P.S. I Still Love You - Psst... Ada yang Masih Cinta

02 Nov 2015    View : 1816    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Jenny Han
Diterbitkan oleh  Simon & Schuster New York
Foto sampul diambil oleh  Douglas Lyle Thompson
Desain aksara sampul oleh  Nancy Howell
Genre  fiksi, drama, romance, young adult, slice of life
Jumlah halaman  352
Nomor ISBN  978-1-4814-4471-2
Harga  IDR173.000,00
Koleksi  Perpustakaan Pribadi

 

Lara Jean didn’t expect to really fall for Peter.
She and Peter were just pretending. Except suddenly they weren’t. Now Lara Jean is more confused than ever.
When another boy from her past returns to her life, Lara Jean’s feelings for him return too. Can a girl be in love with two boys at once?

In this charming and heartfelt sequel to the New York Times bestseller To All the Boys I've Loved Before, we see first love through the eyes of the unforgettable Lara Jean. Love is never easy, but maybe that’s part of what makes it so amazing.


Saya mengenal Jenny Han sejak Goodreads “menggoda” saya dengan The Summer I Turned Pretty, tapi saat itu saya sama sekali nggak yakin dengan gaya bercerita atau cerita yang ditawarkan oleh Han. Mungkin ini terdengar racist di telinga para pecinta buku, tapi saya lumayan alergi pada buku yang menggunakan judul yang terlalu eksplisit dan terkesan shallow—walau pada saat yang bersamaan itu juga menunjukkan kalau saya sendiri lumayan shallow…. Heuheuheu.

Tapi jangan salah Artebianz, I do love romance story, tapi kalau ceritanya mundane dan tokoh-tokohnya mediocre, rasanya nggak asyik lagi menjatuhkan diri ke dalam dunia romance yang kemasannya sudah beragam.

Tapi setelah membaca seri pertama P.S. I Still Love You, saya jatuh hati pada gaya bercerita Han dan bagaimana dia menggambarkan sosok lugu para remaja yang terjebak antara impian masa kanak-kanak dengan dunia nyata yang terbentang di hadapan mereka.

So, do I still love Jenny Han’s writing after I read this novel?

Let me tell you, Artebianz….

 

Peringatan!

Untuk Artebianz yang belum membaca To All The Boys I’ve Loved Before, kenapa kamu bisa nyasar di sini?! Kamu mesti baca novel itu dulu, baru baca review P.S. I Still Love You. Kalau nggak, kamu mungkin musti hati-hati sewaktu membaca review novel ini. Saya memang akan berusaha sebaik-baiknya untuk nggak merusak kesenangan kamu sewaktu membaca novel ini, tapi siapa tahu saya selip dan menebar spoiler di mana-mana.

Jadi, jangan salahkan saya, ya!

Baca juga: I Love You; I just Can't Tell You

 

 

P.S. I Still Love You et L'histoire

Serupa dengan cerita di To All The Boys I’ve Loved Before, P.S. I Still Love You juga dipicu oleh sebuah surat. Bedanya, kali ini surat Lara Jean ditujukan untuk satu orang: Peter Kavinsky. Perbedaan kedua, kali ini Lara Jean bukan lagi membicarakan rasa suka yang pernah dia rasakan di masa lalu. Kali ini, Lara Jean membicarakan tentang perasaannya pada saat ini. Meskipun sebenarnya dia nggak paham benar tentang pernak-pernik hubungan antara cowok dan cewek, karena Kavinsky adalah cowok pertama yang dipacari Lara Jean. Walau toh diniati dengan kepura-puraan.

Berbekal keyakinan bahwa kali ini mereka nggak ingin lagi berpura-pura dan niat bahwa mereka nggak akan mengacaukan segalanya, Lara Jean dan Peter pun kembali berpacaran. Layaknya kebanyakan remaja yang polos, Lara Jean dan Peter mengusahakan segala hal demi keberhasilan hubungan mereka.

Peter will not be more than five minutes late.

Lara Jean will not make Peter do crafts of any kind.

Peter doesn't have to call Lara Jean before he goes to bed at night, but he can if he feels like it.

Lara Jan will only go to parties if she feels like it.

Peter will give Lara Jean rides whenever she wants.

Lara Jean and Peter will always tell each other the truth.

(hal. 40)—silly-cute ya, Artebianz.

Sayangnya, semakin Lara Jean dan Peter berusaha untuk membuat hubungan mereka sempurna, semakin sulit pula bagi keduanya untuk mewujudkannya.

Terutama ketika Peter masih terikat dengan mantannya: Genevieve.

