Intertwine - Takdir Yang Berjalin

26 Mar 2015    View : 1794    By : Nadia Sabila


Ditulis oleh  FLOCK (Fei, Lia Indra Andriana, Orizuka, Clara Canceriana,  KP Januwarsi)
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
Disunting oleh Prisca Primasari
Desain sampul dan ilustrasi oleh COKROID
Aksara diperiksa oleh Yuli Yono
Diterbitkan pada Maret 2015
Genre fiksi, kumpulan cerpen, romance, comedy, action, suspense, fantasy, drama, sick-lit, horror, mystery
Jumlah halaman 420
Nomor ISBN 978-602-7742-49-9
Harga IDR62.000,00
Koleksi Perpustakaan Artebia


Namun, ketika akhirnya ia sampai, lututnya malah terasa lemas. Jantungnya berdebar tak keruan, Bridal itu buka sepenuhnya, etalasenya menampilkan dua gaun indah yang bersinar-sinar di mata Jihan….
“Selamat datang di Fairy Bridal”

Demikianlah sepenggal kisah awal bagaimana pertautan Intertwine dimulai, dari sebuah bridal misterius yang menjalin kisah lima wanita beserta kisah cinta mereka. Entah kebetulan atau memang benar jika Tuhan mengatur sebuah pertemuan berdasar sebab akibat, inisial nama-nama penulis yang "keroyokan" menggarap novel ini pun sangat nyambung: FLOCK artinya kawan atau kumpulan, sementara Intertwine yang berarti jalinan.

Fei, Lia Indra Andriana, Orizuka, Clara Canceriana, dan KP Januwarsi memintal karya yang direpresentasikan oleh tokoh Naomi, Emma, Jihan, Ralyn, dan Nina, serta Madam M dan Fairy Bridal-nya yang berperan sebagai katalisator tokoh-tokoh tersebut.  Manis getir kehidupan para wanita yang akan merajut cinta dalam sebuah pernikahan dikisahkan secara terpisah, namun dirangkai dengan cukup apik dalam Intertwine. Baiklah Artebianz, mari kita bedah karya sastra modern nan membuat penasaran ini.

Baca juga: (Not) Alone In Otherland - Sendiri, Bukan Berarti Sendirian 

 

Kesan Pertama Pada Intertwine

Intertwine ditulis oleh lebih dari satu orang, jadi wajar saja jika gaya penulisan dan karakter yang dibawa berbeda-beda. Awalnya, saya mengira kelima tokoh dalam novel ini akan saling mengenal atau paling tidak pernah berada dalam satu lokasi secara bersamaan, tetapi ternyata tidak. Poros pemintal cerita adalah Fairy Bridal yang dimiliki oleh seorang wanita parlente namun misterius bernama Meredith alias Madam M. Selain itu, saya mengira cerita akan dimulai secara urut sesuai dengan abjad FLOCK, tapi ternyata tidak juga. Lah, lalu bagaimana? Penasaran kan?

diagram_tokoh_intertwineDiagram penokohan Intertwine

The Right One oleh Orizuka Sebaga Kisah Pembuka

Orizuka (O) dengan chapter berjudul The Right One, justru dipasang sebagai kisah kick-off Intertwine. Gaya penulisan pop remaja yang chic seketika mengantar saya sebagai pembaca menelusuri butir awal Intertwine. Sekali lagi, bayangan awal saya yang mengekspektasikan bahwa Intertwine ini adalah sebuah kisah roman dewasa yang bergaya bahasa sastra nan mendayu-dayu, dipatahkan seketika setelah membaca paragraf awal:  

Kalau TIME membuat daftar sepuluh pekerjaan paling menyebalkan di dunia, penerjemah merangkap asisten pribadi bagi seorang bapak-bapak yang seenak udel, gayanya selangit, dan memiliki pacar segudang pastilah masuk ke sana (hal.6)

Artebianz mungkin bisa merasakan sendiri, gaya penuturan yang ceplas-ceplos, semiformal, dan lugas dalam kalimat pembuka The Right One oleh Orizuka. Kisah ini akan saya kupas lebih banyak dari kisah lainnya karena perkenalan tokoh poros dijabarkan dengan terperinci di bagian ini.

