(Not) Alone In Otherland - Sendiri, Bukan Berarti Sendirian

18 Aug 2014    View : 1882    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Lia Indra A., Fei, dan Andry Setiawan
Diterbitkan oleh  Haru
Diterbitkan pada  November, 2012
Genre  nonfiksi, tavel-writing, perjalanan, budaya, autobiografi
Jumlah halaman  272
Nomor ISBN  978-602-7742-06-2
Harga IDR  45.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi
Rating  4/5


Saya mulai merasa kehilangan diri saya sendiri. Saya sempat bertanya-tanya apa pilihan saya ini benar? (Andry)

Dan ternyata, memang sebuah sapaan sesimpel ‘halo’ dalam berbagai bahasa merupakan jurus yang sangat ampuh untuk membuka pembicaraan, dan juga jalan pertemanan dengan orang-orang dari berbagai negara. (Fei)

Jika ada yang memiliki mesin waktu dan bertanya apakah saya ingin kembali ke masa lalu, saya akan meminta kembali ke masa 100 hari di Korea ini. Bukan untuk mengubahnya, melainkan untuk menikmatinya lagi. (Lia)

***

Sendirian menjelajah negeri orang yang bahkan mereka tidak fasih bahasanya. Itulah yang dialami Lia, Fei, dan Andry pada awalnya.

Mereka berangkat bermodalkan nekad dan memulai petualangan sebagai siswa bahasa di Seoul, Shanghai, dan Tokyo. Penuh kekhawatiran, namun juga penuh kegembiraan dan rasa penasaran yang meluap.

Berulang kali Lia, Fei, dan Andry terus menantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru. Proses yang membawa mereka berkenalan dan menemukan sahabat-sahabat baru, hingga pada akhirnya, semuanya itu membawa mereka kembali, berdamai dengan diri sendiri.



Impresi Saya terhadap (Not) Alone in Other Land


Jauh sebelum saya memiliki buku ini saya sempat “mencicipi” isinya. Kesan yang saya dapat setelah membaca bagian-bagian dari buku nonfiksi tentang traveling ini adalah “rasa hangat”. Oleh karena itu, tanpa ragu lagi saya memasukkan buku ini ke dalam wish-list saya. Setelah beberapa tahun, akhirnya buku yang ditulis oleh tiga penulis ini ada di tangan saya Smile

Berbicara tentang traveling dan buku, Artebianz, saya cukup rewel. Mungkin karena terbiasa membaca buku fiksi, sehingga sering kali ketika saya membaca buku traveling saya lebih cocok dengan jenis buku yang benar-benar mengulas sebuah tempat habis-habisan. Bukan asal menjabarkan dan menambahkan beberapa keterangan saja.

Namun bukan berarti saya menginginkan si penulis untuk mengamati detail demi detail dari tempat yang diulasnya. Maksud saya di sini adalah saya akan lebih bisa menikmati inti dari perjalanan dalam buku perjalanan yang dijalani oleh penulis, ketika ia benar-benar menikmati perjalanannya. Termasuk pengalaman baik maupun buruk.

Dan inilah yang saya dapatkan dari buku karangan Lia Indra Andriana, Fei, dan Andry Setiawan ini.

Hal ini mungkin disebabkan karena ketiga penulis sempat tinggal beberapa waktu di negara yang mereka tinggali, sehingga mereka mampu memberikan gambaran yang memuaskan atas negara-negara yang mereka tinggali. Mulai dari kebiasaan hidup, kebudayaan, bahkan kepribadian tiap manusia yang mereka temui.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Di bagian pertama, kisah perjalanan bahasa ini dimulai dengan cerita Lia Indra Andriana yang tinggal di Korea Selatan selama tiga bulan untuk mempelajari bahasa Korea.