Sejak awal Genevieve sudah menjadi momok bagi hubungan Lara Jean-Peter, bahkan ketika hubungan mereka berdua masih pura-pura. Ini bukan hanya karena Gen, panggilan gadis itu, adalah cewek populer di sekolah. Tapi juga karena Gen memiliki segalanya yang nggak dimiliki Lara Jean: tubuh seksi, kepercayaan diri, dan tentu saja—sejarah awal dengan Peter.

Genevieve sebenarnya adalah teman semasa kecil Lara Jean, tapi sesuatu yang terjadi bertahun-tahun lalu membuat Genevieve membenci Lara Jean dan nggak bisa melepas Peter begitu saja. Seakan kombinasi dua hal itu belum buruk, Peter sendiri nggak bisa melepaskan diri dari Genevieve begitu saja. Meski dia bersumpah pada Lara Jean bahwa saat ini yang ada di hatinya adalah gadis itu. Tapi Lara Jean nggak bisa memercayai ucapan Peter. Bagaimana dia bisa melakukannya, ketika dia masih sering memergoki Peter mengirim pesan pada Genevieve? Dan memilih untuk merahasiakan segala hal tentang Gen dari Lara Jean.

Di saat-saat Lara Jean terjebak dalam dilema antara menjaga hubungannya dengan Peter atau memutuskan untuk berpisah, datanglah John Ambrose McClaren—satu-satunya cowok yang membalas surat Lara Jean dan memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Selain Peter tentunya.

Dan dengan John, Lara Jean bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dari hubungannya dengan Peter: perasaan bahwa dia adalah satu-satunya di dalam hati seorang cowok.

Nah, apa Lara Jean bakal memutuskan Peter dan memilih John, atau bertahan dalam hubungannya dengan Peter yang sering dibumbui rahasia dan Genevieve?

P.S. I Still Love YouIn a coffee shop amidst the drift: it's just me, music, my doodle, and Lara Jean Smile

Baca juga: The Chronicles of Audy - Refleksi Kehidupan Seorang Gadis dalam Outline Skripsi

 

 

P.S. I Still Love You et Le Critique

Its Characters

Dalam P.S. I Still Love You, kita masih bertemu beberapa tokoh yang sama: Song bersaudari dan keluarga mereka—tentu saja, Peter dan keluarga Kavinsky, Genevieve, Chris, Lucas. Karena itu, saya nggak akan terlalu mengulik para tokoh lama. Perbedaan novel ini dari pendahulunya, yang pasti adalah kali ini ada beberapa tokoh baru yang muncul dan yang harus mundur dari spotlight. Salah satu tokoh yang 'mengundurkan diri' adalah Josh, kekasih Margot.

Untuk alasan apa? Saya nggak akan merusaknya dengan penjelasan. Yang sudah baca To All The Boys I’ve Loved Before pasti bisa menebak Smile

Sementara itu, beberapa tokoh baru yang muncul adalah John Ambrose McClaren. John, atau Johnny—nama kecilnya, adalah salah satu tokoh yang saya nantikan. Selain karena Han sempat memunculkan John di prequel novel ini, saya yakin John bisa menjadi ancaman bagi Peter.

John Ambrose McClaren adalah kebalikan dari Peter. Saat mereka satu sekolah, di antara para cowok, Peter memiliki peringkat terakhir di sekolah, sedangkan John justru peringkat pertama. Tapi di mata Lara Jean secara fisik, John punya daya pikat yang nyaris sama seperti Peter:

I liked his yellow hair, sunny and fair like white summer corn. He was innocent and sweet-cheeked, he had the face of a boy who’d never been in trouble, and the neighborhood mothers loved him best. He just had this look about him. (hal. 158)

Sekilas, kutipan itu menjelaskan pandangan dan pendapat orang lain, tapi bisa jadi juga sebenarnya itu adalah hasil pengamatan Lara Jean terhadap John. Saya membayangkan Lara Jean membuntuti John dan melihat bagaimana cowok itu bersikap pada sekitarnya. Nah, dari situlah dia tahu tentang sikap ibu-ibu di sekitar rumah John pada cowok itu, sehingga Lara Jean punya gambaran tentang sosok polos dan wajah nggak bersalah John.

Kecurigaan saya tentang kecenderungan sifat stalking Lara Jean ini didukung “pengakuan” nggak langsung Lara Jean tentang menu makan siang John (hal. 159). Se-hardcore apa pun seorang cewek menyukai seseorang, dia nggak akan segampang itu mendapatkan info tentang menu makan siang cowok gebetannya. Kecuali, kalau si cewek punya kecenderungan sebagai seorang stalker.

