Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Faisal Oddang, dan Puya ke Puya

21 Oct 2016    View : 919    By : Niratisaya


Surga diciptakan karena...

Setelah puluhan tahun kau menunggu, kini kau telah berjalan ke surga. Ketika hampir tiba, ketika kutanyakan 'kenapa surga diciptakan?' kau hanya bisa diam. Untuk apa kau berjalan? Kau juga tidak tahu. Dasar manusia!

Kau hidup hanya untuk mati? Jika seperti itu, betapa kasihan kau, saya dan leluhur kau yang lain, tentu sangat kecewa. Tak pantas kau berjalan ke tempat suci ini--tak pantas kau menjadi orang Toraja yang kami banggakan.

Pulanglah, pulanglah dulu, tanyakan kepada kawan kau yang lain, tanyakan kepada semua orang: Kenapa surga diciptakan?


Puya ke Puya

Itu adalah blurb di sampul belakang novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Sosok yang menjadi narasumber untuk acara talkshow literasi Goodreads Indonesia Regional Surabaya (GRI Surabaya). Cukup menarik kan, Artebianz? Menariknya lagi ketika GRI Surabaya mengadakannya di bulan Oktober.

Oktober selama ini selalu identik dengan festival horor dan hantu, mengikuti tradisi penduduk Negeri Paman Sam. Namun, Oktober tahun ini rupanya Indonesia—Surabaya khususnya—mengubah kegiatan kebiasaan tahunan ini ketika banyak kegiatan literasi diadakan hampir secara berurutan.

Pada Kamis lalu (12/10), GRI Surabaya mengawali kegiatan literasi di bulan Oktober dengan mengadakan talkshow bersama Faisal Oddang mengenai novelnya Puya ke Puya.

Keistimewaan diskusi ini bukan hanya terletak pada novel yang menjadi sasaran perhatian audiens, tapi juga sosok Faisal Oddang sendiri yang di mata saya begitu sederhana, ceplas-ceplos sekaligus berhati-hati, dan apa adanya. Sepanjang acara yang merupakan hasil kerja sama GRI Surabaya dan Klub Buku Surabaya (KBS), saya pun mendapatkan kesan bahwa Oddang adalah pribadi yang unik, seunik buku yang ditulisnya.

Baca juga: Novel Remaja dan Dunianya

 

 

Faisal Oddang dan Asal Muasal Puya ke Puya

Setiap penulis selalu mengawali karyanya dengan apa yang mereka kenal, siapa yang mereka gauli, dan di mana mereka tinggal lama. Demikian pula dengan Oddang. Lahir dan besar di kota yang bukan kota besar, Faisal Oddang terbiasa dengan cerita rakyat, tradisi yang penuh dengan mitos dan kebijakan lokal.

Oddang pertama kali menetapkan gaya khasnya saat menulis cerpen “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon”. Dalam cerpennya yang terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas di tahun 2014, Oddang bercerita tentang tradisi masyarakat Toraja yang mengubur bayi yang meninggal di dalam batang pohon tarra. Mereka menganggap apa yang melakukan itu secara simbolis mengembalikan bayi-bayi yang meninggal ke dalam rahim ibu mereka.

Tradisi Toraja ini kembali dijadikan Oddang sebagai tema dalam Puya ke Puya yang menceritakan mengenai keluarga Rante Ralla. Keluarga Ralla kebingungan ketika Rante Ralla yang seorang pemuka adat di kampung meninggal. Karena Rante Ralla begitu dihormati, Allu Ralla (sang anak) dan Maria Ralla (sang istri) harus menyembelih berekor-ekor kerbau dan babi demi mengantar Rante Ralla ke puya (surga), sementara keadaan ekonomi keluarga Ralla nggak mengizinkan mereka menyelenggarakan upacara yang demikian mewah dan besar. Novel ini semakin semarak ketika Oddang mengizinkan setiap tokohnya bersuara, termasuk sang bayi yang berada dalam rahim pohon tarra.

Demi memisahkan sudut pandang tiap tokoh ketika bersuara, Oddang pun memberi tanda bintang “*” dan tanda kurung “()”. Kebanyakan para pembacanya terkagum-kagum dengan teknik Oddang ini. Tetapi ketika dikonfirmasi mengenai pilihannya, pemuda yang menerima beasiswa menulis dari Makassar International Writers Festival ini dengan apa adanya menimpali, “Itu karena saya malas saja.”

Mendengar jawaban itu, para audiens pun tertawa terbahak-bahak. Membuat suasana di Oost Koffie and Thee semakin hangat.