Tokoh utama dalam kisah ini bernama Jihan, seorang gadis cerdas berusia 22 tahun yang bekerja sebagai penerjemah dan asisten untuk seorang pengusaha rambut palsu asal Jepang bernama Tamura. Namun, Jihan memiliki sebuah cita-cita utama yang sanggup membuatnya melepas segala masa depan karirnya sebagai penerjemah multilingual. Cita-cita terpendam Jihan ini kian membuncah kala bosnya yang "om-om senang" itu mengungkapkan keinginannya untuk menikahi seorang wanita yang disebutnya Nia-chan.

… Suatu kesadaran mendadak muncul merayapi, seluruh tubuhnya, membuatnya merinding. Bosnya itu akan menjalani satu bagian dari cita-cita utamanya. Menikah. (hal.10)

Baca juga: Kala Kali: Hanya Waktu yang Tak Pernah Terlambat 

 

Madam M, Fairy Bridal, dan Gaun Pengantin Mistis

Suatu hari, Jihan disuruh bosnya untuk mencari gaun pengantin untuk calon istrinya tersebut. Jihan pun memilih sebuah rumah wedding organizer (bridal) yang dekat dengan kosnya dan dilewatinya setiap hari. Gaun-gaun yang dipajang di balik kaca depan seringkali membuat Jihan terpana dan semakin ingin segera mewujudkan cita-citanya untuk menikah muda.

Fairy Bridal, nama bridal itu, dengan resepsionis bernama Arimbi dan pemilik bernama Meredith (Madam M). Di sinilah mulai tampak hubungan tokoh pertama Intertwine dengan tokoh poros Meredith-Fairy Bridal. Madam M sendiri digambarkan sebagai tokoh yang misterius dan dingin:

“Kenalkan saya Meredith,” kata wanita itu, nadanya begitu rendah sehingga membuat Jihan segan. (hal.14)

Konsep bridal pun digambarkan sebagai sebuah bangunan berkonsep minimalis. Nampak kecil dari luar namun besar di dalam. Bridal ini memiliki lobi tengah tempat sebagian besar gaun pengantin yang akan disewakan disimpan.

Dan dari lobi inilah kisah-kisah mistis antara tokoh utama dengan gaun-gaun pengantin bermula. Ruang penyimpanan gaun ini digambarkan sebagai sebuah ruangan dengan aura mistis yang acap kali membuat pengunjung yang membutuhkan gaun pengantin bahagia sekaligus merinding, termasuk Jihan, meskipun sebetulnya gaun yang ia cari bukan untuk dirinya. Sosok Meredith yang tenang dan dingin pun menambah nuansa "keramat".

Tanpa sengaja Jihan melirik sosok wanita tadi, yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan sorot mata tenang dan senyum samar. Bulu roma Jihan meremang tanpa ia tahu alasannya. (Hal.14)

Jihan kemudian mendapatkan sebuah gaun pengantin yang sangat menarik perhatiannya. Gaun itu bahkan tampak bersinar di mata jihan. Saat Jihan hendak mengambilnya, ada tangan lain yang juga mengambil gaun itu. Tangan seorang laki-laki bernama Arkan yang juga berminat pada gaun itu untuk adiknya. Aura dalam gaun Fairy Bridal ini sangat mempesona dalam misteri, terlebih ungkapan Madam M:

“Dia cantik sekali kan, dalam gaun itu…. Gaun itu memilihnya” (hal. 29)

Seperti FTV, akhir cerita ini sekilas gampang ditebak, Jihan dan Arkan akan saling menyukai. Namun kejadian sebelum Jihan betul-betul dekat dengan Arkan terbilang mengejutkan, kocak, dan membuat penasaran.

Benar saja, gaun itu seolah secara misterius mendatangi Jihan, melalui peristiwa salah kirim, kotak berisi gaun yang tadi menjadi rebutan dengan Arkan sampai di depan pintu kos Jihan. Karena sangat suka, Jihan pun nekat mencoba kembali gaun itu. Maksud hati mencoba sebentar, apa daya ritsleting gaun tidak bisa dibuka oleh siapapun bahkan meski dibuka menggunakan tang.

