Soto Khas Lamongan Di Pandean, Ngoro

03 Aug 2014    View : 2185    By : Niratisaya


Hola, Artebianz! Terutama para penggemar soto, seperti saya. Hehehe....

Memanfaatkan momen liburan Idul Fitri, tak jauh berbeda dengan sebagian besar penduduk Indonesia, saya memutuskan untuk mengunjungi nenek saya di desa. Dan sewaktu sampai di sana, dengan sengaja saya mengunjungi salah satu warung makan yang ada di perempatan jalan di tak jauh dari rumah keluarga besar saya. Warung soto khas Lamongan.

Berbeda dengan sebagian besar warung di sekitarnya, warung yang berada di jalan antara raya menuju Kediri dan Malang yang ada di daerah Pandean ini tidak menjual satu jenis makanan, atau berbagai macam makanan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Artebianz, warung ini fokus menjual soto dengan varian soto ayam kampung dan soto daging sapi.

Baca juga: Goyang Kaki dan Goyang Lidah di Lontong Kikil Bu Dahlia



Kunjungan saya kali itu (01/08) adalah kali kedua. Saya sempat mencicipi kelezatan soto di warung yang terletak di Jalan Kawi itu di tahun 2011. Dan kesan yang saya tangkap saat itu... koyanya, kuahnya... hm! Tak terlupakan, Artebianz! Karena itu, begitu ada kesempatan dan waktu luang, saya segera mendatangi warung soto khas Lamongan tersebut.

Suasana di Warung Soto
Ketika memasuki warung yang tidak terlalu besar itu, saya mendapati 5 meja yang masing-masing bisa digunakan oleh 4-6 orang itu sebagian sudah penuh. Hanya tersisa satu meja di dekat pintu masuk. Tanpa menghabiskan waktu, dan karena saya sudah sempat mencicipi soto daging, kali itu saya memilih menu soto ayam kampung dan segelas es teh.

Selang beberapa menit, di meja saya sudah tersaji semangkuk soto ayam-lengkap dengan daging ayam kampung yang kemerahan dan taburan seledri. Tapi sayang, di sana tak ada potongan telur lagi. Begitu pula dengan di meja, saya tidak lagi menjumpai mangkuk koya yang bisa saya sendoki berkali-kali. Terpaksa, pada kesempatan itu saya hanya bisa menambahkan perasan jeruk nipis ke mangkuk soto saya.

Setelah menambahkan perasan jeruk nipis dan beberapa sendok sambal (saya cinta pedas!), saya akhirnya menyuapkan kuah soto ayam kampung khas Lamongan ke dalam mulut saya.

Dan... jeng, jeng!

Saya sedikit kecewa, Artebianz, karena kuah sotonya tak senikmat dalam ingatan saya. Entah karena dulu yang saya icipi adalah soto daging dan dulu sajian sotonya lengkap—ada koya, telur, dan perasan jeruk nipis—jadi kuah soto terasa lebih kental. Meski begitu, daging ayam yang digunakan oleh warung soto itu asli ayam kampung, dengan dagingnya yang kemerahan dan kesat.

Soto Ayam Kampung

Walau kurang kental, soto khas Lamongan yang ada di Jalan Kawi, Pandean, Ngoro ini layak dicoba Artebianz. Khususnya untuk mereka yang sedang dalam perjalanan menuju Kediri atau Malang, melewati daerah ini. Dan semoga pada saat itu ada potongan telur dan koya, jadi Artebianz bisa menikmati secara utuh soto khas Lamongan di perempatan wilayah Kauman, daerah islami di Pandean ini.

Baca juga: Kenikmatan Sederhana dalam Semangkuk Mi Ayam Seorang Pedagang Kaki Lima, Surabaya

 

 

Harga Soto Lamongan

Semangkuk soto ayam kampung plus nasi dan segelas es teh yang saya pesan saat itu membuat saya mesti merogoh kocek sebesar Rp12.500. Kemungkinan besar rinciannya seperti ini:
- nasi soto ayam kampung: Rp10.000,-
- es teh manis: Rp2.500,-

 

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Makan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ayah Dan Hari Ayah


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


1001 Fakta yang Sulit Dipercaya: Mengejutkan Pikiran, Tidak Mungkin, dan Aneh!


5-ji Kara 9-ji Made - Apa Jadinya Kalau Biksu Jatuh Cinta Pada Guru?


How Deep Is Your Love - Calvin Harris: Dalamnya Cinta Lewat Deep House Music


Rujak Cingur Ala Bu Dah


Taman Bungkul - Oase dan Kebanggaan Warga Surabaya


Wisata Madiun Bersama Keluarga


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Oma Lena - Part 1


Menjelang Telah Tiba Datang