Mirota dan Segala yang Berbau Jawa

15 Apr 2015    View : 5680    By : Niratisaya


 Pengalaman ini adalah kali kedua saya mengunjungi Mirota—sebuah toko yang mejual segala macam hal berbau Jawa; khususnya makanan, pernak-pernik, hiasan interior, perhiasan (sebelum akik digilai, Mirota sudah menjual batu-batu cantik ini), sampai buku.

Saya sebelumnya mengunjungi Mirota untuk membeli furin, a.k.a lonceng/klintingan angin, pesanan adik saya:

Klintingan Angin(gambar diambil dari archive.kaskus.co.id)

Sementara itu, pada kunjungan kedua saya mencari ‘buruan’ saya sendiri: baju batik.

Setelah sempat berputar-putar karena tersesat—Mirota saat itu sedang direnovasi, Artebianz—dan melihat-lihat koleksi pakaian yang lumayan banyak, akhirnya saya membeli sebuah terusan dan jaket. Sempat ngelirik koleksi cincin dan jatuh hati pada salah satunya, sih…. Tapi bertekad untuk fokus dengan apa yang perlu saya beli.

Niat awal saya sebenarnya adalah langsung pulang. Sampai akhirnya pandangan saya jauh pada kantin Mirota. Saya menyebutnya kantin karena bagian ini berada sebelah kanan, tidak terlalu luas, tidak terlalu mencuri mata—tetapi nge-blend dengan sempurnanya di dalam suasana Mirota yang aseli terasa banget nuansa Jawanya. Jadilah saya dan teman main saya saat itu, ayah saya, makan di kantin Mirota.

Mirota 1

 

Mirota dan Kantinnya

Mulanya saya mengira dengan ukuran ruangan yang kecil dan letaknya yang di salah satu sudut, menu yang disediakan oleh Mirota akan seadanya. Memenuhi standar, tapi tidak benar-benar memuaskan. Saya pernah mengunjungi beberapa tempat yang terkenal dengan rasa makanan yang saya sebutkan. Tapi Mirota mematahkan anggapan saya.

Semuanya terbukti saat pesanan kami tiba di meja. Tampilan pesanan kami segera membuat saya dan ayah saya jatuh hati.

Tampilan doang? Oh … you’ll know delicious food when you see one, Artebianz. And here’s ours Smile

Mirota 2Soto Ayam Mirota dengan taburan keripik kentang

Saya memesan rujak cingur, sedangkan ayah saya memesan soto ayam.

Yang terpenting dari rujak cingur adalah petisnya. Kenapa? Karena petis adalah salah satu komponen terpenting dalam rujak cingur, disusul cingur (bagian dari mulut atau moncong sapi. Tepatnya daerah sekitar hidung, bibir dan dagu sapi). Biasanya petis rujak cingur yang biasa saya beli kecokelatan, cenderung terang, dan encer. Ini karena pasta petis itu campuran dari mutu terbaik dan mutu rendah, pengakuan dari para penjual rujak sendiri. Sementara itu, petis rujak cingur di Mirota cenderung berwarna gelap dan kental.

Mirota 3Rujak cingur Mirota

Hal ini menyiratkan bahwa petis yang digunakan oleh Mirota adalah jenis terbaik. Dan ketika saya menikmati rujak cingur pesanan saya, yum! Saya bisa merasakan manis, pedas, sekaligus bumbu-bumbu yang ada di dalam rujak cingur. Mulai dari kacang, bawang, hingga pisang muda.

Sedangkan soto ayam pesanan ayah saya—menilai dari bagaimana ayah saya menikmati sotonya, saya bisa mengatakan kalau soto ayam Mirota juga sama lezatnya.

Mirota 4

Meski bukan sosok yang vokal dalam mengkritik makanan, ayah saya bisa dibilang cukup rewel untuk makanan yang di luar dietnya (baca: nasi putih, sambal, dan protein kedelai). Sehingga orang bisa menilai dengan mudah bagaimana rasa makanan yang disantap oleh ayah saya. Kalau habis bersih, artinya makanan tersebut enak. Kalau tidak….

Kamu bisa menyelesaikan sendiri kalimat itu, Artebianz Wink

Untuk minuman, karena kami berdua haus. Kami cenderung tidak membaca dengan baik menu yang ada. Sehingga kami akhirnya memilih minuman yang biasa kami pesan; es jeruk untuk saya dan kopi untuk ayah saya. Sebelum kemudian kami merasa menyesal karena di dalam menu bagian minuman tersedia minuman khas jawa: jamu. Ada cabe puyang dan kawan-kawan.

Mirota 6Salah satu sudut Mirota yang dipenuhi berbagai macam ukiran

What a shame, Artebianz…..

Lain kali, saat berkunjung sekali lagi ke Mirota, saya pasti akan mencicipi menu-menu lainnya. Khususnya jamu ala Mirota.

 

Tur Mirota

Mirota terdiri dari tiga lantai, kalau saya tidak salah ingat. Lantai dasar ditempati oleh kantin Mirota, kan batik, pernak-pernik untuk suvenir dan kerajinan tangan, serta perhiasan. Di lantai dua berisi anyaman, berbagai jenis tembikar, keramik, lukisan, dan barang-barang antik. Kemudian di lantai ketiga adalah ruangan untuk furnitur—khususnya yang terbuat dari kayu jati, koin dan uang kertas, dan bursa toko buku.

Mirota 7Lantai paling atas. Dulunya pintu tertutup itu adalah ruangan untuk baju batik, Artebianz

 

Harga Makanan dan Minuman di Kantin Mirota

Harga makanan berkisar antara 11ribu rupiah sampai 22ribu rupiah. Sedangkan untuk minuman antara 3500 rupiah sampai 28ribu rupiah. Yang terakhir amat mihil, tapi lihat dulu Artebianz, apa minuman itu Laughing

Mirota 8      Mirota 8
Lengkapnya, sila liat daftar harga ini, Artebianz

Dengan rasa yang ditawarkan, menurut saya harga makanan di Mirota sudah pas. Sementara untuk minuman, monggo, Artebianz milih sendiri sesuai kantong atau menuruti keinginan hati.

 

Alamat

Nama toko : Mirota
Alamat : Jl. Sulawesi 24, Ngagel Surabaya Selatan
Telepon : (62-31) 5018110, 5018587
Fax : (62-31) 5017903, 5017111.
Email : mirota@indosat.net.id, mirotasby@gmail.com.
Pembayaran : Tunai, Debit, Kartu Flazz BCA, BCA, American Express, Tunai, MasterCard, Visa

 

Peta Mirota

 

 

Tempat makan asyik lainnya:




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Makan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Sabtu Bersama Bapak


Suckseed (Huay Khan Thep): Tumbuh Bersama Mimpi, Sahabat dan Cinta




Berkuliner Ala Foodtruck Fiesta di Graha Fairground Surabaya Barat


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Wana Wisata Sumberboto - Keindahan Alam yang Masih Dipandang Sebelah Mata


The Backstage Surabaya (Bagian 1) : How To Start A StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Sajak Malam Dingin