Khokkiri Layaknya Dark Chocolate yang Menawarkan Kisah Manis Sekaligus Gelap dan Pahit

07 Mar 2015    View : 2430    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Lia Indra Andriana
Diterbitkan oleh  Haru
Disunting oleh  O. Lydia Panduwinata
Sampul didesain oleh  Saiful Rohman
Diterbitkan pada Juli 2011
Genre fiksi, psikologi, thriller, dark-drama, romance, young adult, suspense
Jumlah halaman  308
Nomor ISBN  978-602-9832-51-8
Harga IDR46.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi


“Kusimpan seuntai kenangan abadi tentangmu”

Becca. Adriel Jo. Richard. Della. TOP. Lucie.
Penulis. Fotografer. Dokter. Penerjemah. Blogger.
Teman. Saudara. Kekasih. Tunangan

Mereka telah mengikrarkan kesetiaan untuk tak saling melupakan. Namun, kenyataan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan memori, tak dapat diubah.

Meski ego mereka bersikeras tak ingin dilupakan, namun ketika salah satu dari mereka harus menghilang dari kehidupan orang terdekatnya, semua memori yang telah dirajut dan disimpan seolah tidak pernah ada.

Adakah jalan bagi memori itu untuk kembali?

Benarkah memori yang tersimpan itu tidak akan pernah pudar seperti janji setia yang mereka ucapkan?


Impresi Saya terhadap Khokkiri

Khokkiri adalah salah satu karya Lia Indra Andriana yang saya sukai dan kagumi. Selama ini Andriana lebih terkenal sebagai penulis untuk novel bergenre drama-romance-comedy, tapi begitu saya membaca Khokkiri saya yakin Andriana bisa melebarkan sayapnya ke genre mana pun yang ia inginkan. Tak peduli apakah itu drama (Marrying AIDS) atau fantasi (seri SeoulMate).

Saya tahu tentang novel kedua belas Andriana ini dari blognya (multiply), yang saat ini sudah tutup dan berubah menjadi toko online. Saat itu Andriana masih bermain-main dengan ide tentang novel berlatarkan psikologi. Saya masih ingat betapa menakjubkan dan berbedanya gagasan Andriana tersebut. Dan ketika novel yang kemudian ia beri judul berdasarkan hewan dengan ingatan kuat ini diterbitkan, saya benar-benar dibuat kagum setengah hidup pada kepenulisan Andriana.

Begitu kagumnya, saya tak memedulikan perkara sampul Khokkiri yang tidak glossy atau mewah maupun gambarnya yang sederhana. Saya justru merasa dalam kesederhanaannya, Khokkiri menyembunyikan sesuatu yang luar biasa Smile

Khokkiri aka gajah

Baca juga: SeoulMate - Menemukan Belahan Jiwa di Seoul

 

 

Bagian per Bagian Khokkiri

Ada banyak bagian-bagian Khokkiri yang menarik untuk dibahas. Namun, karena keterbatasan space, saya bisa menghabiskan satu halaman penuh untuk itu, saya nggak akan membahas semuanya Artebianz. Hanya beberapa detail saja yang menurut saya menarik dan perlu Artebianz ketahui sebelum membeli novel ini.

 

Karakterisasi Para Karakter Khokkiri

1.    Si Kembar Becca dan Della

Menjadi nomor satu di daftar karakter tentu saja adalah sebuah isyarat bahwa Becca dan Della adalah duo yang membuat bola cerita dalam Khokkiri menggelinding. Layaknya anak kembar pada umumnya, Becca dan Della adalah sosok yang memiliki penampilan fisik serupa dan kepribadian yang berbeda. Selain itu, persamaan sekaligus perbedaan keduanya juga tercermin pada pekerjaan mereka.

Let’s just start from Becca (Rebecca), Artebianz.

Becca adalah seorang penulis sekaligus moderator untuk media sosial sebuah perusahaan iklan bernama Hallam Advertising. Becca, yang dinilai memiliki kemampuann menulis yang kreatif, akhirnya dianggkat menjadi pekerja tetap (hal. 7).

