Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri

07 Apr 2016    View : 1818    By : Niratisaya


Entah di mana dan kapan, saya pernah membaca “buatlah cerita yang di halaman pertama langsung merebut perhatian pembacamu”. Saya pun akhirnya sering memanfaatkan buku-buku yang sudah dibuka bungkus plastiknya dan membaca beberapa halaman awal.

Dan, berkat kutipan itu—juga kebiasaan membaca halaman-halaman-awal saya, saya secara tidak langsung berkenalan dengan dengan figur inspiratif Artebia kali ini: Prisca Primasari.

Novel Primasari yang menculik perhatian saya adalah Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Dengan apik, perempuan kelahiran Surabaya 22 Februari ini menggambarkan adegan di halaman pertama yang segera merebut perhatian saya. Then she makes me FALL DEEP into her unique story-telling style.

Di lemari perpustakaan pribadi saya berderet beberapa novel karya Primasari. Namun, itu tidak membuat saya puas mengenal lulusan Universitas Airlangga ini. Karena itu, di rubrik figur kali ini saya mengangkat sosok Primasari dan bagaimana awal mula ia “menyesatkan diri” ke dalam dunia kepenulisan.

 

 

Prisca Primasari: Seorang Pengkhayal Kelas Berat dan Dunia Rekaannya

Prisca Primasari mengawali perkenalannya dengan dunia buku dan kepenulisan lewat manga (komik Jepang) dan novel, yang disewanya di perpustakaan dekat rumahnya. Namun, Primasari mengaku bahwa ketika itu semua buku yang dibacanya memiliki genre yang sangat bertolak belakang. Dua di antara cerita yang menjadi kegemaran Primasari Kecil adalah seri karya Enyd Blyton dan The X-Files. Halaman demi halaman dibacanya, buku demi buku ditandaskannya, perempuan yang memiliki hobi traveling ini pun akhirnya terdorong untuk menulis ceritanya sendiri.

Primasari mengawali kariernya di dunia menulis dengan cerita pendek di bangku SD. Cerita hasil rekaannya kemudian berkembang menjadi novela, yang dikenal juga sebagai cerpen panjang. Novela yang pertama kali ditulis Primasari adalah sebuah cerita bergenre fan-fiction.

Kastil Es

Sebagai generasi tahun ’80-an, Star Wars adalah salah satu film yang boom banget dan sudah memakan banyak “korban”. Primasari pun tidak luput dari pesona maut film besutan George Lucas. Alasan pemilik akun IG @priscaprimasari ini sangat sederhana: “Karena waktu itu saya suka sekali dengan film itu dan tokoh-tokohnya.”

Lama-kelamaan, kebiasaan menulis itu pun mengasah dan mendorong Primasari untuk menulis cerita serta tokoh-tokohnya sendiri.

Uniknya, saat ditanya apakah Primasari mempunyai idola, ia mengaku bahwa awalnya ia sama sekali tidak memiliki idola di dunia kepenulisan. Bahkan penulis skenario Star Wars pun tidak masuk ke dalam daftarnya. Sebaliknya, Primasari mengidolakan aktor dan musisi. Beberapa di antara mereka adalah Harrison Ford, Johnny Depp, Axl Rose, dan Kurt Cobain. Konon, tokoh-tokoh di beberapa novel perempuan berzodiak pisces ini terinspirasi dari para idolanya tersebut!

Hayooo, Artebianz yang mengaku penggemar Prisca Primasari, ada yang bisa menebak siapa saja tokoh itu? Laughing

Primasari baru memiliki idola penulis ketika duduk di bangku kuliah. Mulanya, ia jatuh hati pada Jostein Gaarder dan William Wordsworth. Dua penulis yang memiliki genre berbeda, satu di dunia fiksi-filsafat dan yang satu lagi cenderung di dunia puisi. Namun, keduanya bisa dibilang punya pesona yang sama dahsyatnya. Sejak saat itu, daftar penulis yang disukai Primasari pun bertambah panjang: John Keats, JK. Rowling, Sophie Kinsella, Marie Lu, dan Mikhail Bulgakov.

Akan tetapi, saya curiga Artebianz; sampai detik ini belum ada yang menggantikan posisi Ford, Depp, Rose, dan Cobain. Sebab, di dalam wawancara, Primasari menyebutkan penulis favorit, bukan penulis idola. Idola masa kecil memang tidak tergantikan, ya.

