Single Ville - Potret Kehidupan Para Lajang

03 Feb 2015    View : 3029    By : Amidah Budi Utami


Ditulis oleh  Choi Yun Kyo
Diterbitkan oleh  Haru
Diterjemahkan oleh  Krisnadiari
Disunting oleh  K.P. Januwarsi
Diterbitkan pada  Desember 2014
Proofreader oleh  Dini Novitasi Sari
Ilustrator isi oleh  Angelina Setiani, Frendy Putra
Genre fiksi, adult, romance, drama, suspense
Jumlah halaman  308
Nomor ISBN  978-602-7742-43-7
Harga  IDR65.000,00
Rating:  4/5

 

Di Tempat Ini Apa pun Mungkin Terjadi!
Kecuali Percintaan

Apakah Anda sudah lelah akan cinta?
Apakah Anda sudah bosan hidup Anda diganggu orang lain?
Inilah Single Ville, sebuah cottage yang modern
Syaratnya hanya satu: single!
Mulailah sekarang juga, kehidupan yang menyenangkan tanpa cinta.

Enam orang yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, akan menjadi penghuni Single Ville. Mereka adalah orang-orang yang terpilih melalui persaingan ketat dengan tingkat persaingan 1:1000. Akan tetapi, yang menanti mereka di tempat itu bukanlah kehidupan yang tenang. Setiap hari berbagai peristiwa aneh dan misterius menimpa orang-orang yang memimpikan kehidupan lajang yang indah. Mulai dari jendela yang pecah, seorang penguntit meninggalkan tulisan aneh di kamar mandi, tersangka pembunuhan yang berkeliaran, dan... pelanggaran peraturan utama Single Ville.

Akankah mereka menikmati ketenangan yang mereka dambakan? Lalu siapakah yang nantinya akan menerima hukuman karena jatuh cinta?

 

Sebelum saya mereview novel Single Ville, saya ingin mengucapkan selamat kepada sahabat sekaligus partner saya Kak Niratisaya/KP Januwarsi atas terbitnya novel ini. Dia adalah editor novel romantis ini. Saya selalu antusias terhadap apa pun yang sedang dia kerjakan. Saya sudah tidak sabar untuk menikmati hasil karyanya. Congratulation Mbak, I love this one!

Meskipun ada "campur tangan" orang dekat dalam proses produksi Single Ville, saya akan tetap memberikan review objektif pada novel karya Choi Yun Kyo ini. Saya ini orangnya sportif ngomong-ngomong.

 

Sinopsis Single Ville

Novel pemenang Kyobo Purple Romance Competition 2013 ini menceritakan kehidupan para manusia lajang yang mendambakan kehidupan damai di sebuah perkampungan eksklusif bernama Single Ville. Sebuah komplek yang terdiri dari 6 cottage yang didesain sesempurna mungkin. Single Ville terletak jauh dari hingar-bingar kota, berada di tepi bukit dan di tengah-tengah hutan birch putih. Jika Artebianz belum pernah melihat pohon birch silakan browsing di internet.

Saya juga baru tahu setelah membaca novel Single Ville.

Apakah Artebianz sudah bisa membayangkan penampakan Single Ville? Seorang konglomerat menghadirkan Single Ville untuk para lajang yang ingin menikmati kesendirian tanpa ada interupsi orang lain.

Enam orang dari berbagai latar belakang berbeda bersedia pindah dari tempat tinggal sebelumnya. Mereka adalah seorang perempuan kaya raya yang tegas dan mandiri, pendongeng yang benci keributan dan ketidakbecusan, seorang polos yang tidak tahu cara hidup mandiri, seorang pemuda yang sedang tergila-gila pada kekasihnya yang justru meninggalkannya, seorang pensiunan yang ternyata masih punya obsesi yang belum tercapai, dan seorang gay.

Diantara 6 orang tersebut, ternyata memiliki masa lalu yang saling berkaitan. Hingga peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Single Ville membuka satu per satu rahasia para penghuninya. Rahasia yang membuat shock para penghuni lainnya juga Anda para pembaca sekalian.

Banyak terjadi peristiwa yang menegangkan di novel ini sehingga novel ini tergolong cerita bergenre suspense. Sayangnya, saya tidak bisa bercerita banyak karena hal ini bisa-bisa saya membuka rahasia yang akan membuat Artebianz terkesan saat membacanya nanti.

Baca juga: Supernova 1: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh

 

Impresi Saya terhadap Single Ville

Single Ville adalah novel Korea pertama yang saya baca. Membaca novel ini seperti sedang menonton drama Korea. Karakter tokoh serta dialog yang digunakan pun mengingatkan saya pada drama Korea yang pernah saya tonton secara maraton. Saya merekomendasikan Single Ville bagi Artebianz yang demam K-Pop.

