Dunia Cecilia - Dialog Surga Dan Bumi

16 Oct 2015    View : 4885    By : Nadia Sabila


Ditulis oleh Jostein Gaarder
Diterbitkan oleh Mizan
Diterjemahkan oleh Andityas Prabantoro
Proofreader oleh Eti Rohaeti dan Firmansayah
Sampul dan ilustrasi didesain oleh Andreas Kusumahadi
Genre fiksi, young adult, motivasi, sick lit, fantasy, dongeng, spiritual, filsafat
Diterbitkan pada Juni 2015
Jumlah halaman 210
Nomor ISBN 978–979-433-886-5
Koleksi Perpustakaan Artebia

 

"Baik aku maupun kamu tak bisa memilih, jadi tak ada gunanya membicarakannya. Lagi pula pastilah lebih baik mendapat satu kesempatan menyaksikan alam semesta ini ketimbang tak mengalami apa pun. Segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan." (Hal.166)


Sensasi Membaca Novel Filsafat Fiksi

Dunia Cecilia, adalah salah satu karya terbaik Jostein Gaarder. Artebianz pernah mendengar nama Jostein Gaarder? Yup! Beliau terkenal sebagai novelis filsafat fiksi asal Norwegia. Membaca karya-karya Gaarder memang tak jarang membuat kita mengernyitkan dahi atau bahkan sampai harus membaca suatu kalimat dua kali demi meresapi maknanya (karena itulah yang saya lakukan).

filsafat

Meski sudah digadang sebagai "cara yang ringan untuk memahami filsafat", tetap saja membaca novel Dunia Cecilia ini kudu penuh penghayatan dan konsentrasi, karena tak ada klimaks pada novel-novel filsafat fiksi semacam ini. Setiap kalimatnya kadang adalah jawaban dari pertanyaan hidup kita selama ini. Jadi, perlu penelusuran secara cermat.

Tapi jangan keburu menyerah dulu, Artebianz! Menurut saya, seni membaca novel filsafat fiksi adalah sensasi ketika kita sampai pada "The A-Ha! Moment" atau "Oh iya, ya! Moment", yakni ketika pertanyaan-pertanyaan polos masa kecil kita terkuak dan terjawab. Terlepas dari apakah jawaban itu benar atau salah, setidaknya kita telah mendapatkan gambaran yang masuk di akal kita.

Baca juga: SUPERNOVA Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi

 

 

Cecilia

Adalah Cecilia, seorang anak perempuan Norwegia yang mengidap penyakit parah hingga tak boleh bangkit lama dari tempat tidurnya. Hari-harinya ia habiskan di tempat tidur dengan merenung, menuliskan kata-kata mutiara di Diari Cina-nya, atau bercengkerama dengan orang-orang yang silih berganti mengunjunginya di kamar loteng.

Pun hingga Natal tiba.

Hari istimewa bagi umat Kristiani itu harus ia lewati seorang diri di kamarnya, karena keluarganya berkumpul merayakan Natal di ruang keluarga di bawah, sedangkan Cecilia tak boleh jauh dari tempat tidurnya karena penyakitnya. Cecilia sempat menangis sebab merasa sedih dan kesepian. Namun, masih ada semangat baginya karena ayahnya berjanji akan membawanya turun ke ruang keluarga saat sesi membuka kado tiba.

Dalam novel ini, Cecilia adalah sosok anak perempuan yang pantang menyerah dan berkemauan keras. Ia tahu dan sadar ia sedang sakit parah, tetapi ia bersikeras meminta hadiah Natal yang hampir mustahil dimainkan olehnya: papan ski dan toboggan.

tobogganToboggan

"Kalau aku, sih, lebih suka dapat papan ski betulan," (hal. 25)

Meski mustahil, orang tua dan keluarga Cecilia tetap menghadiahkan papan ski baru untuk gadis kecil kesayangan mereka itu. Mereka ingin agar Cecilia bahagia di tengah perjuangannya bertahan melawan penyakit yang membuatnya tak berdaya.

"Toboggan! Edan ..."
Ibu membungkuk dan mencubit pipi Cecilia. "Apa kau pikir, kami berani memberimu hadiah selain ini?" (hal. 26)

Selain agak keras kepala, Cecilia juga cerdas dan kritis dalam berpikir. Kecerdasan Cecilia di sini nanti akan tersurat dalam percakapannya tentang surga dan bumi dengan Malaikat Ariel.

Baca juga: The Wind Leading to Love

 

 

Malaikat Ariel

Adalah salah satu dari ribuan malaikat ciptaan Tuhan yang turun ke bumi dan menemani Cecilia sepanjang sisa hidupnya. Ia digambarkan seperti sosok anak laki-laki berkepala gundul dan berjubah putih. Tubuhnya halus seperti bayi dan suara tawanya seperti kelereng jatuh, halus sekali.

Kedatangan Ariel menemui Cecilia sebenarnya bukan tanpa alasan. Sebagai malaikat, Ariel terheran-heran dan takjub akan tingkah laku manusia yang juga ciptaan Tuhan.

