Sabtu Bersama Bapak

30 Aug 2015    View : 3424    By : Amidah Budi Utami


Ditulis oleh Adhitya Mulya
Diterbitkan oleh Gagas Media
Disunting oleh Resita Wahyu Febiratri
Aksara diperiksa oleh Yuke Ratna P. & Mita M. Supardi
Penataan letak oleh Landi A. Handwiko
Sampul didesain oleh Jeffri Fernando
Genre fiksi, adult, family romance, drama, slice of life
Jumlah halaman     278
Nomor ISBN           979-780-721-5
Harga                    IDR48.000,00
Koleksi                    Perpustakaan Pribadi


"Hai, Satya! Hai, Cakra!" Sang Bapak melambaikan tangan.
"Ini Bapak.
Iya, bener kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah,
berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan  bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung
ke mana harus mencari jawaban.
I don't let death take these, away from us.
I don't give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian."

---

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

---


Pertama tahu tentang novel ini dari sebuah foto di Instagram, kemudian tertarik pada judul dan penulisnya. Saya punya feeling bahwa saya akan mendapat sesuatu yang berharga dari novel ini. Di halaman-halaman awal, di bagian pengantar sampai pembukaan, saya merasakan kedamaian sampai-sampai tersenyum sendiri.

Buku ini bersumber dari perenungan panjang seorang Adhitya Mulya saat dia menjadi anak sampai saat ini dia menjadi seorang bapak.


Tentang Apa Sih Novel Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah novel bertema keluarga. Novel ini menyampaikan pesan-pesan moral tentang bagaimana menjadi manusia yang baik, entah itu saat kita berperan sebagai anak, istri, suami, ibu, atau bapak. Pesan-pesan yang terdengar ringan tapi sesungguhnya tidak mudah untuk dilakukan.

Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang seorang Bapak bernama Gunawan yang divonis terkena kanker di usia yang masih cukup muda. Si bapak ini memiliki dua orang anak yang masih kecil, si sulung bernama Satya masih berusia 8 tahun dan si bungsu yang bernama Cakra masih berusia 5 tahun. Si Bapak merasa dia masih perlu mendampingi anak-anaknya sampai mereka dewasa. Si bapak akhirnya membuat banyak sekali rekaman video berisi pesan-pesan untuk kedua putranya sebelum akhirnya si bapak meninggal dunia. Ada video yang diperuntukkan saat Satya dan Cakra masih anak-anak, ada yang diperuntukkan saat mereka lulus sekolah, ada juga yang diperuntukkan saat mereka akan menikah.

Setelah 25 tahun berlalu, setelah Pak Gunawan meninggal, Satya dan Cakra tumbuh menjadi manusia dewasa yang masih terus dibimbing oleh pesan-pesan Bapak saat mereka menghadapi problematika kehidupan yang sesungguhnya.

Baca Juga : Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak

 

 

Para Tokoh Dan Problematikanya Dalam Novel Sabtu Bersama Bapak

1. Cakra

Cakra adalah anak kedua Pak Gunawan dan Ibu Itje, berusia 30 tahun dan belum menikah. Saat ini sedang bekerja sebagai Deputy of Director divisi Micro Finance di sebuah bank asing.

Cakra adalah tipe pria yang pintar, sungguh-sungguh dalam berkarier, ramah pada teman dan bawahannya, taat pada agama, dan sayang orangtua. Namun kenyataan bahwa sampai sekarang Cakra belum punya pacar membuat orang-orang di sekelilingnya turut berempati serta selalu memberi support agar Cakra segera mencari seorang pacar.


"Pagi, Pak Cakra."
"Pagi, Wati." Cakra membalas sapa salah satu sales yang duduk tidak jauh dari ruang kantornya.
"Udah sarapan, Pak?"
"Udah, Wati."
"Udah punya pacar, Pak?"
"Diam kamu, Wati." Cakra masuk ke dalam ruangannya dan menyalakan leptop.
"Pagi, Pak," sapa Firman di depan pintu. Dia adalah bawahannya yang lain.
"Pagi. Firman."
"Pak, mau ngingetin dua hal saja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting."
"Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?"
"Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo."
(halaman 43)

cakra si jomblo

Sebenarnya, selain karena kurang lihai menggait cewek, ada alasan lain mengapa Cakra belum menikah sampai dia beranjak kepala 3.