Di bagian awal novel ini saya agak kesulitan memahami cerita karena banyaknya tokoh yang terlibat ditambah lagi penamaan Korea yang masih asing dibenak saya. Untungnya, di halaman depan novel ini terdapat ilustrasi wajah yang dilengkapi dengan nama, umur, serta pekerjaan para tokoh penghuni Single Ville. Ilustrasi ini sangat membantu saya. Mulai dari bagian awal novel sampai pertengahan saya masih membolak-balik bagian ilustrasi untuk mencocokan nama tokoh dan ilustrasinya. Baru di bagian tengah sampai akhir saya bisa memahami jalan cerita tanpa mencontek. Saya pembaca yang cukup parah ternyata.

Ada beberapa hal orisinil yang membuat saya terkesan dengan novel ini. Mungkin  hal ini yang menjadi pertimbangan para juri Kyobo Purple Romance competition untuk memenangkan novel ini:

Pertama, Saya terkesan dengan masa lalu Go Seong Min mantan detektif andalan kepolisian. Go Seong Min masih mempunyai satu utang pribadi pada pekerjaannya. Dia belum berhasil menangkap pembunuh berdarah dingin. Pembunuh ini mengincar para gadis yang sedang sendirian. Dicurigai motif pembunuhan adalah sekadar untuk memuaskan jiwanya yang haus akan darah para gadis. Selama hidupnya, Go Seong Min tidak dapat tinggal dengan tenang di cottage Single Ville layaknya para pensiun lainnya. Hingga Go Seong Min bertemu dengan seseorang yang mirip pembunuh itu tinggal di sana.

Kedua, saya terkesan dengan konflik batin yang terjadi antara Choi Yun Seong dan Kang Hyeon Ah di suatu malam saat adik Hyeon Ah menghilang. Sebuah tatapan kebencian yang dipancarkan Kang Hyoen Ah kepada Choi Yun Seong bisa berarti segalanya. Tatapan itu lebih besar artinya dari segala keributan atau pertengkaran mereka, dan menghancurkan segala kepercayaan Choi Yun Seong kepada Hyoen Ah yang dibangun sedikit demi sedikit. Di dalam novel Single Ville saya bisa melihat bagaimana sebuah tatapan lebih dahsyat dari segala bentuk konflik yang mungkin terjadi. Salut untuk Choi Yun Kyo!

Ketiga, saya menyukai desain cover novel ini, terlihat cerah dan hidup. Bentuk huruf yang digunakan untuk menulis "Single Ville" di cover-nya sangat pas. Saya juga menyukai ukuran buku yang lebih lebar dibanding novel-novel pada umumnya.

Keempat, saya terhibur oleh jalinan romansa Choi Yun Seong dan Kang Hyeon Ah, terutama di bagian akhir novel. Seperti kisah romansa pada drama-drama Korea yang semanis cokelat.

Selain beberapa hal yang mengesankan, saya ingin menyampaikan beberapa kritik. Menurut saya novel ini belum matang dibeberapa hal:

Pertama, latar belakang tokoh yang saling berkaitan ini agak tidak wajar menurut saya. Kalau ada satu atau dua hal yang kebetulan saya tidak akan keberatan. Namun kalau sudah hitungan empat atau lima hal yang terjadi kebetulan itu cukup mengganggu saya. Atau mungkin ini salah satu kelebihan Choi Yun Kyo, menjadikan para tokohnya saling berhubungan. Hal semacam ini perlu kecerdikan khusus.

Kedua, beberapa penghuni Single Ville tidak menginginkan kehidupan lajang bahkan sejak awal mereka memasuki Single Ville. Orang yang saya maksud ini adalah Jeong Geon Woo yang ingin hidup bertetangga dengan kekasihnya dan Lee Jeong Hyoek yang sedang menyembunyikan hubungan cinta terlarangnya. Saya jadi meragukan proses seleksi penghuni Single Ville. Jeong Mi In sebenernya niat nggak sih membangun Single Ville ini? Rasio 1:1000 jadi terdengar berlebihan.

Apakah Artebianz tertarik membaca novel ini selengkapnya? Mengenal Choi Yun Seong, Kang Hyoen Ah, dan teman-teman lebih dekat lagi? Segera dapatkan di toko buku terdekat.

Baca juga: The Wind Leading To Love

 




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


The Fault in Our Stars - Sebenarnya Ini Salah Siapa?


Crazy Little Thing Called Love: Dari Itik Si Buruk Rupa Menjelma Menjadi Snow White yang Sesungguhnya


Sugar - Maroon 5: Kejutan Manis Di Pesta Pernikahan


Goyang Kaki Dan Goyang Lidah Di Lontong Kikil Bu Dahlia


Burgerman - Burger Home-Made Khas Surabaya yang Selalu Bikin Ketagihan


Ledok Ombo Campground - Poncokusumo Malang


Literasi Agustus: GRI Regional Surabaya - Muda untuk Sastra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Cita-Cita Dirgantara


Pupus, Hanyut, Lepas