Cinderella Teeth - Kisah Cinderella dan Para Peri Gigi Modern

03 Dec 2015    View : 1636    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Tsukasa Sakaki 
Diterbitkan oleh  Haru 
Diterjemahkan oleh  Nurul Maulidia
Disunting oleh  Nyi Blo 
Aksara diperiksa oleh  Dini Novita Sari 
Desain sampul oleh  Bambang “Bambi” Gunawan 
Ilustrasi isi oleh  @teguhra 
Genre   fiksi, young adult, romance, drama, slice of life
Jumlah halaman  272 
Diterbitkan pada  Oktober 2015 
Nomor ISBN  978-602-7742-63-5 
Harga  IDR59.000,00 
Koleksi  Perpustakaan Artebia

 

Saki ditipu oleh ibunya sendiri hingga gadis itu harus bekerja di sebuah klinik dokter gigi. Padahal, ia benci dokter gigi!

Namun, musim panas itu akan menjadi musim panas yang berarti bagi Saki. Pasien-pasien yang berkunjung ke klinik tersebut ternyata memiliki rahasia-rahasia unik. Belum lagi, seorang pemuda di klinik tersebut mulai menarik perhatian Saki.
Dapatkah Saki menghadapi phobia-nya, pasien-pasien, dan cinta yang datang bersamaan dalam satu musim panas?

 

Kesan pertama dari sebuah buku (bagi saya) selalu melibatkan sampul, kemudian blurbs atau keterangan atau teaser di bagian belakang. Jadi, bagaimana ilustrasi dan blurbs/keterangan/teaser berharmoni, warna-warna menyusun komposisi cover, bahkan pilihan font sangat berpengaruh. Dan, kesan pertama saya saat melihat cover Cinderella Teeth adalah… とても かわいい~ >…<

Tapi saya sama sekali nggak menyangka kalau buku bersampul biru dengan ilustrasi imut nan lucu ini adalah tentang cerita fiksi. Lebih sering saya menemukan gaya ilustrasi semacam Cinderella Teeth sebagai sampul buku-buku nonfiksi milik penerbit-penerbit tetangga Haru.

Berbekal gagasan demikian, tanpa sadar saya menempatkan kisah mahasiswi, yang terjebak dalam pekerjaan bersama orang-orang dengan profesi yang dia benci, sebagai salah satu cerita yang terinspirasi kisah nyata. Saya membayangkan di luar sana ada sesosok Sakiko Kano dan para “peri gigi” di Shinagawa Dental Clinic.

Apakah saat sampai di halaman terakhir saya kecewa atau terkejut dengan apa yang saya dapatkan?

Artikel review buku kali ini adalah pengakuan tanpa dosa saya ke kamu, Artebianz.

 

 

Cinderella Teeth et Le Résumé

Artebianz pasti pernah mengunjungi dokter gigi semasa kanak-kanak, lalu pulang dengan sebuah cerita atau pemandangan yang membuat kamu trauma dengan sosok yang sering tampil dengan jas putihnya itu. Hal serupa inilah yang dialami oleh Sakiko Kano, alias Saki-chan. Tetapi nggak seperti kebanyakan dari kita, Saki-chan memunyai seorang paman yang bekerja sebagai dokter gigi. Mau tak mau, sesekali Saki-chan yang emoh abis ketemu dokter gigi harus ketemu 'mimpi buruknya'. Untungnya, gadis itu tidak tinggal serumah dengan si paman.

Sayangnya, tali jodoh Saki-chan dengan dokter gigi tidak berhenti di situ. Gadis ini sekali lagi harus berurusan dengan dokter gigi berkat “bantuan” ibunya. Dan kali ini bukan hanya sekali-dua kali bertemu. Saki-chan harus menghabiskan liburan musim panasnya dengan bekerja di klinik dokter gigi! Dia sama sekali tidak bisa melarikan diri karena koneksi keluarga yang dimilikinya.

