Sang Wanita Dan Kuburan Rasa

10 Apr 2015    View : 1346    By : Nadia Sabila


Dua jam menuju tengah malam, sang pria mendekati sang wanita ..

Sang wanita, tidakkah kau kesepian?
Tidak,

Masih hadirkah bayangnya?
Sudah tidak,

Syukurlah, akhirnya
Mengapa?

Aku telah lama terjerat dalam penantian, tidakkah kau merasakannya?
Ya, terkadang,

Baiklah, mari kita mulai.
Belumkah dimulai? Kukira selama ini kau hanya menghentikannya sementara,

Kita mulai lagi, untuk saat ini aku dan kau.
Untuk apa? Aku sudah nyaman dengan kita biasanya.

Sekarang aku ingin lebih dari itu.
Kau memintanya padaku? Kau sudah punya dia.

(Diam). Tak ada dia. Aku sendiri.
(Tertawa) Kau hanya datang padaku ketika kau sedang kecewa padanya.

Aku sungguh-sungguh, aku haus.
Aku kenal kau sudah lama. Kau berkata tak ada dia, agar aku memberimu.

Baiklah, maukah kau menjadi dia untukku?
Sudah kuduga. (Hening lama)

***

Jadi maukah?
Tidak.

Kau menolakku untuk kesekian kalinya.
Karena tingkahmu meminta penolakan.

Bercintalah denganku.
Tidak. Kau dan aku bukan apa-apa.

Tak bisakah tanpa apa-apa?
Tentu tak bisa.

Kau payah.
Terserah.

***

Ayolah. Aku tak bisa terus merayumu.
Aku tak minta dirayu.

Sulit sekali memintamu.
Kau pantang menyerah.

Ayolah, aku membutuhkanmu, kita lakukan layaknya biasa
Bagaimana?

Tak ada cinta, tak ada sayang, tak ada terbawa perasaan.
Jadi kau berpikir aku seperti itu?

Aku suka kau karena seperti itulah kau di mataku.
Kau menghinaku. Bagaimana jika nantinya aku jatuh cinta padamu?

Tidak. Kau tak pernah mencintaiku. Tak akan pernah.
Seyakin itukah kau? (kau kira aku sekaku itu? Lakukanlah dengan lembut sebetulnya aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu)

Aku yakin. Mari kita mulai percintaan ini. Aku butuh kau.
Aku kasihan padamu.

***

Terimakasih. Akhirnya kau mau.
Kini kau sudah tahu, kuharap kau tak akan pernah memintanya lagi.

Aku akan memintanya lagi. Aku belum mendapat cintamu sepenuhnya.
Kau akan mencampakkanku setelah kau dapat sepenuhnya.
Tentu tak begitu.

***

Sang pria pergi. Tampak punggungnya melalui jalan pintas. Sang wanita mengikuti dalam diam tanpa sang pria tahu. Sang wanita menyaksikan, sang pria memadu cinta dengan dia yang lainnya, di jalan pintas.

Dalam benak sang wanita:
Jadi inilah sebabnya. Baiklah aku cukup tahu, kau masih keji seperti dahulu. Datang saat membutuhkan manis, lalu mencampakkan sepahnya. Rasa yang sudah kukubur lama kau gali lagi, tapi tak kau entaskan sepenuhnya dari tanah. Lalu aku pun kembali menguburnya sendiri, tapi kau gali lagi. Selalu begitu. Dan kali ini, akan kukubur selamanya dan jangan pernah lancang menggalinya lagi. Jalan pintas telah menjadi saksiku. Aku putuskan untuk membencimu.


Selamanya.

wanita_kuburan




Puisi Artebia lainnya:




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Kuntum-Kuntum Surga - Para Wanita Mulia


Gone Girl - Ketika Cinta Berakhir, Yang Tersisa Hanyalah Kematian


Keep Being You - Isyana Sarasvati


Kenikmatan Sederhana dalam Semangkuk Mi Ayam Seorang Pedagang Kaki Lima, Surabaya


Taman Patung Kuda Gunung Sari - Taman Segala Usia


Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa


The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Nyala Lilin yang Menerangi Wanita Itu di Kala Malam


Sajak Orang Rantau