Foodiology TEDxTuguPahlawan, Ketika Makanan Lebih dari Sekadar Penahan Lapar

25 Mar 2015    View : 1277    By : Niratisaya


Sewaktu ditanya apa sebenarnya peran makanan dalam hidup kita. Sembilan puluh persen dari kita pasti akan menjawab penahan rasa lapar. Kita sarapan untuk menahan lapar sampai siang, kita makan siang untuk menahan lapar sampai sore, dan seterus. Inilah peran utama makanan bagi kita semua, Artebianz. Namun, sadarkah Artebianz, bahwa makanan bisa berperan lebih dari sekadar pengganjal perut. Bahwa dia bisa menjadi alat bercerita kehidupan sebuah bangsa, corak khas sebuah budaya, dan imejnya bisa membawa imaji kita terbang tinggi.

Nggak?

Sama Laughing

Saya juga baru mengetahui hal ini ketika melangkahkan kaki ke dalam auditorium IFI Surabaya di Jalan Ratna, kompleks perbelanjaan AJBS, dan mengikuti salon—istilah seminar untuk acara TEDxTuguPahlawan. Dan, pada Maret 2015, tema salon TEDxTuguPahlawan adalah "Foodiology, Answer Beyond Hunger".

 

Makanan Sebagai Alat Diplomasi

Pembicara pertama adalah Veronique Mathelin. Wanita cantik berdarah Perancis ini adalah direktur IFI (Institute Français d’Indonésie), sebuah lembaga kursus bahasa Perancis. Dengan bahasa Inggris, Veronique menyampaikan topik pembicaraannya: “Experiencing French Gastronomy Outside French”.

Setiap manusia—tak peduli apa rasnya, warna kulitnya, agamanya, dan kewarganegaraannya—memiliki satu hal yang akan mempersatukannya: makanan. Di mana pun seseorang berada ia akan  berhasil memproduksi ulang sebuah masakan khas negaranya, meski ada beberapa hal yang mesti diubah, mengikuti ketersediaan bahan masakan di negara yang ia tinggali. Dengan sifat yang demikian, Veronique menganggap sebuah masakan sebagai “intangible heritage of humanity”.

Veronique
(Veronique yang mengaku gemar berbicara)

Mengapa demikian? Ambil contoh masakan khas Perancis yang dijelaskan oleh Veronique. Setiap kali ada makanan Perancis, secara spontan Veronique dan kawan-kawannya yang berkebangsaan sama akan teringat pada kebiasaan mereka di Perancis: berbagi makanan dan makan dengan urutan yang lengkap. Di Perancis, dalam sebuah acara makan akan selalu ada appetizer, cold starter, hot starter, ikan atau crustacean, daging, keju, dessert, dan anggur Perancis.

Meskipun di Indonesia urutan lengkap tata cara makan ala Perancis nggak selalu lengkap, tetapi Veronique masih bisa menikmati kebiasaannya di Perancis.

Dengan keberadaan makanan lengkap dengan tradisinya, Veronique mengatakan makanan bisa menjadi alat diplomasi, di mana sebuah percakapan dan perkenalan kebudayaan dapat disampaikan tanpa perlu banyak mengobral kata.

 

Makanan Sebagai Budaya, Ciri Khas Bangsa, dan Alat Cerita

Pembicara kedua adalah Dhahana Adi Pungkas, penulis buku Surabaya Punya Cerita, yang membawakan topik “The Story Behind Surabaya’s Authentic Foods”. Bila Veronique mengupas makanan dengan gastronomi (ilmu pengolahan makanan) lewat kebudayaan dan tradisi secara sekilas, Adi mengulas mengenai makanan secara menyeluruh.
Adi menjelaskan makanan dan gastronomi secara etimologis. Lelaki yang juga seorang pengajar di salah satu universitas swasta di Surabaya ini membagi gastronomi secara praktis, teoritis, hingga molekuler. Kebayang Artebianz, kalau setiap makanan yang kita makan ternyata bisa dipelajari secara mendetail seperti ini? Bahwa sebuah makanan dan proses pengolahannya bisa ditinjau evaluasinya secara sistematik dari apa pun di bidang yang membutuhkan penilaian/pengukuran.