Yap, Artebianz, Shinagawa Dental Clinic yang menjadi tempat Saki-chan bekerja adalah tempat paman gadis itu praktik. Tak mau membuat malu keluarga, Saki-chan menelan bulat-bulat rasa takutnya dan mulai bekerja mendampingi para peri gigi modern.

Tapi… ternyata bukan hanya hal-hal ajaib yang ditemui Saki-chan di Shinagawa Dental Clinic. Dia juga menemukan kehangatan dan cinta, sekaligus sececap sakit hati karena cinta. Waduh! Apa yang sebenarnya dialami Saki-chan, ya? Lalu, bagaimana dia menghabiskan waktunya di tempat yang penuh dengan orang-orang dengan profesi yang sangat dibencinya?

Inilah Cinderella Teeth, kisah tentang seorang putri yang terkungkung rasa takut sampai dia akhirnya bertemu dengan para peri (gigi) Laughing

Baca juga: Khokkiri Layaknya Dark Chocolate yang Menawarkan Kisah Manis Sekaligus Gelap dan Pahit

 

 

Cinderella Teeth et Le Critique


Karakter dan Karakterisasi Mereka: Saki-chan dan Para Peri Gigi

1. Kano Sakiko. Sakiko-san. Saki-chan

Kalau meminjam kata-kata Saki-chan, maka gadis ini akan tergambarkan sebagai sebagai sosok mahasiswi tingkat dua berumur 18 tahun yang berpikiran sederhana dengan wajah kekanakan, tapi luwes.

Semula saya nggak terlalu ngeh dengan apa yang dimaksud Saki-chan dengan “wajah yang luwes”, tapi ini mungkin ada kaitannya dengan perubahan yang terjadi ketika dia merias wajahnya, sehingga wajahnya “bisa terlihat cantik juga” (hal. 7)—mungkin seperti Hiro-chan, sahabatnya.

Singkat kata, Saki-chan adalah jenis gadis yang bisa dijumpai Artebianz dengan mudah. Ketimbang mereka yang setipe dengan Julia Estelle atau Sandra Dewi. Bahkan, mungkin Artebianz bisa mengidentifikasikan diri kamu dengan sosok anak tunggal keluarga Kano ini.

Haruna KawaguchiMy imaginary Saki-chan. Source: here.

Mungkin Artebianz bisa menebak bahwa Saki-chan adalah tipe tokoh heroine yang sederhana, seperti kebanyakan tokoh dalam cerita fiksi; novel maupun komik. Namun, dalam kebersahajaan dirinya, tersimpan kelebihan yang mungkin akan dilihat sambil lalu oleh orang-orang sekitar Saki-chan.

Misalnya saja pada kasus ‘Phantom vs. Phantom’, Saki-chan yang hanya pekerja paruh waktu melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan mampu bersikap selayaknya wakil Shinagawa Dental Clinic ketika menghadapi salah seorang pasien yang sulit:

“Lalu, aku ingin menyampaikan terima kasih secara khusus untukmu.”
“Terima kasih?”
“Ya. Tanpa memedulikan sikap burukku, sikapmu tidak pernah berubah. Karena itu, aku bisa tetap kembali ke klinik ini. Terima kasih banyak.”
Dia [Honjou-shan] mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Sama-sama, karena rasanya aku mendapat banyak pelajaran. (hal. 109)

Sikap Saki-chan yang mampu menempatkan diri dan mempertimbangkan sesuatu, di usia yang terbilang belia, adalah satu kelebihan tersendiri gadis ini. Di satu sisi, kelebihan ini membuatnya bagai orang yang 'kecil'—dalam artian mudah disikut dan disingkirkan begitu saja—seperti yang selama ini digagas Saki-chan sendiri. Tapi, ketika bergabung dengan Shinagawa Dental Clinic, apa yang tadinya dipikir Saki-chan sebagai kekurangannya, justru menjadi salah satu hal yang membantunya bekerja di klinik gigi milik Shinagawa Yuki.

