Delirium, Sebuah Pengintaian Betina

10 Oct 2017    View : 41    By : Achmad Hidayat Alsair


Delirium

 

Kuterbangkan peluhku menjauhi terik

dia ditangkap, menguap tanpa perlawanan

Bertolak tanpa busana untuk membeli akal sehat

dari pabrik kegilaan bernama ibukota

Lidah terlalu kelu, hasil ritual kelaparan

memanggil-manggil juru masak dalam bahasa kaum pertama

Mitos sarang asal bunyi desis dan klakson

termanis setelah menghafal nama obat penenang

Menjadi tawanan yang dilarang buang air

setelah karat rantai kukatakan sebagai tinja matahari

 

(Makassar, Oktober 2016)

 

 

 

Sebuah Pengintaian

 

Melihat potretmu berkali-kali, segurat senyum bertaut di dua sisi pipi tirus

sebagian garis bibir telah larung, lihai tenggelam, asin dan abadi

Aku lelaki tanpa nyali. berdiri gentar ditantang parasmu

engkau terlalu nyala, bara hitam dari kornea

Aku mengintai dari ribuan hasta, maka mohon tetaplah semayam di saku celana

doa dan mata-mata mungkin belum terbayar

 

(Kaluppini, Agustus 2016)

 

 

 

Kepada Betina

 

Kuingin kumis liarmu itu jadi alibi dari setiap rencana tindak gegabah 

Hilang niat mencegah pertengkaran justru lebih hati-hati rumuskan gurau

Ada permainan mencakar sebelum menuju ritual perkawinan tanpa cinta

Nah, siapa yang paling sering terjaga? Katamu “Mungkin aku, yang setia menunggumu pulang”

 

(Kaluppini, Juli 2016)


Tag :


Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair seorang mahasiswa tingkat akhir di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin Makassar.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Khokkiri Layaknya Dark Chocolate yang Menawarkan Kisah Manis Sekaligus Gelap dan Pahit


Pee Mak Phra Khanong (พี่มาก..พระโขนง): Cinta Tanpa Batas


Gambaran Cinta dalam Potret Sendu Lirik Lagu Eyes, Nose, Lips Versi Tablo


Mirota dan Segala yang Berbau Jawa


Matcha Cafe: Curhat Ditemani Olahan Green Tea Nikmat


Melihat Sisi Lampau Surabaya Di Museum Surabaya


Pasar Seni Lukis Indonesia 2015


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Oma Lena - Part 3


Setitik  Tuba