People Like Us - Sekelumit Kisah Sendu yang Manis

04 Sep 2014    View : 3398    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Yosephine Monica
Diterbitkan oleh  Haru
Diterbitkan pada  Juni 2014
Genre  fiksi, young-adult, drama, slice of life, sick-lit, romance
Jumlah halaman  330
Nomor ISBN  978-602-7742-35-2
Harga  IDR54.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi


Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu.
Tentang Amy, gadis yang tak punya banyak pilihan dalam hidupnya.
Serta Ben, pemuda yang selalu dihantui masa lalu.

Sepanjang cerita ini, kau akan dibawa mengunjungi potongan-potongan kehidupan mereka.
Tentang impian mereka,
tentang cinta pertama,
tentang persahabatan,
tentang keluarga,
juga tentang... kehilangan.

Mereka akan melalui petualangan-petualangan kecil, sebelum salah satu dari mereka harus mengucapkan selamat tinggal.

Mungkin, kau sudah tahu bagaimana cerita ini akan tamat.

 Aku tidak peduli.

Aku hanya berharap kau membacanya sampai halaman terakhir.

Kalau begitu, kita mulai dari mana?

 

 

Impresi Saya terhadap People Like Us

Setelah membaca sinopsis novel ini, mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa saya memilih novel yang jelas-jelas mengungkapkan seperti apa perjalanan tokoh-tokoh di dalamnya. Well, harus saya ulangi sekali lagi, Artebianz; saya lumayan shallow dalam memilih buku Laughing

Yap. Ketika memilih buku yang akan dikoleksi, saya memilihnya berdasarkan sampul. Karena serius, siapa pun pasti akan membeli "kucing" dalam karung, asalkan karungnya cantik.

Terkadang saat membeli buku saya tidak mempertimbangkan siapa penulisnya, siapa penerbitnya, atau embel-embel endorse/best-seller yang tertera di sana. Asalkan warna, desain gambar, dan sinopsis di belakang novel nyambung...

SNAP!

Detik berikutnya Anda akan melihat saya sudah memasukkan novel itu ke dalam keranjang belanjaan.

Thus, Artebianz, penjelasan itu saya rasa cukup untuk menjelaskan betapa saya menyukai penampilan fisik People Like Us. Gradasi putih, jingga-ala-sunset, dan gambar bukunya lumayan mengena ke isi novel. Karena itu, mari kita berterima kasih pada ilustrator sampul novel ini :D

Tapi untuk kasus People Like Us ini ada satu hal lain yang mendorong saya untuk segera membelinya. Semuanya berkat seorang teman yang lebih dulu membaca novel ini. Berbekal dua kata "bagus banget" dari teman saya ini, tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk batal puasa beli-beli buku. Terima kasih, Kakak Laughing

Dan sekarang, setelah menerima dan membaca sampai halaman terakhir novel debut Yosephine Monica ini apakah saya menyesal? Tidak. Sama sekali tidak Artebianz. Sebaliknya, saya justru dibuat jatuh hati dengan gaya penulisan gadis berumur 17 tahun ini. Meski masih belia, tapi bisa saya katakan bahwa People Like Us sama sekali tidak memperlihatkan "kehijauan" Yosephine. Sebaliknya, novel ini justru menyampaikan kematangannya. Oleh sebab itu, saya berharap People Like Us bukanlah karya terakhir Yosephine.

Even if you must take your time in writing your next novel, Yosephine, I'd still wait for it Smile

Sudah penasaran, seperti apa sih, People Like Us menurut saya, Artebianz? Mari menyelami dunia Amy dan Ben ini.

Baca juga: Cinderella Teeth - Kisah Cinderella dan Para Peri Gigi Modern

 

 

Bagian per Bagian dari People Like Us

Menggunakan kota Boston sebagai latar, People Like Us menceritakan kehidupan Amelia Collins dan Benjamin Miller. Seperti umumnya cerita remaja yang mengusung cerita cinta, selalu ada kisah tentang cinta bertepuk sebelah tangan dan patah hati. Inilah yang dialami oleh Amy, nama kecil Amelia, terhadap Ben. Bahkan sebelum gadis itu menyatakan rasa sukanya. Uniknya, Amy tidak berhenti mengagumi dan menyukai sosok Ben yang misterius. Semenjak perjumpaan pertama mereka di kelas musik, sebelum kemudian terpisah dan kembali lagi bertemu beberapa tahun kemudian, Amy tetap dan selalu menyukai Ben.

Diambil dari embelishedmoments.com

Sepasang mata Amy selalu berhasil menemukan sosok Ben di keramaian sekolahnya, dan selalu saja terpaku pada figur anak laki-laki itu, yang menurut teman Amy sebenarnya tidak terlalu menarik. Apalagi Ben terlalu pendiam, selalu terlihat murung, dan (fakta yang paling penting bagi Amy adalah) dia belum bisa melupakan mantannya. Irina, seorang gadis yang 180 derajat berbeda dari Amy.

Sementara Irina cantik, ceria, dan menarik, Amy adalah sosok gadis yang "tidak tinggi, tidak pendek; standar. Tidak gemuk, tidak kurus; standar. Matanya tidak sipit, tidak bulat; standar" (hal. 11).

Sementara Irina dekat dengan lingkaran orang-orang populer, koneksi yang dimiliki Amy di sekolah "tidak terlalu luas" (hal. 11).

Dan hal lain yang membuat Ben tidak akan pernah mendekati Amy adalah kenyataan bahwa anak laki-laki itu merasa risih dengan Amy dan perasaan gadis itu padanya, yang telah menjadi rahasia seluruh sekolah. Sampai suatu hari, satu kelebihan Amy yang tidak dimiliki oleh Ben membuat keduanya dekat.