Baca juga: Just So Stories Sekadar Cerita

 

 

Lia Indra A. dan Korea Selatan

Sebagai negara yang sering diekspos, lewat drama dan para artisnya, Korea Selatan menjadi incaran warga dari berbagai belahan dunia sebagai negara wisata dengan pesona eksotisnya. Sehingga ketika Andriana memutuskan kursus di Universitas Sungkyunkwan, ia bukan hanya bertemu dengan satu-dua orang asing, tetapi orang-orang dari berbagai benua. Termasuk seorang kakek berumur 60 tahunan dari Jepang, yang menyukai suasana ramai sehingga sering mengajak Andriana untuk makan bersama. Pengalaman menarik lain yang diperoleh Andriana adalah ketika ia ingin mengetahui peruntungannya dan bertemu dengan peramal, yang menyuruhnya untuk mendalami bidang tarik suara dan tari.

Dua hal yang konon sama sekali tak dikuasai oleh Andriana Smile

Di sisi lain, hidup sebagai pelajar mengizinkan Andriana untuk ikut mencicipi perayaan, salah satunya adalah Hari Guru (Sengseinal). Sama seperti di Indonesia, Korea Selatan juga merayakan Hari Guru. Namun yang berbeda di sinilah jarak antara guru dan murid. Pendapat saya ini diwakili oleh pernyataan Andriana:


Saya ingat suatu hari saya makan malam bersama teman sekelas dan guru saya. Iseng sata bertanya siapa teman dekat guru saya. Jawabannya mengejutkan saya. “Teman dekat yang bisa diakal curhat? Saat ini, kalian.”

Pernahkah guru kalian menganggap kalian teman dekat? Saya belum pernah merasakannya. Baik guru dari sekolah formal maupun informal. Seorang guru, di mata saya selalu memiliki jarak dengan muridnya. Namun begitu mendengar penuturan guru saya, saya tahu, pertemanan guru-murid bukan hanya ada di layar kaca saja (hal. 84).

 

Diambil dari hancinema.net


Mungkin karena terbiasa mengekspresikan perasaan mereka, orang-orang Korea Selatan cenderung dengan bebas mengungkapkan emosi mereka pada orang-orang di sekitarnya. Artebianz tentu pernah melihat drama Korea yang memperlihatkan seorang ayah yang menggendong anak perempuannya, atau anak perempuan yang minum-minum dengan orangtuanya—pada kenyataannya hal ini benar-benar terjadi.

Saya pernah membaca sebuah artikel di dramabeans.com, yang menceritakan hubungan dekat orangtua-anak, yang membebaskan seorang anak untuk minum bersama orangtuanya. Bukan sekadar air teh atau jus, tetapi minuman beralkohol.

Kita dapat meniru budaya positif ini, maksud saya bukan budaya minum—meski ini adalah sebuah pilihan. Hahaha….

Maksud saya, budaya untuk mengekspresikan perasaan dan mendekatkan diri, terutama bagi orang-orang tua dengan mereka yang lebih muda. Termasuk para guru dan murid mereka, tanpa terbatas embel-embel siapa yang lebih tua dan siapa yang harus menghormati siapa.


Fei dan Tiongkok

Bagian kedua berisi kisah Fei yang menceritakan kehidupannya di Shanghai. Hampir sama seperti Andriana, yang tinggal karena ingin menuntut ilmu di negeri orang, Fei mempelajari bahasa Mandarin karena ia hendak menuntut ilmu di negara dengan julukan Negeri Tirai Bambu. Sebagai syarat, Fei pun diwajibkan untuk belajar bahasa nasional milik negara yang kini bernama Republik Rakyat Tiongkok tersebut.

Tentu saja, Artebianz, sebagai pelajar asing di negeri asing, Fei menemui beberapa kendala. Salah satunya adalah ketika ia harus berinteraksi dengan penduduk lokal. Beberapa kali Fei disangka penduduk lokal, sehingga tanpa ba bi bu mereka langsung menyapa dan berbicara dalam bahasa Mandarin. Karena tak tahu dan tidak bisa membalas apa pun, Fei hanya membalas setiap sapaan dan ucapan dengan cengiran.


