Sayap-Sayap Kecil - Mengintip Sepotong Kisah Rahasia Seorang Gadis SMA

18 Nov 2015    View : 2395    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Andry Setiawan
Diterbitkan oleh  Inari
Disunting oleh   Yooki 
Aksara diselaraskan oleh  Sephia 
Sampul didesain oleh   Chyntia Yanetha 
Diterbitkan pada  Oktober 2015 
Genre  fiksi, young adult, drama, family, romance, slice of life, fantasy
Jumlah halaman  124 
Nomor ISBN  978-602-7150-52-2 
Harga  IDR39.500,00 
Koleksi   Perpustakaan Artebia 


Berikut fakta singkat tentang diriku:

1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.

 

Belum setengah tahun, tapi Tim Artebia kebagian lagi membaca salah satu karya Andry Setiawan. Kalau Artebianz masih ingat, dan sudah baca, belum lama ini saya mengulas salah satu novel Setiawan yang berjudul When the Star Falls. Dalam novel tersebut kita bertemu dengan pasangan Lynn dan Sam serta sepenggal kisah tentang bintang.

Sementara itu, di Sayap-Sayap Kecil kita berjumpa dengan Lana dan Surya, sepasang remaja yang berbagi kisah dalam novela sepanjang 124 halaman.

Begitu membaca blurb di bagian belakang, hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah: apakah Setiawan dengan sengaja menciptakan seri pasangan L-S? Lalu, apa dia akan membuat pasangan berinisial L-S lagi di karya berikutnya? Saya benar-benar ingin bertanya pada lelaki yang menyelesaikan pendidikan strata duanya di Jepang ini.

Sedangkan hal kedua yang terlintas di kepala saya adalah betapa cerita ini terkesan lebih kelam ketimbang karya Setiawan lainnya. Maksud saya, begitu melihat bagian belakang buku kamu membaca tentang seorang tokoh yang kerap menerima kekerasan dari ibunya. Kemudian, sosok Lana si tokoh utama terkesan lebih nyata dengan responsnya tentang cowok cakep yang jadi tetangganya.

Detik itu juga, hanya dengan 106 kata, saya dibuat jatuh hati pada Sayap-Sayap Kecil dan karakter Lana yang sederhana sekaligus logis.

Dan, sedalam apa sih jebakan yang dibuat Setiawan di Sayap-Sayap Kecil untuk pembacanya? Langsung saja kita ulas novel kelima pecandu kopi ini.

Baca juga: Sabtu Bersama Bapak

 

Sepotong Rahasia dalam Sayap-Sayap Kecil

Seperti yag sudah dijelaskan di bagian belakang novela ini, buku ini berkisah tentang sesosok gadis SMA bernama Lana Wijaya yang tinggal bersama ibu kandungnya. Dari blurb itu kita juga tahu, Ibu Lana bukanlah tipe ibu rumah tangga yang penyayang pada anaknya dan baik hati. Sebaliknya, ia justru acapkali menjatuhkan hukuman dan pukulan pada Lana.

Namun, seperti kebanyakan korban kekerasan dalam rumah tangga lainnya, Lana tidak bisa begitu saja melawan ibunya—apalagi melaporkan perlakuan yang selama bertahun-tahun dia terima dari ibunya.

Alhasil, Lana terjebak ibunya yang berprofesi sebagai penari di sebuah kelab malam, berikut rasa keterikatannya pada wanita itu serta usahanya untuk menutupi kekerasan yang diterima Lana. Satu-satunya yang bisa dilakukan gadis itu hanya menyembunyikan bilur dan lebamnya dalam buku harian, serta petikan gitar. Sendiri. Sebab kesendirian membuat Lana merasa lebih bebas mengekspresikan diri dan mengakui keadaannya tanpa mengkhawatirkan reaksi orang lain.

Aku, seorang gadis dengan lebab di lengan kanan atas, kini duduk bersila di atas beton hangat…. (hal. 17).

Tapi, ketenangan Lana hanya berlangsung beberapa saat. Satu hari, seorang cowok menyelinap masuk dalam kehidupannya dan membongkar seluruh kebohongan Lana. Cowok itu mengenalkan dirinya sebagai Surya, tetangga barunya.

Girl and Guitar
My imaginary Lana. Source here.

