Ilana Tan, Penulis Misterius dan Perkembangan Karyanya

06 May 2014    View : 3587    By : Niratisaya


Beberapa hari ini saya tertarik dengan perubahan dan perkembangan kepenulisan tiap pengarang yang telah saya baca karyanya. Dan saya pun menjadi tertarik untuk menuliskannya di sini. Untuk giliran pertama, saya ingin mengulik tentang Ilana Tan. Bukan karena saya lebih menyukai kepenulisan perempuan yang sudah melahirkan empat karya ini (sepengetahuan saya).

Mungkin perkenalan saya dengan karya-karya Ilana Tan tidak seperti kebanyakan pembacanya yang lain. Saya tidak memulai seri musim Tan dari awal. Sebaliknya, saya langsung melahap dari tengah (Autumn in Paris), itu pun setelah saya termakan bujuk rayu rekomendasi teman kuliah saya. Dan untuk sebuah karya yang sebelumnya belum saya kenal dan cukup baru di ranah literatur Indonesia (karena Tan cenderung menggunakan bahasa Indonesia, walaupun tidak sesempurna bahasa Indonesia yang disempurnakan, tapi cukup berbeda dibanding karya-karya para pengarang Indonesia lainnya yang cenderung menggunakan bahasa lisan dalam karyanya--termasuk saya sendiri). Dan untuk ukuran cara kepenulisan yang umumnya dipakai untuk karya terjemahan, saya dibuat jatuh hati dengan cara Tan menggambar dunia para tokohnya dan bagaimana mereka berinteraksi.

Hal yang sama saya rasakan dalam Winter in Tokyo. Karya ketiga dari Tan yang saya baca berikutnya.

Berbeda dengan Autumn in Paris (AiP) yang cenderung melodrama dan berakhir cukup menyedihkan, saya merasa dipuaskan dengan akhir cerita dalam Winter in Tokyo (WiT), yang berakhir dengan cukup membahagiakan dan tidak menguras banyak airmata seperti ketika saya membaca AiP. Dan bisa saya katakan, Tan cukup pandai dalam mengolah plot dan mempermainkan emosi pembacanya. Tapi di sini saya mulai bisa membaca pola kepenulisan Tan dan hampir saja memutuskan untuk berhenti membaca karya perempuan yang tidak pernah menyertakan alamat E-mail atau jejaring sosialnya dalam tiap-tiap karyanya.

Hal ini diperparah ketika saya membaca Summer in Seoul (SiS), di mana kepenulisan Tan terasa masih mentah (bagi saya). Tapi didorong rasa penasaran, akhirnya saya putuskan juga untuk melahap habis novel seri musim Tan, yang diakhiri dengan musim semi di London (Spring in London/SiL). Di mana sekali lagi saya menemukan ketertarikan saya pada kepenulisan Tan, yang kembali menyihir saya. Di sini saya kembali menemukan beberapa kemiripan, terutama tentang plot, tapi saya bisa memahaminya--terutama ketika tokoh dalam karya terbaru Tan ini masih berhubungan dengan tokoh sebelumnya dalam WiP.

Sehingga kalau dibuat kesimpulan, saya bisa mengatakan dalam SiS Tan masih seorang pemula. Tapi sebagai seorang pemula, dia telah berhasil menjaring dan membuat basis penggemar yang saya yakin tidak sedikit. Didukung dengan kemisteriusannya, serta caranya menuangkan cerita. Tan kemudian mengalami perkembangan yang cukup signifikan dan saya rasa cukup menakjubkan pula, dalam AiP, dengan membuat sebuah kejutan yang mungkin tidak terpikirkan dan diharapkan oleh penggemarnya.

Selanjutnya, dalam WiP, meskipun saya menyukai jalan cerita dalam karya ketiga Tan ini, saya tidak bisa mengatakan Tan melakukan sebuah manuver lagi dalam menulis. Dalam WiP saya menemukan beberapa hal umum yang biasa ditemukan, bahkan dalam sinetron Indonesia. Namun WiP masih terselamatkan dengan gaya bercerita Tan yang lancar dan cukup halus. Hal yang sama kembali saya rasakan dalam SiL. Tapi untuk sebuah karya pamungkas, dalam seri musim Tan, saya cukup merasa puas dengan karya Tan ini. Walaupun, saya tidak merasakan banyak perkembangan terhadap karakter-karakter Tan, semenjak AiP.

Sebagai pamungkas, kalau diminta penilaian, saya merasa di antara keempat karya Tan....saya memilih Autumn in Paris sebagai titik kulminasi seorang Ilana Tan dalam menuliskan seri musimnya. Selain berbeda dengan ketiga karya Tan yang lain, karakter dalam AiP juga cukup berbeda kalau dibandingan dengan tokoh-tokoh lain milik Tan.

Tapi secara keseluruhan, sebagai literatur yang diberi embel-embel Metropop, saya cukup menyukai tulisan Tan, yang tidak terlalu mengumbar sisi hedonis yang kerap kali muncul dalam umumnya karya dengan label Metropop. Ditambah dengan nuansa lain dalam kepenulisan Tan yang tidak umum (bahasa Indonesia yang digunakannya), sehingga membuat saya tidak sabar menunggu karya Tan yang lainnya.

Cheers, everyone!
Your book curator,

N

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Giveaway dan Blogtour: Happiness is You karya Clara Canceriana


The Imitation Game - Menginspirasi Banyak Orang Tentang Makna Perbedaan


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Rujak Cingur Ala Bu Dah


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Kompleks Candi Arjuna


WTF Market 2.0 - Imajinasi, Mimpi, dan Masa Depan


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Pria Asing Di Pos Kamling


(K)Aku