Adi kemudian menjelaskan mengenai sejarah penamaan salah satu makanan khas Surabaya: lontong balap. Konon, nama ini diambil dari bagaimana para penjual lontong balap berlomba-lomba lebih dulu sampai di Stasiun Kereta Wonokromo.

Lontong Balap Surabaya(Ini nih, penampakan Lontong Balap Surabaya yang aseli. Bikin ngiler ya, Artebianz?
Gambar diambil dari ensiklopediaindonesia.com)

Dari seminar yang disampaikan oleh Adi, saya mengetahui bahwa selama ini pemerintah salah memahami posisi makanan khas Indonesia—yang notabene bikin ngiler. Pemerintah selalu menggabungkan makanan dengan pariwisata, yang secara praktis menyenggol posisi makanan jadi nomor sekian di mata Pemerintah. Padahal, dengan posisi makanan yang merupakan alat kebudayaan dan penyampai cerita, Pemerintah dapat mempromosikan Indonesia dengan lebih baik. Apalagi dengan maraknya penggunaan sosmed (cue to pengguna Instagram).

Di akhir pembicaraannya Adi juga memberikan video mengenai salah satu makanan tradisional khas Surabaya (sate karak) di daerah Ampel. Sejatinya ia juga hendak berbagi mengenai pembuatan tahu secara tradisional di Surabaya, yang jujur, membuat saya amat sangat tertarik sekali (sengaja hiperbola). Sayang, karena keterbatasan waktu, saya nggak bisa menonton video tersebut.

 

Makanan, Instagram, dan Budaya Baru Anak Muda Indonesia

Yes, Artebianz. Kamu nggak salah baca. Topik ketiga dari salon TEDxTuguPahlawan kali itu membicarakan tentang makanan dan kebiasaan anak muda Indonesia untuk memotret makanan mereka (termasuk saya XD). Sebagai salah seorang fotografer sekaligus videografer, pembicara ketiga (Yogi Fiantarto), menyampaikan topik “The Secret of Food Videography”. Dan nggak sekadar merekam adegan orang yang sedang makan lho, Artebianz. Yogi dengan jeli membidik Instagram sebagai alat pemasarannya.

Kok bisa? Awalnya saya juga ragu, Artebianz. Bagaimana bisa dengan durasi yang amat pendek (15 detik), seseorang dapat menyampaikan sebuah video—apalagi makanan—yang mustinya menggugah selera dan bikin ngiler?

Salah satu potret by YogiFoody
(Salah satu potret by YogiFoody. Gambar diambil dari pinsta.me)

Tapi nyatanya Yogi bisa dan mampu.

Yogi dengan cerdas menggunakan waktu, dan terkadang alat, yang terbatas. Misalnya saja pada satu ketika ia diminta untuk menampilkan efek beku dari sebuah makanan. Karena nggak mungkin mengambil gambar dari kulkas, Yogi pun mengakali situasi tersebut dengan meminta salah seorang krunya untuk mengembuskan asap rokok dengan sedemikian rupa, sehingga gambar yang terekam seolah-olah produk si klien fresh from the fridge. Cerdas, kan, Artebianz Laughing

Salah satu alasan mengapa Yogi memilih makanan sebagai objek adalah Surabaya memiliki food power dan, sekali lagi, maraknya penggunaan sosmed yang mengizinkan siapa pun untuk melewati setiap batasan yang ada. Baik bahasa maupun fisik.

Selain itu, Yogi juga menyampaikan kelebihan makanan sebagai objek:

  1. Hanya dibutuhkan maksimal dua kamera
  2. Peralatan sederhana
  3. Food-stylist
  4. Durasi pengerjaan paling lama 3 jam
  5. Penyuntingan video 1-2 hari untuk video berdurasi maksimal 2 menit
  6. Kemungkinan besar klien akan kembali menggunakan jasa kita lebih besar

Saya tahu, dalam pikiran Artebianz pasti kebayang kamera yang digunakan keren banget dan alat-alatnya canggih abis! Sebaliknya, Yogi justru memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar, yang mungkin nggak pernah kita bayangkan sebelumnya. Salah satunya adalah sepatu roda yang membantu rotasi kamera untuk mengambil angle-angle tertentu.

