Dua Windu Lalu, Lewat Hening Malam

30 Oct 2016    View : 696    By : Niratisaya


Dua windu yang lalu aku menerbangkan rindu bersama kenanganmu
Lewat hening malam
dan riuh kendaraan

Namun kau membalasnya dengan bisu.

Entah karena jalanan yang kita lewati bersisipan,
atau karena ruang kita tak lagi
bersebelahan.

Saat aku berada di rangkum malam
Kau bergumul dengan peluh di siang
Ketika aku mengusap penat di bawah mentari
Dalam gelung malam kau menyesap anggur,
entah berdua,
entah sendiri.

Aku takkan pernah tahu
Kau takkan lagi berbagi denganku.

Gumam senyap ini ada
Mungkin karena kita lihat mulai berlainan, dan
mereka yang kita temui tak sama
Kau pun perlahan
tak lagi paham bahasa cinta
tak lagi mengerti kata rindu.

Ataukah apa yang ada
di antara kita
ada karena kita menyesap cerita
dari lembaran kehidupan dengan bahasa yang berbeda?

Entah.

Lagi-lagi aku bergumul dengan kata itu.

Tak perlu kau kuatir
Aku tak pernah menjadi getir,
karena kita tak mengenal kata "tunggu"
Bahkan, dia tak pernah terlontar di hari itu.

Kini,
sewindu sekali lagi berlalu,
Dan kau kembali
memahami bahasa cinta dan sepatah kata rindu

Biarkan semua waktu yang lalu
tandas
menjadi abu
terbang dan lepas

Sehingga aku berhenti menghitung windu
dan kau
tak perlu lagi coba memahami cinta dan rindu

 

 

 

Your sip of wine,

A drip of coffee in mine.

 

 

Surabaya, 

Niratisaya

(2706301016)


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Aku Ingin Tahu #1: Jawaban dari Ratusan Pertanyaan


Goblin: The Lonely and Great God


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Mojok dan Makan Mi di Pojok II, Perak, Jombang


Heerlijk Gelato


Teluk Hijau Banyuwangi


Nasib Literasi di Era Digitalisasi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Cita-Cita Dirgantara


Satu Kali Seminggu