Keterbatasan bahasa membuat saya merasakan dua hal yang berkebalikan, ibarat koin yang memiliki dua sisi. Kadang, saya frusasi dan sebal ketika komunikasi terhambat karena saya tidak bisa mengutarakan maksud saya dengan jelas ataupun menangkap sepenuhnya maksud orang.

Tetapi sebaliknya, kadang saya juga bersyukur tidak terlalu bisa mengerti apa yang diomongkan orang tentang saya, terutama kalau sepertinya mereka sedang memarahi atau mengumpat saya. Dengan demikian, saya tidak perlu ikut emosi karena semua omongan mereka jadi tidak ada artinya bagi saya (hal. 119).


Cara berpikir Fei yang out of the box ini sontak membuat saya mengangguk-angguk dan berpikir, “betapa menyenangkan memiliki cara berpikir yang melihat suatu hal dari sudut lain.” Seringkali, ketika kita mengerti bahasa yang diucapkan oleh orang lain, kita merasa sakit hati. Namun pada kenyataannya bukan orang lain yang membuat kita sakit hati, melainkan diri kita sendiri. Gaya pemikiran Fei yang melihat suatu hal dari sudut lain sangat berguna bagi mereka yang mudah tersinggung, atau mudah bersusah hati karena orang lain.

Kadang dalam hidup kita tak perlu memikirkan sesuatu. Terkadang dalam hidup kita hanya perlu menjalaninya saja.

Diambil dari rationalityunleashed.net


Andry Setiawan dan Jepang

Lain negara, lain pula pengalaman yang didapat oleh Setiawan, walau topik mereka nyaris sama: mengenai bahasa kedua yang mereka pelajari selama menuntut ilmu di negara orang, serta komunikasi. Ketika Fei memilih untuk menyoroti sifat dualitas bahasa dan keuntungan/kerugiannya, Setiawan dan negara yang sempat ditinggalinya (Jepang) membahas keinginannya berkomunikasi, dari sekadar mengandalkan telinga bertambah menggunakan mulut.


Tanpa komunikasi, seseorang tak akan bisa menjadi sahabat. Komunikasi tak hanya membutuhkan telinga, tetapi juga mulut. Mulut yang jujur. Saya berusaha untuk lebih menggunakan mulut saya ketimbang telinga saya, karena orang lain juga perlu tahu siapa saya. Mereka perlu tahu apa yang saya pikirkan, mereka perlu mengintip isi hati saya lewat kata-kata saya. Satu-satunya cara adalah dengan berbicara dan berkata jujur (hal. 207).


Dari kutipan tersebut, saya menangkap bahwa sosok Setiawan lebih cenderung pemikir dan kurang bisa mengekspresikan diri secara spontan. Di satu sisi, sosok pemikirnya membuatnya lamban. Di sisi lain, ia berhati-hati. Namun di saat yang sama ia juga memiliki sisi filosofis akibat sifatnya pemikir dan suka mengamatinya. Hal ini terlihat dari beberapa kalimat yang ingin sekali saya kutip dan taruh di sini, tapi tentu saja saya tidak bisa menempelkannya semua begitu saja.

Atau… ini karena fakta bahwa Setiawan setahun lebih lama hidup di dunia ini, sehingga ia memiliki pengalaman lebih dalam hidup yang membuatnya lebih dewasa? Tongue Out

Baca juga: Kala Kali: Hanya Waktu yang Tak Pernah Terlambat

 

 

Bagian per Bagian dari (Not) Alone in Other Land


Persamaan bahwa ketiga penulis hidup di negara asing bukan demi melancong, tetapi mempelajari bahasa adalah satu hal yang menjadikan buku traveling ini istimewa di mata saya. Sebab dengan demikian, baik Andriana, Fei, maupun Setiawan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di negara yang mereka tinggali. Bukan sekadar menikmati “kehidupan turis” yang disediakan oleh negara-negara tersebut, demi menjaring pemasukan ke kantong-kantong pemerintah setempat.