Memang, kedatangan Surya nggak mengubah kenyataan bahwa Lana masih sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuh. Walau begitu, kedatangan Surya mengubah dinamika kehidupan Lana. Cewek itu nggak hanya punya diary dan gitar sebagai tempat curhat. Kini, ada Surya yang nyaris tiap saat ada untuknya. Tapi… siapa sebenarnya Surya? Dan apa benar dia nggak punya motif apa-apa saat mendekati Lana?

Baca juga: People Like Us - Sekelumit Kisah Sendu yang Manis

 

Ceracau Saya tentang Sayap-Sayap Kecil

1. How’s Who in Sayap-Sayap Kecil

a. Lana

Seperti umumnya sebuah diary, kita akan dibawa ke dalam dunia pribadi si pemilik. Demikian pula dengan Sayap-Sayap Kecil. Pada bagian awal cerita, Setiawan segera memperkenalkan sosok Lana, tokoh utama kita.

Pada awal cerita kita segera tahu bahwa Lana adalah remaja berusia 16 tahun yang tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur dan memiliki golongan darah B. Kita juga segera tahu bahwa Lana hanya memiliki seorang ibu, yang memiliki kecenderungan suka menyiksa Lana, sebagai wali.

Meski memiliki latar belakang kehidupan yang menyedihkan, tapi Lana nggak serta merta menyeret pembaca ke dalam dunianya yang sendu. Sebaliknya, dia justru tampil sebagai remaja dengan emosi yang bisa dibilang stabil.

Dulu waktu aku masih kelas 6 SD aku banyak menangis. Sekarang aku sadar itu tidak ada gunanya. Aku harus menghadapinya. Dan harus meghadapinya dengan baik. Mengeluh pun tidak berguna. Lagipula, aku bia mengeluh pada siapa? (hal. 9)

Dari kutipan tersebut kita bisa melihat betapa Lana cukup level-headed dalam menilai kehidupannya sendiri. Walau dia baru berumur 16 tahun. Bisa jadi, ini karena Lana sudah menjadi korban kekerasan rumah tangga selama empat tahun.

Bisa jadi juga, Lana mengidap penyakit mirip Stockholm syndrome. Hanya, dalam kasus gadis berbintang Gemini tersebut, pelakunya bukan orang luar dan dia nggak diculik. Hanya dirampok dari kasih sayang yang utuh dan, kemungkinan besar, masa depan yang lebih cerah ketimbang menjadi anak seorang penari kelab malam.

Tapi, lebih dari sekadar gadis dengan emosi yang stabil, saya menduga ada yang lain dengan kondisi psikologi Lana.

 

b. Surya

Lana 'menemukan' Surya ketika cowok itu sedang asyik mengamati dirinya yang sedang bermain gitar di salah satu atap sekolah. Dia digambarkan sebagai sosok dengan wajah yang “sangat manis kalau kau ingin tahu. Manis banget dengan lesung pipit dan rambut awut-awutan seperti tidak pernah ditata. Matanya juga besar dan bulu matanya lentik” oleh Lana (hal. 23).

Semula, dengan sikap Surya yang nggak terlalu banyak omong dan lebih banyak menampilkan ekspresi dan gestur tubuh sebagai alat komunikasi (hal. 22), saya kecele—mengira dia sebagai salah satu cowok sombong yang menyembunyikan perasaannya serta membiarkan lawan bicaranya berpikiran lain. Tapi berikutnya, saya pun tersadar; ternyata Surya nggak terlalu beda dengan kebanyakan tokoh cowok rekaan Setiawan. Dalam artian dia cukup gentleman.

Boy on roof
My imaginary Surya. Source here.

Tapi di luar itu, Surya juga salah satu tokoh yang sedikit berbeda. Tapi saya nggak bisa ngomong kalau saya nggak menyukai karakterisasi Surya. Cumaaan, saya sedikit berdilema di sini. Di satu sisi, saya suka perkembangan dan pilihan-pilihan yang dibuat Setiawan. Di sisi lain, saya pengin porsi Lana-Surya ditambah Yell

Kira-kira seperti apa perbedaan Surya dari tokoh-tokoh cowok Setiawan lainnya? Coba baca novel ini dan kalau sudah ketemu, boleh dibagi di sini Smile

 

c. Ibu

Salah satu tokoh krusial di Sayap-Sayap Kecil ini digambarkan sebagai tipikal sosok pelaku kekerasan rumah tangga yang ada di kebanyakan novel yang pernah saya baca.

