Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)

30 Dec 2016    View : 681    By : Niratisaya


Matahari mulai tenggelam, paruh pertama acara Literaturia usai, paruh keduanya pun dimulai. Dengan diskusi yang lebih unik dan menarik.

 

di-‘sku-shion

Sesuai dengan tema Literaturia kali ini, “Literasi Media”, narasumber yang diundang adalah mereka yang terlibat langsung dengan dunia literatur, media, dan memiliki keinginan untuk membuat lingkungan mereka melek (literate) terhadap situasi dan kondisi di sekitar mereka. Dalam hal ini media.

Sebab, mau tidak mau, media sosial dan segala yang bersifat digital sekarang ini nggak bisa kita hindari. Lewat media sosial, kita bisa mengetahui kabar dari teman-teman, setiap hal yang sedang menjadi tren—nasional maupun internasional, bahkan mengetahui berita dan peristiwa dalam hitungan detik.

Sayangnya, meski fasilitas dan teknologi Internet di Indonesia mulai mengejar kemajuan teknologi negara-negara tetangga—sebut saja seperti Jepang dan Korea, hal yang paling esensial terabaikan: kualitas sumber daya manusia.

Hestia Istiviani, sebagai narasumber pertama acara di-‘sku-shion, menyorot keberadaan dan fungsi seorang pustakawan. Sebagai alumni Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Hestia menyorot fungsi seorang pustakawan. Jika selama ini seorang pustakawan selalu digambarkan sebagai seorang perempuan tua dengan gaya pakaian yang ketinggalan zaman dan hanya berperan untuk mengingatkan agar nggak berisik di perpustakaan, Hestia mengharapkan seorang pustakawan mampu mengambil peran yang lebih aktif—juga lebih mawas terhadap segala kejadian, sehingga pengunjung perpustakaan bisa mengandalkannya.

Harapan Hestia ini nggak jauh berbeda dengan harapan Siti Aisyah Agustina, salah satu staf Pemkot Surabaya, dalam acara talkshow bertemakan “Menerka Masa Depan Literasi di Era Digitalisasi”. Lebih lanjut, mengenai peran pustakawan, Agustina menyampaikan bahwa sekarang ini para pustakawan mulai berusaha untuk berperan secara aktif dalam membantu pengunjung perpustakaan dan mereka yang membutuhkan bantuan. Namun, ini masih terbatas di beberapa perpustakaan saja.

DiscussionEmpat narasumber di-'sku-shion dan Fazrah, penggagas Surabaya Youth

Di sisi lain, ada Yogi Ishabib melihat bahwa saking derasnya arus pengguna media sosial, manusia sendiri sudah menjadi media itu sendiri. Artebianz pasti sering mendapati berita ala citizen journalism, atau jurnalisme yang disampaikan oleh penduduk biasa yang bukan seorang wartawan. Yogi beropini bahwa yang esensial di era sekarang ini adalah masing-masing individu pengguna media sosial.

“Tanpa  berusaha mengkritik siapa pun….” Yogi mengawali penjelasannya. “Untuk melihat sebuah berita atau satu hal bisa dipertanggungjawabkan, [jika terlalu mengandalkan pustakawan] rasanya kok [pustakawan] menjadi satu hal yang esensial—yang menempatkan dirinya sebagai subjek dengan hak prerogatif untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Seolah-olah pustakawan adalah seorang nabi atau perawi.”

Yogi melihat pentingnya sikap kritis si individu sendiri dalam memilah dan memilih informasi yang ada, tanpa terlalu menjunjung tinggi kehadiran perantara yang menghadirkan berita. Lelaki yang juga berprofesi sebagai penulis ini menilai literasi media penting sebagai alat yang melatih manusia untuk menyortir dan mengonfirmasi sendiri berita-berita yang bertebaran.

Survei singkat di tempat yang diadakan oleh Felkiza Vinanda, penggagas SUBwalker, terhadap pengguna media sosial menunjukkan bahwa (disadari maupun nggak) semua orang sudah bisa memilih media sosial yang cocok untuk dirinya.

Seorang peserta Literaturia berpendapat dia lebih sering menggunakan Twitter karena sesuai dengan kepribadiannya, walau dia memiliki nyaris semua media sosial yang ada. Peserta ini juga mengerti peran dan fungsi media sosial yang digunakannya. Sementara itu, peserta lain menyampaikan bahwa dia mulai membatasi media sosial yang digunakannya.

Dua contoh tersebut membuktikan esensi pengguna media sosial yang dominan. Kemudian, Felkiza melanjutkan penjelasannya, ketika media sosial menjadi satu hal yang krusial dalam kehidupan, para penggunanya pun menjadi media itu sendiri. Beberapa bahkan berevolusi menjadi korporasi media.

Diskusi yang dibuka malam itu membuktikan rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap media sosial. Masyarakat kita masih dengan mudah me-retweet dan membagikan berita tanpa berpikir lebih jauh. Ayos Purwoaji sebagai pembicara terakhir, menyoroti fenomena ini.

“Sekarang ini kita nggak mengkonsumsi media, tapi media-lah yang mengkonsumsi kita.” Ayos pun mengungkapkan pemikirannya yang menjadi antitesis opini para pembicara sebelumnya. “Karena kita masuk ke dalam belantara media dan tenggelam dalam realitas media.”

Rendahnya tingkat literasi media masyarakat Indonesia membuat korporasi dengan mudah mempermainkan masyarakat. Ketika semua orang sibuk debat kusir mengenai politikus ini dan tokoh itu, kemudian larut dalam emosi yang berujung pada putusnya komunikasi dan pertemanan, satu-satunya pihak yang diuntungkan adalah korporasi media.