Hal tersebut membuat tulisan ketiga penulis menjadi lebih menyeluruh mengenai negara yang mereka tinggali, khususnya Fei dan Setiawan yang mencoba untuk melangkah keluar dari kota yang mereka tinggali.

Saya banyak membicarakan sisi lebih dari buku ini. Bagaimana dengan sisi kurang dari buku ini?

Mungkin bukan kekurangan, tetapi hm…ketidaktepatan. Salah satunya adalah kutipan, “Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift of God, which is why we call it the present.” Kutipan ini disebutkan bersumber dari Pooh, sementara yang tepat adalah Bil Keane, seorang komikus kelahiran tahun 1922. Sedangkan beberapa beberapa sejawat saya sesama tukang kutip lainnya mengatakan Eleanor Roosevelt-lah pencetus kalimat bijak tersebut.

Sementara untuk poin-poin yang lain, saya merasa tidak terlalu banyak kekurangan yang masif yang bisa merusak “perjalanan” saya dalam menikmati buku ini.

Baca juga: Mari Lari - Sebuah Cerita tentang Tekad Hati Lewat Langkah Kaki

 

 

Tentang Para Penulis (Not) Alone in Other Land

Karena ini adalah buku nonfiksi, maka saya tidak akan membicarakan karakter, melainkan para penulis. Jadi, Artebianz, saya akan membicarakan bagaimana karakterisasi penulisan dari Andriana, Fei, dan Setiawan.

Entah mungkin karena suka sekali menulis—gaya menulis Andriana, Fei, dan Setiawan cenderung bergaya observatif. Namun ada perbedaan antara ketiganya. Bila Andriana terkesan lembut, tidak demikian dengan Fei. Gadis kelahiran Agustus ini cenderung lebih spontan dan ekspresif dalam menulis kehidupannya selama tinggal di Shanghai. Saya tidak hanya menemukan smiley seperti ini (Smile), tetapi juga berbagai jenis emoticon yang lain. Sehingga alih-alih sedang membaca buku komersil mengenai travelling, saya merasa seolah sedang mendengar cerita teman.

Sementara gaya Setiawan…. Setelah membaca buku ini—omong-omong saya sudah membaca Then I Hate You So dan Ojou!, karya Setiawan—saya merasa lelaki yang kini telah kembali ke Indonesia ini akan sangat cocok bila menulis dongeng. Beberapa bagian dalam kisah kehidupan Setiawan sewaktu tinggal di Jepang benar-benar reflektif dan ajaib. Terutama sewaktu ia berkunjung ke Kagoshima, menyambangi salah satu daerah konservasi yang dijadikan setting dalam anime Princess Mononoke karya Studio Ghibli.

Yang penasaran seperti apa keindahan hutan yang dilihat Setiawan, ini dia Smile

Yakushima-Kagoshima

 

 

Akhir Kata untuk (Not) Alone in Other Land

Bila Anda, Artebianz, bertanya; kesan apa yang saya tangkap setelah selesai membaca, maka jawaban saya adalah buku yang meninggalkan kesan hangat sepanjang proses membaca. Mungkin ini adalah keuntungan dari pengalaman para penulis yang tinggal beberapa waktu di negara asing. Sehingga bukan sekadar bahasa yang mereka serap, tetapi juga budaya.

Baca juga: Embroideries: Menyusup Dalam Kehidupan Para Wanita Timur Tengah





Your book curator,

 

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Attachments - Ikatan Benang-Benang Halus Tak Kasatmata


Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian


Nash - Ya Rabbana Anta Maulana


Wakul Suroboyo - Berwisata Kuliner Khas Surabaya di Satu Tempat


Pandu Pustaka: Perpustakaan Keteladanan Di Pekalongan


Banyu Anjlok - Pantai Bolu-Bolu - Keletekan: Sekali Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 1)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Twist and Shout (Part 1)


Sajak Malam Dingin