Agility Bukan Singa yang Mengembik

22 Aug 2015    View : 2093    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Rhenald Kasali
Diterbitkan oleh  Gramedia Pustaka
Disunting oleh  Amanda Setiorini
Sampul didesain oleh  Tedi Kriyanto
Isi didesain oleh  Ariani Kusumawardini
Diterbitkan pada  November 2014
Genre  nonfiksi, motivasi, bisnis, ekonomi
Jumlah halaman  254
Nomor ISBN  978-602-0311-98-2
Harga  IDR140.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi

 

"Seratus kambing yang dipimpin seekor singa akan jauh lebih berbahaya ketimbang seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing," ungkap diplomat Prancis, Charles Maurice deTalleyrand.

Ungkapan itu menjadi penting di abad ini ketika Indonesia tengah berada pada kawasan perubahan yang disebut sebagai the edge of chaos. Ya, inilah area yang didefinisikan para ahli sebagai kawasan yang terletak antara dua tanah berbatas.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan?

Buku ini mengisahkan bagaimana mereka yang pernah berada di ambang kekacauan, dengan gerak sigap menata diri dan organisasinya. Semua berpuncak pada pentingnya kita—baik individu, perusahaan, atau organisasi apa pun—untuk menjadi lebih agile. Lebih lincah, lebih cepat, dan lebih liat dalam merespons setiap perubahan yang terjadi di lingkungan kita.

 

Mungkin seperti saya, Artebianz juga tergelitik saat membaca judul buku ini. Bukan bagian tentang agility (ketangkasan), tapi perkara bagian bukan singa yang mengembik.

Membahas soal transformasi diri, yang tentu saja tentang manusia, tapi kok malah ngomongin singa dan kambing?

Ada apa nih dengan Rhenald Kasali?

Itulah pertanyaan yang ada di batin saya saat pertama kali membaca blurbs buku ini di salah satu toko buku. Tapi, yang membuat saya tertarik pada buku ini bukan hanya judulnya saja yang provokatif, tapi juga sosok penulisnya.

Saya bukan orang yang awas terhadap isu sosial yang terjadi di Indonesia atau luar negeri, tapi saya cukup tahu siapa Rhenald Kasali. Ini pun karena sosok Kasali yang cukup terkenal. Meski tidak mendalami ilmu ekonomi, tapi saya cukup menggemari setiap talk show yang melibatkan pria ini. Sebab, Kasali selalu mampu menghadirkan acara bincang-bincang yang renyah—mendalam tanpa menggurui atau melontarkan istilah-istilah sulit. Maka, sudah lumrah bila saya meraih buku ini dan memasukkannya ke dalam tas belanja saat berkesempatan mengunjungi toko buku.

transformwinchester.comLet the lion roar!

Sebenarnya ada banyak buku menarik yang ditulis oleh Kasali, tapi karena Agility Bukan Singa yang Mengembik adalah buku terbaru guru besar salah satu universitas ternama di Indonesia ini, saya pun memilih membeli buku ini.

Lalu, apa buku ini sebegitu kerennya sampai saya memilihnya sebagai salah satu buku yang bakal saya ulas di sini?

Yuk, kita ulas bareng-bareng buku tentang singa dan hewan yang mengembik ini!

Baca juga: The Backstage Surabaya (Bagian 1) : How To Start A StartUp

 

 

Agility: Singa yang Mengembik versus Kambing yang Mengaum

Sub-judul di atas mungkin terdengar aneh, tapi inilah yang tampaknya pengin diangkat oleh Kasali; bahwa fisik dan perangkat diri yang melekat di sana tidak lagi menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang, tapi perkara mental dan perkembangan diri.

Penyebabnya satu: INTERNET.

Disadari atau tidak, segala sesuatu di sekitar kita kini didominasi oleh Internet. Bila dulu kita harus pergi ke mal atau butik saat pengin beli baju, mesti ke minimarket kalau mau beli sayur, atau mesti ngantre kalau mau bayar tagihan. Tapi sekarang kita cukup klik sana, klik sini… lalu selesai! Dalam beberapa menit kita berhasil membeli dan menyelesaikan beberapa transaksi tanpa melangkah sedikit pun dari rumah.

