Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan

30 Jul 2015    View : 1915    By : Nadia Sabila


Ada kemauan, ada jalan .... If there's a will there's a way. Slogan itu pasti sudah sering kita jumpai atau kita dengarkan. Saking seringnya, kalau dalam wawancara kerja ada pertanyaan: Apakah moto hidup Anda? Dengan spontan kita akan menjawab moto yang paling sering kita dengarkan, salah satunya, ya, moto "Ada Kemauan Ada Jalan" itu tadi.

kupu

Sepintas, kata-kata tersebut seolah tak bermakna karena terlalu sering diutarakan, tak jarang hanya sebagai formalitas agar setidaknya hidup kita punya moto atau bahkan buat "isi-isian" saja saat menulis kolom moto di buku alumni.

Meskipun menjadi salah satu moto hidup favorit saya, namun saya baru betul-betul menyadari ada "energi" yang tersimpan dalam "If There's a will, there's a way" itu. Tepatnya pada Idul Fitri 1436 H barusan ini, saya seolah mendapat tamparan keras, betapa dalamnya makna slogan itu kala sudah dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

 

 

Kebahagiaan Sekaligus Kebingungan

Ceritanya, saya sedang anjang sana ke rumah Pak dan Bu RT di desa tempat tinggal saya dalam rangka berlebaran tahun ini (2015). Pak dan Bu RT di kampung saya ini, bisa dikatakan, bukan termasuk kalangan ekonomi sangat berpunya, tapi juga tidak miskin, a.k.a "pas-pasan". Rumah mereka kecil dan sangat sederhana, mobil pun tak punya, hanya ada seonggok sekuter butut di depan rumah dan itu pun tampaknya sudah tak bisa dikendarai lagi karena sudah patah. Interior ruang tamu pun biasa saja, hanya segelaran karpet lebar dan cukup tebal, tanpa sofa. Di dinding, terpajang tiga bingkai foto untuk masing-masing anak Pak dan Bu RT dalam tema yang sama: wisuda.

vespaIlustrasi

Dari foto wisuda itulah "tamparan" dimulai. Sambil menyuguhkan minuman dingin dan kue-kue khas Lebaran, dengan bersemangat Bu RT bercerita pada kami bahwa beliau sedang berbahagia sekaligus khawatir. Mengapa? Karena anak bungsunya, perempuan, lolos SNBPTN jurusan Asitektur di salah satu institut teknologi terkemuka Indonesia di Bandung.

Sang Ibu RT yang ekspresif ini tak bisa menutupi betapa bahagia dan bangga dirinya atas pencapaian putrinya itu. Apalagi, hal itu memang sudah cita-cita si anak sejak ia masuk SMA. Lalu apa yang dikhawatirkan? Tak lain dan tak bukan: dana.

Biaya kuliah jaman sekarang yang selangit membuat siapa saja yang berekonomi seadanya harus berpikir dua kali untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pak RT hanyalah seorang penjahit kecil-kecilan, sedang bu RT membantu menambah income keluarga dengan melakukan apa saja yang ia bisa, mulai dari berjualan bumbu di pasar sampai dengan merajut.

Baca juga: Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna

 

 

Kemauan (Will); Jalan (Way)

Bu RT dan Pak RT mengakui keterbatasan ekonomi mereka, tapi mereka sadar, mereka punya "aset" yang tak ternilai harganya dan belum tentu dipunyai seorang konglomerat sekalipun, yaitu anak-anak yang cerdas. Menyadari hal ini, terbitlah "will" dalam diri mereka untuk membalikkan keadaan. Will mereka adalah mencerahkan masa depan anak mereka lewat pendidikan.

sarjanaIlustrasi

"Will" yang dipunyai oleh Pak dan Bu RT ini mendorong mereka untuk membuka "Way". Segala daya dan upaya pun ditempuh demi mendapatkan uang untuk anak-anaknya berkuliah. Beruntung, walaupun hidup pas-pasan, pasangan suami istri ini merupakan orang tipikal orang yang ber-EQ tinggi. Mereka jeli melihat peluang, pandai memanfaatkan waktu, agresif (dalam arti yang positif), dan tak gengsian.