 

2. Kano Tadashi

Paman Saki-chan dari pihak ayah. Seorang dokter gigi berusia sekitar empat puluh tahunan yang digambarkan Saki-chan berperawakan agak gemuk tapi tegap, serta akan membuat orang berpikir bahwa laki-laki ini bekerja sebagai koki (hal. 14).

Sekilas, sosok Paman Tadashi tampak seperti dokter gigi lainnya—dia hanya menjadi salah satu dokter gigi langka karena mau dan mampu “berbicara sesuai sudut pandang anak-anak” (hal. 15), sehingga dia terlihat lebih ramah di mata Saki-chan yang punya pengalaman trauma dengan dokter gigi dan klinik mereka. Tetapi, setelah membaca lebih jauh, ternyata sosok paman yang ramah dan sederhana dalam sosok Paman Tadashi hanyalah permukaan saja.

Paman Tadashi ternyata punya kaitan dengan masalah cinta Saki-chan.

Apa itu?

Ah, saya nggak akan menceritakannya pada kamu langsung, Artebianz. Rasanya lebih asyik kalau kamu membaca kisah Saki-chan sendiri, Artebianz Wink

 

3. Shinagawa Yuki

Pemilik Shinagawa Dental Clinic dengan tinggi dan ukuran badan standar, serta usia yang mendekati senja—alias hampir kakek-kakek kalau menurut Saki-chan. Meski demikian, kesan pertama Saki-chan terhadap laki-laki yang lebih sering dipanggil dengan “Pak Kepala” ini adalah keramahan yang mengingatkannya pada pamannya, Dokter Kano. Sampai akhirnya dia membuka mulut.

Meski menguarkan aura ramah, di kalangan pegawainya, Dokter Shinagawa memang terkenal bermulut pedas dan mengatakan apa pun yang ada dalam pikirannya. Misalnya saja pada penampilan pertamanya dengan Saki-chan, dia langsung menilai Saki-chan dengan “tidak buruk” (hal. 15).

Sifat Dokter Shinagawa ini nyaris mirip dengan Utako-san. Hanya, komentar Dokter Shinagawa terfokus pada hal-hal yang berbau bisnis, alias hanya seputar kliniknya. Termasuk ketika dia mempertimbangkan Saki-chan sebagai pegawainya.

Lengkapnya, Dokter Shinagawa berkomentar:

“Meskipun gugup, tapi tetap tersenyum. Bisa dipastikan punya sopan santun. Muka dan gaya juga standar, jadi mudah dekat dengan orang. Status mahasiswi juga membuat mudah untuk mencari bahan obrolan. Diterima. Utako-kun, tolong ajari dia banyak hal.” (hal. 15-16)

Yang menarik dari Dokter Shinagawa adalah dia berbeda dengan dokter gigi kebanyakan. Alih-alih melihat usahanya sebagai klinik dokter gigi, Dokter Shinagawa memperlakukannya seperti sebuah bisnis kecantikan dan menyebut para pasiennya dengan “pelanggan” (hal. 22). Dari sini, saya bisa menilai bahwa walau sudah berumur, Dokter Shinagawa cukup dandy dan memiliki selera tinggi.

Shinagawa Yuki-sensei
My imaginary Shinagawa Yuki-sensei. Source: here.
Mari bayangkan beliau lebih muda beberapa tahun Laughing

4. Para Perawat Gigi

a. Minowa Utako

Utako-san adalah perawat gigi Shinagawa Dental Clinic yang dikenal Saki-chan pertama kali. Saki-chan menggambarkannya sebagai perawat berpakaian seksi yang blakblakan, baik dalam berkata maupun bersikap. Ini kentara sekali di halaman 14 yang menunjukkan bagaimana perawat gigi, yang kemudian dikenal dengan panggilan Utako-san, bersikap SKSD pada Saki-chan. Tanpa babibu, Utako-san mengepang rambut Saki-chan yang bahkan belum dikenalnya.

