Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata

06 Jan 2016    View : 5830    By : Amidah Budi Utami


Kenyataan bahwa cita-cita saya tercapai, membuat saya lebih percaya bahwa di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Membuat saya lebih berani bermimpi.


Alvi Syahrin adalah penulis muda asal Surabaya yang baru saja merilis novel ketiganya berjudul I Love You, But I Can't Tell You. Awal mula saya berkenalan dengan Alvi di sebuah talk show novel remaja yang diadakan oleh Goodread Surabaya pada bulan Mei tahun lalu. Alvi menjadi salah satu pembicara di acara tersebut.

Saya terkesan dengan sosok penulis muda dan berbakat ini. Alvi juga termasuk penulis yang produktif karena selama tiga tahun terakhir ini tidak pernah absen merilis novel di tengah-tengah kesibukan kuliah. Pemikiran-pemikiran positifnya sering terlihat di akun sosial media milikinya. Selain aktif menulis, Alvi saat ini juga sedang sibuk mempersiapkan startup milikinya. Keren kan, Artebianz?

Yuk, mengenal lebih dalam figur muda artebia satu ini.

 

 

Awal Mula Menerbitkan Novel Pertama: Dilema

Saya selalu penasaran tentang kisah awal mula seorang penulis bisa menerbitkan buku karena sejauh yang saya tahu hal itu tidak mudah, perlu perjuangan berdarah-darah. Banyak orang yang bermimpi jadi penulis, tapi berakhir pada kenyataan naskahnya selalu ditolak oleh penerbit. Bagaimana dengan Alvi?

Pemuda berdarah campuran Indonesia-Yaman ini masih duduk di bangku kuliah ketika novel pertamanya yang berjudul Dilema diterbitkan. Tidak sampai di situ saja, novel keduanya yang berjudul Swiss: Little Snow in Zurich terbit satu tahun kemudian dengan mulus. Wow, kok bisa ya?

alvi syahrin dan karya ketiganyaProfil Alvi Syahrin dan novel ketiganya

Ceritanya saat itu sekitar tahun 2013, penerbit Bukune sedang mengadakan lomba menulis outline. Kebetulan, Alvi sedang menulis novel tentang persahabatan, novel yang kelak diterbitkan dalam judul Dilema.

Awalnya Alvi ragu untuk mendaftarkan novelnya pada perlombaan tersebut. Masalahnya, pemenang harus menuju ke Jakarta dan Alvi bukan tipe yang suka traveling. Alvi sempat berharap agar kalah saja. Tapi kenyataannya outline naskah Dilema yang dikirim menjadi satu dari dua puluh pemenang! Selanjutnya Alvi harus berangkat ke Jakarta dan mendapat ilmu menulis baru dari editor GagasMedia dan Bukune. Alvi juga berkesempatan berkonsultasi tentang outline naskahnya dengan editor GagasMedia dan Bukune.

Sekembalinya di Surabaya, Alvi mendapat telepon dari Mbak Widyawati Oktavia yang saat ini menjabat sebagai redaktur pelaksana GagasMedia yang mengabarkan bahwa Dilema akan diterbitkan pada bulan Juli. Sebuah mimpi yang tak terduga akan tercapai.

"Saya pikir hanya penulis sekelas Dewi Lestari saja yang naskahnya ditunggu oleh penerbit, ternyata, Alhamdulillah, saya yang penulis pemula tanpa pengalaman yang wow juga bisa! Sungguh bagi Allah, tak ada yang tak mungkin dan ini terjadi hanya atas kehendak-Nya," ungkap Alvi ketika saya bertanya tentang awal karirnya di dunia penulisan.

Baca Juga : Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation

 

 

Berbagi Tips dan Trik Menulis Novel

Pemuda yang pernah menempuh pendidikan Teknik Informatika di salah satu universitas di Surabaya ini gemar membagikan tips seputar kepenulisan pada setiap kesempatan, misalnya di event-event khusus seperti talk show Goodread Surabaya bertema novel remaja dan dunianya dan talk show festival sastra 2015 bersama GagasMedia Goes to Campus di Universitas Brawijaya bulan Oktober tahun lalu.

Di waktu luangnya, Alvi juga menyempatkan diri mendokumentasikan tips menulis di website pribadinya www.alvisyahrin.com atau membalas pertanyaan pembacanya di akun ask.fm miliknya. Alvi menjawab pertanyaan dengan ramah dan terasa akrab.

novel karya alvi syahrinTiga novel karya Alvi Syahrin yang diunggah oleh pembacanya

Ketika saya bertanya apa yang paling membahagiakan menjadi seorang penulis novel? Menurutnya yang paling membahagiakan adalah kenyataan bahwa cita-citanya tercapai membuat Alvi percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang tak mungkin. Kenyataan bahwa dia telah menjadi penulis membuatnya lebih berani bermimpi. Hal kedua yang paling membahagiakan adalah bisa berkenalan dengan teman-teman membaca. One of the best things in the world!

Masih ragu menyapa Alvi karena takut dicuekin, Artebianz?

Namun, seperti halnya yang terjadi pada penulis lain: selalu ada kendala yang dihadapi saat menulis novel. Bagi Alvi kendala yang terbesar adalah konsentrasi. Alvi merasa belum bisa konsisten dan fokus, tapi dia berusaha untuk itu.

Alvi juga memiliki teman-teman yang sering diajak sharing tentang ide-ide atau draft novelnya. Biasanya, mereka saling memberi timbal-balik: temannya membaca dan memberi masukan mengenai naskahnya, Alvi pun juga melakukan hal yang sama terhadap naskah temannya.