"Mam... sebenarnya ada kok, alasan kenapa Saka (nama kecil Cakra) sampai sekarang gak nikah. Atau belum punya pacar."
"..."
"Saka membuktikan kepada diri sendiri dulu. Bahwa Saka siap lahir batin untuk menjadi suami. Makanya ngejar karier dulu. Belajar agama dulu. Nabung dulu. Kalau Saka udah pede sama diri sendiri, saka akan pede sama perempuan."
"..."
"Rumah ini adalah persiapan yang terakhir", ujar Cakra.
"Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat."
"Iya, sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. Mamah tahu itu. Bapak juga gitu, dulu."
(halaman 17)


Cakra bersikap seperti ini karena selalu mengingat pesan Bapaknya di salah satu video yang diperuntukkan ketika dia berusia 18 tahun.

Sepertinya Tuhan menyambut niat baik Cakra untuk segera mencari pacar garis miring calon istri. Seorang pegawai baru di kantor Cakra bernama Ayu telah membuat Cakra jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama. Namun sayangnya seorang pria lain bernama Salman juga naksir Ayu.

Salman dan Cakra sama-sama cerdas dan sama-sama menduduki posisi Deputy of Director dari divisi yang berbeda. Bedanya Salman lebih ganteng dari Cakra. Ayu bisa tertawa lepas saat bersama Salman, tapi sering canggung saat bersama Cakra.

Saat Cakra merasa sudah tidak ada harapan untuk bisa bersama Ayu, sesuatu yang cukup ajaib terjadi. Sebuah kesempatan tidak terduga mempertemukan mereka. Cakra menceritakan pesan-pesan bapaknya kepada Ayu. Ayu mulai mengenal sisi lain seorang Cakra. Cakra memiliki value-value yang mungkin tidak dimiliki Salman.


2. Satya

Satya adalah anak pertama Pak Gunawan dan Ibu Itje, berusia 33 tahun dan sudah berkeluarga. Satya memiliki seorang istri yang cantik bernama Rissa dan 3 orang anak laki-laki bernama Ryan (8 tahun), Miku (5 tahun), dan Dani (3 tahun). Keluarga kecil ini tinggal di Denmark karena Satya bekerja di salah satu kilang minyak di sana sebagai staff engineer. Seperti keluarga-keluarga pada umumnya, ada sedikit permasalahan di keluarga kecil Satya. Satya menerima E-mail dari istrinya sesaat setelah mereka bertengkar di telepon.


Kang, on your next week off, kamu mending nggak usah pulang deh. Kami semua di sini capek sama kamu.
Lebih capek lagi adalah kenyataan bahwa seorang istri sampai harus bilang semua ini dalam bentuk E-mail karena kalau ngomong, kita hanya akan saling menyakiti. Dan saya tidak ingin itu. Tidak ingin kita pergi serendah itu.
Ryan, Miku, dan Dani, sebenarnya takut menyambut seorang bapak.
Saya, jarang menyambut seorang suami.
Kami berempat selalu menyambut orang yang sering marah-marah. Kami kangen sama Kakang, tapi setiap Kakang pulang, selalu ada yang salah.
Masakan saya salah. Rumah kurang rapi.
Kenapa Dani belum bisa berenang.
Kenapa Miku masih ngompol.
Kenapa Ryan jelek terus matematikanya.
For Your information, rumah kurang rapi karena ya, namanya juga ada tiga anak. Laki semua. Duh! Tambahan lagi, saya kan juga kerja di rumah.
Dani belum bisa berenang karena dia lebih suka diajarin renang sama kamu. He doesn't trust me enough. He trust you.
Miku ngompol saat kamu terakhir ke sini, itu sekali-kalinya dia ngompol. Dia sudah nggak ngompol lagi. Dia selalu excited kamu pulang, sampai lupa cuci kaki, sikat gigi, dan pipis sebelum tidur.
Ryan tidak dapat menjawab kamu karena pertama, sensor visualnya lebih baik dari sensor audio. Dia lebih suka menjawab pertanyaan tertulis. Tapi jika ditanya, dia kesulitan membayangkannya. That's not a defect, that's just him. Einstein was visual. Kedua, dia takut sama kamu yang lagi bernaga tinggi. Saking takutnya dia takut salah. Saking takutnya, dia beneran jadi salah. Stop it!
Dan terakhir... masakan saya selalu salah. Maaf ya, kita berdua sudah merantau sebelum saya sempat belajar bagaimana Ibu kamu memasak. Saya tidak bisa nandingin dia.
Masakan saya selalu salah. Inilah, itulah. Capek Kang. We all love you.
But the question is, do you love us?
(halaman 26-28)


Sejak menerima E-mail dari istrinya, Satya mulai instropeksi diri. Dia mulai kembali melihat video-video Bapaknya. Satya mulai menyadari kesalahan-kesalahannya. Dia berjanji di kepulangannya mendatang, dia akan menjadi Satya yang lebih baik, menjadi seorang suami yang lebih baik, menjadi bapak yang lebih baik.