Ketimbang mencanangkan program media literacy, Yogi menyarankan mengadakan program “human literacy”.

“Semua pasti tahu anestesi. Kalau mau operasi, Anda pasti dibius dulu biar mati rasa, kan? Biar waktu dokter mengiris kulit Anda—dokter membedah tubuh Anda—Anda nggak merasakan apa-apa. Nah, media hari ini melakukan fungsi itu; [sebuah] cultural anaesthesia atau social anaesthesia,” papar Yogi.

Sesi Tanya Jawab di-'sku-shion

Yogi menjelaskan betapa jauh masyarakat Indonesia yang sudah dikonsumsi oleh media sosial dari realitas di sekitar mereka. Ikon-ikon dan emot-emot yang menggantikan realita dan emosi di media sosial membuat kita terputus dari realita kehidupan—dari kebudayaan. Lelaki yang juga menjadi penulis lepas ini berkata bahwa setiap detik semua orang terputus dari realitas dan kehidupannya, ketika mereka berusaha membangun citra diri mereka di dunia digital, yang berbeda 180 derajat dari kenyataan.

Yogi menuturkan segala kemajuan dan upaya pembangunan citra di dunia virtual “menciptakan kondisi yang dalam dunia psikologi disebut keterpisahan identitas—personality disorder.”

Lebih jauh, dia memaparkan opininya bahwa sekarang ini tanpa sadar setiap orang yang terlalu menginvestasikan dirinya dalam dunia virtual membuat dirinya sakit secara psikologis. Yogi memberi contoh kebiasaan generasi kekinian yang meninggalkan jejak di dunia virtual via media digital.

Sebagai penutup, Yogi menyampaikan bagaimana manusia sekarang ini terkonsumsi oleh media, kemudian nggak mampu lagi menarik garis batas antara dunia fiksi dan nonfiksi. Para manusia kekinian berubah menjadi subjek penikmat konten, menjadi objek konten itu sendiri.

Baca juga: Melatih Insting dan Hati Lewat Peristiwa dalam Kehidupan

 

 

Surabaya Youth dan Literaturia: Semangat Pemuda-Pemudi Surabaya

Literaturia adalah festival digagas oleh sekelompok anak muda Surabaya yang merasa miris karena meski dijuluki “Kota Literasi”, pada kenyataannya Surabaya minim kegiatan literasi. Utamanya yang melibatkan anak muda sebagai generasi penerus bangsa.

Surabaya memang secara rutin mengadakan acara book fair. Sayangnya, acara tersebut hanya seputar acara menjual buku. Bahkan menurut pendapat pribadi saya nggak seseru, katakanlah, acara Big Bad Wolf yang baru diadakan satu kali di Surabaya, tapi berhasil mencuri perhatian secara nasional.

Ironisnya lagi, tutur Tisa, salah seorang panitia Literaturia, banyak anak muda yang nggak mengetahui kalau Surabaya dijuluki “Kota Literasi”. Berangkat dari keprihatinan inilah Tisa, Fazrah, dan kru Surabaya Youth lainnya membuat festival literasi.

Berbeda dengan kebanyakan festival literasi—misalnya, Indonesian Readers Festival—Literaturia lebih didominasi acara yang melibatkan beberapa narasumber yang membagikan pengetahuan, opini, dan pengalamannya kepada peserta. Tanpa acara yang berkaitan dengan buku; beberapa penerbit yang menjual buku mereka sambil mempromosikan buku terbaru mereka, penulis yang meluncurkan novel terbarunya, undangan pembacaan naskah, atau lomba menulis kreatif.
Tisa menjawab, “[Kami] dulu pernah mengadakan acara semacam book fair. Sayangnya, waktu itu hujan dan banyak buku yang basah.”

Pembacaan PuisiPembacaan puisi oleh Ayu Rahma Emilia dari Srikandi Project

Bisa jadi, inilah yang membuat kru Literaturia fokus kepada tiga kegiatan utama mereka (chatterbus, di-‘sku-shion, dan drop.a.line), pembacaan puisi, dan hiburan musik live. Selain masalah cuaca, ruang dan letak SUB Co. yang belum diketahui secara umum menjadi kendala lain bagi Literaturia untuk mengembangkan potensinya.

Meski demikian, di Literaturia kedua ini bisa dibilang antusiasme peserta Literaturia cukup tinggi. Padahal hari itu Surabaya dibayangi oleh mendung dan diguyur hujan sampai selepas pukul 12.00.

Semoga ke depannya Literaturia makin dikenal dan menjadi salah satu acara literasi yang menjadi ikon Surabaya, Kota Literasi Smile

Kru LiteraturiaKru Literaturia

Baca juga: Widyoseno Estitoyo, Salah Satu Entrepreneur Muda Surabaya

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Liputan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


Love Dust (Season 1 and 2) - Pilihan Itu Bukanlah Sesuatu yang Mudah


Filosofi Kopi - Bukan Sekedar Adaptasi Dari Cerita Pendek


Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?


Kenikmatan Sederhana dalam Semangkuk Mi Ayam Seorang Pedagang Kaki Lima, Surabaya


Latarombo Riverside Cafe - Menikmati Vietnam Drip dengan Suasana Asyik


Leiden, Kota Sarat Sejarah Dalam Balutan Puisi Indah


The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Oma Lena - Part 1


Perjalanan, Pergulatan Waktu