Taman Apsari, Keteduhan di Tengah Hiruk Pikuk Kota

10 Apr 2015    View : 5220    By : Niratisaya


Setelah membahas tempat nongkrong di kedai kopi dan teh serta kedai es krim, pada artikel ini saya kembali menawarkan tempat nongkrong di Surabaya berupa tempat terbuka. Alias taman publik.

Kalau sebelumnya saya mengulas Taman Bungkul dan Taman Patung Kuda, kali ini saya akan membahas tentang salah satu taman tertua di Surabaya: Taman Apsari yang terletak di Jalan Pemuda. Artebianz tidak akan kesulitan menemukan taman ini, karena Taman Apsari terletak tepat di seberang Gedung Grahadi.

Jogging track Taman Apsari(salah satu track untuk jogging di Taman Apsari)

Taman Apsari memiliki luas 5.300 meter persegi dan kabarnya memiliki 20 jenis bunga dan tanaman di sana. Namun, bukan itu yang menarik saya untuk mengunjungi taman yang dulunya bernama Kroesen Park ini. Hari itu Minggu. Memanfaatkan waktu yang luang, saya dan seorang teman sepakat untuk bertemu di Perpustakaan Balai Pemuda. Kami sudah terlalu lelah dengan mal dan tempat perbelanjaan, selain kami sedang tidak berminat untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut. Akan tetapi, membayangkan betapa cerah dan menyenangkannya hari tanpa kendaraan bermotor di pusat Surabaya, saya memutuskan untuk berangkat terlebih dulu.

Hanya saja, saya tidak berjalan kaki, Artebianz. Saya mengendarai kendaraan umum. Hehehe….

Yap, meski disebut “car free day”, pada praktiknya jalanan pada hari Minggu di Surabaya masih dijejali dengan kendaraan. Walau tak seramai hari-hari kerja. Saya mengendarai lyn V kemudian menyeberangi jembatan dan sampai di Taman Apsari.

Pagi itu taman dipenuhi dengan arek-arek Suroboyo yang sedang bersantai dengan keluarga atau kawan-kawan mereka. Beberapa sibuk bersepeda, sedangkan yang lain duduk sambil ngobrol dan selfie. Walau SMA saya tidak jauh dari Taman Apsari, saya tidak terlalu sering mengunjungi taman ini. Pertama, karena reputasi negatif yang menempel pada kawasan Taman Apsari pada saat itu. Kedua, karena saya disibukkan dengan kegiatan klub bahasa Jepang dan Korea. Namun, saya takkan pernah lupa rasa soto dan siomay yang sempat saya cicipi di dekat Taman Apsari *menatap langit dan menerawang*

lol

 

 

Lho … kok jadi ngomongin makanan, sih?

 

 

 

Balik lagi ke Taman Apsari. Taman yang berada di kompleks yang berada tepat di pusat Surabaya ini kerap menjadi jujugan para muda dan menjadi tempat beraktivitas, utamanya kala malam tiba.

Taman Apsari Malam Hari(gambar diambil dari keluyuranjalanjalan.blogspot.com)

Kadang, di sore hari pada jam-jam sepulang kerja, saya mendapati anak-anak bermain sepak bola di Taman Apsari. Terakhir, saya bertemu dengan kelompok pecinta anjing yang sedang berkumpul di taman tersebut.

Sebenarnya apa saja keistimewaan Taman Apsari? Kenapa saya menjadikan taman ini sebagai salah satu rekomendasi tempat nongkrong?

 

Satu: Taman Apsari memiliki keteduhan plus lokasi yang strategis

Taman Apsari

 

 

Tidak banyak taman yang memiliki sejarah sekaligus berada berdekatan dengan situs cagar budaya dan tempat keramaian seperti Taman Apsari.

Meski terletak di tengah keramaian kota (hanya beberapa meter dari KFC, McD, mal Tunjungan Plaza, Delta Plaza, dan lain-lain), Taman Apsari menawarkan keteduhan yang membawa kita seolah keluar dari kesibukan Surabaya dan berada di tempat yang secluded, tanpa benar-benar membuat kita terasing. Hal ini membuat Taman Apsari semakin pas sebagai tujuan untuk kegiatan car free day.

Saya memang menyukai Taman Bungkul, tapi setiap kali ada acara car free day, Bungkul selalu penuh sesak dengan berbagai kegiatan. Berbeda dengan Taman Apsari atau beberapa taman lainnya di Surabaya.

 

Dua: Taman Apsari memberikan fasilitas yang pas

Sementara Taman Bungkul memiliki fasilitas wi-fi dan area pujasera, Taman Apsari justru tidak memiliki keduanya.

Lho? Terus kok dibilang memberikan fasilitas yang pas?!

Sebagai manusia yang nyaris selalu terhubung dengan internet dan media sosial, sesekali rasanya kita perlu untuk mengistirahatkan pikiran dan mengembalikan peran ponsel kita sebagai alat komunikasi sederhana. Nah, di Taman Apsari ini kita bisa melakukannya—kecuali untuk mereka yang selalu menyediakan pulsa berlebih untuk internetan dan upload foto di instagram….

