu untuk terlelap. Aku merindukan kau seperti dulu, di mana aku bisa memandangimu dan membikin diriku kasmaran. Ah..kemana kau yang dulu aku tak temukan jawaban sedikit pun.

“Hei kau, kenapa tertunduk lesu?” Suara tak asing bagiku, Zigi si kecoa sekonyong-konyong muncul di hadapanku.

“Oh kau, ada urusan apa kau di sini,” jawab sekenaku tanpa memalingkan wajah.

“Pasti kau menanyakan manusia satu itu, kenapa tak menyentuhmu, kan?” kekeh Zigi.

“Kau seperti tahu segalanya,” sindirku

“Pastilah tahu, kau kan hanya di sini dan tidak bisa bergerak.”

“Aku bisa bergerak dan melihat mereka.”

Aku hanya diam akan perkataan Zigi si kecoa ini.

“Manusia itu berdebat dengan manusia yang membuahinya dan aku paham semua percakapan mereka.”

“Manusia yang kau sanjung itu punya keinginan besar.”

“Ia mau belajar di luar seberang laut sana tapi manusia satunya melarangnya.”

“Terjadi perdebatan hebat dari dua mulut manusia-manusia itu.”

Kecoa itu berlalu dari hadapanku dengan meninggalkan tanda tanya besar yang tidak aku mengerti. Mengapa dia belajar di seberang negara ini? Kenapa tidak di sini saja biar aku bisa terus menatap matanya terus? Ah..pikiranku kacau gara-gara kecoa satu ini. Malam sudah diujung, kerlip bintang berganti matahari.

Di dalam pikiranku masih menunggumu tapi tak kunjung kau datang, ada apa denganmu? Hampir berhari-hari kau tidak menyentuh meja, buku atau tinta penamu. Aku sangat merindukanmu saat ini.

“Hei kau melamun saja, apa yang kau pikirkan saat ini.” Lamunanku terhenyak saat Bonti si tikus melintas di depanku, sambil di mulut mengerat sisa makanan entah ia dapat dari mana.

“Oh kau Bonti. Tidak ada apa-apa, aku hanya jenuh dengan aktivitasku saja.”

“Jangan bohong. Aku tahu dari matamu, kau mengharapkan kehadiran manusia itu kan?”

Tikus tengil ini seakan tahu akan kegalauan diriku, tapi aku tak mengiyakan pertanyaannya hanya memandang jendela didepanku.

“Kau tahu manusia itu tidak akan tinggal disini lagi, akan diboyong oleh manusia lain jenis dari kaumnya.” Bonti tiba-tiba cerocos kepadaku.

“Maksudmu apa?”

“Kau dengar tadi yang aku katakan kan, manusia pujaan itu akan dikawinkan untuk melahirkan seorang bayi.”

“Kemarin saat aku sedang mengorek-gorek sampah dibelakang dapur rumah ini. Aku mendengarkan percakapan keluarga manusia itu. Manusia idolamu itu akan dinikahkan, tapi seperti ia tidak setuju. Tapi yang kudengar itu tradisi negeri ini yang tidak bisa ditolak olehnya.”

“Menikah?”

“Kawin?”

“Dibawa pergi?”

“Apa katamu, benar dan tidak bohong? “

Bonti tidak menjawab. Dia malah ngeloyor meninggalkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.

Hati ini terasa hancur mendengar berita itu, apakah aku cemburu? Ah tidak. Apalah aku buat dia.

Hari demi hari, minggu ke minggu, bulan beranjak bulan berikutnya. Kau tak tampak dan kupikir kau tidak akan kembali ke tempat ini. Tapi pada suatu malam pintu kamar itu terbuka perlahan, kulihat engkau di ujung pintu tersebut. Kau tampak anggun dengan balutan kebaya putih itu, aku girang akhirnya kau datang juga.

Kau melangkah pelan-pelan ciri khasmu, kau menyalakan aku di malam ini. Kau geser bangku kecil itu dan membersihkan debu di meja yang lama kau tinggalkan. Dikit demi dikit kau buka lagi buku-buku milikmu, aku lihat bola matamu yang berbinar.

Kertas di meja itu kau ambil dan pena tinta ada di tanganmu, dengan cekatan kau tuliskan kalimat saksama. Setelah selesai kau bubuhi tanda tangan, rutinitas malam mulai kau lakukan tiap hari.

Ini yang membuatku gembira, kau menulis dan merangkai kata-kata. Setelah kau memasukan ke amplop surat dan dikirimkan tukang pos. Tidak hanya satu dan puluhan surat yang telah aku hasilkan bahkan suatu saat pernah kulihat engkau dengan antusias sambil menulis surat, kau berkata, “Aku mau!”

Semangat itu menggelora dan berapi-berapi dan aku bisa merasakan itu. Aku bergembira untukmu. Kau menemukan tujuan hidup lagi setelah kemarin hilang redup. Kau menulis itu seperti ingin menunjukkan kepada dunia luar sana akan keinginan, hasrat dan tujuanmu. Kau ingin mengubah tatanan lama menjadi baru, kau mau membuka pintu itu dari gelap menjadi terang.

Dan itu bisa kulihat dari tulisanmu dan aku paham saat kulirik surat yang kau tulis di bait terakhir itu pada malam aku menerangimu.

 

 

“…andaikata aku jatuh di tengah-tengah perjalananku, aku akan mati bahagia, sebab bagaimanapun jalan telah terbuka dan aku telah ikut membantu membuka jalan itu yang menuju kepada kemerdekaan dan kebebasan wanita.”

Kartini kepada Abendanon 1902

 


Surabaya, Maret 2017


Tag :


Ferry Fansuri

Ferry Fansuri adalah seorang travel-writer kelahiran Surabaya yang juga berprofesi sebagai fotografer dan entrepreneur.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Hujan dan Pelangi


Begin Again - Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dan Menjalani Hidup


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Lembah Rolak


Gili Labak - Surga Tersembunyi Di Pulau Garam


WTF Market - Moire: A One-Stop Entertainment Market


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Pria Asing Di Pos Kamling


(K)Aku