Mau tak mau Jihan pun harus mengalami kejadian konyol dengan memakai gaun pengantin kemana-mana termasuk ke rumah sakit tempat adik Arkan, Alisha, yang gagal menikah--gara-gara gaun itu--dirawat. Psikologis Alisha tertekan akibat calon suaminya tak bisa melupakan mantan kekasihnya, bahkan alasan pemilihan gaun itu hanya karena  gaun itu bisa mengingatkan calon suami Alisha pada mantannya.

Sedangkan alasan Jihan ingin menikah muda adalah karena ibunya meninggal dunia saat ia masih kecil. Bagi Jihan, menikah muda setidaknya akan membuatnya menemui anaknya lebih lama. Dari Alisha, adik Arkan yang gagal menikah karena ditinggalkan calon suaminya inilah muncul nasihat yang paling berkesan bagi saya dari chapter ini:

“Kamu harus belajar dari pengalamanku. Jangan terburu-buru, menikahlah kalau waktunya sudah tepat. Kapankah waktu yang tepat itu? Saat kamu menemukan orang yang tepat.” (hal. 64)

Semakin kita menyelami The Right One ini, semakin terasa gaya penulisan dan diksi khas literatur remaja yang ringan namun sesungguhnya mengandung pesan moral yang dewasa. Deskripsi detail mengenai tokoh poros penting Madam M dan gambaran tentang Fairy Bridal lebih banyak diulas di The Right One ini. Mungkin itulah sebab mengapa kisah ini dipasang di awal.

Baca juga: Just So Stories Sekadar Cerita 

 

Warna-Warni Intertwine: Premonition (Fei), Princess Emma (Lia), Perfection (Clara), Looking Through Rose-Tinted Memory (KP Januwarsi)

Bagi Artebianz yang menyukai cerita romansa yang dewasa, jangan keburu menutup novel ini dulu jika kurang pas dengan konflik dalam The Right One. Jujur saja, saya hampir saja melakukannya karena cerita yang saya harapkan tak terwujud dalam bulir pertama. Ternyata saya salah besar.

Judul-judul berikutnya ternyata memiliki nuansa kisah yang jauh berbeda. Tetap dengan Fairy Bridal, Madam M, dan gaun pengantin yang "bisa memilih sendiri" pemakainya sebagai poros cerita.

Berturut-turut, Premonition mengisahkan gaun pengantin untuk seorang detektif wanita; Princess Emma yang mengangkat cerita tentang gadis bernama Emma yang mendambakan pangeran dalam dongeng sehingga pangeran khayalannya menjadi nyata; Perfection yang menceritakan kisah Ralyn yang hampir saja menikah dengan pria sempurna yang diidamkannya, namun harus gagal tepat seminggu sebelum pernikahannya akibat serangan penyakit kanker tulang yang membuatnya tak bisa berjalan.

Akan makin membuat pembaca penasaran ada apa sebenarnya dengan Fairy Bridal? Siapa sejatinya Madam M itu?; Dan pada judul terakhir, Looking Through Rose-Tinted Memory, semua pertanyaan itu terjawab dan semua misteri terkuak.

 

Chapter Intertwine Favorit Saya

Premonition sebagai kisah kedua justru menjadi bab yang langsung membalikkan kesan saya pada Intertwine, bahkan saya paling menyukai cerita ini. Mengapa? Karena jalan ceritanya seru seperti film.

Premonition mengisahkan Naomi, detektif wanita yang tak sengaja terlibat dalam penyelidikan kasus perselingkuhan, hanya karena dikerjai oleh rekan sesama detektif yang juga disukainya, Theo. Theo pun sebetulnya menyukai Naomi. Tapi bukannya saling jujur, mereka berdua malah sering bertingkah seperti kucing dan anjing.

Suatu hari, Theo mendapatkan firasat dari sebuah mimpi buruk. Mimpi yang membuatnya berpikir bahwa hidupnya tak akan lama lagi dan ia ingin melindungi Naomi di sisa usianya.  