 

 

Alvi Syahrin dan Proyek-Proyek Masa Depannya

Alvi memiliki beberapa proyek masa depan. Ada yang masih berhubungan dengan dunia kepenulisan tapi ada juga yang di luar kepenulisan. Pertama, saya akan membahas proyek Alvi di luar kepenulisan: ScholarshipStory.com.

Terlepas dari keinginannya untuk belajar di luar negeri juga, alasan yang mendasari berdirinya ScholarshipStory.com adalah agar para pejuang beasiswa di seluruh dunia bisa menemukan platform yang tak hanya memberi masukan-masukan, tapi juga teman berbagi. Seluruh informasi yang dibagikan di sana nantinya adalah dari orang-orang yang telah mendapat beasiswa atau minimal berpengalaman yang kemudian akan disusun kembali oleh Alvi menjadi bacaan yang menyenangkan.

Selama ini, kita sering mendengar bahwa kita butuh lebih banyak pengusaha agar lebih banyak lapangan pekerjaan yang terbuka, tapi Alvi juga meyakini bahwa kita butuh researchers, karena mereka akan meneliti, mempelajari, menemukan inovasi-inovasi baru agar segala bisnis dari segala sektor bisa berkembang, tidak stagnan. Kita juga butuh lebih banyak researchers karena masih banyak hal di dunia ini yang belum kita temukan solusinya.

Researchers biasanya didapat dari mereka yang belajar di tingkat yang lebih tinggi, seperti master atau Ph.D. Namun, biaya untuk menempuhnya kadang kelewat mahal, that's why ScholarshipStory.com lahir: agar mereka percaya bahwa segala sesuatu bisa terjadi, termasuk cita-cita menempuh S2 maupun S3 di luar negeri dengan gratis.

Satu lagi, ScholarshipStory.com juga mempunyai semacam misi rahasia. Yakni agar mereka yang akan atau telah menerima beasiswa ingat bahwa ini bukan bukan hanya menyangkut diri dan karir mereka saja. Seseorang atau sebuah organisasi telah membiayai untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, maka jangan egois dalam bermimpi maupun berkarir. Jangan lupa berkontribusi kepada orang lain. Tak perlu muluk-muluk. Kontribusi dan ikhlas. Sebuah proyek yang luar biasa.

Background pendidikan yang dimiliki Alvi sangat mendukungnya dalam menggarap ScholarshipStory.com ini. Walau awalnya Alvi memilih Teknik Informatika karena usulan orangtua tapi ia tidak pernah menyesal. Pada akhirnya, ilmu yang dia dapat di bangku kuliah memiliki banyak manfaat. Saat ini Alvi masih mengerjakan proyek ScholarshipStory.com sendiri. Tapi dia berharap tak lama lagi akan memiliki tim.

Ada yang berminat gabung, Artebianz?

Baca Juga : Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan

 

Alvi juga memiliki proyek-proyek masa depan yang berhubungan dengan kepenulisan, salah satunya adalah menyelesaikan novel keempatnya. Alvi mengungkapkan bahwa saat ini proses pengerjaannya sudah sekitar 50%.

Kalau Artebianz penasaran dengan novel keempatnya, sedikit akan saya kasih bocoran. Ini adalah sebuah novel yang bertema "traveling". Di salah satu tempat terbaik di Indonesia. Ada lima tokoh.

Penasaran?

Tunggu tanggal mainnya, ya!

Dengan segala hal yang telah dicapai serta proyek-proyek yang masih dalam pengerjaan, Alvi adalah salah satu contoh pemuda yang sangat produktif menurut saya. Namun malah Alvi sendiri menganggap dirinya belum sepenuhnya produktif, dan masih berusaha untuk produktif.

Duh! Saya merasa kasihan kepada anak muda di luar sana yang kerjaannya nongkrong dan belum menghasilkan apa-apa.

By the way, saya penasaran bagaimana Alvi mengatur waktunya? Alvi mengungkapkan bahwa ia masih dalam proses untuk mengelolanya dengan baik. Targetnya pukul lima pagi hingga tiga atau empat sore, dia akan mengurus ScholarshipStory.com. Sedangkan untuk menulis novel, Alvi melakukannya sebagai "istirahat sejenak" dari rutinitas-rutinitas itu, karena menulis novel itu menyenangkan! Namun, itu masih jadi target. Masih berusaha terorganisir.

Saya salut sekali dengan pemuda ini, Artebianz.

***

Selain mimpi yang sudah tercapai yaitu menjadi penulis, mimpi yang sedang digarap: proyek scholarshipstory.com, dan beberapa proyek menulis, Alvi juga masih memiliki banyak mimpi yang belum terwujud.

Salah satu yang mendominasi, Alvi ingin kuliah lagi di luar negeri, mungkin dengan beasiswa?

Dalam hidupnya, Alvi Syahrin memiliki banyak sekali impian dan dia selalu mengusahakannya. Bagaimana dengan kamu Artebianz?

Baca Juga : Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan

 

 




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Figur Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Layaknya Desserts - The Chronicles of Audy O2 Menjadi Penutup Yang Manis


Guru Bangsa Tjokroaminoto


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Kober Mie Setan, Gresik Kota Baru


Burgerman - Burger Home-Made Khas Surabaya yang Selalu Bikin Ketagihan


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Klayar


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Twist and Shout (Part 3-Final)


Kerinduan yang Patah