Dor!

28 May 2016    View : 960    By : Aya Murning


Mendung menyelimuti wajah sendu

Tetes demi tetes bercampur asa suram

Ia tak ingat pipinya basah karena hujan

Ataukah itu linangan dari rasa pilu

Ia tak tahu

 

Belasan tahun bertahan menarik diri

Sayang disayang karena hatinya duluan mati

Riak gemercik suara air di loteng meredam gemuruh di dada

Kini hanya kepulan asap putih meliuk menari dari bibir birunya

Ia benci keadaan

 

Monster gila pernah menyelinap menerkam badan

Berdua bergelimpang saat ditinggal ibunda tersayang

Tak kuasa dirinya melawan pergumulan liar dalam kamar

Hanya satu yang ingin ia lantangkan, "bunuh saja aku"

 

Tapi tak bisa

Rintih sesenggukan memutus pita suara

Telapak kotor itu membungkam bibir serta wajah

Pasrah menunggu si gila memenuhi gelegak nafsu

Ia cuma bisa membatu

 

Demi bunda, ia membisu

Demi tawa bunda, ia rela disayat sembilu

Demi bahagianya bunda, ia tetap tertawa

Demi senyum bunda, ia pura-pura bahagia

Ia pandai bersandiwara

 

Tak sanggup deraan fisik dan batin makin bercokol di liangnya

Monster biadab itu telah merobek-robek mahkotanya tanpa ampun

Telunjuknya mulai gatal ingin menarik pelatuk

bang!

Dhuuaaarrr!

Denting peluru menggelinding menyusuri lantai keramik

Tebak saja siapa yang terkapar

Monster gila atau dirinya?

 

 

Palembang, 7 Mei 2016

12.55 WIB

© Aya Murning




Aya Murning

Aya adalah seorang gadis dengan rasa nasionalisme yang hobi membaca berbagai macam buku, khususnya novel.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Everlasting - Terkadang, Ada yang Tak Bisa Dihapus Waktu


Pee Mak Phra Khanong (พี่มาก..พระโขนง): Cinta Tanpa Batas


Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa


Napak Tilas Aliran Lahar Gunung Merapi: Lava Tour Merapi


POPCON Asia Surabaya: City of Superheroes


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Satu Kali Seminggu