b. Nakano Kyoko

Seorang “wanita cantik berkulit putih yang kelihatannya baik” serta “cocok dengan celemek di atas baju putih” yang menjadi seragam perawat gigi Shinagawa Dental Clinic (hal. 18). Di antara ketiga perawat gigi yang ada, Nakano-san rasanya adalah satu-satunya perawat yang tidak diidentikkan Saki-chan dengan sesuatu yang spesifik atau aneh. Sebaliknya, dia lebih sering bersikap seperti kakak perempuan Saki-chan.

c. Kasuga Yuri

Perawat kedua yang ditemui Saki-chan setelah Utako-san dan Nakano-san. Di mata Saki-chan, Kasuga-san memiliki wajah yang membuat orang bertanya-tanya “apa dia baru lulus kuliah?” dan “memangnya anak SMA boleh bekerja?”. Sehingga Saki-chan merasa dia akan terlihat lebih tua jika berada bersebelahan dengan Kasuga-san (hal. 19).

Berkat Saki-chan yang mengulang-ulang tentang Kasuga-san dan suara ala anime-nya, saya selalu mengingat Kasuga-san dalam sosok aktris Jepang yang satu ini, yang memiliki suara ala anime yang cute.

Saeko 
Aktris Jepang Saeko yang punya suara ala-ala anime. 

5. Kasai Mizue

Atasan langsung Saki-chan sekaligus satu-satunya sosok “wajar” di Shinagawa Dental Clinic. Kasai-san adalah sosok tipikal yang dijumpai seseorang di sebuah instansi kesehatan, terutama dengan auranya yang menurut Saki-chan "...tidak akan dimaafkan jika membicarakan hal yang tidak berguna" (hal 18). Meski terkesan seram, tetapi karena sejak pertama Saki-chan mengharapkan akan bertemu dengan sosok seperti Kasai-san, gadis itu anehnya merasa lega.

 

6. Naruse Yoshihito

Dokter dengan kepercayaan diri tinggi. Inilah kesan saya tentang laki-laki yang dipanggil Saki-chan dengan “Dokter Naruse” ini. Naruse Yoshihito menjadi dokter terakhir yang ditemui oleh Saki-chan. Pada pertemuan mereka yang pertama, dengan santainya, Dokter Naruse berkata pada Saki-chan yang baru bergabung dengan Shinagawa Dental Clinic, “Oh, kau Saki-chan yang dibicarakan itu, ya? Begitu, ya. Manis, ya. Bagaimana kalau ikut kencan buta?” (hal. 17)

Jadi, bisa dimaklumi kalau Saki-chan menilai Dokter Naruse sebagai laki-laki santai—mungkin nyaris selebor—yang bertipe mesum.

Tapi, komentar Dokter Naruse selanjutnya membuat Saki-chan berubah pikiran. Tanpa menoleh pada Saki-chan atau berpaling dari pasiennya, Dokter Naruse menimpali sikap gadis itu yang terus-menerus mengamatinya.

Pada saat itu, Saki-chan pun paham bahwa Pak Kepala Shinagawa tidak hanya memilih pegawainya berdasarkan keahlian mereka, atau penampilan fisik, tetapi juga karakter mereka.

 

7. Yotsuya Kengo

Tekniker gigi dengan "aura tipis" yang membuat Utako-san nyaris melupakannya saat perkenalan pertama Saki-chan dengan para pegawai Shinagawa Dental Clinic. Ini karena menurut Utako-san “... dia maniak gigi yang energik, dia selalu mengurung diri di ruang teknis.” (hal. 19).