Bagi Ariel, manusia itu seperti misteri. Untuk itulah, ia mendekati Cecillia, mewakili rasa penasaran malaikat-malaikat lain untuk mendapat jawaban seperti apa rasanya menjadi manusia.

"Tahukah kamu, meskipun melihat manusia datang dan pergi, kami tidak tahu persis bagaimana rasanya berwujud darah dan daging."


 

Nenek

Saya merasa perlu sedikit menjabarkan tokoh Nenek dalam Dunia Cecilia ini karena pengalaman-pengalaman Cecilia dengan tokoh Nenek ini berfungsi sebagai katalis yang sering dilibatkan dalam percakapan Cecilia dengan Ariel nantinya.

Nenek adalah ibu dari ibu Cecilia, digambarkan sebagai wanita tua yang bijaksana sekaligus satu-satunya orang yang paling 'nyambung' jika diajak bicara masalah khayal-mengkhayal oleh cucunya. Bahkan menurut malaikat Ariel, nenek adalah orang dewasa yang tidak kehilangan semangat anak-anaknya, karena untuk memahami surga dan dunia, membutuhkan sense yang biasanya dimiliki oleh anak-anak.

Orang dewasa pada umumnya akan menganggap semua tentang surga atau khayalan adalah omong kosong belaka, padahal, ada makna dalam di baliknya. Dan tokoh nenek, adalah orang yang bisa dipercaya untuk membicarakan hal-hal semacam itu.

"Kau harus berusaha untuk tidak putusan hubungan dengan anak kecil dalam dirimu. Nenek tidak. Ia bahkan selalu bisa menirukan wajah badut hanya untuk membuatmu tertawa, iya, kan?" (hal.46)
 


Selayang Pandang Saya: Pikiran Anak-Anak Vs. Pikiran Orang Dewasa

Membaca novel ini membuat saya menyadari, pikiran kita lebih 'luwes' saat kita masih anak-anak. Pertanyaan-pertanyaan 'kekanakan' seperti lebih dulu mana ayam atau telur atau mengapa hanya diciptakan dua jenis kelamin di dunia ini seringkali tak terjawab.

Ya, 'kekanakan' karena biasanya yang melontarkan pertanyaan semacam itu adalah anak-anak, dan orang dewasa seringkali kebingungan menjawabnya. Bahkan, mungkin ada juga yang meras pertanyaan semacam itu tidak perlu pertanyakan.

Padahal justru pemikiran-pemikiran kanak-kanak itulah yang sejatinya bisa membuat manusia lebih menghayati makna ciptaan Tuhan, makna mengapa dirinya diciptakan. Singkatnya, memahami eksistensialisme memerlukan pikiran yang bebas, dan terkadang harus berani bergerak di luar logika. Seperti kata filsuf Renee Descartes, "Cogito Ergo Sum" (aku bepikir maka aku ada).


Ayam Atau Telur, Mana yang Lebih Dulu?

Pertanyaan klasik ini masih dibahas di Dunia Cecilia. Berawal dari keterkejutan Cecilia ketika pertama kali melihat Ariel, malaikat yang ternyata berwujud mirip anak-anak, bukannya orang dewasa yang seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

"Guruku bilang, masa kanak-kanak cuma tahapan menuju dewasa. Itu sebabnya kami harus mengerjakan semua PR dan menyiapkan diri jadi orang dewasa. Konyol banget, kan?" (hal.37)

"Justru masa dewasalah yang merupakan tahapan lahirnya anak-anak baru."

ayam_telur

Ariel mengiaskan hal itu seperti lebih dulu mana, ayam atau telur. Jawaban Ariel adalah lebih dulu telur, karena Tuhan tidak menciptakan ayam langsung dari udara (Hal.38). Dan hal baru yang saya dapatkan dalam topik ini "anak-anak dewasa" ini adalah bahwa Adam dan Hawa diciptakan dalam bentuk anak-anak terlebh dahulu dan mereka tumbuh dewasa.

Opini saya: terlepas dari pernyataan Ariel, menurut saya, yang diciptakan terlebih dahulu adalah ayam. Siapa yang mengerami telur jika bukan ayam dewasa? Lalu, tentang Adam dan Hawa, menurut saya Adam diciptakan dalam bentuk dewasa. Barulah ia kawin dengan Hawa dan melahirkan empat anak. Bagaimana menurut Artebianz?

Baca juga: The Giving Tree: Cinta adalah Bahasa Universal

 

 

Perbedaan Manusia Dan Malaikat

Di kala sakit, terkadang seseorang bisa memaknai lebih dalam arti sehatnya, arti sakitnya, dan bisa lebih dekat dengan Tuhan. Begitu pula dengan Cecilia, di sisa-sisa usianya, dia justru mendapat kesempatan langka untuk dapat bercakap-cakap dengan sesosok malaikat seperti Ariel; Bertukar pikiran tentang bagaimana surga, serta bagaimana rasanya menjadi manusia yang diliputi darah dan daging.

cecilia_ariel

Pada dasarnya, perbedaan antara manusia dan malaikat yang dijabarkan oleh Gaarder dari Alkitabnya tidak jauh berbeda dengan pengetahuan yang saya imani dari kitab kepercayaan saya juga.

