Takdir Dan Pertanda-Pertanda

09 Nov 2014    View : 1754    By : Amidah Budi Utami


Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku Sang Alkemis (The Alchemist) karya Paulo Coelho. Akhirnya, buku yang terkenal di seluruh jagat raya itu bisa saya baca. Yah akhirnya, setelah niat yang sudah lama namun sering terlupa karena kesibukan. Secara keseluruhan saya sangat suka, baik jalan cerita, tokoh-tokoh, serta setting tempat dan waktu yang serta-merta melempar imajinasi saya ke beberapa ratus tahun silam di suatu tempat yang sangat jauh dari tempat saya berada saat ini (ngomong-ngomong saat ini saya tinggal di Surabaya, Indonesia). Namun lebih dari yang saya sampaikan di atas, yang sudah diketahui bersama bahwa yang paling menarik dari Sang Alkemis adalah pesan-pesan yang disampaikan di dalamnya.

Di sini saya tidak akan membahas semua pesan yang disampaikan oleh Paolo Coelho melalui Sang Alkemis. Anda tahu kenapa? Karena saya tidak sedang menulis di rubrik Review Buku! Bagi Anda yang ingin mengetahui review lengkap tentang Sang Alkemis bisa membacanya di sini.

Pada kesempatan kali ini saya hanya akan membahas tentang "pertanda-pertanda" yang entah mengapa membuat saya merenungkannya kembali tentang "pertanda-pertanda" yang terjadi dalam hidup saya dan juga kehidupan manusia lain yang mungkin lebih sering diabaikan.

Berikut kutipan-kutipan dari sang Alkemis yang mengantarkan saya menulis artikel ini:

Apakah takdir itu?

"Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka ."

"Supaya menemukan harta karun itu, kau harus mengikuti pertanda-pertanda yang diberikan. Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui masing-masing orang. Kau tinggal membaca pertanda-pertanda yang ditinggalkannya untukmu."

Baca juga: Malaikat Tak Bersayap

 

 

Tentang Pertanda-Pertanda:

Saya percaya memang hal semacam itu ada. Hanya saja orang awam sangat jarang mengalaminya dan mungkin juga pertanda-pertanda datang dengan penyamaran hingga tidak terdeteksi oleh penerimanya. Namun, saya juga percaya ada orang-orang tertentu yang memiliki ketajaman dalam membaca pertanda-pertanda. Tentu saja saya bukan termasuk dalam golongan orang-orang yang memiliki ketajaman itu. Percaya deh, saya hanya orang biasa yang memilki 5 indra--tidak lebih.

Namun pertanda-pertanda itu bisa datang dengan sangat nyata di saat-saat tertentu.

Beberapa tahun yang lalu saya memiliki seorang sahabat yang sangat baik, yang juga saya kagumi. Saat itu sekitar Desember, saya melihat ada perilaku yang agak berbeda dari sahabat saya. Dia sering posting puisi-puisi dengan tema yang membuat saya takut. Saya tidak habis pikir, dia adalah seorang periang dan saya yakin dia bisa mengatasi masalah apapun dengan kemampuan yang dimiliki. Pernah suatu hari dia cerita masalah yang cukup pelik dengan nada yang bisa-biasa saya. Intinya saya mengenalnya sebagai sosok yang optimis. Namun, puisi-puisinya membuat saya bingung dan takut. Hingga saya tidak tahan lagi untuk berkomentar di salah satu puisinya:

Hanyut...

Berjalan diatas bukit gersang
Di tengah musim hujan yang tak berair
Aku melambai pada segerombolan gagak hitam
Dengan harapan dari kubur dalam hatiku
Di tengah gelapnya malam
Dengan langit berlapiskan api
Aku berharap kau muncul
Bagai setetes air hujan di sahara

Dalam dinginnya jiwaku
Rasa sakit yang tak terkirakan
Yang kurasa ketika kau tingalkan aku
Bagai mawar di tengah hujan badai
Aku bersumpah dengan tajamnya belati

Kau akan berbaring di atas kuburku
Menjadi pendoa untuk kesendirianku
Ku akan bangkit dari kuburku
Untuk sesekali waktu melepaskan diri
Dari ikatan ketidakberdayaanku
Kau akan selalu bisa temukan
Ruang suci dalam diriku
Meski ku telah tinggalkanmu

Sayatanmu
Ratusan meter dalamnya sayatanmu
Dalam hatiku, hati bak penjara tanpa terali
siksa aku dalam rumah sendiri
Hilangkan warna dalam penglihatanku
Melemahakan jasadku sakiti jiwaku

Kau dera aku dengan pesonamu
Kau guling-gulingkan aku bagai mangsamu
Sejenak ku tersadar dari kegilaan ini
Namun ku sendiri tak mau bangun dari mimpi
Mimpi yang semakin menyiksaku
Tetap indah karena tak bisa lepas darimu

Pada suatu ketika aku percaya
Keadaan akan berbalik
Momentum titi kala mangsa
Memutarku ke atas dan kalian yang di bawah

Komentar:

Saya: "Membaca puisi-puisimu membuatku bertanya siapakah dirimu?"
(Maksud saya di sini saya mengenalnya sebagai seorang yang optimis dan ceria, kenapa tiba-tiba terdengar begitu putus asa?)