Walau begitu, Primasari sudah jatuh hati pada buku sejak SD. Namun, menulis bukan satu-satunya renjana yang dimilikinya. Primasari juga bercita-cita menjadi seorang pianis dan berusaha untuk mewujudkan impiannya ini.

Artebianz pernah mendengar perumpamaan “kalau satu pintu tertutup, Tuhan pasti membuka pintu lain”? Bisa jadi Primasari salah satu yang memercayai perumpamaan itu. Sayangnya, pintu yang dibukanya selalu mengarah ke dunia kepenulisan. Itu bukan berarti Primasari memutuskan hubungannya dengan piano lho, Artebianz. Penulis yang sejauh ini sudah menghasilkan lima belas karya ini menuturkan bahwa ia masih merasakan koneksi dengan piano, apalagi kalau ia mendengar suara denting piano.

Koneksi dengan piano itu jugalah yang menjadi alasan kenapa ada tokoh seorang pianis dalam novel Primasari.

Eclair

Ketika diminta lebih jauh menjelaskan dirinya saat masih kecil, tanpa ragu-ragu, Primasari berkata bahwa ia adalah seorang pengkhayal. Dan ia bukan pengkhayal kelas bulu lho, Artebianz. Penggemar seri anime Hetalia ini memaparkan ia akan sulit sekali move on dari buku yang selesai dibacanya. Primasari tidak hanya ingin membaca buku itu sekali lagi (dan lagi), tapi juga ingin terus tinggal dalam dunia di buku tersebut.

Tapi, kesulitan Primasari untuk move on bisa jadi ada keuntungannya, Artebianz. Berbagai buku dan karya kreatif lain yang ia nikmati menjadi residu dalam diri Primasari dan memberi warna unik dalam hasil karyanya.

Baca juga: Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan

 

 

Prisca Primasari: Menulis dan Idealisme

Tidak jauh berbeda dari Orizuka, Primasari juga menganggap menulis bukanlah sebuah pekerjaan. Mengenai hal ini, Primasari menjelaskan bahwa menulis baginya adalah “cara untuk mencurahkan isi hati dan pikiran, juga cara untuk memberi hadiah pada diri sendiri.”

Keistimewaan menulis yang membebaskan imajinasi bisa jadi salah satu alasan kenapa Primasari enggan menganggap menulis sebagai sebuah profesi. Sebab, ketika menganggap satu hal sebagai pekerjaan mau tidak mau kita akan menganggap hal itu sebagai sebuah kewajiban, ketimbang sebuah kegiatan yang kita sukai dan menjadi penyalur kreativitas kita. Atau seperti yang diungkapkan Primasari, bahwa menulis adalah sebuah sarana relaksasi sesaat dari kehidupan nyata dan mencicipi “kehidupan-kehidupan” lain—yang mungkin tidak akan bisa kita jalani di kehidupan nyata.

Bagi Primasari lebih tepat bila menulis disebut sebagai kehidupan utama, alih-alih pekerjaan. Terutama jika kita mencintai kegiatan yang satu ini.

Nah, apakah cinta juga yang membuat Primasari menerbitkan Seri Love Theft secara indie? Atau penulis kita yang satu ini berencana menjadi penulis indie?

Ketika saya menanyakan hal yang satu ini, Primasari menjawab bahwa hingga saat ini ia masih menulis untuk penerbit mayor. Terbitnya seri Love Theft secara indie bisa dikatakan sebuah anomali dalam sejarah kepenulisan Primasari. Cara itu dipilih oleh Primasari karena ia merasa sudah banyak yang yang dikorbankannya demi seri yang merangkum kehidupan Frea dan sekawanan pencuri misterius. Tidak hanya waktu, Artebianz; Primasari mengorbankan hati, jiwa, dan pikirannya demi terbitnya seri Love Theft. Hal inilah yang kemudian mendorong penulis yang masih sering menyambangi Jakarta dan Bandung ini untuk mengawasi proses kelahiran seri Love Theft.

“Bisa dibilang, Love Theft adalah novel yang paling berarti bagi saya. Karena itulah, saya merasa lebih baik mensupervisinya dari awal hingga akhir, dari penulisan, produksi, sampai pemasarannya.” Primasari menjelaskan.

