Kenikmatan Sederhana dalam Semangkuk Mi Ayam Seorang Pedagang Kaki Lima, Surabaya

26 Oct 2014    View : 4450    By : Niratisaya


Ahoy, Artebianz!

Maaf, karena kesibukan, saya jarang mempunyai kesempatan untuk berjalan-jalan dan memberikan info tentang pengalaman makan asyik saya, sendirian atau ramai-ramai bersama Tim Artebia. Tapi jangan khawatir, bukan berarti kami melupakan rubrik ini. Ada banyak pengalaman yang sudah kami kumpulkan untuk Anda, Artebianz :)

Setelah pengalaman asyik makan di restoran, warung, dan depot, kali ini saya memberikan pengalaman makan asyik di salah satu pedagang kaki lima langganan saya.

Seperti kebanyakan pedagang kaki lima lainnya, langganan saya ini memiliki merek yang sederhana dan mudah diingat. Ia mengambil ‘merek’-nya dengan formula nama makanan+identitas diri. Dan, voila! Jadilah merek dagang si Bapak= Mi Ayam Pak Kumis.

Jika Artebianz sedang kebetulan lewat di Jalan Joyoboyo atau tinggal di sekitar jalan tersebut, Anda bisa mengunjungi salah satu spot pengobat lapar saya ini. Pak Kumis biasa berjualan di kiri jalan, beberapa meter setelah ruko Tupperware dan sebelum Sekolah Hotel Surabaya (SHS). Tidak akan sulit menemukan si Bapak, dengan gerobak warna birunya, karena Pak Kumis cukup mencolok.

Baca juga: Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung

 

Menu-menu Asyik Mi Ayam Pak Kumis

Yang paling asyik dari menu-menu yang disajikan oleh Pak Kumis adalah mi ayam. Hehehe… tentu saja, karena ia hanya menjual mi ayam. Well, Artebianz juga bisa meminta tambahan ceker atau kepala ayam, kalau Artebianz suka. Jadi, Artebianz tidak akan sekadar makan mi ayam, tapi mi ayam plus ceker, atau mi ayam plus kepala ayam.

Setiap bentuk tempat makan selalu memiliki keistimewaan mereka masing-masing. Saya, secara pribadi, cukup menyukai makan di kaki lima semacam Pak Kumis ini. Tentu saja, dengan syarat kebersihan dalam proses memasak. Saya punya satu langganan lain, tapi setelah melihat bagaimana langganan lain saya itu memasak, saya memilih setia dengan Pak Kumis ini.

Mi Ayam
(Mi Ayam normal, less ketchup and some tomato sauce. Oh, and a chicken head)

Selain kebersihan, sebab lain mengapa saya begitu menyukai mi ayam buatan Bapak Kumis ini adalah kekenyalan mi yang ia buat. Beberapa penjual mi memilih untuk menggunakan mi kering yang ketika dimasak dengan bumbu meninggalkan kesan artifisial di lidah. Beberapa penjual, seperti Pak Kumis, memilih untuk membuat mi sendiri dan menghilangkan ‘rasa khas’ ala mi kering dari mangkuk pembelinya.

Selain mi ayam, Pak Kumis juga menjual minuman: es teh dan es jeruk.

 

Yang Asyik dari Mi Ayam Pak Kumis (dan Pedagang Kaki Lima Lainnya)

Seperti yang sebutkan sebelumnya, saya memiliki kecenderungan menikmati acara makan di pedagang kaki lima. Baik yang berjalan (gerobak dorong) maupun yang berhenti di pinggir jalan. Sebenarnya apa sih, keistimewaan dari pedagang kaki lima?

Keistimewaan pedagang kaki lima ada pada orang di balik gerobak itu sendiri. Yap! Pelayanan organik dan emosi yang nyata. Dengan pedagang kaki lima, pembeli akan berhadapan langsung dengan si penjual itu sendiri dan berinteraksi secara sosial, tanpa pretensi atau didikan dari kantor pusat yang kadang membuat pegawai tempat makan tersebut berkesan kaku dan memiliki jarak dengan pembeli.