Di kepulangannya, Satya berusaha tidak marah saat melihat ruang keluarga yang berantakan, pun Satya tidak marah saat tidur siangnya terganggu oleh teriakan-teriakan mereka. Satya berusaha menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bermain bersama anak-anaknya, kadang mengajak mereka berdialog. Anak-anak semakin sayang terhadap Bapaknya.

Satya kadang-kadang juga memperlihatkan video-video Pak Gunawan kepada Ryan, Miku, dan Dani. Ada beberapa video yang cocok dengan situasi yang sedang dihadapi anak-anaknya.

Contohnya situasi saat Miku membela Dani padahal Dani berada di posisi pihak yang bersalah.


6 juni 1992

"Kakang, coba ceritakan lagi kepada Bapak yang kamu ceritakan barusan."
"..."
"Yang di sekolah itu."
Satya tampak ragu. Jelas sekali dia baru dimarahi sebelum video ini berjalan.
"Tadi Kakang mukul Andi."
"Kenapa Kakang mukul Andi?"
"Karena Andi ganguin Saka. Kakang kan harus ngebela adik."
"Kenapa Andi gangguin Saka?"
"Karena... Saka mengambil roti Andi."
Ada hening sebentar diantara mereka. Pak Gunawan membelai kedua rambut anaknya.
"Boys. Di keluarga ini, kita membela yang benar."
"..."
"Kenapa?" tanya Satya.
"Karena Tuhan pun melihat manusia dari yang benar dan salah. Dan yang benar itu yang baik. Bukan dari mana dia berasal."
"..."
"Siapa yang kita bela?"
Satya dan Cakra menjawab, "Yang benar".


Atau video yang cocok untuk Miku saat Miku mengatakan bahwa dia ingin jadi Pilot:


2 Juli 1992
Subtitle: 16 tahun ke atas

Seperti biasa, Pak Gunawan duduk di sebelah kursi. Tangannya menyilang di dada dan dia memakai jaket--menyembunyikan kurus badan yang sebenarnya masih terlihat dari tirusnya paras beliau. Kali ini dia tersenyum lebar.
Apa yang Bapak ingin bagi di postingan ini, bukan sesuatu yang Bapak lakukan dengan baik dari kecil.
Karena waktu kecil, gak ada orang yang ngasih tahu ini ke Bapak.
Jadi, Bapak banyak telatnya. Tapi setidaknya Bapak bersyukur, Bapak tidak telat untuk kalian.
Yang Bapak ingin bagi adalah cerita tentang mimpi.
Beberapa orang dapat mengubah dunia dengan mimpi mereka. Henry Ford bermimpi dapat bepergian tanpa kuda. Dia membuat mobil. Steve Jobs bermimpi bisa mendengar lagu tanpa kaset atau CD sambil berjalan. Dia buat iPod.
Pak Openg, bermimpi bahwa dia dapat membuka toko. Dia tidak pernah membuka toko itu sampai mati.
Apa bedanya Ford, Jobs, dan Pak Openg?
Bapak ceritakan persamaan mereka dulu, ya.
Persamaan mereka adalah mereka setiap hari bangun tidur dengan semangat karena mereka punya mimpi.
Bedanya Jobs dan Ford mengkristalisasi mimpi itu dengan rencana. Rencana itu mereka eksekusi dengan kerja keras. Ketika mereka gagal, mereka coba cara lain. Plan A gak jalan, coba plan B, plan C. Pak Openg, tidak pernah menuangkan mimpinya dalam bentuk rencana. Apalagi bekerja untuk mewujudkan rencana itu.
Mimpi hanya baik jika kita melakukan planning untuk merealisasikan mimpi itu. Jika tidak, kalian hanya akan buang waktu.
Kalian ingin jadi astronot pertama dari Indonesia? Bisa. Belajar yang benar dari kecil. Pilih jurusan kuliah yang tepat dari awal. Latih fisik kalian agar jadi kuat dan tinggi. Cari beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Atau menabung.
Mengejar mimpi itu butuh untuk dimulai sedini mungkin. Karena ada banyak sekali hal-hal yang menentukan dan membatasi pilihan kita ke sana. Misalnya, kalian baru bermimpi jadi astronot saat kalian sudah 2 tahun kuliah Studi Pembangunan. Gak kekejar, kan?
Bayangkan ingin jadi apa kalian dua puluh tahun dari sekarang. Lalu runut balik ke masa sekarang, apa yang harus kalian lakukan agar mimpi itu dapat terjadi. Alat bantu apa yang kalian harus miliki untuk membantu kalian.
Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian rajin dan tidak menyerah.
Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Tapi mimpi tanpa rencana dan action, hanya akan membuat anak istri kalian lapar.
Kejar mimpi kalian.
Rencanakan.
Kerjakan.
Kasih deadline.
Bapak sayang kalian."
(halaman 149 sd 152)

meraih mimpi


Oh, sebentar saya ingin memastikan sesuatu, tahun 1992 Jobs sudah menemukan iPod? berdasarkan keterangan di sini, Ipod baru dirilis pertama di tahun 2001. Jadi yang benar yang mana?