Kalaupun ada syarat-syarat tertentu, semuanya justru ditujukan pada si fotografer/videografer itu sendiri. Disampaikan oleh lelaki pemilik akun instagram @yogifoody ini syarat-syarat penting bagi seorang fotografer/videographer untuk mendapatkan gambar/video keren adalah:

  1. Pelajari kamera kita
  2. Jangan mengeluh atau memimpikan kamera tertentu, sebab kamera yang terbaik adalah yang kita punyai saat ini
  3. Pelajari makanan yang menjadi objek kita
  4. Buat sketsa cerita dan bikin sinopsisnya
  5. Pencahayaan adalah segalanya
  6. Jangan pernah menggunakan flash light!
  7. Jangan memotret dari depan
  8. Pertimbangkan dengan baik food-styling objek sebelum dipotret atau direkam
  9. Gunakan trik-trik
  10. Kenali beat lagu yang digunakan sebagai soundtrack
  11. Enhance warna foto/video

Nah, Artebianz, ada yang berminat menjadi foodgrapher? :D

 

Kopi Bukan Hanya Komoditi Tapi Juga Tradisi

Pembicara keempat sekaligus yang terakhir adalah Richard, owner KVH Café, yang berbagi topik “Coffee Art and Passion”. Setelah tradisi makan, gastronomi, foodgraphy, kok… kopi? Agak melenceng memang, tapi kita juga nggak bisa mengesampingkan posisi kopi dalam kehidupan saat ini, Artebianz. Apalagi dengan menjamurnya kedai kopi yang kemudian memengaruhi gaya hidup anak-anak muda. Jadi, nggak salah kan, panitia TEDxTuguPahlawan memilih Richard yang konon penggila kopi ini Smile

Sebagai pemilik kopi yang juga maniak minuman berkafein tersebut, Richard mahfum benar mengenai dunia kopi. Mulai dari sifat dan rasa tiap biji kopi hingga metode penggilingan kopi yang bisa memancing aroma-aroma tertentu. Berkenaan dengan ini, Artebianz, Richard dengan sengaja membagikan beberapa sampel wewangian, dari rempah sampai bau sehabis hujan. Ia juga mengajarkan bagaimana mengolah kopi hingga bisa diminum dengan enak. Saya pikir formula 2:3 untuk kopi dan gula sudah cukup. Ternyata nggak, Artebianz. Dengan passion-nya yang mendalam terhadap dunia kopi, Richard memperkenalkan betapa rumit dan menariknya biji yang nilai jualnya kini mengalahkan emas.

Saking populernya kopi saat ini, muncullah latte-art—baik yang sederhana semacam ini

Latte Art(Ada dua tokoh film animasi kesukaan saya XD. Nggak tega minum, deh!)

Sampai yang ruwet ala 3 dimensi semacam ini

Latte Art 3D(Imutnyaaa XD Benar-benar nggak tega minum kalo begini.
Gambar diambil dari gosphero.tumblr.com)

Saya pribadi Artebianz, menanti kedai kopi 24 jam dan jalanan yang aman. Jadi, Surabaya yang katanya punya food power ini bisa sekeren Seoul :D

 

Sekilas Mengenai TEDxTuguPahlawan

Di awal artikel ini saya menyebutkan mengenai TEDxTuguPahlawan. Pasti Artebianz penasaran, apa dan siapa sih, TEDxTuguPahlawan ini?

TEDxTuguPahlawan
(TEDxTuguPahlawan)

TEDxTuguPahlawan adalah cabang dari TED untuk wilayah Surabaya, Indonesia. Semenatara itu, TED sendiri adalah sebuah organisasi nirlaba yang berdedikasi menyebarkan ide lewat seminar yang mereka sebut sebagai “salon”. Biasanya tiap satu sesi memiliki durasi 20 menit.

TED dimulai tahun 1984 dalam wujud konferensi teknologi, hiburan, dan desain. Namun seiring waktu, TED mulai menjangkau hampir semua topik yang ada—mulai dari ilmu pengetahuan, bisnis, sampai isu global.

 

 

 

Gambar header diambil dari ahmedtsar.wordpress.com




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Liputan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Malaikat Tak Bersayap


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Critical Eleven - Pesawat, Bandara, dan Biduk Rumah Tangga


Orange Marmalade: Saat Cinta Tidak Memandang Dunia (2015)


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is


Matcha Cafe: Curhat Ditemani Olahan Green Tea Nikmat


Kampung Labasan Sleman: Wisata Desa Elegan dan Tak Kampungan


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Angel's Smile


Sebilik Ruang