Saya sendiri sudah melahap habis seri Love Theft, sehingga sadar benar seperti apa perbedaan cerita yang dari awal kepenulisan sampai distribusi berada dalam pengawasan Primasari ini—kalau dibandingkan dengan cerita-cerita yang lain. Kalau harus menjelaskan, menurut saya Love Theft lebih “bebas” dan tidak dibatasi oleh pengotak-ngotakan yang umumnya terjadi, jika sebuah karya diterbitkan oleh penerbit besar.

Namun, ini bukan berarti Primasari menutup pintu bagi penerbit besar yang ingin menerbitkan seri Love Theft. “Kalau ada penerbit yang bersedia menyayangi novel [seri Love Theft] seperti saya menyayanginya, saya akan dengan senang hati menitipkannya pada mereka,” Primasari memaparkan pemikirannya.

Love Theft

Baca juga: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh

 

Sikap dan keputusan Primasari mengenai kepenulisan serta keterlibatan dirinya di dalam dunia kreatif ini bisa dibilang sebuah idealisme seorang pengarang. Selain didukung oleh pengalaman dan pengetahuan atas dunia penerbitan selama bertahun-tahun; keyakinan Primasari dalam mengambil keputusan dan menjalaninya didukung oleh orangtuanya.

Tujuannya? Tentu saja agar mendapatkan restu dan doa orangtua, sehingga semua yang direncanakan serta dilakukan Primasari berjalan dengan lancar.

This, Artebianz, leads to todays’ condition and children and parents relationship. Meski sekarang ini kita masuk di era yang memungkinkan segalanya terjadi: seseorang bisa menjadi sutradara lewat Youtube, seorang perempuan dengan tinggi badan di bawah 160 cm berhasil menjadi model karena mampu menunjukkan selera fashion yang unik di akun Instagram-nya, dan lain-lain.

Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa di sisi lain, Indonesia belum menyiapkan diri dengan baik untuk era ini. Karena itulah, banyak orangtua yang melihat pekerjaan di luar kantor dan tanpa seragam jelas sebagai sebuah omong kosong. Belum lagi data UNESCO di tahun 2015 menunjukkan bahwa dari ratusan juta penduduk Indonesia, baru 0,01% saja yang memiliki minat baca. Artinya dari 10.000 orang, hanya satu yang gemar membaca buku.

Demikian pula dengan orangtua Primasari. Salah satu faktor utama adalah latar belakang keluarga besar Primasari; mereka bukan pembaca novel. Akhirnya, eksistensi seorang penulis di dalam pikiran mereka sama sekali tidak ada.

Akan tetapi, itu tidak menjadi halangan bagi Primasari. Sebaliknya, ia malah membuktikan impiannya dan menjelaskan pada keluarga besarnya tentang penulis, manfaat profesi itu, dan kebaikan menjadi seorang penulis. Kini, keluarga besar Primasari bukan hanya mengerti impian Primasari, tetapi juga memahami dan mendukungnya. Hal ini tentu saja memberi kekuatan bagi Primasari. Terutama ketika ia sedang down dan butuh motivasi.

French Pink

Primasari bercerita, pada satu saat, ia sempat merasa terpuruk dan kehilangan kepercayaan atas jalan yang ia pilih. Keterbukaan dan penerimaan keluarganya memudahkan perempuan ini untuk bercerita. Ia pun menceritakan kegundahannya pada sang ibu; bagaimana seandainya satu saat nanti ia berhenti menulis. Sang ibu menjawab, “Nggaklah. Kamu akan menulis seterusnya. Nggak akan pernah berhenti.”

Restu Tuhan adalah restu orangtua—dan seorang ibu, Artebianz, memiliki kekuatan dan keajaibannya sendiri. Lewat tiga kalimat pendek nan sederhana, Primasari mendapatkan dorongan semangat dari sang ibu.

“Kalau seorang ibu sudah berkata begitu, hati saya saya pun tenang. Ucapan beliau [bagi saya] adalah doa,” kata Primasari.

Her family’s support and motivation, in turn, gives Primasari the strength and belief to embrace her passion. Thus, ia bisa dengan lantang berkata bahwa penulis bukanlah profesinya, melainkan bagian dari dirinya yang nggak akan terpisah. Jika seseorang bertanya tentang pekerjaannya, Primasari berkata bahwa ia adalah seorang editor dan penerjemah lepas. Bukti bahwa ia benar-benar menyukai dunia kepenulisan.