Lapangan Sepak Bola

Berkunjung ke Taman Apsari, akan membuat kita fokus pada apa yang ada di sekitar kita. Teman-teman yang kita ajak, aktivitas komunitas yang kita ikuti, kegiatan yang sedang kita jalani, dan tempat yang sedang kita kunjungi.

Di Taman Apsari disediakan jogging track, sebidang tanah luas untuk berolah raga, dan kalau Artebianz ingin bersepeda—jalanan di sekitar Taman Apsari bisa dibilang sepi dari kendaraan. Khususnya di hari Minggu.

Tak ingin makan makanan siap saji? Jangan kuatir, Artebianz. Di sekitar Taman Apsari ada berbagai penjaja makanan. Dari model angkringan, minimarket, kedai kopi, soto, bahkan martabak dan makanan lainnya. Tapi khusus martabak, kedainya baru buka menjelang sore.

 

Tiga: bonus situs cagar budaya yang berada tak jauh dari Taman Apsari

Satu hal lain yang menarik saya untuk mengunjungi Taman Apsari adalah situs cagar budaya Joko Dolog. Saya sudah lama ingin mengunjungi situs ini. Tapi karena tidak ada seorang pun teman yang bersedia menemani, saya pun jadi melupakan niatan saya ini. Sampai akhirnya saya mengunjungi Taman Apsari.

Taman Apsari(Bagian belakang Taman Apsari, jalan yang memisahkan Taman Apsari dengan Situs Joko Dolog)

Mendengar bahwa situs Joko Dolog ada di dalam area taman, saya pun berkeliling Taman Apsari. Tapi nihil. Saya tak menemukan apa pun di dalam taman, kecuali sebidang tanah lapang yang sering digunakan untuk bermain sepak bola. Demikian pula di bagian belakang.

Saya baru menemukan situs ini ketika menyeberangi jalan di belakang taman. Terima kasih untuk informasi yang membuat saya tertipu, teman-teman. Situasi yang nyaris sama antara Taman Bungkul dan Taman Apsari inilah yang kemudian membuat saya membandingkan keduanya. Keduanya berada di tengah keramaian kota dan keduanya memiliki situs cagar budaya.

 

Sejarah Taman Apsari

Tidak lengkap rasanya membicarakan Taman Apsari tanpa menyinggung tentang sejarah yang ada di balik taman ini.
Taman Apsari dibangun bersamaan dengan Gedung Grahadi, yakni pada tahun 1795, atas perintah penguasa tunggal (Gezaghebber) Belanda: Dirk Van Hogendorp. Sebenarnya Hogendorp sudah memiliki kediaman resmi di daerah Jembatan Merah. Akan tetapi, dia menganggap rumah dinasnya tersebut kurang sesuai dengan kedudukannya. Bisa jadi dia juga merasa tersinggung karena harus berada satu wilayah dengan etnis Arab dan Tionghoa yang ada di sana.

Hogendorp pun memilih sebuah lahan di tepi Kalimas dan membuat sebuah rumah taman yang lebih representatif untuk jabatannya sebagai penguasa tunggal. Dia membangun rumahnya menghadap Kalimas dan menciptakan taman di belakang. Jadi, sebenarnya Gedung Grahadi pada awanya menhadap Kalimas (utara) dan Taman Apsari berada di belakang.

Entah apa karena pengaruh Jawa atau bagaimana, pada tahun 1802, arah Gedung Grahadi diubah menghadap selatan, seperti yang kita ketahui saat ini, dan membuat rumah dinas gubernur tersebut berhadap-hadapan dengan Taman Apsari.

 

Gubernur Suryo

 

 

Psst… tahukah Artebianz kalau sebelumnya nama Jalan Pemuda di depan Gedung Grahadi bernama Jalan Gubernur Suryo? Saya menduga ini karena di Taman Apsari terdapat patung Gubernur Suryo, gubernur pertama Jawa Timur.
Kalau Artebianz sempat main ke Taman Apsari, jangan cuma selfie bersama patung Gubernur Suryo. Coba tengok bagian

bawah monument patung dan baca petikan pidato Gubernur Suryo pada tanggal 9 Nopember 1945 di Radio NIROM yang ada di Jalan Embong Malang.

Dalam pidato itu, Gubernur Suryo menyerukan:

“Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.”

Keren, kan, sosok gubernur pertama kita, Arek-Arek Suroboyo

 

Peta menuju Taman Apsari:

peta

 

 

Tempat nongkrong asyik lainnya:


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Nongkrong Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Prisca Primasari's Love Theft Series - He Who Steal Some Love


True Friend Never Die (Meung Gu): Arti Sahabat yang Sebenarnya


Gambaran Cinta dalam Potret Sendu Lirik Lagu Eyes, Nose, Lips Versi Tablo


Baegopa Malang - Ada Harga Ada Rasa


Taman Bungkul - Oase dan Kebanggaan Warga Surabaya


Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Kompleks Candi Arjuna


Deja Vu: Pesta Ketiga WTF Market di Surabaya (Bagian 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Oma Lena - Part 3


Kepada Yang Terkasih