Dia…

1. Berasal dari ekonomi menengah ke bawah,

2. Memiliki profesi yang nggak bisa dibilang terhormat (penari di kelab malam—hal. 28),

3. Memiliki penampilan yang mencolok (hal. 9), dan

4. Selalu menyesal setelah melakukan kekerasan pada anaknya.

Saya nggak bisa berkomentar terlalu banyak tentang karakter atau karakterisasi ibu Lana. Selain fokus di novel ini bukan tentang keluarga Lana, tapi tentang gadis itu sendiri.

Baca juga: Bi! - Potret Emosi yang Mengikat Manusia pada Lingkaran Kehidupan


2. Andry Setiawan, His Writing Style and How He Masks Himself as His Characters

Setelah menikmati beberapa karya Andry Setiawan—mulai dari Then I Hate You So, (Not) Alone in Another Land, Ojou!, When the Star Falls, sampai Sayap-Sayap Kecil—saya mulai memahami gaya penulisan Setiawan yang cenderung menguarkan “kehangatan” lewat tulisannya. Be it mellow atau romance. Ini juga yang kentara di karyanya yang kelima.

Meski bisa dikatakan minim ekspresi ala remaja Indonesia umumnya, tapi Setiawan bisa dibilang cukup sukses dalam menyamar sebagai seorang gadis remaja. Kita bisa melihatnya dalam kutipan berikut:

Lulus SMA, aku akan mencari kerja dan kalau bisa kelur dari rumah sialan ini. Selamat tinggal, Ibu. Selamat tinggal airmata buaya betina!
Tapi, rasanya kalau aku melihat airmata itu lagi, aku akan tinggal di rumah ini. (hal. 43)

Memang, ada kemungkinan anak cowok juga ada yang memiliki pemikiran serupa. Juga ada kemungkinan anak cewek ada yang nggak memiliki pemikiran seperti Lana. Tapi ikatan emosional semacam yang terangkum di kutipan tersebut kebanyakan ditemukan pada sosok anak gadis.

Di Sayap-Sayap Kecil sendiri, saya sama sekali nggak menangkap kesan cowok dalam karakter Lana. Kalaupun ada, terutama dalam bentuk sikap logis dan realistis Lana, bisa dibilang itu sebagai salah satu bentuk perkembangan psikologi Lana yang sudah 4 tahun hidup dalam kekerasan. Sehingga dia terbentuk sebagai gadis yang realistis, ketimbang yang terjebak dalam fantasi. Nggak percaya? Artebianz bisa scroll ke atas dan baca ulang bagian blurbs di bawah keterangan novel.

Namun, di luar karaktersasi Lana, ada beberapa hal yang saya sayangkan. Yaitu:
1. Tentang Thomas si kura-kura yang hanya muncul di awal dan sama sekali nggak disebut di halaman-halaman berikut, dan

2. Tentang Brandon. Karena sudah disebutkan beberapa kali, saya jadi mengira Brandon adalah salah satu tokoh penting di novel ini—dan jujur…. Saya mengharapkan sesuatu terjadi antara dia dan Lana.

*balik ke kamar dan memimpikan versi panjang Sayap-Sayap Kecil*

Girl and Boy on the roofMy imaginary Lana and Surya on a roof. Source here.

Baca juga: The Giving Tree: Cinta adalah Bahasa Universal 

 

 

Akhir Kata untuk Sayap-Sayap Kecil

Seperti yang sempat saya sebutkan di atas, karya-karya Andry Setiawan selalu menguarkan hawa heart-warming. Yang pengin penyembuh kesenduan di When the Star Falls, musti baca novela ini. Termasuk buat Artebianz penggemar karya Setiawan.

Saya sendiri? Saya masih menunggu dongeng dengan nuansa reflektif seperti yang pernah saya singgung di ulasan (Not) Alone in Another dari Setiawan. Berikut kisah pasangan L-S dan dongeng ala lelaki kelahiran Ponorogo ini.

Kali ini saya banyak maunya, ya Laughing

 

 

 

Your book curator,
N


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Petualangan bersama Einstein: Safari


Teacher's Diary (Khid Thueng Withaya) (2014): Penghargaan Guru di Thailand


Gambaran Cinta dalam Potret Sendu Lirik Lagu Eyes, Nose, Lips Versi Tablo


My Pancake Restoran Surabaya  Town Square


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


House Of Sampoerna: Sebuah Album Kenangan Kota Surabaya


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya, Gol A Gong, dan Tias Tatanka


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Pengelanaan Sempurna


Aku Tak Ingin Lomba Balap Karung, Bu.