“Konon, ketika orang akan mendekati ajal, biasanya mereka akan merasakan sebuah firasat. Kemudian mereka akan melakukan beberapa hal yang berbeda dari biasanya. …. Semalam lelaki itu mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya…. Ia tiba-tiba jatuh bebas dan terperangkap di sebuah jurang kegelapan tak berujung ... mungkin, ini pertanda untuknya.” (hal. 85)

Benar saja, Theo pun mendapat kasus untuk menyelidiki tunangan seseorang yang bernama Braga. Braga ini bukan orang sembarangan ia sangat kaya dan tak akan segan menghabisi nyawa seseorang yang dianggapnya mengacaukan rencananya. Theo akan dijadikan umpan untuk memancing tunangan Braga yang seorang model cantik bernama Syena. Oleh karena itu, Theo tak ingin melibatkan Naomi dalam kasus ini. Selain memang tak ada peran yang tepat untuk Naomi dalam penyelidikan, Theo juga tak ingin Naomi terseret masalah yang bisa saja ditimbulkan Braga.

Di mana peran Fairy Bridal? Naomi yang sedang tak bertugas, menemani Rida, sahabatnya, untuk mencari gaun pengantin di Fairy Bridal. Alih-alih Rida yang mendapatkan gaun lebih dulu, Naomi yang semula hanya mengantar Rida-lah yang langsung mendapatkan gaun pengantin "mistis"-nya.

Hanya beberapa saat, setelah Theo meneleponnya dan menyuruhnya menemui Theo segera dengan memakai baju pengantin. Tanpa banyak selidik, Naomi yang naif langsung menuruti permintaan Theo. Ia segera memlih gaun di Fairy Bridal dan gaun yang dipilihnya pun langsung pas.

“Gaun pertama yang dipilih, bisa langsung pas seperti itu, saya rasa itu semacam pertanda bahwa Naomi dan calon suami pasti pasangan yang benar-benar serasi. Dia pasti akan sangat terpesona kalau melihat Naomi dalam balutan gaun ini. Benar-benar pria yang beruntung.” Demikian yang diucapkan oleh Madam M. (hal 102)

Sayangnya, Theo tak serius. Ia sebetulnya hanya kangen dengan Naomi dan memanfaatkan kepolosan Naomi untuk datang padanya dengan baju pengantin. Tetapi, seperti yang dikatakan Madam M, Theo pun terpesona saat Naomi muncul dengan gaun pengantin itu. Ia bahkan berpikir jika memang benar ia harus mati, ia ingin Naomi dalam balutan gaun itu menjadi pemandangan terakhir yang dilihatnya.

Akan tetapi, Theo justru tega mempermalukan Naomi dengan mengajaknya menikah di depan umum dengan cara yang manis, namun akhirnya berbisik pada Naomi bahwa itu hanyalah iseng belaka. Theo bahkan mencari-cari kesalahan Naomi yang dianggap kurang awas. Tentu saja Naomi jadi sangat marah dan perasaannya hancur.

“Udah seumur gini kok lo masih polos banget, sih? Atau lebih tepatnya lo itu bego? … Bisa-bisanya lo mau aja datang ke sini pake baju pengantin begini padahal belum tahu buat apa. Tapi gue akuin lo kelihatan cantikan dikit sih….”
“Puas lo, Theo?” …
“Terus lagi! Berapa kali gue bilang ke elo jangan pernah lengah sedikit pun! Always watch your back! …. Gue nggak bisa selalu ada di belakang buat jagain elo, Nao! …” (hal 114)

Seharusnya kalimat tersebut menjadi kata-kata yang manis, tapi tidak dalam keadaan ini. Theo sangat keterlaluan dalam mempermainkan perasaan Naomi sehingga Naomi sangat marah. Namun kejadian-kejadian berikutnya membuat Naomi lupa akan kemarahannya pada Theo. Rekan mereka, Firman, yang sedianya menjadi partner Theo dalam menyelidiki Syena, ternyata adalah seorang pengkhianat.

Firman malah menjebak Theo dan menyekapnya di apartemen Syena. Firman sendiri ternyata adalah pacar yang benar-benar Syena cintai, sementara hubungan dengan Braga dimanfaatkan Syena untuk membalaskan dendam semata.

Syena dan Firman berniat membunuh Braga, kemudian kabur. Theo yang sudah dibius itu rencananya akan dijadikan kambing hitam. Berbekal firasat saja (lagi), Naomi menerima panggilan dari nomor darurat Theo yang biasanya hanya digunakan untuk keadaan yang benar-benar gawat. Entah kenapa, Naomi yakin bahwa kali ini Theo tak main-main, apalagi, tak ada jawaban saat Naomi menjawab panggilan tersebut.