Hal ini bisa jadi karena kecenderungan Yotsuya-san untuk bergumul dengan pekerjaannya ketimbang bergaul dengan rekan kerjanya. Namun, seperti hadiah yang dibungkus, penggambaran sosok Yotsuya-san oleh Tsukasa-sensei yang misterius pada halaman yang sama: “...terlihat sebagian tubuh dan wajah karena ditutupi masker....”, membuat saya sebagai pembaca semakin ingin tahu dengan sosok tekniker gigi Shinagawa Dental Clinic ini.

Tsumabuki Satoshi 
My imaginary Yotsuya-san. Source: here.

Apalagi sewaktu dia bersikap layaknya seorang pangeran bagi Saki-chan.

 

Dari pengalaman saya membaca 1705 buku, menurut akun Goodreads saya, Cinderella Teeth adalah salah satu novel yang pengembangan karakterisasi para karakter cukup baik di mata saya, Artebianz. Sakaki Tsukasa berhasil membangun bukan hanya mood pembaca, atau menyampaikan feel ceritanya, tetapi dia juga berhasil menghidupkan setiap karakter dalam novelnya ini. Termasuk pada karakter yang hanya berperan sebagai pembantu dalam Cinderella Teeth, baik selalu muncul dalam cerita maupun mereka yang menjadi pemeran utama dalam kasus-kasus khusus di Shinagawa Dental Clinic.

Baca juga: Priceless Moment - Yang Disisakan Waktu Ketika Ia Berlalu

 

The Warm and Fuzzy Feeling of Cinderella Teeth

1. Ambiance Cerita Cinderella Teeth

Salah satu hal yang terpenting dalam cerita adalah penyampaian feel dan ambiance cerita lewat pemilihan kata dan penataan kalimat. Yang dilakukan oleh Tsukasa-sensei—serta Tim Penerbit Haru sebagai “agen cerita”—dengan baik.

Saya bisa merasakan kehidupan remaja Jepang yang kerap memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja, ketimbang sekadar berjalan-jalan atau berkubang di dalam rumah melalui sosok Saki-chan. Berikut karakter mereka yang disiplin dan sangat mendetail. Misalnya saja pada kasus ‘Cara Belanja Orang Belanda’.

“Saat berteduh, pria yang telah lebih dulu tahu pekerjaan Sakiko-san ini, datang dengan maksud mendekati Sakiko-san sekaligus mencari tahu tentang klinik ini.”
Artinya, Akishima-san datang ke klinik ini sebagai pasien untuk memastikan klinik ini menggunakan mesin buatan mana, apa zairyou-ya utama yang digunakan (hal. 151).

Alkisah Saki-chan harus berteduh di sebuah tempat bersama seorang laki-laki asing, yang kemudian menjadi pasien di Shinagawa Dental Clinic karena perkenalan mereka berdua. Namun, mendadak laki-laki itu berhenti datang di tengah perawatannya. Dia bahkan membentak Saki-chan saat gadis itu menanyakan alasan laki-laki itu tidak datang lagi. Padahal Saki-chan bertanya atas nama pekerjaannya.

Usut punya usut, ternyata Akishima-san—si pelanggan baru Shinagawa Dental Clinic—mendaftar bukan hanya untuk merawat gigi. Dia datang untuk menggebet Saki-chan sekaligus menjadi mata-mata perusahaannya, yaitu zairyou-ya: “… diler yang dihubungi [sebuah klinik] saat ingin membuka atau mendekorasi ulang klinik gigi.” (hal. 150).

Begitu juga tebaran nama makanan serta penjelasannya, benar-benar mengundang aura Jepang! Meski bisa dibilang cara penceritaan Tsukasa-sensei bisa dibilang 'nggak terlalu istimewa'. Maksud saya, dalam hal diksi, Tsukasa-sensei rasanya nggak terlalu mengumbar banyak kalimat berbunga. Kalau nggak, mungkin akan ada kalimat atau frasa ala novel 'berat' yang diterjemahkan Maulida. Sebaliknya, Tsukasa-sensei banyak menggabungkan istilah kedokteran seperti “kerot”, “ushoku”, dan beberapa istilah lainnya—baik dalam bahasa Jepang maupun yang sudah diterjemahkan.

