Omahku - Ngobrol dan Nongkrong dalam Kesederhanaan

03 Oct 2015    View : 4090    By : Niratisaya


Sejak zaman dulu, rasanya kebutuhan manusia untuk nongkrong—kalau kata kami warga Surabaya nyangkruk—adalah salah satu hal yang nggak terhindarkan. Kalau dulu nongkrong menjadi ajang bersosialisasi, sekarang acara duduk ngobrol ngalor-ngidul ini berevolusi menjadi ajang menyosialisasikan diri dan membangun citra diri. Cue to sesi selfie dan wefie/groufie.

Actually it’s not a bad thing. Malah sebaliknya, evolusi nongkrong ini bisa membawa berkah dan manfaat bagi tempat-tempat nongkrong itu sendiri. Sampai kita memaksakan diri nongkrong di tempat-tempat tertentu demi status sosial. Yang terkadang justru menghilangkan esensi dari nongkrong; ngobrol ngalor-ngidul dengan nyaman, senyaman berada di rumah sendiri. Which means it’s all about ambiance.

Omahku
Omahku and its simplicity

Demi membuktikan bahwa nongkrong adalah tentang suasana, juga ambisi saya pribadi menyaingi Go Do Yong dan petualangan kulinernya dalam film Let’s Eat, saya pun mencoba beberapa tempat sederhana tapi luar biasa comfy. Dan minggu-minggu ini saya menemukannya di Kedai Omahku yang bertempat persis di seberang POM bensin Jalan Joyoboyo, Surabaya.

Baca juga: Ajibnya Kacang Hijau Ciliwung

 

How Humble Yet Extraordinary Omahku Can Be

Berlokasi di salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda, membuat Omahku memiliki suasana yang sesuai dengan namanya. Tapi bukan itu saja yang membuat tempat ini nyaman untuk nongkrong. Suasana Jalan Joyoboyo yang nggak terlalu padat dengan kendaraan menghadirkan situasi akrab.

Entah mungkin karena baru dirintis, kebanyakan kursi Omahku belum memiliki karakter yang pasti—kecuali mejanya yang menggunakan bahan kayu. Beberapa kursi berbentuk bundar, beberapa lainnya memiliki sandaran layaknya kursi-kursi yang ada di rumah makan. Sedangkan di bagian dalam, yang baru hari ini (02/10) saya sadari sudah dibuka, didominasi oleh furnitur berwarna hitam.

And weirdly, Artebianz, I don’t give a dang about it. Bahkan ketika para pegawai Omahku tidak mengenakan pakaian dengan warna serupa atau memakai seragam.
Yang ada di benak saya adalah how mudda comfy is this place!

Bahkan ketika saya mampir untuk kesekian kalinya. Jadilah saya menobatkan Omahku sebagai salah satu tempat nongkrong asyik—untuk dompet saya dan keberadaan saya sebagai book-eater.

Baca juga: Oost Koffie & Thee - Rumah Kopi dan Teh yang Menawarkan Lebih Dari Kenyamanan

 

Lalu bagaimana dengan menu Omahku?

Seperti suasananya, menu-menu Omahku cenderung humble dan homey dibanding kedai-kedai nongkrong pada umumnya. Alih-alih menyajikan makanan atau minuman yang diadaptasi dari kuliner luar negeri, Omahku menghadirkan menu-menu yang sangat Indonesia.

Sejauh ini saya pribadi sudah mencicipi beberapa menu Omahku: nasi ayam pedas, nasi ayam kecap, sate cecek (kulit sapi), dan sate usus. Dan yang saya favoritkan adalah nasi ayam pedas! Mainly karena saya penyuka makanan yang berani main bumbu dan pedas :D

Nasi Ayam PedasSebuah percakapan di antara dua gelas kopi, seporsi es puter, dan dua piring nasi ayam pedas

Sepiring nasi ayam pedas berisi seporsi nasi, tumis kacang panjang, sambal, dan ayam suwir masak pedas.

