Dua Windu Lalu, Lewat Hening Malam

30 Oct 2016    View : 1108    By : Niratisaya


Dua windu yang lalu aku menerbangkan rindu bersama kenanganmu
Lewat hening malam
dan riuh kendaraan

Namun kau membalasnya dengan bisu.

Entah karena jalanan yang kita lewati bersisipan,
atau karena ruang kita tak lagi
bersebelahan.

Saat aku berada di rangkum malam
Kau bergumul dengan peluh di siang
Ketika aku mengusap penat di bawah mentari
Dalam gelung malam kau menyesap anggur,
entah berdua,
entah sendiri.

Aku takkan pernah tahu
Kau takkan lagi berbagi denganku.

Gumam senyap ini ada
Mungkin karena kita lihat mulai berlainan, dan
mereka yang kita temui tak sama
Kau pun perlahan
tak lagi paham bahasa cinta
tak lagi mengerti kata rindu.

Ataukah apa yang ada
di antara kita
ada karena kita menyesap cerita
dari lembaran kehidupan dengan bahasa yang berbeda?

Entah.

Lagi-lagi aku bergumul dengan kata itu.

Tak perlu kau kuatir
Aku tak pernah menjadi getir,
karena kita tak mengenal kata "tunggu"
Bahkan, dia tak pernah terlontar di hari itu.

Kini,
sewindu sekali lagi berlalu,
Dan kau kembali
memahami bahasa cinta dan sepatah kata rindu

Biarkan semua waktu yang lalu
tandas
menjadi abu
terbang dan lepas

Sehingga aku berhenti menghitung windu
dan kau
tak perlu lagi coba memahami cinta dan rindu

 

 

 

Your sip of wine,

A drip of coffee in mine.

 

 

Surabaya, 

Niratisaya

(2706301016)


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Intertwine - Takdir Yang Berjalin


5-ji Kara 9-ji Made - Apa Jadinya Kalau Biksu Jatuh Cinta Pada Guru?




Mirota dan Segala yang Berbau Jawa


Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya - Perpustakaan Umum Senyaman Perpustakaan Pribadi


Goa Lawah Nan Berselimut Sejarah


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya, Gol A Gong, dan Tias Tatanka


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Balada Sebuah Perut


Menjelang Telah Tiba Datang