Entah apakah karena sebagian besar pekerjaan Becca tidak terlalu menuntutnya untuk berinteraksi dengan banyak orang—kecuali lewat jalur maya, ia pun tak terlalu pandai mengungkapkan emosi atau perasaannya. Hal ini tampak jelas pada adegan berikut:

“Kamu mabuk,” tembak Adriel.
Becca menggeleng dengan gerakan lambat. “Memang sengaja.”
Adriel menunggu Becca melanjutkan kalimatnya, “Kau tahu, alkohol selalu tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pintar bicara jadi aku minta temanku ini, si soju yang pahit, untuk membantuku.”
“Apa yang ingin kamu katakan? Kamu tahu kamu bisa mengatakan apa saja padaku… atau lewat blogmu,” ucap Adriel, terdengar khawatir (hal. 112).

Di adegan tersebut, lewat ucapan Becca dan kata-kata Adriel, tampak bahwa selama ini Becca mengalami kesulitan untuk mengekspresikan emosi dan perasaannya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis blog dan menceritakan pada siapa pun yang ada di dunia maya, mengenai kejadian dalam kesehariannya. Atau, seperti yang sengaja dilakukan Becca ketika ia merasa ia harus menyampaikan sesuatu secara langsung, ia menggunakan alkohol agar membebaskan dirinya dari segala beban pikiran, yang mencegahnya untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas.

Atau dalam hal ini mengekspresikan perasaannya pada lelaki yang mengganggu pikirannya: Adriel.

Di sisi lain, Becca sadar benar mengenai kekurangannya ini seperti yang tertera pada kutipan. Meski demikian, Becca tampak tak mau lebih jauh memperbaiki sifatnya tersebut. Paling banter Becca mengekspresikan perasaan dan pikirannya lewat blog. Ada apa sebenarnya dengan Becca? Apa yang melatari sikap antisosialnya?

Saudara Kembar

Nah, sekarang mari membahas sosok saudara kembar Becca yang seratus persen berbeda: Idela alias Della. Ingat Artebianz, DELLA. Bukan BELLA (and mind you, Artebianz, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan vampir vegetarian atau dicintai seorang werewolf).

Berbeda dengan Becca yang berpikir puluhan kali sebelum mengatakan atau bertindak sesuatu, Della lebih straight forward dan mengerti apa yang dimauinya.

Sunggingan senyum menawan yang sudah lama tidak ia berikan kepada laki-laki manapun akhirnya ia tampilkan. Ada seseorang yang memperhatikannya, sensasi lembut ini membalut tubuhnya dengan hangat. Tidak akan ia lepas. I need this. No, I want this.
“A fine dinner will pay it all.” Suara Della terdengar lembut, namun menggoda. (hal. 19)

Dari kutipan di atas terlihat jelas betapa berbeda sifat dan sikap si kembar. Bagi Becca dibutuhkan 112 halaman untuk tahu dan menetapkan sikap atas lelaki yang sudah mengganggu harinya di halaman pertama (satu hal yang tak jauh berbeda dari apa yang terjadi antara Della dan Richard). Not to mention Adriel dan Becca telah saling kenal sebelumnya. Sementara itu, Della hanya butuh beberapa halaman saja untuk memastikan bahwa Richard adalah sosok yang tak boleh ia lepas begitu saja. Betapa pun lelaki itu telah meninggalkannya begitu saja, sedangkan mereka punya perjanjian, dan membuat suasana hatinya buruk.

Tanpa ragu Della menunjukkan apa yang (mungkin) tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain: sebuah senyum yang berarti ajakan untuk mengenal sosok Della lebih jauh secara pribadi. Walau toh, lelaki baru beberapa hari dikenal Della.

Satu hal yang menarik perhatian saya saat membalik halaman demi halaman novel Khokkiri adalah saya mencurigai bahwa tidak satu pun dari dua saudara ini yang mengetahui keberadaan yang lain. This piques my curiosity of these sisters.

Apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya?

Apa mereka saling bermusuhan?

Atau salah satu di antara mereka mengalami insomnia dan hidup dengan keluarga lain? Cue lagu Sorry, I Love You

Dan percayalah Artebianz, khususnya mereka yang sudah membaca karya Andriana yang lain, kalian tidak akan menyangka apa yang kalian temukan nanti saat membaca Khokkiri.

Baca juga: (Not) Alone In Otherland - Sendiri, Bukan Berarti Sendirian 

2. Lucie

Tak jauh berbeda dengan Becca dan Della, Lucie adalah seorang wanita dengan profesi sebagai penerjemah. Namun tidak seperti Becca yang diterima bekerja di perusahaan iklan atau Della yang menjadi interpreter untuk orang-orang penting, Lucie hanya bekerja sebagai penerjemah lepas—meski ia dipekerjakan di sebuah perusahaan. Ini karena Lucie tidak memiliki selembar kertas yang membuktikan bahwa dia adalah seorang penerjemah.

Tapi, berbalik dengan keprofesionalan Lucie yang dipertanyakan oleh kantornya, saya tidak mempertanyakan kekuatan karakter satu ini. Although she’s not the lead, but I’m convinced that she’s the lady in this story, Artebianz.

Lucie langsung menutup mulut. Tanpa banyak bicara ia langsung angkat kaki. Percuma bicara dengan pria bodoh. Buang-buang waktu saja. Ia tidak akan membuang tenaganya untuk merayunya, meski pria itu sungguh menggiurkan. Seandainya otaknya seimbang dengan tampangnya. (hal. 25)

Kutipan di halaman 25 itu menjelaskan betapa dominannya sosok Lucie yang dalam Khokkiri hanya ditampilkan sebagai supporting character dengan sifat irinya pada Della. Dari beberapa sudut pandang tertentu Della dan Lucie tampak berbagi sifat yang sama. Mereka sama-sama straight to the point—you know this Artebianz dari sikap Lucie yang meninggalkan gebetannya begitu tahu otak lelaki itu tidak seindah penampilan fisiknya. Perbedaan keduanya mungkin adalah pada sikap Della yang lebih classy dan tidak semudah itu flirting dengan orang yang baru pertama kali ditemui.

Secara pribadi saya menyukai karakter ini. Ia selalu bisa mencuri perhatian saya tiap kali ia muncul.

3.    Adriel Jo

Adriel adalah salah karakter favorit saya dalam Khokkiri dan dalam sejarah kepenulisan Andriana—bahkan setelah perempuan kelahiran Ponorogo menelurkan How I Do It.

Adriel Jo memiliki sifat yang cukup unik. Sekilas ia terlihat sombong, tapi ia juga polos, sekaligus romantis. Sebuah kepribadian yang cukup kompleks dalam sosok lelaki yang sederhana. Hal ini terlihat pada adegan saat Adriel mempertanyakan ketakutan Becca atas hubungan mereka berdua, karena seorang temannya menyukai Adriel.

“Mengapa tak boleh?” tanya Adriel.
Becca mendesah jengkel. “Feli suka kamu. Dia mengenalmu lebih dulu dibanding aku. Dia juga mengatakan padaku, dia suka kamu.  Dan  aku, tiba-tiba mengambilmu darinya. Oke, ada yang tidak kamu mengerti? Ini namanya pengkhianatan,” tandas Becca.
“Aku bukan barang.” Satu kalimat pendek dari Adriel yang jelas sekali. (hal 145)

Memilih antara kekasih dan teman yang menyukai kekasih. Ini adalah salah satu masalah simpel yang selalu mengganggu pikiran perempuan. Apakah dia pantas mengumumkan hubungannya dengan si kekasih, sementara temannya jelas-jelas mengatakan bahwa dia menyukai lelaki itu. Plus ia mengenal lebih dulu lelaki itu. Secara otomatis, memberi si teman ini privilege untuk mendekati lelaki itu.

