Depot Gresik

15 Mar 2016    View : 1240    By : Niratisaya


Nggak ada yang lebih menyebalkan dari harus dinas pagi atau harus pergi ke tempat yang nggak kita kenal. Dan beberapa hari lalu saya mengalami dua hal ini, Artebianz. Lengkap pengalaman minggu pertama saya di awal bulan Maret.

Pagi itu, saya harus berangkat dari rumah tepat pukul 06:00 pagi menuju salah satu kota pesisir di Jawa Timur. Saya selalu suka berjalan-jalan. Saya suka melihat tempat baru dan pemandangan yang bukan hanya mobil, sepeda motor, atau bangunan—tapi juga pepohonan dan LAUT!

Saya suka laut dan anginnya, walau berbaur dengan amis.

Masalahnya, jalur yang saya lewati saat itu belum pernah saya dan teman-teman saya lewati sebelumnya. Tambahan lagi, karena berangkat pagi-pagi, kami semua pergi dengan perut kosong.

Dan… kami semua pun mendapat satu tugas tambahan: mencari rumah makan atau depot yang buka. Which was quite a challenge, karena kebanyakan yang buka pagi hari adalah warung kopi. Walau saya suka kopi, tapi rasanya sarapan ala orang Barat (baca: kopi dan roti) nggak akan sanggup menyumpal naga di dalam perut saya, Artebianz. Kalaupun ya, pasti sejak awal saya dan teman-teman sudah mampir di toko dan membeli kopi kemasan dan roti.

But we needed rice. That fluffy white thang that consist nothing but carbs and glucose.

Beruntung, setelah satu jam lebih perjalanan, kami akhirnya menemukan sebuah depot yang buka: Depot Gresik.

Suasana salah satu sudut Depot Gresik di pagi hari.

Setelah memarkir mobil, saya bergegas berdiri di depan menu makanan seperti golongan darah A sejati. Namun, saya memilih sarapan yang sama sekali jauh dari diet orang bergolongan darah A. Ini karena saya membaca tiap menu dan melihat bahwa menu dengan daging sapi atau kambing mendominasi papan nama.

At that point, I realized one thing: spesialisasi depot ini bukanlah sayuran. Jadi, saya pun menjauhi menu yang melibatkan sayuran. Tapi, di sisi lain, saya juga emoh makan cuma daging dan nasi. Pilihan saya pun jatuh pada nasi krengsengan. Yes, it's meat-based food. Salahkan Pak Pangat dan legenda nasi krengsengannya, sehingga saya terbiasa memilih krengsengan.

But there's a surprise in my plate. I didn’t get much veggies, but I wouldn’t eat meat, potato, and rice. It’s a win-win solution.

Pada saat itu, yang bekerja hanya insting dan logika saya. Tentang kualitas dan rasa makanan… saya benar-benar nggak tahu. Dan nggak punya jaminan.

Sementara itu, teman saya memilih makanan mereka masing-masing: nasi dan sayur sop juga rawon. Untuk minuman, pilihan kami sederhana: kopi, teh, dan jeruk hangat—untuk saya.


Menu Depot Gresik.

Setelah sekitar lima menit, pesanan kami pun datang. And I got my nasi krengsengan.

Terlahir di keluarga besar, saya terbiasa mendengar pilihan dan keluhan, saya pun memiliki pilihan dan keluhan sendiri. Untuk nasi, saya lebih suka bulir nasi yang fluffy, lembut, dan sedikit sticky. Walau nasi di Depot Gresik nggak se-fluffy dan se-sticky yang saya harapkan, tapi seenggaknya nasi mereka nggak kering dan pero (setengah matang).

And about the meat and the other dish on my plate? Boy, Artebian, it was quite a treat.

Menilai Depot Gresik sudah buka pada jam 7 pagi dan sebagian besar menu sudah siap di meja konter, saya nggak terlalu berharap banyak tentang rasa. Tapi, Depot Gresik mengantarkan rasa yang okeh untuk olahan daging berbumbu petis dalam menu nasi krengsengan.


My forever meat-based food choice: krengsengan.

And I love the sambal!

Yang sayangnya nggak cukup banyak untuk memuaskan obsesi saya pada sambal Depot Gresik.

Untungnya, salah seorang teman saya antipedas dan saya mendapatkan suplai sambal.