Apakah itu? Dan cukupkah kelebihan dari seorang gadis yang terkenal dengan "kestandarannya" menarik perhatian Ben, yang bahkan menganggap kehadirannya mengganggu?

Sila Artebianz menemukan jawabannya sendiri di tiap lembar novel People Like Us ini Smile

Baca juga: The Fault in Our Stars - Sebenarnya Ini Salah Siapa?

 

Tentang Para Karakter dalam People Like Us

Ada satu hal yang segera menarik perhatian saya mengenai para karakter utama di novel yang ditulis gadis kelahiran Medan ini, yakni penggambaran mereka sebagai sosok yang sederhana dan normal.

Amelia Collins (Amy)

Yosephine menggambarkan sosok Amy sebagai seorang gadis yang terkenal dengan kenormalannya. Dia "tidak tinggi, tidak pendek; standar. Tidak gemuk, tidak kurus; standar. Matanya tidak sipit, tidak bulat; standar." (hal. 11).

Umumnya sebuah novel akan menceritakan betapa cantik, menawan, atau cerdasnya si tokoh wanita - tapi Yosephine tidak melakukannya. Dia seakan berusaha menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat menarik tanpa harus menonjolkan kelebihan fisik tokoh-tokoh di dalamnya, terutama dari sudut pandang penulis itu sendiri. Selain itu, dengan menempatkan tokohnya sebagai sosok yang "standar" Yosephine berhasil meraih dua hal:

  1. Dia berhasil menggunakan teori "show, don't tell". Ketimbang menceritakan kelebihan Amy, Yosephine memilih untuk "meminjam" mulut Ben dan tokoh-tokoh People Like Us lainnya untuk menunjukkan apa saja yang membuat sosok Amy menarik.
  2. Yosephine berhasil menempatkan Amy sebagai contoh dari mayoritas remaja yang ada di dunia. Mari kita akui Artebianz, tidak semua remaja di dunia ini memiliki penampilan yang menarik, cerdas, dan cantik.

Oleh karena itu, ketika satu per satu kelebihan Amy, dan Ben, diungkapkan--entah oleh satu sama lain atau oleh tokoh-tokoh yang lain, atau oleh sebuah peristiwa--saya tidak lagi merasa sedang membaca sebuah novel. Saya seakan-akan tengah mendengar cerita dari seseorang teman dekat.


Diambil dari itiswrittenforyou.com

Benjamin Miller (Ben)

Sementara Amy diceritakan sebagai gadis normal yang selalu menunggu hari esok untuk kembali bertemu dengan Ben, anak laki-laki ini diceritakan sebagai sosok yang tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Semuanya berawal dari kesehatan Ayah Ben yang menurun, disusul kelahiran adik Ben (Margareth) yang menyita perhatian keluarganya, dan diikuti oleh perpisahan orangtuanya.

Terlahir sebagai anak tengah, Ben merindukan perhatian dan kedekatan yang sempat dicecapnya:

Ben sedang menikmati masa puncaknya sebagai anak bungsu yang dielu-elukan tepat di saat Margareth lahir. Dan mendadak, dunia memusuhinya. Ayah dan ibunya tidak peduli pada kejuaraan sepak bola yang Ben ikuti, Timothy yang sejak dulu mendambakan kehadiran adik perempuan perlahan-lahan membandingkan Ben dengan adik barunya, sementara Granny sibuk dengan pernak-pernik yang disiapkannya untuk cucu perempuannya satu-satunya.
Dari sana, kecemburuan itu tumbuh, semakin lama semakin membesar hingga melahirkan kebencian diam-diam. (hal. 147)

Karena tak lagi menerima kasih sayang dari rumah, perlahan Ben pun mulai kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Dia juga mulai membenci orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya tak lagi mencintainya.

Namun apakah benar, ikatan kasih di antara keluarga bisa hilang begitu saja? Ben akhirnya menemukan jawabannya lewat pertemuannya dengan Amy. Pertemuan yang mulanya begitu dia benci dan hindari, tapi kemudian menjadi momen-momen yang dirindukannya.

Baca juga: Intertwine - Takdir Yang Berjalin

 

 

Akhir Kata dari People Like Us

Melalui gaya penulisannya yang mendayu-dayu, dan kalau boleh saya katakan di atas penulis debut lainnya (mungkin ini karena meski tak pernah mengirimkan karyanya ke media cetak sebelumnya, Yosephine sering berlatih lewat blog), gadis kelahiran Medan ini berhasil membuat saya tersihir dan jatuh cinta pada karyanya.

Memang masih ada beberapa hal yang saya rasa kurang pas dalam People Like Us, tapi kecil dan sama sekali tidak terasa. Saking kecil dan tak berartinya, hal itu tidak mengurangi rasa cinta saya pada novel ini. Apalagi dengan keselarasan desain cover, cerita, diksi, dan gaya menulis Yosephine. People Like Us menjadi rekomendasi saya untuk mereka yang menyukai novel sendu tanpa membiru, cerita manis tanpa membuat eneg.

And Yosephine Monica, remember, I'd really like for you to continue your passion in writing. You have talent, my Dear :)

 

 

Your book curator,

N

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


Love Dust (Season 1 and 2) - Pilihan Itu Bukanlah Sesuatu yang Mudah


The Swimmer (Fak Wai Nai Kai Ther): Ketika Persahabatan Menjadi Dendam


Nash - Ya Rabbana Anta Maulana


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Taman Bungkul - Oase dan Kebanggaan Warga Surabaya


Gedung De Javasche Bank Surabaya - Saksi Sejarah Panjang Perbankan Indonesia


Tea Tasting Bersama Havelteh


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Interaksi di Galaksi


Hati Terlelap Bahagia