Nasi Ayam KecapSeporsi nasi ayam kecap dan segelas teh yang larut dalam malam

Sementara itu, sepiring nasi ayam kecap berisi seporsi nasi, tumis buncis dan wortel yang dipotong kecil-kecil, sepotong ayam masak santan dan kecap, serta sambal.

Yang saya sukai dari menu nasi ayam pedas dan nasi ayam kecap Omahku adalah nasinya yang dimasak dengan bumbu ala nasi liwet dengan beras yang lumayan punel. Thanks to my overly-critic mother I’m quite familiar with all this printilan in any kind of plate that’s served to me.

Aneka Sate
Sebagai sesama orang Asia, kita punya kegemaran yang sama dengan orang Korea

Sedangkan untuk menu sate-sate omahku yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saya nggak menemukan kecocokan di lidah. Sejak kecil saya dibentuk oleh selera kedua orangtua saya yang lumayan kritis dan cerewet soal apa yang mereka cerna dan masukkan ke dalam perut. Untuk satu cecek misalnya, saya terbiasa memakan sate cecek yang dengan bumbu petis dan dimasak pedas. Bahkan ketika si penjual nggak menghadiahi saya bumbu petis-pedasnya, asalkan bumbu cecek dibuat manis-pedas saya sudah bahagia.

Promo Omahku

Sedangkan sate usus, saya menemukan kasus serupa. It’s not my plate of usus.
Untuk jenis sate ala Omahku yang lain saya belum mencicipi sate bakso bumbu pedas, telur puyuh, sosis, dan lain-lain. Mungkin Artebianz yang ada di Surabaya ada kebetulan ada di Kota Pahlawan ini bisa main ke Omahku dan sharing pendapat ;)

Di sisi lain, menu minuman Omahku sama sederhana dengan menu makanan. Ini bisa jadi karena Omahku masih baru dan dalam perkembangan. Saya pribadi merekomendasikan es krim jenis es puter—yang tampaknya jadi primadona di Omahku—dan teh hangat yang cukup terasa daun tehnya.

Omahku menjelang malamOmahku menjelang malam

Baca juga: Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak

 

Omahku Da Final Opinion

Tempat comfy untuk nongkrong sambil ngobrol (cek!)

Tempat nongkrong sambil makan tanpa bikin kantong bolong (cek!)

Tempat nongkrong buat baca atau menggarap pekerjaan (cek!)

Hanya saja… Omahku belum memiliki WiFi dan colokan. Jadi, untuk Artebianz yang pengin pindah kantor dari tempat biasa (rumah/perpustakaan/kantor) sepertinya harus menunggu sampai manajemen Omahku menambahkan dua fasilitas itu.

Saya pribadi nggak terlalu mempermasalahkan absennya WiFi dan colokan di Omahku. Dan sepertinya demikian juga dengan pengunjung Omahku yang lain, karena semakin malam kedai ini malah semakin ramai!

Bisa jadi, Omahku adalah jawaban Surabaya terhadap tuntutan para kawula muda atas kebutuhan nongkrong, sembari mempertahankan kesederhanaan khas Suroboyo yang tersohor dengan karakternya yang nggak mengenal basa-basi.

Punya tempat nongkrong yang serupa dengan Omahku? Boleh banget bagi-bagi di sini, Artebianz! :D

Baca juga: Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia

 

Alamat  Jl. Joyoboyo 46 Surabaya
Jam operasi

 15.00 - 02.00

Harga  Rp2.500,00 sampai Rp9.000,00
Pembayaran  tunai

 

Rating Omahku:

Rating Makan


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Nongkrong Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Cinderella dan Wanita Masa Kini: Sebuah Dekonstruksi Dongeng


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Priceless Moment - Yang Disisakan Waktu Ketika Ia Berlalu


The Imitation Game - Menginspirasi Banyak Orang Tentang Makna Perbedaan


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Soto Khas Lamongan Di Pandean, Ngoro


Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Banyu Tibo


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya, Gol A Gong, dan Tias Tatanka


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Interaksi di Galaksi


Nyata dan Ilusi