Baca Juga : Ayah Dan Hari Ayah


3. Ibu Itje

Ibu Itje adalah ibu dari dua anak hebat, Satya dan Cakra. Ibu Itje tidak pernah menikah lagi setelah Pak Gunawan menginggal. Sepeninggal suaminya Ibu Itje merintis usaha warung nasi yang akhirnya berkembang menjadi rumah makan, dari yang awalnya hanya satu rumah makan sekarang sudah berkembang menjadi 8 rumah makan.

Ibu Itje ingin membuktikan bahwa seorang janda pun bisa hidup mandiri, bisa sukses, tidak merepotkan orang lain, tidak menjadi beban bagi anak-anaknya, bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.


"Mah, ada loh teman-teman kita yang lebih gak beruntung dari kita tapi mereka masih support orangtua mereka," ujar Cakra.
"Mamah selalu gak mau kita bantu. Padahal itu cara kita untuk berterima kasih kepada Mamah. Ngurangin beban Mamah," tambah Satya.
Ibu Itje berhenti menggendong Ryan dan menatap kedua anaknya.
"Kita udah bahas ini berkali-kali. Kalian ingin support Mamah. Nyatanya Mamah juga mampu, kok. Malah, lebih mampu dari kalian."
Mereka terdiam. Yang satu ini, sang Ibu memang benar. Pemilik 8 rumah makan memang berpenghasilan lebih besar dari oil engineer yang expat di luar negeri sekalipun. Atau bankir di bank asing.
"Di budaya kita, anak membantu orangtua," ujar si Bungsu. Si Sulung mengangguk setuju.
"Dan di keluarga kita, kita gak nyusahin orang lain." Sang ibu menatap mereka. "Waktu kecil kalian gak nyusahin Mamah. Sekarang Mamah, gak nyusahin kalian." Dia kembali menggendong cucunya.
(halaman 84-85)



4. Pak Gunawan

Pak Gunawan adalan bapak yang dimaksud dalam judul Sabtu Bersama Bapak. Pak Gunawan digambarkan sebagai seorang yang berkarakter sangat bijaksana dan sayang keluarga. Satu hal yang melekat di benak saya adalah hampir di setiap akhir video Pak Gunawan selalu mengucapkan kalimat "Bapak sayang kalian". Kalimat itu memiliki energi yang berhasil menyentuh hati saya.

keluarga Garnida


Akhir Kata Untuk Sabtu Bersama Bapak

Yang menarik dari buku ini adalah pesan-pesan di dalamnya. Ketika salah seorang sepupu saya tanya langsung kepada saya: "Buku ini tentang apa sih?".

Saya berpikir sebentar lalu menjawab "tentang how to be a good person, be a good husband, and be a good father". Selain itu juga saya cukup dihibur oleh candaan-candaan suami Ninit Yunita ini, walau kadang rada garing, tapi beberapa kali berhasil membuat saya nyengir.

Yang kurang menarik mungkin adalah alur cerita yang sangat mudah ditebak. Saya sangat menikmati bagian awal sampai pertengahan, tapi bosan ketika menjelang akhir. Seolah-olah saya bisa menyimpulkan ending-nya tanpa perlu membacanya sampai selesai.

Di Indonesia sudah banyak buku yang bertema cinta, mimpi, dan pencarian jati diri, tapi belum banyak yang bertema keluarga seperti ini. Siapa pun perlu membuka mata tentang apa-apa yang disampaikan di buku ini.

Baca Juga : Cinderella Teeth - Kisah Cinderella dan Para Peri Gigi Modern




Tag :


Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Cinderella dan Wanita Masa Kini: Sebuah Dekonstruksi Dongeng


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Para Penjelajah Dunia : dari Vasco da Gama hingga Ibnu Battuta


Billionaire a.k.a Top Secret: Kisah Sukses Seorang Pengusaha Muda


Danilla dan Kalapuna


Icip-Icip Seblak Zoss, Lebih Dari Sekadar Joss


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Penelusuran dan Napak Tilas Reruntuhan Situs Candi Pendharmaan Ken Angrok di Kabupaten Malang (Bagian 2)


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Sebilik Ruang