Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is

09 Aug 2016    View : 801    By : Niratisaya


Artebianz ada yang suka nasi goreng seperti Seungri dan jutaan orang lainnya? Kalau iya, artikel makan asyik kali ini saya persembahkan buat kamu.

Seperti bakso, nasi goreng adalah salah satu menu yang bisa kita nikmatin kapan pun. Sebagai sarapan, teman buat nunggu hujan reda, atau pengganjal perut teraman sambil nunggu film—seperti yang saya lakukan kemarin malam. Sembari menunggu jadwal main film Suicide Squad, saya dan seorang teman saya memutuskan untuk melipir dari mal dekat rumah ke salah satu jalan yang cukup dipenuhi oleh pedagang kaki lima: Jalan Ciliwung. Dari sekian pedagang kaki lima, khususnya penjual nasi goreng, saya memilih lapak Pak Is.

Pak Is

Baca juga: Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)

 

Berlokasi tepat di seberang SDN Sawunggaling I, nasi goreng Pak Is cukup mudah ditemukan. Artebianz cukup menoleh ke arah kiri kalau kamu masuk dari arah Jalan Adityawarman-Ciliwung atau Jalan Diponegoro-Ciliwung. Buat Artebianz yang menyeberang dari mal Surabaya Town Square (Sutos) ke Jalan Tamtama seperti saya, kamu tinggal berjalan lurus. Kemudian, di ujung Jalan Tamtama, kamu belok ke kiri. Lapak Pak Is dan nasi gorengnya adalah hal pertama yang bakal Artebianz lihat sebelum yang lain.

Seperti judul artikel ini, menu yang ditawarkan oleh Pak Is ada dua: nasi goreng dan mi goreng. Istimewanya, Artebianz, harga nasi goreng dan mi goreng Pak Is terjangkau banget. Kamu cuma perlu merogoh Rp10.000 untuk seporsi nasi atau mi goreng. Selain itu, Artebianz bisa request ke Pak Is, sang chef, tentang preferensi nasi atau mi goreng. Either kamu pengin lebih banyak sayur ketimbang nasi atau mi-nya, pengin cabainya dipotong dan dimasak bareng nasi atau mi pesanan kamu, atau nambah kuah di mi goreng pesanan kamu.

Saya sudah ngejabanin semua request itu dan Pak Is selalu memberi harga yang sama: Rp10.000. Tentu saja, untuk kasus Artebianz yang pengin beromantis ria makan sepiring berdua dan nambah setengah porsi di satu piring itu, lain lagi ceritanya Laughing

Pak Is

Yang saya sukai dari Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is adalah nasi yang digunakan pria yang memelihara kumisnya ini nggak pernah menggumpal. Sementara itu, untuk mi gorengnya, minyak yang digunakan nggak berlebihan. But most of all, saya selalu bisa merasakan bebawangan yang digunakan dalam olahannya. Nggak seperti nasi goreng dan mi goreng pedagang kaki lima lainnya, yang entah berlimpah minyak, murah hati banget pas nuang saus tomat, nggak terasa bawangnya, tapi mi yang digunakan masih keras atau kaku, atau nasi gorengnya menggumpal.

Bagi lidah saya, nasi dan mi goreng olahan tangan Pak Is sudah okeh.

Baca juga: Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni

 

Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is, di sisi lain….

Layaknya pedagang kaki lima lainnya, tempat makan di Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is nggak luas. Hanya ada satu meja panjang dan beberapa kursi plastik. So, buat Artebianz yang berniat makan di tempat bakal agak kesulitan—khususnya buat kamu yang bawa teman sekompi dan datang pas lapak Pak Is lagi ramai-ramainya. Untuk urusan tempat parkir, lumayanlah. Ada lahan kosong nggak jauh dari tempat Pak Is.

Saya mengenal Pak Is dan berlangganan di lapaknya sejak pria kutilang (kurus, tinggi, lang… sing? Laughing) ini berjualan di depan rumahnya dan hanya punya dua kursi plastik untuk pelanggannya, sampai terakhir ini si Bapak pindah ke seberang SDN Sawunggaling di Jalan Ciliwung. Thus, I can recommend him—I mean his nasi goreng and mi goreng—to you, Artebianz.

Pak Is

Artebianz yang kebetulan lewat di Jalan Ciliwung dan lagi kelaparan, tapi dompet lagi kritis, boleh banget belok dan ngendon sebentar di lapak Nasi Goreng dan Mi Goreng Pak Is. Pak Is mulai membuka lapaknya dari pukul 6 sore sampai jam 1 malam—atau sampai nasi dan mi-nya habis.

Buat Artebianz yang pengin pesan dulu, kamu bisa memesan nasi goreng atau mi goreng Pak Is via telepon: 0858 5249 9333. Atau pesan via Gojek biar lebih kekinian.

Personally, I recommend you to dine in as you can enjoy Pak Is's joke and enjoy the ambiance of simple eating place with hearty-homey food—the signature of any other traditional and simple eating places in Indonesia.

Baca juga: Cafe Waiting Love - Kompleksnya Kesederhanaan Cinta Ala Remaja 

 

 

Have a happy tummy!

N




niratisaya
Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi). Seorang penulis, editor, dan penerjemah. Profil Selengkapnya >>

Makan Asyik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus




KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :


Ayah Dan Hari Ayah


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Agility Bukan Singa yang Mengembik


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati


Membaluri Luka dengan Cinta dalam Lagu I'm Not The Only One


Mengenang Sejarah Dukuh Kemuning Dan Menguak Peninggalan Kepurbakalaannya


Omnivoro Ciputra World, Fusion Cafe untuk Para Omnivora


Goodreads Indonesia Regional Surabaya: Novel Remaja Dan Dunianya


Tiga Puluh Tahunan (Part 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Aku Berjalan (Dan Dua Puisi Lainnya)