Nahasnya, sayur sop pesanan teman saya itu nggak sesuai harapannya. Sopnya, setelah saya cicipi, kurang nendang di bumbu. Pala dan merica nyaris nggak menyenggol lidah saya. Selain itu, daging yang seharusnya memberi tendangan di bumbu terasa alot. Sementara itu, untuk perkedel kentang yang setia menjadi pendamping sayur sop, nasibnya juga nggak jauh—nyaris hambar.

Then, I decide to share my plate with my friend. I ate half her nasi dan sayur sop, she ate half of my nasi krengsengan.

Untuk menu rawon, karena yang memesan adalah kaum Adam, mereka nggak terlalu banyak keluhan: asal banyak dan memuaskan naga di perut, mereka sudah puas.

Boys …. Undecided

Bonus round: botol-botol berisi sinom yang menyegarkan kami di perjalanan. 

That prawn cracker and delish traditional drink: sinom.

Baca juga: Mojok dan Makan Mi di Pojok II, Perak, Jombang 

 

 

Yang Asyik (dan Nggak Asyik) dari Makan di Depot Gresik

Asyik dan nggak asyiknya satu hal selalu seperti dua sisi mata uang; mereka nggak terpisahkan. Yang asyik dari Depot Gresik:

- Fakta mereka sudah siap dengan menu meat-based yang lekker.

- Mereka buka di pagi hari.

- Mereka nggak membutuhkan 20-30 menit untuk menyiapkan pesanan kamu.

- Ada tempat parkir di samping depot, jadi nggak perlu khawatir ada mobil yang

bakal nyenggol.

- Ruangan yang cukup lebar, jadi kita bisa memilih meja yang kita mau tanpa berdesak-desakan.

- Kerupuk udang yang decent tanpa minyak berlebih.

Dan, yang nggak asyik dari Depot Gresik menurut saya hanya satu: pelayanan yang diberikan.

I didn’t really mind when the waitresses didn’t give me any morning smile. Lagi pula, kalau saya harus bangun pagi-pagi dan membuka depot lebih pagi, mungkin saya juga akan merasa bete.

Tapi, saya agak risih sewaktu menyadari seorang pria, yang saya curigai sebagai pemilik Depot Gresik, mengamati saya dan teman-teman (dan pengunjung lainnya) dari salah satu sudut ruangan.

Saya nggak menyadari keberadaan pria itu—well, tepatnya nggak terlalu memedulikan dia—karena terlalu lapar. Sampai teman saya membicarakan pria itu.

Bisa jadi, sebelumnya ada pengunjung yang berbuat curang dan makan tanpa melaporkannya, tapi… duduk di pojok sambil menatap tajam itu … benar-benar membuat pelanggan nggak nyaman. Sayang banget, kalau pengunjung Depot Gresik nggak bisa merasakan kelezatan masakan dan kenyamanan sewaktu makan.

Depot Gresik mungkin bisa memasang kaca di atas tembok, juga kaca cembung, seperti beberapa minimarket. Jadi pemilik depot nggak perlu melirik dan menyapukan tatapan tajamnya yang bak radar ke seluruh penjuru ruangan.

Dan, memperbaiki 'tendangan' sayur sop mereka, tentunya.

But, overall, if you just ignored the menacing and suspicious look from the owner, I enjoy my breakfast at Depot Gresik. Dan mungkin akan tetap memilih tempat itu untuk sarapan.

Anyway, they got damn good sinom!

 

 

Peta dan Alamat Depot Gresik

 

Alamat  Jl. Embong Baru No. 27, Sembayat, Manyar, Gresik
Jam operasi

 Setiap hari mulai pukul 07:00

Telepon

 +62 31 3948215

Baca juga: Kober Mie Setan, Gresik Kota Baru

 

 

Rating Depot Gresik:

Rating makan

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Makan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Supernova Akar


Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia


Keep Being You - Isyana Sarasvati


Bakso Hitam Chok Judes: Ada Lezat Di Balik Pekat


Pandu Pustaka: Perpustakaan Keteladanan Di Pekalongan


Mengenang Sejarah Dukuh Kemuning Dan Menguak Peninggalan Kepurbakalaannya


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Balada Sebuah Perut


Lepas (Tak) Bebas