Si Bapak mencari orderan jahit ke sana kemari dan si Ibu dengan lincah belajar merajut saat orderan bumbunya sedang lesu. Mereka pergunakan vespa butut yang mereka punya untuk mencari nafkah. Si Ibu ini bukan tipe ibu yang nerimo begitu saja dengan keadaan, beliau aktif mendekati guru-guru anaknya, rajin menelepon guru-guru dan tak segan-segan memohonkan beasiswa. Namun, tak gengsi bukan berarti tak punya harga diri. Si Ibu tak pernah meminta fasilitas yang langsung "bebas biaya". Mereka menyatakan sanggup membayar, tetapi dengan catatan, pihak sekolah dimohon memaklumi bahwa kemampuan finansial mereka terbatas.

 

 

Energi Dari Sebuah Kemauan

There is a will there is a way pun akhirnya bekerja pada Pak dan Bu RT. Will mereka untuk terus menyekolahkan anak terwujud dengan terbukanya way: pihak sekolah mengapresiasi prestasi putri Bu RT dengan memberikan surat rekomendasi beasiswa ke ITB.

Masalah belum selesai sampai di situ. Satu lagi yang harus mereka pikirkan: biaya hidup sang putri bungsu di Bandung dan ongkos ke Bandung. Dua orang kakak si putri bungsu memang sudah bekerja, tetapi Pak dan Bu RT tak ingin terlalu merepotkan kakak-kakak si bungsu karena mereka sudah berkeluarga. Si Bungsu sempat menawarkan diri untuk bekerja sambilan, namun dilarang oleh orangtuanya karena selama belum ada waktu luang, si anak harus fokus belajar. Mencari nafkah adalah tugas orangtua.

Hanya berbekal keyakinan kuat bahwa "Tuhan Maha Kaya", Pak Bu RT dan si bungsu bertolak ke Bandung dengan kereta kelas ekonomi. Ongkos dan biaya untuk DP kos dan uang kuliah masih berupa hasil berutang. Tetapi, tak disangka, kerja keras Bu RT merajut saat waktu luang di kereta dan di masjid dekat ITB, dilirik orang. Way terbuka lagi: rajutan Bu RT dihujani pesanan.

roketilustrasi

Begitulah. Saya akui, cerita seperti ini memang sudah sangat umum kita dengar dan bahkan dalam berbagai versi yang lebih mengharukan. Namun, terlepas dari sebuah cita-cita yang terwujud, ada energi yang membuah dari hasil keyakinan diri dan kerja keras. Selalu ada jalan untuk sebuah keinginan positif.

Baca juga: Ayah Dan Hari Ayah

 

 

Will To Power; Will To Pleasure

Plato Stanford Education mengutip bahwa filsuf kenamaan Jerman, Friederich Nietzsche, mencetuskan konsep Will To Power (Kemauan Untuk Menguatkan Diri) yang mendeskripsikan apa yang Nietzsche yakini tentang sesuatu yang menggerakkan manusia untuk menciptakan prestasi, ambisi, serta segala upaya untuk mencapai posisi yang tertinggi dalam hidupnya. Itulah yang dimanifestasikan Nietzsche dalam Will To Power. Kontradiksi pada konsep ini memang ada, mengingat konsep ini masih argumentatif. Psikiater terkenal, Sigmund Freud, membantah dengan menciptakan esensi berbeda yakni Will To Pleasure (Kemauan Untuk Menyenangkan Diri).

 

 

Ada Kemauan Ada Jalan, Jangan Menyerah!

Terlepas dari perdebatan para ahli tersebut, saya menyimpulkan bahwa ada energi dalam will. Jangan meremehkan will yang kita punya. Dalam hal ini, saya setuju dengan RJ Rummel dalam bukunya The Dynamic Psychological Field, karena bisa jadi will itu sendiri adalah kekuatan. Tetap semangat dan jangan pernah putus asa. If There's A Will There's A Way, Tuhan akan selalu ada untuk membantu kita, seperti lirik lagu Maher Zein, Insyaallah, Ada Jalan ....

 

 

Gambar header dari fotolia.com




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


The Stolen Years - Yang Dicuri Waktu dari Cinta dan Kita


The Fault in Our Stars - Secercah Kebahagiaan dalam Duka


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Burgerman - Burger Home-Made Khas Surabaya yang Selalu Bikin Ketagihan


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 1)


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Ode Untuk Si Bungsu


Biru, Rindu