Era dengan sistem yang serbainstan dan serbacepat ini kemudian berimbas pada kehidupan manusia. Internet seakan tidak hanya menghilangkan batas satu wilayah, dia juga menyatukan seluruh bagian yang ada di bumi. Membuat kita seakan berada di satu tempat yang sama, bukannya terpisah beribu-ribu mil.

Orang-orang mulai bisa 'melihat' apa yang dulu tidak terlihat dan tidak terjangkau; buku-buku berbagai judul, tempat-tempat yang indah, sampai alternatif pengobatan—baik orang yang menyembuhkan maupun obat yang bisa diramu sendiri. Dan orang-orang yang dulunya dianggap tidak bisa survive atau bekerja, justru mendapat kesempatan lebih untuk mendapat rezeki. Inilah era di mana segala sesuatu yang dulunya tidak mungkin menjadi MUNGKIN BANGET.

Namun, di sisi lain, era ini juga menghadirkan satu situasi yang disebut oleh Rhenald Kasali sebagai edge of chaos. Sebuah kondisi yang menempatkan satu negara di situasi yang kacau. Rasanya, saya tidak perlu menyebutkan satu per satu contohnya di sini. Artebianz pasti punya pengalaman pribadi soal kekacauan di Indonesia.

Tapi, Artebianz, kalau kita berhasil melewati situasi tersebut dan tanggap terhadap segala apa yang terjadi di sekitar kita, kita bakal bisa mencapai situasi masa depan baru yang tertib, bersih, nyaman, dan lain-lain—sebuah kesempurnaan yang stabil.

Sebagai pembanding, dalam buku Agility Bukan Singa yang Mengembik Rhenald Kasali memberikan contoh Uni Emirat Arab (UEA) yang sebelumnya merupakan beberapa negara yang kemudian menjadi satu negara federasi sebagai reaksi terhadap perkembangan zaman. Mulanya hal ini diawali oleh pertemuan dua orang pemimpin: Sheik Rashid yang merupakan pewaris tahta Dubai dan Sheik Zayed yang merupakan penerus Emir Abu Dhabi (hal. 10). Keputusan kedua tokoh penting tersebut kemudian memengaruhi empat orang pemimpin lain untuk bergabung kekuatan.

Mungkin penggabungan kekuatan ini terdengar aneh, apalagi bagi negara-negara yang sudah memiliki kekuasaan dan kekayaan alam yang melimpah, tapi inilah yang dilakukan enam orang pemimpin negara adidaya di Timur Tengah. Diceritakan bahwa keputusan tersebut didasari oleh perubahan kondisi geopolitik dunia. Timur Tengah yang dulunya merupakan wilayah yang berpengaruh karena menguasai ladang minyak.

Namun, seiring waktu, sumber daya tersebut tidak bisa lagi jadi jaminan. Terutama dengan perkembangan pola pikir masyarakat yang menjadi semakin kritis dan tuntutan akan kecepatan.

Dan, politik yang dulunya menjadi senjata utama untuk membangun negara tidak lagi efektif.

besttravel100.comBurj Khalifa, simbol kesuksesan Uni Emirat Arab

Menanggapi situasi ini, Sheik Rashid berkata, “Untuk bisa bertahan hidup, kami harus bekerja keras dan bekerja cepat. Supaya bisa bekerja cepat, kami harus bisa membangun sistem yang simpel dan berpikiran simpel.” (hal. 14)

Perkataan Sheik Rashid menunjukkan bahwa kita harus tanggap dengan keadaan sekitar dan kritis terhadap kebutuhan, sekaligus mampu menganilisis pasar—jika Artebianz adalah seorang pebisnis. Namun, sikap kritis dan kemampuan menganalisis keadaan tidak hanya berguna untuk bisnis. Layaknya reaksi hewan saat mencari makan atau berburu. And that’s why Kasali uses animal as the comparison of human self transformation.