Di Dunia Cecilia ini, malaikat digambarkan sebagai ruh, yang tidak memiliki hawa nafsu dan indera seperti manusia. Mereka tidak tidur, tidak bisa merasaka dingin atau panas, dan bisa bergerak ke mana saja tanpa harus berjalan kaki seperti manusia. Tuhan menciptakan malaikat dari tiupan sebagian ruhnya, sementara dalam pengetahuan saya, malaikat diciptakan dari cahaya.

Sedangkan manusia adalah kebalikannya. Di balik darah dan daging manusia, pada dasarnya manusia adalah tanah. Manusia juga memiki hawa nafsu, bisa marah, sedih, dan berpikir.

"...Pertama-tama kau harus memberitahuku seperti apa rasanya menjadi makhluk dari darah dan daging."
"Kalau begitu, ajukan pertanyaan!..."
"...Apa sebenarnya segala macam bau yang melayang di segenap penjuru dunia itu?"
"Kurasa, kau juga tak bisa mencium bau pohon Natal ya?"
"Malaikat tidak punya indra, Cecilia. ..." (hal. 94-95)

Menurut malaikat Ariel, manusia adalah ciptaan Tuhan yang hebat dan luar biasa. Mereka bisa bermimpi dan bisa merasa. Sedangkan Cecilia, ia sangat penasaran seperti apa surga itu.

"Orang bilang, kita akan ke surga setelah mati. Benarkah?"
Malaikat Ariel medesah.
"Kalian semua sekarang sudah berda di surga. Sekarang di sini. Jadi sebaiknya kalian berhenti bertengkar dan berkelahi. ..."
"Inilah Bumi Surgawi, Cecilia. Inilah Taman Firdaus tempat tinggal manusia. ..."

Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan jasmaniah dan rohaniah antara manusia dan malaikat yang dijabarkan di novel ini. Terkadang pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ariel justru terdengar lucu. Gaarder sukses memposisikan dirinya sebagai makhluk 'di luar' manusia dan sebagai manusia itu sendiri dalam Dunia Cecilia.

christmas-snow-pictures

Opini saya: Dalam mendiskusikan bahasan tentang perbedaan malaikat dan manusia ini terus terang saya sulit sekali melepaskan latar belakang pengetahuan agama saya versus latar belakang agama Jostein Gaarder sebagai penulis Dunia Cecilia.

Sensitif dan butuh kehati-hatian memang, tapi mungkin ini sebetulnya bisa jadi bahan yang sangat menarik untuk didiskusikan ya, tapi kalau berdiskusinya tanpa ilmu dan kearifan, yang ada malah debat kusir dan buang-buang waktu ya, Artebianz. Hehe....

 

 

Penutup

Lama kelamaan keadaan Cecilia makin lemah. Pada akhirnya ia sudah tak sanggup menulis lagi di Diary Cina-nya. Cecilia meminta bantuan nenek, orang yang paling dikaguminya, untuk menuliskan hasil percakapannya dengan Ariel (tentu saja nenek tidak tahu siapa dan bagaimana hubungan Cecilia dengan Ariel) di buku hariannya itu.

candle

Gaarder memang tidak menuliskan secara langsung bahwa Cecilia akhirnya meninggal di akhir buku. Dia hanya mengggambarkan melalui Cecilia yang akhirnya bisa terbang bersama Ariel dan tidak merasa aneh ketika melihat tubuhnya sendiri yang terbaring di kasur.

Pengalaman-pengalaman Cecilia sebelum berakhir itulah yang dituliskan dengan cara yang indah oleh Jostein Gaarder di Dunia Cecilia. Bahkan, ada bagian ketika akhirnya papan ski kado Natal Cecilia akhirnya dipakai oleh Cecilia meskipun ia sedang sakit parah. Kapan dan bagaimana indahnya, hanya bisa dirasakan jika Artebianz membaca buku ini sendiri.

Baca juga: Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


 

Kutipan-Kutipan Menarik Dunia Cecilia

#1 Tak seorang pun astronaut pernah melihat Tuhan atau malaikat. Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran di dalam otak. Dan tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain.

#2 Menjadi Atau Tidak Menjadi. Itu perkataan yang bagus karena tak ada posisi setengah-setengah. (kata ini diambil dari quotes William Shakespeare: to be or not to be)

#3 Kau tak selalu sepenuhnya memahami apa yang kau ciptakan karena kau tak thu rasanya jadi benda yang kau ciptakan

#4 Segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan.

#5 Alam semesta maupun surga adalah misteri akbar yang tak bisa dipahami manusia di bumi ataupun malaikat di surga.

 


Tag :


Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh


Intertwine - Takdir Yang Berjalin


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati




De Oak Cafe Resto Surabaya


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Gili Labak - Surga Tersembunyi Di Pulau Garam


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Cheongsam Bunga Teratai Mei Lien


Jalan Setail di Malam Ini