……

Apa kamu punya kecenderungan semacam itu, Lara Jean?

Lara Jean Song... Kavinsky?Illustration source: here.

Sementara itu, tokoh-tokoh lain? Nggak terlalu banyak yang berubah dari mereka. 

Chris masih tetap cablak dan blakblakan, Margot masih serius, Lucas masih tetap menjadi sahabat gay yang cool. Kitty masih menjadi tokoh anomali yang saya cintai. Dan Lara Jean? Tentu saja Lara Jean masih tetaplah Lara Jean. Dia masih polos, kecuali beberapa kejadian yang kemudian memberinya pelajaran—baik tentang hubungan cowok-cewek, sifat Peter, maupun tentang hubungan manusia.

Ngomong-ngomong, saya benar-benar menyukai selipan pengetahuan tentang hubungan manusia dari kata Korea, yang menjelaskan hubungan dua orang terlibat secara emosi dan nggak akan bisa dirusak. Meski perasaan cinta di antara keduanya sudah berubah menjadi benci (hal. 320). Meski ini bukan pertama kalinya Han menyelipkan kebudayaan Korea—Han melakukannya di bab pertama, istilah “Jung” terasa lebih ngena karena: 1) ini pertama kali saya mendengarnya; 2) lebih terasa personal dan lebih menunjukkan jati diri Lara Jean sebagai salah satu anggota keluarga Korea bermarga Song.

 

The Common Secret

Selain penasaran tentang sosok John, yang berhasil membuat Lara Jean dengan nekat menyelinap di sebuah acara hanya demi melihat sosok cowok itu, saya juga penasaran pada hubungan Peter dan Gen yang bisa dibilang cukup chummy untuk ukuran mantan.

Dan… harus saya katakan, rahasia yang disimpan Gen dan Peter cukup umum. Saya sempat menemukannya di novel karangan Sara Dessen, Elizabeth Scott, dan beberapa penulis genre Young-Adult di Negeri Paman Sam. Atau di novel Indonesia seperti Hujan dan Pelangi.

Rahasia Genevieve memang cukup pas dan sesuai dengan situasi ala remaja. Tapi, entahlah. Mungkin karena sering menemukannya di novel-novel yang saya baca, akhirnya saya nggak terlalu terkesan lagi. Atau merasa deg-degan seperti yang dirasakan Lara Jean sewaktu dia membuntuti Genevieve.

Baca juga: The Chronicles Of Audy 4/4 

 

 

Akhir Kata untuk P.S. I Still Love You

P.S. I Still Love You adalah bacaan wajib buat kamu, Artebianz, yang sudah khatam membaca To All The Boys I’ve Loved Before. Alasan pertama tentu saja untuk mengetahui bagaimana kelanjutan hubungan Lara Jean dan Peter. Yang bisa saya bilang cukup nyata, dan ajaib ala Lara Jean, serta menggemaskan ala percintaan remaja. Alasan kedua… simply karena cara Han meramu ceritanya dengan kata sederhana, penjelasan yang cukup membantu pembaca untuk mengembangkan layar perahu imajinasi mereka.

Tentu, pengalaman membaca saya kali ini terbilang lebih whole, karena saya membaca versi aslinya bukan terjemahan. Tapi menimbang bagaimana saya akhirnya kepincut dengan cerita Lara Jean-Peter gara-gara membaca terjemahan To All The Boys I’ve Loved Before, saya yakin terjemahan P.S. I Still Love You akan memberikan pengalaman membaca yang nggak jauh berbeda.

Untuk Artebianz yang suka cerita cinta manis-asam yang bisa bikin kamu deg-degan, saya merekomendasikan P.S. I Still Love You buat kamu. Khususnya buat Artebianz yang sudah terlanjur kesengsem sosok Peter Kavinsky, dan penasaran; siapa sebenarnya yang masih dicintai Lara Jean? Apa John Ambrose McClaren berhasil menyaingi kedudukan Peter?

Peter Kavinsky vs. John AmbrosePeter Kavinsky (source) vs. John Ambrose (source)

 Baca juga: When the Star Falls - Yang Terjadi Ketika Bintang Terjatuh




Your book curator,

N

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


H.O.S Tjokroaminoto: Priyayi dengan Profesi Teknisi Sekaligus Politisi yang Berjiwa Pendidik


Layaknya Desserts - The Chronicles of Audy O2 Menjadi Penutup Yang Manis


Goblin: The Lonely and Great God


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Omnivoro Ciputra World, Fusion Cafe untuk Para Omnivora


Patirthan Candi Kidal Yang Tersembunyi


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Balada Sebuah Perut


Setitik  Tuba