Baca juga: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh

 

 

Agility: Seorang Pemimpin yang Mirip Mamalia Atau Reptil

Kalau ditanya mana yang mendekati kepribadian Artebianz, reptiliakah atau mamaliakah?

Menurut Kasali, kebanyakan orang memilih mamalia karena imej yang melekat pada binatang menyusui tersebut (hal. 11).

Mamalia identik dengan sosok yang baik (ramah, bersahabat, and etc.), 'jinak', mau mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Artebianz pasti pernah mendengar “cerdik seperti kancil”. Sementara itu, reptilia dihubungkan dengan perilaku orang yang negatif. Misalnya saja “licik seperti ular” atau “buaya darat”. Kemungkinan besar hal inilah yang menjadi penyebab kenapa banyak pemimpin Indonesia yang memiliki karakter mamalia. Because we love mammals better.

Agility Tabel 1

Sayangnya, kekurangan sikap pemimpin yang berkarakter seperti mamalia justru membuat kita terklasifikasi menjadi dua tipe: pengemudi dan penumpang.

Foto 1Kira-kira... yang mana mentalitas kamu, Artebianz? (hal. 3)

Tapi kalau kita telaah baik-baik, pada dasarnya baik reptilian maupun mamalia memiliki kelebihan masing-masing. Dan, jika kita mau dan mampu memadukan kelebihan-kelebihan itu, niscaya (cieh…) kita akan menjadi sosok yang memiliki ketangkasan dan kekritisan yang sesuai dengan tuntutan masa: menjadi pemimpin yang hebat.

Foto 2Rumusan: Fondasi (nilai-nilai kehormatan, kegigihan, kejujuran) plus sifat-sifat reptilia dan mamalia= pemimpin hebat (hal. 13)

Baca juga: The Backstage Surabaya (Bagian 2) : Mindset Seorang Founder StartUp

 

 

What I like about Agility Bukan Singa yang Mengembik

  1. Obviously the title. Tidak banyak judul yang menggelitik sekaligus langsung menyasar target semacam buku seri Change ini.

    Judul Agility Bukan Singa yang Mengembik menunjukkan bahwa buku ini mengacu pada sosok yang menahbiskan diri sebagai orang yang kuat dan layak diperhitungkan.
    Secara otomatis, menunjukkan identitas mereka yang membaca buku ini Tongue Out

  2. Rhenald Kasali tidak menebar begitu banyak istilah sophisticated dan cenderung memberikan fakta yang objektif—either diambil dari pengalamannya sendiri atau dari buku yang dibacanya. Terkadang seorang penulis senang menghabiskan lembar demi lembar dengan penjelasan yang terlalu panjang dan terlalu lebar—melebihi jalanan di Singapura.

    Tapi tidak dengan Agility Bukan Singa yang Mengembik. Buku ini tak menghabiskan banyak space dalam lembarannya untuk hal-hal yang sekiranya tidak akan bermanfaat.

  3. Susunan bab yang sesuai dengan transformasi diri seseorang, mewakili bagaimana transformasi dan fase pencapaian seseorang agar menjadi seorang pemimpin hebat dan tangkas.

Biarpun harga buku ini setara dengan buku bahasa Inggris yang biasa saya lihat di toko buku-toko buku asing, menurut saya setimpal. Saya merekomendasikan buku ini untuk Artebianz yang pengin mentransformasikan diri menjadi singa yang aumannya terdengar di mana-mana. Paling tidak, di antara teman-teman kamu.

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Generasi Global dalam Industri Pertelevisian: Menelisik Makna di Balik


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Layaknya Desserts - The Chronicles of Audy O2 Menjadi Penutup Yang Manis


Present Perfect: Seandainya Waktu Dapat Diputar Kembali


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Kenikmatan Sederhana dalam Semangkuk Mi Ayam Seorang Pedagang Kaki Lima, Surabaya


my Kopi-O! Salah Satu Spot Nongkrong dan Ngobrol Asyik


Leiden, Kota Sarat Sejarah Dalam Balutan Puisi Indah


Pasar Seni Lukis Indonesia 2015


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Oma Lena - Part 2


Sebilik Ruang