Dengan ragu-ragu, Naomi menekan tombol jawab ….Ada kalimat lirih yang tidak jelas. Naomi hanya mendengar sesuatu seperti ‘..err back’, kemudian bunyi ‘duk’ pelan dan sambungan itu pun terputus. (hal. 129)

Ada yang tidak beres dan Theo membutuhkan bantuannya. Di sinilah klimaks Premonition terjadi. Bak cerita dalam Sherlock Holmes, Naomi mendapatkan informasi dari tukang ojek langgananannya jika terjebak macet, Tejo, perihal di mana alamat Syena.

… Tejo juga kadang membantunya memberi berbagai informasi yang bisa didapatnya d jalan. Ibarat Sherlock Holmes punya Baker Street Boys, Naomi punya Tejo sebagai informan..” (hal 139)

Naomi juga harus menyamar demi bisa memasuki apartemen, sampai berjibaku dengan Syena dan Firman bersama dengan Theo yang sudah sadar dari biusnya. Cerita berakhir dengan bahagia, Theo pun akhirnya benar-benar melamar Naomi. Gaun pengantin Naomi telah mencuri hati Theo.

Fei berhasil menyampaikan kronologi cerita Premonition ini secara runut dan rapi, tapi tetap membuat penasaran. Detail-detail adegan chaos dan menegangkan seperti saat Naomi hampir jatuh dari balkon gedung tinggi dengan dipegangi oleh Theo, mudah diimajinasikan:

Naomi tergelincir dan terlempar keluar balkon, Theo yang melihat itu berhasil bergerak menghindari pukulan Firman …. Kemudian menangkap Naomi tepat pada waktunya. (hal.149)

Baca juga: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa oleh Maggie Tiojakin 

 

Kekurangan Dan Kelebihan Premonition

Mirip seperti adegan dalam film-film action atau superhero, terkadang hiperbola dan penuh kebetulan, namun tetap saja menegangkan. Tapi ada satu hal dalam kisah ini yang menurut saya seharusnya tidak perlu diceritakan, karena membuat cerita jadi mudah ditebak. Yakni pada saat Firman mengobrol dengan komplotan preman, dan agak gelagapan saat ditanya oleh Theo.

“… Toh Abang tadi juga ngobrol sama temen-temen Abang, kan?”
“Temen? Yang mana?”
“Itu dua cowok … kayak preman”
“Oh itu orang nanya jalan doang,”
Entah kenapa Theo merasa nada suara Firman kurang meyakinkan … dan buru-buru mengalihkan topik.” (hal.116)

Jika perasaan Theo tak ditulis, efek kejutan akan lebih terasa ketika pembaca sampai pada adegan dimana Theo mendengar suara laki-laki yang datang ke apartemen Syena, saat Theo masih di ruang sekap, kemudian mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Firman si pengkhianat (hal. 134).

Secara keseluruhan, Premonition sudah memenuhi ekspektasi saya, sehingga saya pun tergerak untuk melahap kisah-kisah lain dalam Intertwine. Premonition cukup sukses menampilkan kejutan-kejutan dalam cerita. Percayalah pada keyakinan dan kata hati merupakan pesan intrinsik yang dikandung chapter ini.

 

Mengapa Intertwine?

1.    Penuh kejutan;

2.    Drama indah namun penuh misteri dan sarat pesan kehidupan;

3.    Bisa dibaca secara tidak urut;

4.    Ada makna yang lebih dalam dibalik sebuah pernikahan;

5.    Cocok untuk menentukan genre cerita apa sebetulnya selera Artebianz.


Selamat Membaca!

intertwine_1

Baca juga: Love Dust (Season 1 and 2) - Pilihan Itu Bukanlah Sesuatu yang Mudah 




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Love Dust (Season 1 and 2) - Pilihan Itu Bukanlah Sesuatu yang Mudah


True Friend Never Die (Meung Gu): Arti Sahabat yang Sebenarnya




Warung Wulan - Resto All You Can Eat Murah Meriah


Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa


Gedung De Javasche Bank Surabaya - Saksi Sejarah Panjang Perbankan Indonesia


Adiwarna 2017: Karyakarsa - Eksposisi Daya Cipta dan Rasa DKV UK Petra


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Aku Berjalan (Dan Dua Puisi Lainnya)