Pak Kumis(Pak Kumis dan gerobaknya)

Sementara, keasyikan secara khusus makan di Mi Ayam Pak Kumis adalah menikmati arus Joyoboyo dan angin semilirnya. Pak Kumis berjualan di bawah pohon yang rindang, bukan di atas trotoar panas. Although… saya akan sangat senang sekali kalo Mi Ayam Pak Kumis bisa berjualan di dekat Taman Patung Kuda di bundaran Gunung Sari :D

Seperti umumnya tempat makan, di Mi Ayam Pak Kumis, Artebianz bisa menambahkan atau menyesuaikan mi pesanan Anda seperti yang Anda inginkan. Mau lebih banyak sayur, lebih banyak mi, sedikit sayur, sedikit mi, tambah potongan daging, tambah potongan ayam…. Inilah kenapa saya suka pedagang kaki lima.

Dan… tentu saja alasan yang utama: harga miring.

Sebagai salah satu kota besar di Jawa dengan kemudahan mendapatkan bahan-bahan makanan, sudah semestinya harga makanan seharusnya masuk akal. Dan apakah harga Mi Ayam Pak Kumis masuk akal? Artenbianz bisa menentukannya sendiri setelah melihat seberapa dalam kocek yang harus saya rogoh untuk menikmati semangkuk mi ayam.

And… how do I enjoy my mi ayam?

Pertama, saya suka pedas. Kedua, saya suka manis. Jadi, ketika makan mi ayam Pak Kumis, saya lebih suka menambahkan kecap ketimbang saus dan beberapa sendok sambal. Mind you, sambal yang dibuat Pak Kumis cukup pedas. Jadi, kalau Artebianz pengin mencicipi mi ayam si Bapak… pertimbangkan seberapa banyak sambal yang Anda masukkan ke mangkuk.

Baca juga: Rujak Cingur Ala Bu Dah

 

Secuplik Kehidupan dalam Kegiatan Memamah-Biak

Setiap manusia memiliki kisah dan cerita di balik perjuangan hidupnya. Begitu pula dengan Pak Kumis.
Pak Kumis adalah salah satu dari ribuan penduduk musiman yang datang ke Surabaya untuk mengadu nasib dan meningkatkan derajat kehidupannya. Setiap pagi, sekitar pukul sepuluh, ia selalu berangkat dari rumah kecil yang ia kontrak, menuju ke trotoar di dekat SHS. Pertimbangan Pak Kumis adalah jika ia berjualan di sana, ia tak perlu jauh dari rumah dan, tentu saja, setiap anak muda butuh makanan yang bisa mengisi perutnya dengan cepat.

More Ketchup and more(Mi ayam dengan ekstra kecap)

Suatu saat, Pak Kumis mendapatkan tawaran untuk menyewa sebuah tempat kosong yang ada kanan Jalan Joyoboyo. Sebuah pelataran yang sebelumnya sempat disewa oleh beberapa pedagang kaki lima, sebelum kemudian menjadi kosong.

Entah kenapa.

Secara pribadi, saya suka bagaimana Mi Ayam Pak Kumis jadi memiliki ruang luas dan memiliki kursi lebih banyak. Namun, beberapa bulan kemudian, Pak Kumis berjualan di tepi trotoar. Pak Kumis bercerita bahwa penyebabnya adalah ketika ia pulang kampung, pemilik tempat yang ia sewa menyewakan tempat tersebut untuk bengkel. Sementara Pak Kumis masih memiliki sisa beberapa bulan sebelum sewanya habis. Ia pun terpaksa mendorong gerobaknya kembali ke trotoar dan berjualan di tepi jalan.

Sewaktu mendengar cerita Pak Kumis, saya agak miris. Mungkin ini bukan cerita pertama tentang kehidupan keras yang dijalani oleh warga musiman semacam Pak Kumis. Tapi bukan berarti kisah semacam ini harus selalu ada.

 

Kocek yang Saya Rogoh

  • Mi ayam: Rp. 5.000
  • Es eh: Rp. 1.500
  • Es jeruk: Rp. 2.000

 

PS: mi ayam akan jadi Rp. 6.000 atau Rp. 7.000 kalau Artebian ingin menambahkan sesuatu ke dalam mi ayam (sayur, ceker, kepala, etc.)





Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Makan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 2)


Ada Apa Dengan Cinta? 2 - Setelah Beberapa Purnama Terlewati


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


De Oak Cafe Resto Surabaya


Latarombo Riverside Cafe - Menikmati Vietnam Drip dengan Suasana Asyik


Goa Lawah Nan Berselimut Sejarah


Adiwarna 2017: Karyakarsa - Eksposisi Daya Cipta dan Rasa DKV UK Petra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Twist and Shout (Part 2)


Kesenyapan Memeluk di Kesendirian