Audiens

Saat penulis-penulis lain memisahkan bab atau adegan dalam novelnya dengan menuliskan nama, Oddang lebih memilih untuk menggunakan tanda-tanda tersebut karena ia terlalu malas mengetik nama-nama tokohnya. Keputusan pemuda yang lahir di tahun 1993 ini berbanding terbalik dengan proses kepenulisannya yang benar-benar detail dan tidak main-main, yang terungkap ketika salah seorang peserta diskusi bertanya mengenai lama proses kepenulisan Puya ke Puya.

Sekali lagi, dengan gayanya yang sederhana dan apa adanya, Oddang menjawab, “Saya melakukan riset dan mengumpulkan materi cerita selama dua tahun, sementara untuk menulis [saya hanya menghabiskan] dua minggu setengah.”

Sejatinya, Oddang sama sekali tidak berniat menulis cerita. Namun, sewaktu melihat tumpukan materi yang sudah dikumpulkannya mengenai kebudayaan Toraja dan sayembara menulis Dewan Kesenian Jakarta, ia pun bertekad untuk menuliskan cerita mengenai kebudayaan Toraja.

Ada dua hal yang kemudian menjadi perhatian peserta diskusi di sini. Yang pertama adalah fakta bahwa Oddang sebenarnya bukanlah suku Toraja. Sebaliknya, ia suku  Bugis. Namun, ia dengan baik mampu menceritakan mengenai kehidupan, budaya, dan adat suku Toraja yang berbeda dari suku-suku lainnya yang ada di Sulawesi. Hal menarik yang kedua adalah wacana menulis demi memenangkan penghargaan atau hadiah.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah layakkah sebuah karya ketika ia ditulis demi (sebuah) sayembara atau penghargaan, bukan dari renjana si penulis itu sendiri.

Ketika disinggung mengenai hal tersebut, Oddang menceritakan tentang dua orang peneliti yang ingin mendapatkan penghargaan Nobel. Mereka pun mulai meneliti DNA manusia selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mampu memenangi Nobel. Oddang tidak menyorot hasil akhir kedua peneliti tersebut, tetapi pada proses penelitian mereka.

Penelitian bukanlah sesuatu yang bisa kita selesaikan barang satu-dua hari. Beberapa penelitian bahkan memakan waktu puluhan tahun. Pada tahap inilah niat seseorang diuji dan bisa jadi mengalami perubahan.

Perubahan yang baik tentu saja adalah si individu semakin larut dalam proses penelitian, atau menulis dalam kasus Oddang, dan menghasilkan penelitian/tulisan yang baik. Perubahan yang tidak begitu baik adalah ketika si individu terserang rasa jemu dan memilih berhenti di tengah-tengah. Yang terpenting dalam menulis, menurut Oddang, bukanlah pada niat awal kita, melainkan pada bagaimana kita menyelesaikan tulisan kita.

Baca juga: Nasib Literasi di Era Digitalisasi

 

 

Akhir Lingga Alam Kepenulisan Bersama Faisal Oddang

Acara diskusi ditutup dengan pertanyaan pamungkas yang biasa diajukan oleh para penulis pemula dan mereka yang tertarik untuk  terjun ke dunia kepenulisan: apa nasihat seorang penulis untuk mereka yang ingin menulis—apa rahasia yang bisa dibagikan?

Berhadapan dengan pertanyaan tersebut, Oddang segera memasang wajah terkejut. Ini bukan karena Oddang  pertama kali mendapatkan pertanyaan semacam itu. Namun, lebih karena Oddang tidak ingin ‘menjerumuskan’ siapa pun dengan nasihat-nasihat ala dirinya. Pun, tampaknya, ia sadar bahwa setiap orang menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda dari dirinya. Benar-benar sosok muda yang bersahaja, Artebianz!

Meski acara sempat mengalami masalah teknis, tapi pembicaraan dengan Faisal Oddang yang ganyeng dan lepas tanpa pretensi benar-benar menyenangkan. Semoga di lain kesempatan ada diskusi yang seasyik dan menyenangkan ini Smile


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Liputan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


P.S. I Still Love You - Psst... Ada yang Masih Cinta


Billionaire a.k.a Top Secret: Kisah Sukses Seorang Pengusaha Muda


Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?


De Oak Cafe Resto Surabaya


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Ranu Kumbolo: Sebuah Pelajaran Hidup Tentang Jerih Payah


WTF Market 2.0 - Imajinasi, Mimpi, dan Masa Depan


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Cheongsam Bunga Teratai Mei Lien


Kerinduan yang Patah