 

2. Level Kesehatan Romance Cinderella Teeth

Hal lain yang membuat saya benar-benar menyukai Cinderella Teeth adalah kadar romance kisah kehidupan Saki-chan ini yang bisa dibilang seimbang. Nggak terlalu manis, juga nggak bisa dibilang hambar. Persis cita rasa masakan tradisional Jepang, yang—sepanjang pengetahuan saya—lebih mengutamakan rasa dari bahan-bahan utama makanan yang digunakan, ketimbang menggunakan 'bantuan' penyedap rasa atau gula dan garam.

Walhasil, saya nggak merasa eneg atau gigi ngilu saat 'melahap' Cinderella Teeth karena kadar manis pada romance novel ini terlalu tinggi.

3. Bagai Komik

Membaca Cinderella Teeth sedikit banyak mengingatkan saya pada novel terbitan Haru yang lain: The After-Dinner Mysteries karya Higashigawa Tokuya. Keduanya sama-sama dibagi menurut tema kasus yang dijumpai karakter utama. Sama-sama menguarkan aroma kisah-ala-ala-komik.

Bedanya, entah kenapa, saya justru lebih mudah larut dalam kisah Saki-chan dan traumanya pada dokter gigi dibanding kisah Hosho Reiko dan pelayannya—Kageyama. Bisa jadi ini karena sosok Saki-chan yang lebih sederhana, atau cara Tsukasa-sensei memotret dan menceritakan kehidupan tokohnya yang menyerupai kehidupan sehari-hari.

Membaca Cinderella Teeth rasanya seperti menikmati menu yang pas dengan mood dan cuaca.

Baca juga: The Chronicles of Audy - Refleksi Kehidupan Seorang Gadis dalam Outline Skripsi

 

 

Akhir Kata untuk Cinderella Teeth

Berbeda dengan pengalaman di halaman pertama Cinderella Teeth yang agak membuat saya kagok, di lembar-lembar berikutnya, saya ikut larut—seolah saya adalah salah satu teman Saki-chan yang mendapatkan E-mail mengenai pengalamannya bekerja paruh waktu di klinik dokter gigi.

Cara penceritaan yang lembut, perlahan, tetapi nggak terlalu banyak menghabiskan kata untuk hal-hal percuma membuat saya sanggup menikmati novel ini berkali-kali tanpa merasa bosan.

Cinderella Teeth

Untuk Artebianz yang menginginkan bacaan yang menghangatkan hati, tertawa di beberapa kesempatan, mencecap kehidupan ala orang Jepang (khususnya para dokter gigi), sekaligus menikmati pengalaman cinta yang unik—Cinderella Teeth menjadi salah satu rekomendasi saya untuk kamu.

Sama seperti Haru yang rutin menerbitkan karya Hyun Go Wun dan Akiyoshi Rikako, saya berharap karya Sakaki Tsukasa pun menjadi karya langganan yang diterjemahkan oleh penerbit yang berbasis di Ponorogo, Jawa Timur, ini. Paling nggak sebagai wujud tanggung jawab Penerbit Haru karena sudah membuat saya kesengsem abis-abisan dengan gaya bercerita Tsukasa-sensei Tongue Out

Baca juga: The Chronicles Of Audy 4/4

 

 

 

Your book curator,
N

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 2)


Me Before You - Jojo Moyes and a Bowl of Warm Love Story


Nash - Ya Rabbana Anta Maulana


Bakso Hitam Chok Judes: Ada Lezat Di Balik Pekat


Omnivoro Ciputra World, Fusion Cafe untuk Para Omnivora


Napak Tilas Aliran Lahar Gunung Merapi: Lava Tour Merapi


WTF Market - Moire: A One-Stop Entertainment Market


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Oma Lena - Part 4 (TAMAT)


Kata-Kata Itu Telah Hilang Saat Kami Lahir