Baca juga: Review Buku

 

 

Prisca Primasari: Pernak-Pernik Dunia Menulis

Beberapa penulis memilih menulis di malam hari, beberapa menulis sampai inspirasi mereka pada saat itu tertuang sampai tinta khayalan terakhir mereka, yang lain memiliki jadwal yang disusun menyeluruh dari Senin sampai Minggu dan menjalaninya secara konstan.

Bagaimana dengan Primasari yang sudah menerbitkan novelnya nyaris satu dasawarsa yang lalu?

Primasari bercerita bahwa ia dulu memiliki kebiasaan mendengarkan musik atau berjalan-jalan sebelum menulis. Namun, seiring waktu, ia mulai jarang mendengarkan musik saat dan frekuensi berjalan-jalannya mulai berkurang. Entah apa sebabnya, Primasari sendiri tidak mengetahuinya. Sebagai gantinya, kini Primasari lebih fokus pada cerita dan perkembangan naskahnya.

“Saya lebih sering mempelajari sifat-sifat tokoh saya sebelum menulis, mereview ulang, dan mendalaminya,” ungkap Primasari. Lebih lanjut, ia bercerita bahwa ia tidak memiliki jadwal yang konstan untuk menulis. “Kalau saya merasa sudah waktunya melanjutkan tulisan, saya akan segera melanjutkannya.”

Primasari bercerita bahwa ia bukanlah tipe yang bisa membagi waktu. Ia acapkali kalang kabut ketika menghadapi pekerjaan-pekerjaannya, termasuk di dalamnya deadline yang mesti dipatuhinya. Primasari lantas mengatasinya dengan bersikap keras pada diri sendiri. Ia berusaha memahami dirinya: kapan ia tidak bisa menulis dan kapan ia bisa bekerja dengan baik. Eventually, Primasari mampu mengharmonisasikan dirinya dengan waktu dan pekerjaannya. Ia tahu bahwa pagi hari adalah momen yang efektif untuk menerjemahkan, karena pada saat itu kemampuan berpikirnya masih fresh.

Kebiasaan baru Primasari dalam menulis ini kemudian membawanya pada salah satu pengalaman berkesan dalam proses menulisnya.

Dari 13 novel yang sudah ditulisnya, Primasari mengatakan bahwa Love Theft adalah yang paling berkesan sejauh ini. Untuk menyelesaikan cerita berseri pertamanya itu, ia membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk memahami dan mendalami Liquor, salah satu tokoh utama Love Theft. Setiap kali ia merevisi cerita, Primasari mengalami tranced setiap kali menulis cerita tentang Liquor. Menurut pengakuan penulis yang sempat dinominasikan Anugerah Pembaca Indonesia di tahun 2011 ini, ia selalu mengalami “keracunan” dan hangover yang tidak berkesudahan karena Liquor.

Tunggu!

Apa karena itu, Primasari menamakan pencuri misterius itu dengan “Liquor”?

 SpongebobHmmm….

Bicara tentang proses kepenulisan Love Theft, Artebianz yang sudah baca cerita berseri pertama yang ditulis Primasari ini pasti bisa merasakan perbedaan seri inni. Love Theft terasa lebih berwarna, fresh, sekaligus berbeda dibandingkan cerita-cerita yang pernah ditulis perempuan yang menggemari Hyde (leader band Vamps dan lead vocal L’arc-en-ciel) ini. Lebih mangaish, kalau meminjam istilah Primasari.

Menimbang pengalaman Primasari sebagai editor dan penerjemah, semula saya mengira ia sudah memikirkan perkembangan tren pembaca di Indonesia. Ketika saya mengonfirmasi hal ini, Primasari berkata bahwa ia tidak pernah memperhatikan tren. Saat masih bekerja di penerbitan, ia memang diwajibkan untuk memahami tren.

Namun, waktu membuktikan bahwa memahami perkembangan tren di Indonesia tidak semudah memahami perkembangan drama di dunia infotainment-nya.