Sahabat Saya: "Kamu akan tahu siapa diriku setelah kematianku."
(Menurut Anda bagaimana sebaiknya saya merespon komentar seperti ini?)

Saya: "Ya udah cepatlah mati, biar aku tahu siapa dirimu. Namun hiduplah kembali aku nyotek tugas-tugasmu".
(Ngomong-ngomong sahabat saya ini lumayan genius dan sebagainya. Di semester terakhirnya--dia kuliah sampai semester 3--IPKnya mencapai 3,8 sedang saya di angka 3,4. Itu pun juga karena tugas-tugasku banyak dibantu dia)

Namun kebodohan terbesar saya adalah bagaimana seseorang yang sudah meninggal bisa hidup kembali? Hei, saat itu saya kira dia hanya bercanda dan mengada-ada. Jadi saya hanya membalas sekenanya. Jika saat itu saya tahu kalau dia sedang tidak bercanda maka saya akan membalas dengan komentar seperti ini:

Saya (revisi): "Lebih baik aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya untuk selama-lamanya, daripada membiarkanmu mati secepat ini."

Yah, saat itu dia telah menerima pertanda-pertanda (walau kadang pertanda-pertanda tidak datang dengan berita menggembirakan, bahkan mengabarkan hal yang menakutkan) dan dia telah menyampaikan pertanda-pertanda itu kepada saya. Namun saya memilih untuk mengabaikannya.

Mungkin takdir yang dialami oleh sahabat saya bukan takdir yang ingin dia capai (agak berbeda kasus dengan yang disampaikan oleh paulo coelho). Takdirnya sudah ditentukan oleh Tuhan tanpa bisa ditawar lagi. Mungkin itu juga yang membuat dia sedih saat itu. Namun satu hal yang saya sadari Tuhan telah memberikan pertanda-pertanda tentang takdir masa depannya walau hanya berselang beberapa minggu.

Ketika membaca Sang Alkemis, saya teringat kembali pada peristiwa ini. Saat ini saya berniat untuk lebih peka terhadap pertanda-pertanda. Saya tidak ingin seperti domba-domba gembala yang hanya memikirkan makanan dan air tanpa mengetahui bahwa hari telah berganti, musim telah berlalu, kota-kota telah dilaluinya tapi para domba-domba itu tidak menyadari, karena mereka tidak pernah benar-benar memikirkannya. (Tentang domba-domba itu hanya perumpamaan saja, silakan diinterpretasikan sendiri).

Baca juga: Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan

 

 

Pertanda-Pertanda yang Membawa Takdir Kita

Apakah saya pernah mendapat pertanda-pertanda langsung tentang apa yang akan terjadi terhadap saya di esok hari? Setelah saya mengingat-ingat saya tidak pernah mengalaminya (di awal saya sudah mengatakan kalau saya orang biasa yang memiliki 5 indra, dan saya rasa itu sudah lebih dari cukup).

Namun sejak usia SD, hati saya selalu memiliki keinginan yang terasa tidak mungkin saat itu, tapi ternyata terwujud beberapa tahun kemudian. Setelah itu hati saya memiliki keinginan lain lagi yang saya sadari juga telah terwujud saat ini. Akhirnya saya harus membuat keinginan lagi yang semestinya terdengar mustahil saat ini untuk diwujudkan beberapa tahun lagi, untuk itu saya harus bertanya ke hati saya sendiri. Saya menyadari keinginan-keinginan saya telah membawa saya tinggal di beberapa tempat dan lingkungan yang berbeda, memberi kesempatan menjalin persahabatan dengan banyak orang, membuat hidup saya menjadi kaya (pengalaman maksud saya disini).

Tuhan mengirimkan pertanda-pertanda melalui hati saya dan dengan itu saya berusaha mewujudkan takdir saya. Saya juga beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung saya untuk melakukan apa pun yang ingin saya lakukan.

Baca juga: Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian

 




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Cinderella dan Wanita Masa Kini: Sebuah Dekonstruksi Dongeng


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Layaknya Desserts - The Chronicles of Audy O2 Menjadi Penutup Yang Manis


Malam Minggu Miko Movie - Mockumentary Kegalauan Kaum Muda Indonesia


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Depot Gresik


Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Klayar


Nasib Literasi di Era Digitalisasi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Balada Sebuah Perut


Jalan Setail di Malam Ini