Namun, Adriel dengan pemikiran sederhana dan polosnya menentang paham semacam itu dengan tiga kata: aku bukan barang.

Tiga kata ini mempertanyakan logika perempuan yang kerap menggunakan perasaan untuk berpikir. Tiga kata itu juga menjelaskan sosok Adriel dalam Khokkiri.

  • Polos: Adriel spontan melemparkan pernyataan itu setelah sebelumnya berkali-kali bertanya apa yang sebenarnya mengganggu pikiran Becca, kekasihnya. Padahal sebelumnya mereka sudah lebih dulu membicarakan perihal Feli (teman sekantor Becca) yang menyukai Adriel.
  • Keras kepala: yang diketahui Adriel adalah ia menyukai Becca dan wanita itu menyukainya. Habis perkara. Permasalahan Feli adalah satu hal yang tak terelakkan, tapi juga seharusnya tak perlu Adriel dan Becca pusingkan.
  • Romantis: saya menyebut Adriel romantis karena ia kerap kali menunjukkan rasa sayangnya pada Becca lewat sikap. Salah satunya adalah tiga kata tersebut, yang menunjukkan bahwa Adriel tidak main-main mengenai hubungannya dengan Becca dan bahwa ia tahu apa yang diinginkannya, yaitu selalu bersama Becca. Apa pun yang terjadi.

Ssangchu Couple(Psst... konon Andriana menggunakan Kim Hyun Joong dan sifat 4D-nya,
khususnya dari acara "We Got Married" untuk menggambarkan sosok Adriel)

4. Richard

Richard adalah kekasih Idela. Sosok lelaki pertama yang mampu membuat Della tersenyum setelah bertahun-tahun. Ia pertama kali bertemu dengan Della pada sebuah seminar. Richard, yang entah kagum dengan kemampuan berbahasa Korea Della atau kagum pada kecantikan wanita itu, segera meminta Della menjadi penerjemahnya untuk sebuah seminar yang harus dihadirinya di Korea Selatan.

Kesan pertama yang ditangkap Della adalah Richard begitu percaya diri (hal. 14). Tanpa mengenal Della sebelumnya dan hanya mengandalkan sebuah seminar, ia mendatangi Della dan mengatakan bahwa ia membutuhkannya. Atau lebih tepatnya membutuhkan sosok Della dalam hidupnya. Sebab pada kenyataannya, sewaktu mereka ada di Korea, Richard sama sekali tidak membutuhkan Della untuk seminar yang dihadirinya. Ia tidak memberitahu Della mengenai jadwal seminarnya dan meninggalkan gadis itu.

Bisa jadi sifat Richard ini adalah gambaran umum tipikal mereka yang bekerja di bidang medis: dingin, tegas, dan sama sekali tidak kenal kompromi. Gambaran ini jugalah yang ada pada diri Richard.

“… itu yang membuatmu tidak percaya ia berjalan dalam tidur?” Laura menyimpulkan. “Kamu tidak pernah melihat faktanya?”
Richard mengangguk, kemudian menjawab dengan cepat saat sadar Laura tidak bisa melihat gerakan kepalanya. “Yes. What do you think? And don’t call me a jerk again!”
Laura tertawa samar. “But, you are a jerk,” ejeknya. “Dengar, meski kamu belum tahu apakah dia benar-benar menderita sleepwalking atau tidak, jangan menghakiminya. Jangan pikir kamu seorang dokter jadi bisa mendiagnosanya sekehendak hatimu, bahkan tanpa melakukan anamnesa.  Katakan padaku, apakah kamu pernah bertanya apa yang terjadi? Perasaannya maksudku….” (hal 69)

Dari percakapan antara Richard dengan Laura, seorang psikiater sekaligus mantan kekasihnya, tersirat bahwa Richard—lewat ucapan Laura—adalah sosok yang selalu memercayai apa yang dipikirnya, apa yang menjadi analisisnya ketimbang lebih dulu membicarakan segala sesuatunya dengan lawan bicaranya. Dalam hal ini Laura dan Della, kekasihnya. Dengan kata lain, Richard tak pernah benar-benar menempatkan dirinya sebagai kekasih. Ia selalu terbayang-bayang dengan profesinya sebagai dokter, sehingga ia secara otomatis selalu menganalisis seseorang jika ia  melihat orang tersebut sakit. Tidak terkecuali kekasihnya sendiri.