Primasari mengakui ia belum bisa menebak perkembangan tren di pembaca Indonesia, meski pada kenyataannya perbandingan mereka yang suka membaca dan tidak hanya 1:10.000. Bila ada yang ditemukan Primasari, itu adalah pertumbuhan konstan minat pembaca di kalangan teen, young adult, dan new adult.

Sementara itu, untuk masalah genre, Primasari berkata, “Saya lebih memikirkan untuk menyenangkan diri sendiri, juga menjalani kehidupan-kehidupan yang berseliweran dalam imajinasi.”

Seandainya ada pembaca yang merasa Love Theft berbau fantasi dan manga, sekali lagi, ini karena kecenderungan gaya menulis Primasari. Ia mengungkapkan bahwa gaya menulisnya itu karena ia menyukainya, bukan karena tren yang tengah berkembang.
Kalaupun ada yang memengaruhi gaya menulis Primasari, itu adalah ketertarikannya terhadap kebudayaan—khususnya Jepang dan beberapa negara di Eropa.

Artebianz yang pernah membaca novel Primasari pasti menyadari pengaruh-pengaruh kebudayaan negara-negara tersebut. Perempuan yang sempat bekerja sama dengan Sefryana Khairil untuk novel Gagas-duet: Beautiful Mistake ini berkata bahwa ketertarikannya itu bukan semata-mata didorong oleh keindahan atau prestige.

Beautiful Mistakes

Melainkan karena sejarah dan budaya Jepang dan Eropa yang demikian detail dan unik, sehingga ia tertarik untuk mengangkatnya ke dalam cerita.

Primasari beberapa kali memasukan detail mengenai sejarah dan kebudayaan (Jepang dan negara-negara di Eropa) ke dalam novel-novelnya. Misalnya, dalam Éclair yang menurut saya ceritanya cukup kompleks dan padat, Primasari menyelipkan sejarah Rusia dan sosok Rasputin yang begitu terkenal. Kemudian, pada French Pink, ia menyisipkan kebudayaan Jepang berupa sosok shinigami (dewa kematian).

Baca juga: Vampire Flower 1

 

 

Prisca Primasari dan Akhir Wawancara Kami

Siapa yang tidak tertarik memiliki kemerdekaan dalam bekerja, menjalani hobinya sekaligus memenuhi kebutuhan? Namun, khusus untuk menulis—dan pekerjaan-pekerjaan yang berakar dari passion secara umum—Primasari berpesan agar tidak pernah memperlakukannya sebagai sebuah beban. Sebaliknya, kita harus menyukai dan mencintai apa yang sudah kita pilih serta sedang jalani saat ini.

Mungkin, saat ini belum ada yang memahami (dan menyetujui) apa yang ingin kita lakukan. Namun, itu bukan berarti kita tidak mampu dan tidak boleh melakukannya. Mungkin, saat ini keteguhan Artebianz sedang diuji dan, selayaknya ujian yang pernah kita tempuh, orang-orang menuntut jawaban. Jadi, tunjukkan keteguhan Artebianz.

Primasari memegang teguh impiannya dan menjawab ujian itu dengan terus menulis, sembari menjelaskan apa passion-nya dan sejauh mana ia memahami bidang yang ia pilih.

Bisa jadi, pada tahun-tahun awal kita sendiri yang menjadi pembaca cerita yang kita buat. Namun, tidak menutup kemungkinan bertahun-tahun kemudian, Artebianz bisa menghidupkan passion kamu seperti J.K. Rowling atau Stephenie Meyer.

Mulailah dengan menulis untuk kamu sendiri, Artebianz. Untuk memberi hadiah pada imajinasimu.

Akhir kata, terima kasih pada Prisca Primasari atas kesediaannya untuk meluangkan waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di tengah kesibukan menulis dan menerjemahkan. Dan, sukses untuk novel terbarunya juga yang berikutnya~

Baca juga:  Priceless Moment - Yang Disisakan Waktu Ketika Ia Berlalu



Sumber header: @priscaprimasari




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Figur Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Mari Lari - Sebuah Cerita tentang Tekad Hati Lewat Langkah Kaki


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Happy Squid Dan MatchaPekoe: Kuliner Unik Ala Bazar Tematik


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Wisata Madiun Bersama Keluarga


Adiwarna 2016: Refraksi - Changing Your Perspective


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Pengelanaan Sempurna


Segaris Pandang