Di samping itu, dari julukan ‘a jerk’ yang diberikan Laura, terlihat bahwa profesi Richard sebagai dokter begitu dominan sehingga memengaruhi hubungan asmara keduanya dan membuat Laura tak menghiraukan sifat Richard lainnya. Misalnya, menolak untuk melakukan hubungan seksual sampai Richard akhirnya menikah (hal. 68). Dan itu bertahun-tahun yang lalu, ketika Richard dan Laura masih bersama. Apakah setelah bertahun-tahun hubungan keduanya telah berlalu Richard masih sama?

Baca juga: Intertwine - Takdir Yang Berjalin

 

Setting Cerita Khokkiri

Sebagai ‘pelahap buku’ saya sudah banyak membaca cerita dengan setting cerita di luar negeri, ibukota, Bali, dan berbagai tempat yang sudah umum. Namun baru kali ini saya membaca sebuah cerita yang membahas beberapa detail kota kelahiran saya, tentu saja hal ini terasa istimewa bagi saya.

Bisa jadi detail Surabaya yang disertakan Andriana dalam Khokkiri adalah karena ia sendiri sempat mengenyam pendidikan di salah satu universitas negeri yang ada di Surabaya.

Sebut saja D Jang Geum yang ada di Jalan Mayjen Sungkono atau Gedung BII di Jalan Pemuda. Ini membuat saya merasa lebih dekat dan membayangkan kalau sosok Adriel, Becca, Della, Richard, dan yang lain nyata dan tengah berkeliaran di Surabaya.

Mungkin inilah sentimental seorang penduduk yang kotanya ada di dalam tulisan penulis yang dikaguminya Smile


Twist dalam Gaya Cerita Lia Indra Andriana

Secara umum, Khokkiri tidak jauh berbeda dari kisah romansa pada umumnya, yang mengandalkan cinta bersegi dalam plot—dalam hal ini saya tidak memiliki keraguan pada kemampuan Andriana. Tapi ketika twist ditambahkan di sana-sini, saya semakin jatuh hati pada cerita si kembar Della-Becca dan bagaimana mereka terjebak dengan dua bersaudara Jiho dan Richard—yang juga memiliki sebuah rahasia.

Dan twist ini amat lain dari novel-novel Andriana yang lain.

Man behind the lensIllustration source: shutterattack.devianart.com



Ending Khokkiri yang….

Satu hal lagi yang mengejutkan dari novel ini adalah endingnya yang di luar dugaan. Benar-benar membuat saya… *meremas kertas terdekat*. Artebianz perlu membaca novel ini untuk merasakan kegemasan yang sama seperti saya. And trust me Artebianz, kamu tidak akan menyesal membeli novel ini.

Twist dan perkembangan penulisan Andriana yang cukup mencolok di sinilah yang membuat saya tidak terlalu banyak membahas detail novel ini, kecuali karakterisasi masing-masing tokoh secara umum. Hehehe…

 

 

Akhir Kata Khokkiri

Khokkiri adalah salah satu novel Andriana yang wajib di baca, terutama kalau Artebianz adalah fans penulis yang sudah menelurkan lebih dari 20 novel ini. Khususnya bagi Artebianz yang menyukai cerita romance yang dibalur dengan potongan cerita psikologi.

Baca juga: When the Star Falls - Yang Terjadi Ketika Bintang Terjatuh

 

 

 

Your book curator,

N

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Dunia Cecilia - Dialog Surga Dan Bumi


The Voices - Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Jejak Kaki Artebia: Menyusuri Sejarah Surabaya Edisi Siola


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Ode Untuk Si Bungsu


Biru, Rindu